Love Me More!

Love Me More!
Pengakuan



Sinar matahari yang menyusup pada jendela berhasil membuatku bangun dari tidur, sebentar aku terdiam berusaha mengumpulkan kesadaranku. Aku mengucek ucek kedua mataku memfokuskan pandanganku pada jam yang tergantung di dinding.


"Niisan.."Gumamku pelan.


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, aku tak percaya bisa tidur begitu saja setelah kejadian tadi malam. Sudah sepenuhnya sadar aku bangkit dari ranjang untuk keluar kamar, namun dari atas aku melihat keluargaku yang berkumpul diruang tengah. Aku bertanya tanya apa yang terjadi, ya bagaimana tidak. Baru kali ini aku melihat mereka berkumpul pagi pagi seperti mengobrolkan hal yang serius. Pikiranku melayang kepada Akane, apa gadis itu sudah menceritakan semuanya?


Daripada aku berpikiran kemana mana akhirnya aku memilih untuk turun, sebelum sampai pada mereka untuk mengucapkan selamat pagi. Mama sudah berceloteh padaku.


"Sudah bangun?"Tanyanya dingin tanpa melirik kearahku. Perasaanku tak enak saat itu juga. Orang orang disana tiba tiba bersikap dingin. Tak ada yang menyambutku.


Papa hanya fokus pada koran yang dibacanya sedangkan Ruby asyik bermain ponselnya.


"Ya"Aku mengangguk mantap.


Akhirnya mata Mama yang dingin menatapku dengan tajam."Duduk"Sahutnya menunjukkan sisi yang kosong disebelahnya.


Aku menatapnya heran namun tak mempertanyakan apapun karena mau tak mau, siap tak siap aku harus mengahadapi situasi ini, lantas aku duduk seperti yang disuruhnya. Setelah aku duduk mereka menghentikan kegiatan masing-masing dan fokus mentapku.


"Ada apa?"Akhirnya aku mempertanyakan keadaan ini, karena merasa tak nyaman disudutkan.


Papa mencondongkan badannya sembari menatapku dalam-dalam."Akane ingin membatalkan perjodohan ini."Katanya dengan tegas.


Aku tercengang mendengar itu,"Membatalkan perjodohan ini?"Kataku mengulangi pernyataan papa, masih tak percaya dengan apa yang aku dengar."Kenapa?" Tanyaku heran. Aku tahu ini pertanyaan konyol karena aku tahu sendiri jawabannya.


"Itu yang ingin kami bahas, kenapa Akane ingin membatalkannya? Ia tidak memberikan alasan yang jelas selain tidak ingin bertemu denganmu lagi." Jelas papa dengan wajah kesal."Sepanjang dirumah sakit ia tidak banyak berbicara, kenapa ia berada disana atau apapun, jadi kami ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi?" Lanjut Papa meminta pengakuanku.


Aku hanya menunduk dan menghembuskan nafas panjang, Mama yang berada di sampingku menggenggam tanganku tiba tiba.


"Aquakun, kamu tahu semuanya kan? Kamu tak akan membatalkannya kan? Kalian sedang bertengkar? Mama pikir kamu harus menemui Akane." Ujar mama yang gelisah.


Seharusnya aku bahagia di situasi ini, hal yang aku inginkan akhirnya terjadi dimana ingin perjodohan ini dibatalkan. Tapi aku tidak merasa senang, senyum sama sekali tidak muncul setelah mendengar keinginan Akane, Aku malah merasa kesal ia memutuskan semua itu setelah kejadian ini, setelah diriku merasa menyesal, setelah diriku merasa bersalah bisa bisanya ia ingin kabur begitu saja.


"Ini salahku dan aku akan menanggungnya serta bertanggung jawab." Kataku dengan tegas.


"Apa yang terjadi kau belum menjelaskannya?"Tanya mama lagi menekanku untuk menguak kejadian ini.


Aku menghirup nafas dalam dalam untuk bersiap mengatakannya."Aku memintanya untuk mati dan malam itu Akane bunuh diri."kataku dengan gemetar.


Suasana langsung berubah menjadi hening seolah mencerna perkataanku dan genggamannya mama berubah menjadi tamparan untukku.


