
Pagi dengan matahari bersinar hangat, tempat ini memang membangkitkan kenangan, masih ada yang mengganjal dalam diriku, aku memutuskan hubungan begitu saja.
"Bagaimana kabar Frill yah?" Gumamku.
Aku merasa sangat bersalah terhadapnya karena pergi begitu saja, hari ini aku ingin menemuinya. 5 tahun berlalu namun serasa masih kemarin.
Hari ini aku senang bisa menemuinya lagi setelah sekian lama, kami berdua duduk bersama di kedai kopi favorit kami dulu, tempat aku selalu bersandar padanya.
Aku mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, Frill awalnya merasa kesal dan terluka oleh tindakanku yang tidak memberitahunya tentang perubahan besar dalam hidupku, Kini Frill juga sudah menjadi seorang guru.
"Akane, aku merasa sangat kesal,marah ketika kamu tiba-tiba pindah sekolah tanpa memberitahuku. Aku merasa kamu telah melupakan aku sebagai sahabatmu," ucap Frill dengan penuh kecewa.
"Frillchan aku sangat menyesal atas apa yang terjadi. Aku tidak bermaksud untuk melupakanmu atau mengabaikan hubungan kita." kataku terbata bata."Saat itu, aku sedang menghadapi banyak perubahan dan kesulitan dalam hidupku, dan aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Aku tahu aku telah membuat kesalahan besar,"
Fril menggigit bibir bawahnya menatapku dengan nanar."Bahkan sampai kamu mau bunuh diri? Akane apa kamu sebodoh itu? Kenapa kamu tidak cerita padaku? Dan sekarang kamu berhubungan lagi dengan Aqua? Aku merasa itu tidak benar."
"Maaf, aku memang bodoh Frillchan, aku tahu kamu pasti tidak akan merestui Aqua, namun.."
Frill menyela."Tidak, Akane, kamu yang tahu keputusanmu benar atau tidak, aku hanya orang luar yang menilai tanpa tahu apapun."
Aku lantas memeluk Frill."Maafkan aku Frill.."lirihku.
"Aku mengerti bahwa kamu sedang melalui masa sulit, aku hanya merasa bersalah tidak berada di sisimu saat itu,namun sekarang aku senang melihatmu berhasil menjadi seorang aktris, dan aku bangga menjadi sahabatmu," ucap Frill dengan senyuman.
Aku menyadari betapa berharganya persahabatan kami, tapi saat itu aku menyia-nyiakannya.
Setelah bertemu Frill, aku juga pergi ke danau Aishi tempat hidup dan matiku, ketika aku tiba di Danau Aishi, aku masih merasa terpana oleh keindahan alam sekitarnya. Air danau yang tenang dan jernih mencerminkan langit biru di atasnya, menciptakan pemandangan yang menenangkan.
Aku duduk di tepi danau, mengenang momen-momen yang telah terjadi di tempat ini. Aku mengingat saat-saat kebahagiaan bersama orang tuaku, bermain di danau ini. Sekarang setelah dewasa aku mengerti kenapa Mama dan papa saat itu ingin pergi kesini, ternyata setelah dewasa kau hanya perlu ketenangan dalam hidup, tidak perlu tempat ramai atau megah, dan alam memberikan itu, disini aku merasakan kedamaian dan kebahagiaan.
...----------------...
Keesokan harinya kami memutuskan berziarah, meskipun ini mungkin akan membawa kesedihan. Kami akhirnya tiba di pemakaman yang terawat dengan baik, secara bergiliran ke kuburan ayahku dan juga Taiki.
Aku merasa sedih saat melihat nisan Papa. Lalu meletakkan bunga segar di atasnya dan menundukkan kepala dalam doa. Aqua berdiri di sampingku, memberikan dukungan dan menggenggam tanganku erat.
"Papa, aku merindukanmu. Aku berharap papa bisa melihat betapa bahagianya aku sekarang, Disana papa juga bahagia kan? Yang tenang disana papa." gumamku lembut.
Setelah itu Aqua juga meletakkan bunga di depan nisan kakaknya. Dia merasakan kehilangan yang mendalam, tetapi juga berterima kasih atas kenangan indah yang telah dilalui bersama.
"Niisan, aku berharap kau tahu betapa aku merindukanmu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku," bisik Aqua dengan penuh haru.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami mengucapkan perpisahan yang terakhir. Meskipun dalam hati masih penuh duka, namun disisi lain merasa lega karena datang untuk memberitahukan kabar baik.
Setelah semua hubungan terjalin kembali dan kepercayaan dipulihkan, kami memutuskan untuk mengikat janji pernikahan,kami ingin melangkah ke jenjang selanjutnya.
Rasanya semua kesedihan dulu seketika menghilang begitu saja,digantikan dengan momen bahagia.
.
.