Love Me More!

Love Me More!
Sadar



"Dokter apa dia baik baik saja?"


Tanyaku panik pada seorang dokter yang keluar dari ruangan, dokter itu memberikan senyum tipis sembari menenangkanku. Ia mengangguk kecil.


"Iya gadis itu baik baik saja namun masih belum sadar." Katanya dengan tenang.


Aku mengerutkan kening heran."Kenapa ia masih belum sadar?"


"Sepertinya itu pengaruh obat bius, saya menduga ia meminum atau menyuntikkan obat bius?" Jelas dokter.


"Obat bius? Kenapa aku tidak mengerti?" desahku pelan. Apa jangan jangan Akane sengaja meminum obat untuk bunuh diri agar ia tidak sadarkan diri saat melakukannya. Gadis itu benar-benar berniat mengakhiri hidupnya.


Tak lama terdengar teriakan dari dalam ruangan, dimana Para suster sedang menangani Akane yang memberontak. Gadis itu sudah sadar bergegas aku pergi kesana.


Aku melihat dirinya yang terus berteriak histeris.


"Kenapa aku ada disini? Kenapa kalian menyelamatkanku? Seharusnya aku sudah mati." Teriaknya seraya memberontak berniat melarikan diri.


Langkahku terhenti dan tak sanggup untuk masuk kedalam berhadapan dengannya,rasa bersalah menyeruak dalam benakku. Apa yang harus aku katakan? Bagaimana sikapku saat berhadapan dengannya?


"Lepaskan! Lepaskan aku! Biarkan aku mati.." Lanjutnya lagi.


Tiba tiba air mata berkumpul penglihatanku mulai kabur, aku menahan nafas dan pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menemuinya.


"Kamu harus hidup." kata kata itu keluar dari mulutku. Aku mengepalkan tangan dan berusaha terus bicara.


Ia menoleh padaku dan tak berontak lagi. Menatapku dengan intens terlihat ada ekspresi marah dalam dirinya nafasnya berburu cepat.


Aku berusaha menelan ludahku yang kelu."Aku tidak membencimu, aku senang kau masih hidup. Jadi kumohon untuk tetaplah hidup."


Karena tak sanggup menanggung rasa bersalah, aku memutuskan untuk pergi setelah mengatakan itu, tak sanggup melihat wajahnya yang pucat pasi dan tidak berdaya. Jika saja waktu itu aku tidak menyelamatkannya mungkin aku akan hidup dalam penyelesalan.


"Aqua bagaimana keadaan Akane sekarang? Kenapa ia bisa berada di rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya mereka khawatir.


"Ia baik baik saja." Jawabku pendek seraya Mengalihkan pandangan dari mereka karena aku sehabis menangis.


Soahara-san tampak menghirup nafas lega mengetahui putrinya kini baik baik saja. "Aquakun sekarang mau kemana? Kenapa tidak menemani Akane?"Tanyanya kebingungan melihat tingkahku.


Aku berusaha mencari alasan namun karena darurat aku hanya mengatakan." Aku harus pergi."Lalu melongos begitu saja meninggalkan mereka.


Jujur aku masih belum sanggup untuk mengungkap semuanya. Kesalahan kesalahan ku. Bagaimana cara aku menembusnya. Bagaimana cara aku menjelaskannya. Bagaimana dengan diriku yang tak tentu arah ini.


Aku sampai dirumah yang sepi. ya karena keluarga ku berada dirumah sakit. Aku membuka kaosku yang basah. lalu membasuh wajahku dengan air kran, wajahku yang berantakan ini, aku mengambil segenggam air lagi terasa dingin menyelimutinya aku lantas mengambil handuk kecil yang tergantung didekatku sekarang aku mulai merasa sedikit lebih tenang. Lama ku tatap diriku di cermin.


Kosong.


Akhir akhir ini banyak kejadian yang membuat yang menggangu pikiranku. Segalanya datang dan pergi begitu saja. Oniisan perbuatanku keterlaluan ya? Aku tak bermaksud sejauh ini sebenarnya. Kata kata waktu tunangan refleks keluar begitu saja, aku tak tahu gadis itu akan nekad.


Pasti sekarang ia senang sudah membuat ku merasa menyesal. Dalam hatinya pasti ia tertawa terbahak-bahak karena membuat diriku uring uringan begini. Membuatku merasa bersalah, dan keluarga ku pasti akan murka padaku.Akane kau hebat juga ya.


Aku tertawa hambar.


Baiklah aku akan ikuti permainanmu. Ayo kita langsungkan perjodohan ini.


Besok aku akan menemuimu dengan diriku yang baru. Diriku yang berusaha akan mencintaimu sesuai janjiku.


Setelah hampir kehilangannya aku menyadari diriku yang tidak ingin kehilanganmu.


Perasaan apa ini?