Matanya menatapku nanar namun penuh dengan emosi tak percaya dengan apa yang sudah kukatakan, baru pertama kali aku melihatnya begitu. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal sekejam itu?" Teriaknya didepan wajahku."Pantas saja gadis itu ingin membatalkan perjodohan ini, ini sudah keterlaluan mau di taruh dimana wajah keluarga kita."


papa berusaha menenangkan Mama yang emosi ia belum mengatakan apapun dan Ruby hanya menatapku dengan tatapan kesal sekaligus merasa empati, karena ia tahu hubunganku dengan Akane seperti apa.


Setelah semuanya agak terkontrol akhirnya Papa membuka pembicaraan."Apa karena Taiki?" tanyanya dengan tenang.


Seketika pertanyaan papa yang mengenai sasaran membuat hatiku bergejolak, dan tanpa sadar air mataku jatuh."Maafkan aku, aku belum bisa menerima kematiannya." kataku dengan pelan dan gemetar."Kalau aku bisa menghentikan waktu aku ingin terus berada pada saat-saat bersamanya, ingin terus berbicara dengannya aku tidak ingin Oniisan mati, aku ingin mengorbankan segalanya untuk membuatnya kembali." Dadaku sesak saat memoriku kembali mengingat oniisan yang selalu ada untukku.


Tangisanku semakin menjadi setelah selama ini aku menahannya dan berpura-pura kuat, Oniisan yang selalu menguatkanku ia segalanya bagiku.


Selama ini aku yang selalu dekat dengan Oniisan, orang tua kami sibuk dan ia seperti sosok orang tua bagi adik adiknya.


Melihat reaksiku mama langsung memelukku."Maafkan kami, maafkan mama, karena tidak tahu perasaamu yang sangat terluka." ia juga ikut terisak. Semuanya merenungkan Taiki yang sudah meninggalkan kami hampir setengah tahun ini.


Sekarang aku cukup tenang dan bisa berpikiran logis." Namun sekarang aku sadar aku salah, aku tidak bisa menyalahkan semua ini pada Akane, sikpaku yang kasar padanya selama ini, aku menyesalinya setelah hampir membunuhnya dengan kata-kata ku."


"Mama tahu Aquakun anak yang baik." Ia mengelus elus pungguku menenangkanku."Maafkan mama dan papa karena selalu mendorongmu tanpa memperhatikan perasaanmu."


Aku menyeka wajahku yang kusut."Aku akan bertanggung jawab, aku akan meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan, walaupun mungkin ini tak bisa di tebus hanya dengan kata maaf, aku tahu oniisan juga tidak menyukai sikapku yang seperti iblis waktu itu."


"Aku akan menemuinya hari ini."


.


.


.


FLASHBACK


Pikiran ku tak karuan dengan terhuyung huyung aku berusaha mendekati ranjang, kepala ku terasa pening dan tanpa sadar aku tertidur.


Aku berada di Padang rumput yang luas dan hanya ada satu pohon tumbuh disana dengan daun rindangnya seorang lelaki berdiri tepat disamping pohon itu berpakaian putih dengan senyuman lebar melambai kearahku.


Menyadari itu adalah Oniisan aku langsung berlari kearahnya. Diriku disini ternyata masih kecil mungkin berumur 7tahun.


Aku langsung berhambur memeluknya."Niisan kemana saja kamu? Kenapa kau meninggalkanku? Aku ingin terus bersamamu." rengekku sambil menangis.


Ia menepuk-nepuk kepalaku." hei Aqua, kau sudah dewasa bagaimana mungkin kau menangis seperti itu, laki laki tak boleh menangis dan harus kuat."


"Aku tak peduli, pokoknya aku ingin bersama niisan."


"Aku tahu Aqua anak yang hebat, kau bisa terus melanjutkan hidupmu, menjadi mandiri dan dapat diandalkan iya kan?" ia menatapku dengan hangat.


Aku hanya menggauk kecil.


"Aku akan Terus bersamamu dan memperhatikanmu, jadi tolong lanjutkan hidupmu dengan baik."


Aku hanya menatapnya nanar."Niisan akan terus bersamaku? Janji?"


Ia tersenyum dan memegang tanganku lalu mengarahkan pada dadaku."Ya, aku akan terus bersamamu didalam hatimu, aku akan tinggal disana menjalani hari hari denganmu, bersatu denganmu Aqua. Jadi janjilah padaku bahwa kau akan menjalani hidupmu dengan baik, bijak dalam mengambil sikap oke?"


Aku mengangguk mantap.


Sinar matahari yang menyusup pada jendela berhasil membuatku bangun dari tidur, sebentar aku terdiam berusaha mengumpulkan kesadaranku.


.


.