
"Apa yang kamu lakukan?"
Kana mendorongku menjauh saat aku mendekatkan wajah untuk menciumnya, kami tak bersentuhan aku hanya mendekatkan bibirku pada hidungnya sembari mencengkeram kedua lengannya agar tidak berontak. Saat aku melirik pada Akane ia terlihat terkejut lalu berbalik dan pergi setelah melihatku mencium kana. Ya dari sudut pandangnya kami terlihat berciuman.
Setelah melihat Akane pergi aku melemaskan cengkramanku sehingga Kana langsung mendorongku.
Sebelum aku bicara untuk mencari alasan gadis ini langsung nyerocos.
"Kamu mau menciumku? Aqua kamu menyukaiku? Ya tuhan.." Cerocos Kana lalu menutup mulutnya seakan tak percaya. "Aku tidak percaya kamu menyukaiku, harusnya kamu nyatakan dulu perasaanmu Aqua." Lanjutnya seraya tersipu malu.
Haduh gawat Kana malah salah paham dengan sikapku, aku menggaruk kepalaku yang tentu tak gatal sembari sedikit menyunggingkan bibir."Maaf Kana, aku tidak bermaksud seperti itu." Kataku dengan sedikit ragu takut ia jadi malu dengan kesalahpahaman tadi.
Namun tiba-tiba ia langsung tertawa kencang namun hambar."Haha sudah kuduga, gak mungkin itu haha."ia menyenggol lenganku."Aku tadi aaa hanya refleks jadi lupakan omonganku tadi ya haha.."
Suasananya menjadi canggung, aku tahu kejadian tadi membuat kami berdua kebingungan karena aku juga sama, setelah melihat Akane aku reflek bersikap seperti itu.
"Maa..." sebelum kalimat ku selesai, Kana langsung memotongnya." Aku pergi dulu, ada jadwal hari ini." ia langsung berlari meninggalkan aku dikelas.
Aku tahu itu hanya alasan supaya terhindar dari situasi ini. Aku juga merasa bersalah karena memanfaatkannya untuk menghindari Akane. Yang terpenting sekarang Gadis itu sudah pergi.
Lagian aku masih kesal bisa bisanya pertunangan kami diselenggarakan. Jika saja kami berdua sama-sama menolak, mungkin perjodohan ini tidak terjadi. mungkin mama juga tak akan komplain padaku jika Akane yang ingin membatalkannya. Sialnya gadis itu malah menyukaiku.
Aku menghembuskan nafas berat lalu bergegas pulang ke rumah.
.
.
Ting tong....
.
.
Dari kamar aku bisa mendengar seseorang yang terus membunyikan bel sampai seseorang membukakan pintu.
Tak lama Mama menggedor kamarku.
"Aqua, bisa keluar sebentar?".
Yang benar saja ada perlu apa mama memanggilku malam malam begini. Dengan malas aku berusaha meraih gagang pintu, jujur saja rasa kantuk menyerang mataku.
"Ada apa?" tanyaku sambil menguap.
Melihat tampang mama yang cemas seketika mataku terbelalak.
"Aqua, apa kamu tau akane ada dimana? Apa hari ini kamu bertemu dengan akane?".
Aku hanya menggeleng, karena kenapa mama tiba tiba menanyakan Akane. Harusnya kan ada di rumahnya.
"Sohara-san datang kesini, katanya Akane belum pulang dan tidak bisa di hubungi, ia pikir Akane bersama mu..?".
Aku terdiam sejenak, ibu Akane ada disini? Kemana anak itu pergi? Kenapa dia membebaniku sih, ya pasti ibunya mencari kesini karena aku tunangannya.
"Mungkin dirumah temannya, ya mana aku tahu mah." jawabku tanpa rasa khawatir.
"bisa turun sebentar, untuk mengobrol dengan ibu Akane? Mama rasa dia sangat khawatir, karena Akane anak satu satunya."
Sebenarnya aku malas, tapi karena mama yang minta akhirnya aku turun.
Dan benar saja Sohara-san langsung menghampiri aku, tangannya yang dingin menggenggam kedua tanganku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Aqua-kun tahu dimana Akane kan? Ia pasti menghubungi mu kan? Kenapa ia belum pulang? Tidak biasanya akane seperti ini" katanya menyemburkan beberapa pertanyaan padaku.
