
Setelah apa yang terjadi, Kami melanjutkan perjalanan, aku merasa lega akhirnya Akane menerima perasaanku lagi, Namun selama perjalanan kami saling merenung membiarkan suasana hening memenuhi ruang di dalam mobil.
Saat aku melirik gadis itu ternyata ia sudah tertidur lelap,mungkin karena lelah setelah semua yang terjadi, aku memutuskan untuk membawanya ke apartemenku.Dengan hati-hati, aku mengangkat Akane, menggendongnya ala bridal style, tubuh gadis ini terasa ringan, apa dia selalu makan dengan baik?
Setelah sampai aku meletakkan Akane dengan lembut ke atas ranjang,menutupi tubuh Akane dengan selimut, memastikan bahwa dia tidak kedinginan. Sejenak aku perhatikan wajah tidurnya yang damai dan rasa bersalah menghantuiku lagi, aku merasa terlalu egois terhadapnya memaksa ia untuk berhubungan lagi denganku, tindakanku selalu salah! Kehadiranku selalu menghalanginya untuk bahagia.
"Maaf." Bisikku ke telinganya.
Aku menghela napas panjang, mencoba menghilangkan kegelisahan. Dan mencium keningnya dengan ringan tanda kasih sayang, namun gadis itu melenguh dan tak lama tersadar, ia mengerjap ngerjapkan matanya.
"Aqua? Dimana aku?" tanya gadis itu dengan suara serak.
"Kamu ada di apartemenku. Aku membawamu ke sini karena kamu tertidur di mobil. Maaf jika aku mengganggumu," ujarku dengan penuh perhatian.
Akane mengangguk perlahan, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia mengangkat selimutnya lebih tinggi hingga hanya memperlihatkan matanya. Ia menatapku dengan curiga.
"Kamu tak melakukan apa-apa padaku kan?" tanyanya panik.
Aku hanya mengerutkan kening, bahkan aku tak sampai memikirkan hal itu. Namun melihatnya seperti itu aku ingin menjahilinya," Aku menginginkannya Akanechan.." Ucapku dengan menggoda.
Gadis itu malah melempar bantal kearah ku."Hentai..!"
Dalam diam, suasana disekitar kami mendadak terasa aneh. Aku memutar pandangan. Berdua bersamanya disini benar-benar membuatku salah tingkah. Lalu aku putuskan mengungkapkan perasaan resahku.
"Akane, aku menyadari bahwa aku telah terlalu memaksa kamu untuk berhubungan lagi denganku. Aku merasa bersalah karena mungkin aku terlalu berlebihan."Ucapku dengan serius."Setelah aku pikirkan sepertinya kamu lebih baik tanpa aku," ungkapku dengan suara yang penuh penyesalan.
Akane diam sejenak, merenungkan kata-kataku lalu sebuah tamparan melesat pada pipiku."Kenapa kamu mengatakan ini? Kenapa kamu mau merelakanku setelah apa yang terjadi? Kenapa kamu menyerah?" Sahutnya penuh emosi, kedua tangannya kemudian mencengkram kerah bajuku.
"Kamu tahu Aqua, saat memutuskan ini aku merasa bingung dan takut. Namun, ada bagian dari hatiku yang masih mencintaimu. Aku merindukanmu, tapi aku juga takut untuk terluka lagi. Lalu kamu mengucapkan ini setelah aku memberikan kesempatan lagi, Kenapa kamu terus mempermainkanku?." ujar Akane dengan suara yang penuh kehati-hatian disela sela isakannya.
Aku merasa dadaku sakit, sekarang aku membuat gadis itu menangis lagi, aku selalu berbuat salah lagi. dengan lembut aku mengusap air matanya.
"Maaf, maafkan aku menyakitimu lagi."
Aku menelan ludah. Berada dalam posisi ini membuatku tak nyaman. Merasa tegang. Jantungku kian berdegup kencang. Kami berdua terdiam sesaat. mata kami saling bertemu. Hanya saling bertatapan, seolah sedang mencoba membaca isi hati masing-masing. Meyakinkan keinginan itu,namanya manusia memang munafik. Kami pun begitu. Berapa persen kira-kira manusia tak akan benar-benar tergoda nafsu.
Aku mulai mempersempit jarak sekarang hidung kami saling bersentuhan, menunggu respon dirinya. Saat Akane mulai melingkarkan tangannya di leherku, itu adalah respon positif, jadi aku memulainya, bibir kami bersentuhan dari yang asalnya hanya menempel, berubah jadi saling *******, lalu turun membenamkan diri di lehernya.
Dalam situasi ini, dering ponsel terdengar, kami tak memperdulikannya dan hanya melanjutkan aktivitas sampai akhirnya menyerah karena ponsel itu tak berhenti berdering.
"Aku harus mengangkatnya," Bisik Akane.
Aku hanya mengangguk dan menjatuhkan diriku kesampingnya, jantungku berdegup kencang, aku melihat gadis itu bangkit mengambil ponsel yang terletak di dalam tasnya.
Akane meraih ponsel yang berdering dengan cemas, mungkin melihat nama seseorang yang terpampang di layar.
"Halo,Miyakosan. Maaf, aku belum memberitahumu aku tidak akan pulang malam ini," ucap Akane dengan suara yang penuh kekhawatiran.
"Akanechan,aku benar-benar khawatir! Meltkun memberitahuku bahwa kamu dibawa oleh seseorang. Apa yang sedang terjadi?" suara manajernya terdengar panik dan tegang.
Akane berusaha menenangkan manajernya yang khawatir. Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab dengan tenang.
"Tenang saja Miyakosan. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang bersama seseorang yang aku percayai. Jangan khawatir," jawab Akane .
Mendengar itu aku senang, aku merasa mimpiku sudah menjadi kenyataan dan aku pastikan tak akan melepaskannya lagi. Akane tersenyum mendengar kekhawatiran manajernya. Aku yakin ia merasa beruntung memiliki orang-orang yang peduli dengannya di sekitarnya, setelah itu ia menutup ponselnya, dan memandang kearahku.
"Aquakun.."Panggilnya pelan.
Aku melangkah perlahan mendekati Akane, lalu memeluknya."Akane, aku sangat mencintaimu," Ucapku dengan tulus.
"Aku juga mencintaimu, Aquakun." Balasnya.
Malam ini terasa sangat panjang, aku berjanji untuk terus menjaga cinta ini agar tetap menyala, seiring waktu yang terus berjalan.