
"Potong tomat menjadi 4 bagian"
"Masukan penyedap rasa yang sudah disiapkan"
Berkali-kali aku belajar memasak dengan menonton tutorial di YouTube, gagal dan gagal rasanya tidak sesuai, padahal aku sudah melakukan apa yang orang itu katakan, tapi aku tidak menyerah dan terus mencoba.
Sesudah masakanku bisa dibilang layak untuk dimakan aku juga belajar cara menyajikannya di bento agar terlihat lucu dan menarik, itu semua tidak mudah dan butuh perjuangan yang panjang. Membagi waktu sebagai sutradara dan juga orang biasa. Pada akhirnya aku tersenyum bangga saat masakanku sempurna, tidak lain dan tidak bukan ini aku lakukan untuk Akane.
Mengetahui gadis itu tinggal sendiri, dan sepertinya jarang memperhatikan keperluannya, aku berinisiatif untuk memberikan bento setiap hari walaupun secara diam diam. Saat melihat dirinya malam itu sampai kelelahan setelah syuting hingga bahkan dia mengacuhkanku yang mengikutinya sampai apartemennya, aku yakin ia bahkan tidak menyiapkan makanan sendiri.
"Yosh, sempurna.."Gumamku, aku tersenyum lebar melihat apa yang sudah aku buat, nasi yang dibulat bulatkan lalu di beri mata dan juga mulut, persis karakter hello kitty.
Yah benar, aku membeli peralatan peralatan seperti itu, layaknya seorang ayah yang ingin membekali makan putrinya.
Hari itu, aku pertama kalinya memberikannya pada Akane, sengaja menggeletakannya di depan pintu aptnya, hatiku berdegup kencang, apa dia akan menyukainya? Aku bersembunyi di koridor dan memata matainya dari jauh, dan disangka setelah lima menit aku menyimpannya disana ia langsung keluar. Aku pikir dia akan keluar agak siangan tapi ternyata tidak. Mungkin karena lapar.
Aku ingin tertawa karena gadis itu terlihat kebingungan sekaligus takut, ia sangat berhati hati memegangnya, ya wajar saja ini mungkin pertama kalinya ia menemukan sesuatu didepan pintu aptnya yang artinya ditujukan untuknya. Tak lama gadis itu membuka bentonya, melihat dia mencium masakanku ada rasa bahagia menjalar keseluruhan tubuhku, namun aku sedikit sedih melihat ia menutup kembali dan mungkin berniat membuangnya, namun sedetik kemudian ia memutuskan membawa makanan itu masuk dan tidak jadi keluar. Sudah kuduga ia berniat membeli makanan, aku senang pilihanku tepat.
Syuting akhirnya selesai, aku tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi setiap hari, kalaupun aku meminta untuk bertemu dengannya aku jamin seratus persen bahwa Akane tidak akan menyetujuinya. jadi yang bisa aku lakukan sekarang adalah memasak untuknya setiap hari. Kira kira apa dia tau aku yang melakukannya? Untungnya ia selalu membawa masuk masakanku, namun di dalam aku tidak tahu apa yang ia lakukan terhadap masakanku, memakannya atau membuangnya?
Ada suatu hari aku melihatnya pulang dengan wajah sedih, lesu, entah apa yang terjadi padanya. Aku ingin membuatnya tersenyum lagi, akhir akhir ini statusku sepertinya berubah menjadi seorang stalker, karena hanya menguntit Akane, walaupun aku sangat merindukannya aku sama sekali tidak ingin mengganggu kegiatannya, tidak ingin dia marah marah, tidak ingin dia kesal, jadi aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Aku tidak bisa melepaskan bayangan saat kami bertemu diruang make up waktu itu, saat aku dan dirinya bersatu, dan aku merasa dia merasakan hal yang sama, rindu yang tak terobati.
Melihatnya sedih hari itu saat berjalan pulang, hatiku sangat gusar, aku tidak bisa menanyakan kenapa, aku tidak bisa ada disampingnya, aku tidak bisa menghiburnya, keseharian ku sekarang hanya dipenuhi dengan Akane.
Dari salah satu sudut jalan, seorang pria paruh baya membentangkan sehelai kain berwarna merah ditanah lalu menjajarkan dan menyusun boneka boneka disana, ada beberapa Gadis SMA disana. Saat aku melewati mereka tak sengaja aku mendengar percakapannya.
"Wah bonekanya lucu sekali! Aku pasti senang sekali bila pacarku memberikan hadiah seperti ini." ucap gadis berambut kepang.
"Benar, walaupun seharian murung dan marah tapi kalau dapat hadiah seperti itu kayaknya aku bakal bisa tersenyum dan ceria lagi sepanjang minggu ini." Gadis yang disampingnya setuju dengan itu.
Seketika langkahku terhenti sesaat, lalu pandanganku mengarah pada boneka boneka itu
"Wah besar sekali.." Gumamku.
Dan keesokan harinya seperti biasa aku meletakkannya didepan pintu pagi pagi.
Ketika aku bersembunyi, alangkah terkejutnya aku mendengar suara barang yang jatuh dan ternyata tak jauh dariku Akane sedang melangkah menuju aptnya ia menjatuhkan ponsel yang dipegangnya. Buru buru aku langsung berlari dari posisiku saat ini, Untung saja ia tidak menyadari keberadaanku, langkahnya gontai sepertinya ia setengah mabuk, Tidak biasanya ia datang pagi. Kemana Managernya? Aku banyak bertanya dalam hati. Jujur aku sangat khawatir namun rasanya Sulit untuk menampakkan diriku.
Gadis itu berhenti tepat didepan boneka yang terbungkus itu, ia hanya terdiam dan berkali kali mengucekan matanya, dan tanpa pikir panjang langsung menyeret boneka itu ke dalam rumahnya. Sepertinya ia tidak sadar. Aku sangat khawatir.
.
.
Minggu depan ada acara penghargaan, ini kesempatanku untuk bertemu dengannya lagi secara langsung, biasanya aku tidak datang bahkan tidak tertarik mengikuti acara seperti ini, namun kali ini aku memutuskan untuk datang. Film yang aku sutradarai juga masuk ke dalam nominasi.
Aku mematut diriku di depan cermin, setelan jas ini sangat cocok untukku, penampilanku harus sempurna malam ini.
Akhirnya hadir ditempat ini, ternyata lelah juga bersalaman dengan banyak tamu, aku sadar diriku sedang naik daun, jadi banyak petinggi lainnya membuka obrolan denganku, Aku berjalan dan melihat gadis itu dari belakang yang sedang bercengkrama dengan orang lain dan sedetik kemudian saat aku akan menemuinya seorang pria datang tanpa segan langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Akane,
Deg
Jantungku tertikam belati.
Siapa orang itu?
.
.