
Gue lihat Nyokap senyum-senyum denger Bi Ecin ngasih tau nama cewek yang gue suka. "Oh, jadi yang bikin kamu sama Dika berantem itu, Sara?" Gue ngelirik Bi Ecin sebal. Tapi ... kalau dipikir-pikir, Bi Ecin kagak salah juga sih, dia emang gak tau Sara, karena belum pernah liat dia, tapi gak perlu juga kan dia ngasih tau nama dia ke Nyokap, entar Nyokap investigasi ke sekolah.
"Sara pasti cantik?" tiba-tiba Bokap nyeletuk. "Kalau gak cantik mana mungkin direbutin sama anak Papa, ya kan? Jangan gentar Marko, Papa dukung kamu buat dapetin dia. Jangan kalah sama si Dika!" Eh buset, Bokap malah ngedukung. Gue tersenyum ke Bokap. Dukungan Bokap barusan bikin semangat dalam diri gue bangkit. Pokoknya gue harus bisa dapetin Sara! Thanks, Pa, ucap gue dalam hati.
"Haduh si Papa!" omel Nyokap. Bi Ecin senyum-senyum lalu kembali ke dapur.
"Marko, habis sarapan pokoknya kita ke dokter, mama gak mau anak ganteng mama jadi punya bekas luka di muka."
"Ini gak akan ninggalin bekas, Ma. Jangan lebay, deh."
"Eeeeh, kamu! Mama enggak lebay, cuma khawatir aja. Udah, pokoknya kita ke dokter."
"Turutin mama kamu, Ko!" anjur Bokap. Yah, kalau begini gue cuma bisa ngangguk aja deh.
Ting!
Tiba-tiba hape gue bunyi. Gue lihat ada WA dari nomor enggak dikenal. Siapa, nih? Sambil makan gue baca pesan WA itu. Ternyata dari Zulfa.
'Ko, elo gak masuk, ya? Ini gue Zulfa. Sori kalau gue ganggu, gue dapet nomor lo dari Fandy, semalam gue telefonan sama Sara, dan gue bilang sama dia kalau elo minta nomornya dia, dan kata Sara, kasih aja, katanya. Ya udah sekarang nih gue kasih 081321562889, tapi kata Sara nomornya jangan dikasih2 ke orang sembarangan!'
Gue langsung melompat kegirangan, sampe-sampe ortu gue kaget. Tenang Zulfa, gue gak akan ngasih nomornya Sara ke siapa pun, apalagi sama si kampret Dika!
Gue langsung ngirim balasan, 'Thanks Zulfa. Sebagai hadiah elo mau apa?'
Tak lama ada balesan dari Zulfa, 'Kagak usah repot2, tapi kalau elo maksa, gue pengen bukunya Dee "Aroma Karsa" hahaha.'
Gue langsung balas, 'Aroma Karsa siap meluncur!'
God ... mimpi apa gue semalam bisa dapetin nomor hapenya Sara. Setelah makan, gue langsung ke kamar buat nelefon Sara sebelum Nyokap nyulik gue buat ke dokter.
Gila, tangan gue ngedadak gemetar gini, Man! Kekuatan cinta memang aneh, ya, hahaha. Gue memencet tombol call, tak lama nada sambung terdengar, dan serta-merta jantung gue menari-nari gak karuan, nervous gila!
"Halo ...." Suara Sara terdengar di seberang. Mendengar suaranya dia di pagi hari begini, membuat seluruh darah gue menghangat, hati gue seneng banget, gak tau lagi deh, gimana ngejabarinnya. Yang jelas gue beneran cinta sama nih cewek.
"Ha_Halo, Sara, ya? Ini gue, Marko," sahut gue, si nervous belum mau pergi ternyata. Sialan! Hening beberapa detik. Sara belum bersuara.
"Hai, Marko." Akhirnya dia ngomong juga.
"Zulfa udah ngasih nomor aku, ya?"
"Iya, hehe. Makasih ya, Sara."
"Makasih buat apa?"
"Kamu udah mau bagi nomor hape kamu ke aku." Setelah gue ngomong gitu, tidak ada tanggapan dari Sara. Gue cuma dengar helaan napas dia.
"Sara, kamu enggak masuk, ya? Kata Zulfa kamu sakit, sakit apa emang?"
"Iya, Ko, aku gak masuk masih sakit, gak parah kok, cuma demam aja sama batuk."
"Cepat sembuh Sara."
"Makasih. Mmm ... kamu kok bisa telefon jam segini? Emang gak ada guru?"
"Aku juga enggak masuk, hehe."
"Kenapa? Sakit juga?"
"Mmm ... ya bisa dibilang begitu."
"Kok gitu?" Sara bingung kayaknya sama jawaban gue. Masa gue harus bilang, gue babak belur, udah gelut sama Dika karena kamu. Gak mungkin, kan? Hahaha.
