
Terima kasih kepada para pembaca, yang membaca sampai akhir, silahkan berikan dukungan kalian, dengan cara apapun. Agar author bisa membuat karya lebih banyak.
Baca juga karya lainnya, (Rahasia Tersembunyi)
Happy Reading
Anna Gurviena bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan dan selalu membuatnya kesal dan marah mungkin laki-laki itu tidak punya perasaan, saat sahabatnya memberitahu bahwa laki-laki itu adalah kakak kelas barunya, bahkan Anna tidak peduli.
Alvin Dirgantara tidak suka melihat lelaki yang menyakiti perempuan dengan cara selingkuh bukannya ia mendekati gadis itu karena suka, Tidak sama sekali. Ia hanya menolong gadis itu saat kenyataan pahit ada dihadapan gadis itu.
Gibran Sanjaya, tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap gadis yang telah ia tabrak dan hasilnya membuat kaki gadis itu bermasalah. Ia tidak mungkin lepas tanggung jawab terhadapnya dan saat itulah ia mulai dekat dengan gadis itu.
.
.
Saat Anna melihat punggung tegapnya tidak salah lagi itu Alvin.
''Lepaskan aku.'' Titah Anna. '' Lepas.lepas!..''.
Alvin tak mendengarkan ucapan Anna, Anna sedikit memberontak. Tiba tiba lelaki itu berhenti berjalan Anna tak sengaja menabrak punggungnya.
'' Aw..kenapa kau tiba tiba berhenti? Lepaskan aku..!''. suara Anna memelan, Isak tangisnya mulai terdengar.
Tapi bukannya dilepaskan dia malah menarik Anna lebih dekat dengannya. Sekarang Alvin mendekap Anna,dia berontak lagi dalam pelukannya.
'' Apa yang kamu lakukan?'' lirih Anna, tapi dia hanya terdiam. Anna tak sanggup saat rasa sakit itu datang menerpanya lagi ketika mengingat kejadian itu.
Dia menumpahkan semua tangisannya didalam pelukan Alvin.''kenapa kamu jahat Revan?''. Lirih Anna.
Alvin mengusap usap kepala Anna dengan pelan, Gadis ini memang menyebalkan tapi waktu ia melihat bahwa gadis ini di berdaya oleh lelaki ia jadi geram. Bukan karena suka tapi Alvin tidak suka jika laki-laki menyakiti perempuan dengan cara selingkuh. Tetapi Alvin harus bersikap seperti biasa jutek, dan tak peduli, tapi kali ini tidak, sedikit peduli tidak apa-apakan? Pikir Alvin.
Alvin memeluk Anna dengan erat tapi seperti bukan paksaan terkesan melindungi. Anna menggigit bibir bawahnya mencoba Menahan isak tangisnya.
'' Sudahlah lupakan semuanya..!'' ucap Alvin, sembari melepaskan pelukannya. Alvin mengusap kedua pipi Anna dengan ibu jarinya mencoba menghapus air mata Anna yang sedari tadi keluar.
Anna merasa belum bisa bicara sepenuhnya, kedua matanya terasa sembab akibat menangis. Anna mengalihkan pandangannya melihat sekeliling ternyata Alvin membawanya kesebuah taman bermain untuk anak anak tak jauh dari sekolah, Alvin menarik tangan Anna lalu membawanya kesebuah ayunan kosong.
''Sudah, jangan nangis lagi!" sahut Alvin."kamu tuh jelek jadi tambah jelek tau!'' lanjutnya.
" Aku tidak peduli" jawab Anna singkat
Beberapa saat mereka terdiam hanya ada suara decitan besi yang saling bergesekan.
" Kamu masih memikirkannya?" Tanya Alvin.
" Hei.. aku yang bertanya kenapa kamu malah balik nanya??"tegasnya, nada suara Alvin terdengar agak meninggi.
"Hari ini kau terlalu banyak berbeda kak!''. Balas Anna pelan.
''Hari ini kau juga banyak nangis!". Baliknya
" Memang masalah buatmu?".
"Yah..tidak juga, cuma akhirnya kamu tau semuanya! Aku jadi lega" jelas Alvin dengan nada cueknya.
Anna melirik Alvin dengan mengerutkan keningnya."Apa maksudmu??" Tanya Anna heran.
Mereka berdua bermain ayunan dengan laju yang pelan. Pandangan Anna beralih memperhatikan taman bermain ini. Biasanya di sore hari taman ini dipenuhi anak anak yang sedang bermain, tapi sekarang tidak, mungkin dikarenakan langit yang sedari tadi sudah mulai mendung. Anna pikir sore ini akan cerah, secerah suasana hatinya sebelum bertemu dengan Revan tapi, langit seperti mengerti perasannya yang kelabu.
"Aku tanya apa maksudmu?"Anna mengulangi pertanyaannya, sembari menyipitkan matanya dan menatap Alvin lekat lekat.
"Iya..akhirnya kamu tau semuanya" jawabnya datar.
Anna mengernyit heran, lalu dia menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya dengan pelan seakan tau apa yang dimaksud Alvin, Anna melirik Alvin sesaat.
" Hah?? Ha ha.. jadi selama ini kamu udah tau semuanya dari awal". Anna tertawa hambar, menunduk menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
Oh, jadi begitu, dia sungguh merasa bodoh sementara Anna mencintainya, Revan ternyata mencintai orang lain. Sementara Anna mengerti perasaanya, ternyata Revan tidak. Sementara Anna memegang janji itu, Revan bahkan sudah melupakannya. Jadi selama ini, dari awal Anna tak tahu apa-apa. Malah terbuai dan mempercayai atas kebaikan Revan, tanpa tahu yang Revan berikan itu bohong. Menyedihkan betapa sengsaranya Anna atas cinta ini.
"Bagaimana kamu bisa tau hal ini? Kenapa kamu juga tidak pernah bilang? Kenapa kamu menyembunyikannya? Kenapa, kenapa?"suara Anna terdengar pelan, dia memalingkan wajahnya menghadap yang lain. Anna menahan air mata yang mendadak muncul.
Diam sejenak, Alvin menghela nafas."Yah, aku pernah melihat kamu bertemu dengannya, dan di hari yang sama aku juga melihat dia bertemu dengan orang yang berbeda."kata alvin." Oh ya, kamu Tanya kenapa aku tidak memberitahumu? Aku tak mau dianggap perusak hubungan orang, dan aku yakin kamu tidak akan percaya padaku." Tambahnya.
Anna melirik Alvin sebentar dan kembali menunduk, Alvin benar kalaupun dia memberitahunya, ia tidak mungkin langsung percaya pada Alvin. Anna termenung mendengar semua jawabannya Alvin, jujur Anna tak sanggup lagi berbicara.
" Ayo kita pulang, sebentar lagi sepertinya akan hujan!"Ajaknya.
"iya" sahut Anna pendek.
.
.
.
.