
"Lepaskan! Lepaskan! Aqua apa yang kamu lakukan?"
Aku tahu Aqua merasa hatinya terbakar oleh api cemburu ketika melihatku dengan Melt, namun aku tak tahu ia sampai menguntit ku.
"Akane, aku harus bicara denganmu sekarang juga!" ucap Aqua dengan nada yang penuh emosi.
Aku terkejut dan marah pada Aqua, ia menganggu kencanku padahal ia sendiri berhubungan dengan orang lain.
"Apa yang kau lakukan, Aqua? Kau menggangu kencanku!" seruku dengan suara tinggi.
Ia masih tidak menjawab dan terus membawaku menjauh dari taman, saat menengok kebelakang ternyata Meltkun tidak mengejarku, mungkin karena ia terluka dengan pukulan Aqua. Aqua tidak peduli dengan pandangan orang lain. Dia hanya terfokus pada rasa cemburunya yang semakin membara, Ia akhirnya berhenti lantas memasukkanku ke dalam mobilnya.
"Apa kau gila? Kenapa kau melakukan ini padaku?" Bentakku padanya.
"Aku melihatmu bersama pria itu. Apa kau pikir aku akan duduk diam dan melihatmu bersenang-senang dengan orang lain?" kata Aqua dengan nada menantang.
Mendengar perkataanya membuatku semakin kesal dengan sikapnya, apa apaan? Ia sama sekali tak memiliki hak untuk merasa cemburu setelah apa yang telah ia lakukan padaku.
"Kau tidak punya hak untuk merasa cemburu, Aqua! Kau pernah menyakiti aku, dan aku membencimu!" bentakku dengan amarah yang membara.
Melihat raut wajahnya sepertinya kata-kataku telah menusuk hatinya, terlihat rasa penyesalan lagi muncul dalam sorot matanya, mungkin ia menyadari betapa buruknya dulu kesalahan yang telah ia lakukan Namun, Aqua tidak menyerah begitu saja. Dia menggenggam tanganku dengan lembut.
"Aku tahu aku telah salah dulu, Akane. Tapi aku telah berubah, dan aku ingin memperbaiki kesalahan itu. Aku mencintaimu, dan melihatmu bersama orang lain membuatku gila," ucap Aqua dengan suara penuh kejujuran.
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk antara marah dan ragu, sejujurnya aku tau ia telah berubah dengan sikapnya padaku, apa ia juga yang selalu mengirimku bento? Namun saat melihatnya kembali dengan gadis itu, hatiku terasa sakit.
"Aku tidak mempercayaimu lagi!" desis ku tajam.
Aku hanya terdiam memalingkan wajahku, dan ingin menatap wajahnya yang memelas.
"Baiklah Akane,mungkin aku juga harus mati untuk menebus kesalahanku." ucapnya lagi dan langsung membuka pintu mobil lalu berlari ketengah jalan.
Melihat tingkahnya itu membuat mataku membulat dan langsung mengikutinya."Apa kau gila? Kau ingin menyiksaku dengan rasa penyesalan?" Teriakku padanya.
Tak lama sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju, namun pria itu tetep bersikukuh berdiri ditengah jalan tanpa pikir panjang aku langsung berlari kearahnya mendorong nya kepinggir jalan dan akhirnya kami berdua terjatuh sedetik kemudian mobil itu melewati kami, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak melakukan ini.
"Baka! Baka!Baka!" isakku yang berada dipelukannya,"Kenapa kau malah melakukan hal konyol ini?" Ucapku lagi dengan memukul mukul dadanya.
Dia hanya memeluk ku lebih erat lagi.
"Kau pikir saat aku melakukan itu dengan pertimbangan segampang ini? TIDAK, aku tidak ingin melakukan itu." ucapku terbata bata di sela sela isakan.
"Aku tahu." Jawab Aqua dengan lembut."Aku tahu semuanya."Akane, aku berjanji bahwa aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, Aku ingin memulai kembali, membangun hubungan ulang denganmu. Aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan," ucap Aqua dengan tulus.
Aku memperhatikan raut wajah Aqua yang penuh penyesalan dan kejujuran. Aku merenung sejenak, apakah aku harus memberikan kesempatan kedua untuknya?
"Aku memang masih merasa kesal,jangan mengecewakan aku lagi," ucapku dengan hati-hati.
Aku yakin Aqua merasa lega mendengar kata-kata itu. Dia merasa terharu atas kesempatan kedua yang diberikan olehku. "Terima kasih, Akane. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, aku janji," ucap Aqua dengan suara yang penuh haru.
Meskipun masih ada keraguan dan luka yang perlu disembuhkan, aku mengambil keputusan berkomitmen untuk saling memperbaiki dan membangun kembali kepercayaan yang telah hilang. Aku penasaran apa Aqua mampu membuktikan perubahannya? Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Kami kembali kedalam mobil, setelah apa yang terjadi didalam kami hanya terdiam, mungkin kejadian tadi seperti mimpi yang terwujud baginya, aku juga berusaha meyakinkan diri bahwa keputusanku benar, mempercayai Aku lagi, walaupun masih banyak kesalahan pahaman diantara kita, pandanganku mulai gelap dan akhirnya tidak mengingat apapun lagi, yang ada hanya suara suara kendaraan yang terdengar.