"Gue lagi bolos aja, Sar. Hehe."
"Ish! Kamu jangan bolos-bolos bentar lagi ujian." Ah, seneng rasanya Sara mulai perhatian. Sebenarnya gue pengen nanya soal yang gue denger dari Zulfa kemarin, tapi rasanya sekarang belum saatnya.
"Sara ... boleh enggak, aku ketemu kamu di luar jam sekolah? Aku pengen ngobrol banyak sama kamu."
Lama, Sara enggak menimpali ucapan gue, tapi tak lama dia bilang, "Baik Marko. Nanti aku WA kamu, ya." Gue dengar Sara seperti agak ragu.
"Aku tunggu WA kamu. Cepet sembuh Sara ... aku sedih kamu sakit." Sara tidak membalas ucapan gue. Entah, apa yang ada dipikirannya sekarang.
"Marko, ayo berangkat!" Tiba-tiba Nyokap nerobos ke kamar.
"Iya, Ma."
"Siapa, Ko? Mama kamu, ya?" tanya Sara.
"Iya, Sar. Ya udah aku mau pergi, nih. Sampai ketemu nanti." Klik! Telefon gue tutup. Pandangan gue alihkan ke Nyokap, gue lihat dia menyipitkan matanya natap gue curiga.
"Telefon siapa?"
"Mama, pengen tauuuu aja!" Gue bangkit, ngambil sweeter, lalu pergi sama Nyokap.
💖💖💖
Sudah seminggu sejak gue telefon Sara, tapi sampai sekarang Sara belum nge-WA. Gue lihat Sara sudah sehat dan beraktifitas seperti biasa di sekolah. Saat gue mau masuk kelas, gue lihat Sara pun mau masuk kelas, tapi tiba-tiba langkahnya tertahan di pintu, lalu tanpa diduga dia noleh ke gue, dia mandangin gue beberapa detik lalu masuk ke kelas. Gue lihat di sorot matanya seperti ada sesuatu. Seperti sedih atau ... entahlah, gue gak tau. Sara ... kamu kenapa natap aku kayak gitu? Bilang sama aku, Sar!
Gue masuk kelas. Gue lihat si Dika sedang ngumpul sama anak-anak di belakang. Sejak kejadian itu, gue sama Dika belum bicara sampe sekarang, anak-anak di kelas pun sampe heran. Biasanya kan, gue sama si kampret itu deket banget.
Gue duduk di bangku, tak lama gue duduk, ada Fandy nyamperin. Dia nepuk bahu gue sebelum duduk. "Ko, minggu lalu si Zulfa anak kelas sebelah, nanya nomor lo."
"Iya, thanks, Fan, lo udah ngasih nomor gue ke dia."
"Vita? Aneh, lo nanya dia ke gue! Siapa yang pacaran sama dia? Kalo lo mau, boleh, embat aja."
"Oh iya, Ko. Elo ... lagi ada masalah ya, sama Dika? Gue perhatiin akhir-akhir ini lo sama dia jadi renggang."
Gue menghela napas panjang, lalu natap Fandy tajam. "Jangan sebut nama dia di depan gue!" Fandy terlihat enggak enak sama gue, dia nunduk sekilas lalu kembali natap gue. "Sori, Ko. Gue gak tau sekarang elo renggang sama Dika." Fandy bangkit lalu pergi. Kayaknya dia takut terkena semprot lagi sama gue. Jujur aja ya, sekarang rasanya gue enek aja gitu, denger nama si kampret itu.
Gue ngambil hape di tas. Gue langsung melotot kaget pas lihat di layar ada sebuah pesan WA dari Sara.
Tak nunggu waktu lama gue langsung buka pesan itu.
'Marko, ayo kita ketemu pulang sekolah, di depan kios foto copy Bang Doni.'
Dengan lincah jemari gue langsung mengetik balasan.
'Oke, Sara.'
Setelahnya, gue gak konsen mengikuti sisa pelajaran. Pikiran gue melayang ngebayangin gimana nanti pertemuan dengan Sara, dan gue juga memikirkan arti tatapan Sara saat mau masuk kelas tadi. Gue harap bisa dapetin jawabannya sore ini.
Bel pulang terdengar nyaring ke seantero sekolah. Cepat-cepat gue masukin buku ke tas, dan cabut. Gue harap, sih, pertemuan gue sama Sara enggak dilihat siapa pun, terutama Dika.
Gue nyampe duluan ke tempat ketemuan. Depan kios foto copy Bang Doni memang ada sebuah pohon yang lumayan rindang, dan ada beberapa penjual makanan dan minuman yang mangkal. Lumayan enak suasananya, adem, dan kalau laper atau haus, enggak perlu jauh-jauh nyari penjual makanan dan minuman.
Gue melirik jam plastik yang gue pake, sudah hampir jam 4 Sara belum nongol juga, apa dia lupa? Atau gue telefon aja gitu?
