Love Me More!

Love Me More!
Penyesalan



Sekali lagi ia akan menciumku, namun kali ini aku menghindar, aku mendorong dadanya menjauh dan beranjak dari kursi, sejenak aku melihat wajahku dicermin seperti kepiting rebus yang memerah, Sial, apa yang sudah aku lakukan.


Kesadaran ku sudah kembali, rasanya adegan tadi hanya mimpi, aku tidak percaya aku melakukannya, dan sekarang aku akan melarikan diri, tanpa memandangnya lagi aku melangkah pergi, namun baru satu langkah lenganku dicengkeram erat olehnya, sehingga ide untuk melarikan diri terhapus begitu saja.


"Aku merindukanmu.." Ucap Aqua dengan lantang.


Aku tak menanggapi ucapannya."Lepaskan.." Sahutku tajam.


"Aku mohon jangan pergi.." Pinta Aqua namun cengkraman sekarang lebih kuat ketika aku berusaha untuk melepaskannya.


"Sakit! Tanganku sakit lepaskan.." Teriakku.


Sebenarnya yang sakit adalah hatiku, kenapa kau selalu berbuat seenaknya, kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu, kenapa kau terus memainkanku? Apa maksud ciuman tadi? kenapa Aqua bertingkah seperti ini, Baru tadi ia memperlakukanku seperti orang asing yang baru kenal, dan sekarang aku malah harus berusaha melepaskan diri dari cengkraman cowok ini.


"Kau itu kenapa sih?" protesku karena tak digubris tanpa aba aba cairan bening berkumpul dimataku, padahal aku sama sekali tak ingin menangis dihadapannya.


Ada perasaanya yang aku tekan dari dulu, dan akhirnya Aqua melepaskan cengkramannya saat itu juga aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tangan, bahuku bergetar hebat, kenapa aku ingin menangis seperti ini? Kenapa harus dihadapannya? Aku menggigit bibirku menahan isakannya yang ingin keluar, aku ingin melangkah pergi namun ia malah memelukku.


"Sudah selesai menangisnya?" Tanyanya dengan santai.


Hatiku semakin bergejolak dan berusaha melepaskan diriku darinya, karena terus ditahan aku memukul mukul dadanya berkali kali.


"Aku sangat membencimu! Kenapa? Kenapa? Kau muncul lagi..." lirihku di dadanya.


Setelah agak tenang, ia melepaskanku tapi aku sama sekali tak ingin memandangnya, selain malu karena adegan tadi, aku tidak mau dia salah paham menganggap aku masih menyukainya.


"Kamu masih suka padaku kan?"


Mendengar itu mataku langsung melotot, tuhkan pasti dia salah paham.


"Tidak," Sanggahku dengan cepat."Yang tadi hanya kesalahan, jadi jangan berpikir seperti itu, aku sering berciuman juga dengan orang lain tadi itu hanya terbawa suasana." Ucapku mencari alasan.


Aqua hanya terkekeh pelan." Kau tak pandai berbohong Akane.."


"Pergi?? Akane aku sudah lama tidak melihamu tapi kenapa kamu akan pergi secepat ini?"


Mendengar itu langkahku terhenti, kenapa cowok ini masih tak mengerti?


"Maaf, tolong jangan membenciku lagi," Sahutnya lagi.


Setelah Akane mati, Aqua sudah menepati janjinya untuk menyukainya, aku sudah merasa cukup untuk itu, tapi sekarang aku bukan Akane waktu itu dan aku tidak ingin jatuh kelembah yang sama lagi.


Aku berbalik melihat wajah Aqua yang terlihat sedikit frustasi.


"Kau suka padanya kan?"


Aqua mengerutkan mening heran "Siapa?"


"Akane.. Kau bilang suka padanya kan? Merindukannya kan?" Tanyaku lagi meyakinkan.


"Ah..iya tentu saja, aku menyukaimu, aku sangat merindukanmu, aku menantikan hari ini sejak lama.."


"Dia senang kau menepati janjimu, bahwa kau akan menyukainya setelah ia mati.." Ujarku membuat Aqua merasa bersalah lagi.


"Apa maksud kata katamu?" Tanyanya mendesak.


"Kata yang mana? Maksud dari perkataanku yang mana? Dari awal aku bilang Akanemu sudah mati Aqua.."Ucapku penuh emosi, rasanya ada sesuatu yang ingin ku keluarkan juga.


Aqua sekarang hanya terdiam, sorot matanya menunjukan penyesalan.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa memaafkanku?"


.


.