Gue merogoh saku celana ngambil hape, tapi saat gue akan menelefon Sara, gue lihat di seberang jalan sana bidadari gue menuju ke sini. Jilbabnya melambai tertiup angin, walaupun jilbabnya terlihat enggak rapih, tapi kecantikannya tetap terpancar.
Tak lama Sara ada di depan gue. Dia tersenyum sekilas lalu nunduk. Dan gue dibuat gemas oleh senyuman sekilas itu.
"Hai, Sara ...," sapa gue.
"Hai ...." Gue lihat Sara juga seperti gugup gitu.
"Duduk, Sar," titah gue. Sara ngangguk lalu duduk agak jauh dari gue.
"Maaf, kamu nunggu lama, ya? Tadi aku solat asar dulu."
"Oh, gitu. Gak apa-apa, kok."
Gue tahu di islam memang harus solat, kalau gak salah 5 atau 4 kali gitu dalam sehari.
Setelah itu gue dan Sara malah saling diem. Gue ngedadak kehilangan topik, padahal sebelumnya banyak banget yang mau gue omongin sama dia. Gue beneran gak bisa berkutik deket dia. Dari tadi gue cuma nelen ludah sambil lihat kendaraan yang lewat.
"Marko ...." Tiba-tiba Sara bersuara. Gue noleh. "Iya, Sar?"
"Sebenarnya, apa yang sedang aku lakuin ini salah! Berduaan sama laki-laki yang bukan muhrim di agamaku itu salah besar! Gak boleh," tutur Sara tanpa natap gue. Gue hampir aja keselek ludah sendiri denger dia bilang gitu. "Tapi ... entah kenapa tiba-tiba aku ... ngirim pesan itu sama kamu." Sara nunduk dan ******* bibirnya.
"Kalau ... gak boleh, aku bisa pergi sekarang, Sar," ucap gue ragu, sebenarnya gue gak mau bilang begitu.
"Aku gak mau kamu pergi!" Sekarang Sara natap gue dengan tatapan yang sama seperti saat dia akan masuk kelas. Sumpah! Gue pengen tau kenapa dia natap gue kayak gitu.
Lagi-lagi gue menelan saliva.
"Sara ... maaf kalau aku udah ganggu lo. Jujur aja, aku ... pengen ngenal kamu lebih jauh, aku ... pengen deket sama kamu."
Gue lihat bibir Sara menyunggingkan senyum, tapi senyuman itu langsung dia sembunyikan.
"Kenapa, Ko? Kenapa kamu pengen deket sama aku?"
Tiba-tiba jantung gue terpompa dengan kuat, dan menyebar darah yang hangat ke seluruh tubuh. God, apakah gue harus bilang sekarang kalau gue cinta sama dia dari dulu? Beberapa detik gue berperang dengan nurani. Kalau gue gak bilang sekarang, kapan lagi? Ini kesempatan bagus!
Gue merubah posisi duduk menghadap Sara. Gue coba natap kedua mata dia setulus mungkin. "Sara, aku cinta sama kamu. Kamu boleh percaya atau enggak, dari kelas satu aku udah jatuh cinta sama kamu." Aaaaah, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut gue! Gue gak peduli tanggapan Sara gimana, yang pasti sekarang gue lega, hal yang udah gue pendam selama tiga tahun ini terucap.
Bola mata indah Sara masih natap mata gue, kita saling bertatapan lumayan lama, sampai akhirnya Sara mengerjap lalu nunduk. Gue gak tau apa yang dia rasain sekarang.
"Marko ... makasih, kamu udah jujur sama aku. Tapi ... kamu tau sendiri kan kita itu__"
"Beda agama?" sela gue. Sara ngangguk.
"Sara ... ajarin aku agama kamu!"
Sara langsung noleh gak percaya. Gue juga sebenarnya gak tau tiba-tiba bilang seperti itu.
"Marko ... kamu serius?!" tanya Sara. Gue merasa ada suatu rasa dalam dada yang sulit gue jelasin dengan bahasa apapun! Akhirnya gue pun ngangguk. Gue lihat mata Sara berkaca-kaca, lalu dia tersenyum ke gue.
"Oke," ucapnya.
"Mulai besok?" tanya gue. Sara ngangguk.
"Mulai hari ini dan seterusnya kita ketemu di sini?"
"Di sini? Mmm, boleh."
"Marko ... terima kasih ...." Sara natap gue penuh arti, dan gue lihat di sana seperti ada sesuatu yang enggak terungkap. Misterius. Sorot mata sedih seperti sebelumnya kini lenyap.
Sara, gue seneng liat kamu senyum kayak gitu. Teruslah senyum kayak gitu ke gue, Sar. Gue janji akan nolong kamu. Karena kamu udah memintanya ke gue, walaupun itu dalam mimpi, tapi gue akan mewujudkannya.
💖💖💖