Sebenarnya aku merasa tidak enak melihatnya seperti ini.
"Sebenarnya aku tak..ta.." sebelum kalimat itu selesai, aku menyadari satu hal.
DEG
Jantungku berhenti sedetik.
"kamu mau tau? apa yang harus kamu lakukan Akane?"
"Jadi gimana kalau kamu menghilang dari dunia ini??!"
"Jadi gimana kalau kamu menghilang dari dunia ini??!"
"Jadi gimana kalau kamu menghilang dari dunia ini??!"
"Jadi gimana kalau kamu menghilang dari dunia ini??!"
Kalimat itu bergeming di kepalaku. Aku panik. Keringat dingin langsung keluar dari tubuhku.
Tidak mungkin. Tidak mungkin.Tidak mungkin, tidak mungkin dia nekat melakukannya kan?.
Mama dan Sohara-san tampak kebingungan, tapi aku tak memperdulikannya, menancap gas motorku.
Sepanjang jalan pikiranku tak karuan, ini gila, aku tak percaya jika Akane melakukan apa yang aku suruh. Ditengah malam ini, kemana aku harus mencari Akane?.
Jujur hatiku berdegup kencang, takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Apa aku memang orang sekejam itu? Apa aku akan menjadi pembunuh? Apakah Oniisan akan membenciku?
Ditengah keputusasaan ini terlintas di pikiranku apa yang pernah Akane katakan..
"Aqua-kun, mau gak pergi ke danau Aishi?"
"Aqua-kun, ayo jalan-jalan ke danau Aishi!"
"Aqua-kun apa kamu ingat dulu pernah pergi ke danau Aishi.."
Yah Akane beberapa kali mengajakku kesana, saat kita harus dihadapkan di situasi seakan berpacaran di depan keluarga.
Namun aku tidak pernah menanggapinya. Dan memilih menghiraukan Akane walaupun dia membuka pembicaraan.
Saat itu juga Aku memutuskan pergi kesana, selama lebih dari 1 jam jarak yang di tempuh dari rumah.
Akhirnya aku sampai ketempat yang cukup terkenal di prefektur Kanagawa ini.
Setelah sampai disana, sebentar aku berkeliling memakai penerangan dari ponsel, lagian siapa sih yang mau kesini malam malam, dan aku berdoa semoga aku bisa menemukan gadis itu.
Dan benar saja dari kejauhan aku melihat sosok orang yang berdiri ditengah Tori yang hanya di sinari remang cahaya bulan. Kebetulan malam ini bulan bersinar terang.
Dari posturnya Aku tahu itu adalah Akane, ia hanya diam mematung sambil memandangi bulan itu.
Terdiam sejenak aku suka kombinasi ini.. Terlihat sakral dan ajaib, seperti akane sedang diberi Anugerah oleh dewa, siluet hitam itu ditengah Tori sendirian dibawah sinar bulan yang terang, mungkin dewa akan muncul dari danau itu pikirku.
Saat aku akan melangkah mendekatinya, aku menghentikan langkahku. Untuk apa aku mendekatinya? Sejujurnya aku merasa lega sekarang, melihat ia baik baik saja, beban tadi yang tiba-tiba menimpaku serasa hilang diterpa angin. Aku memilih membuntutinya.
Tak lama setelah itu ia beranjak berjalan sebentar menuju dermaga kecil disana, disana ia juga berdiri memperhatikan air dan bulan, berjalan bolak balik, seakan menenangkan pikirannya??
Karena dari tadi aku hanya memperhatikannya, sekarang aku memutuskan untuk menelepon mama, supaya orang dirumah tidak khawatir, aku berjalan mundur menjauh supaya tidak ketahuan, takut nanti Akane curiga.
Sejenak aku mengotak ngatik ponsel tapi ternyata mamah agak sulit dihubungi, mungkin ia tidak memegang ponsel? aku putuskan untuk menelpon bibi Sohara-san masih dalam panggilan,
Tut...
Tut...
Tut....
Saat mataku melihat Akane kembali, sedetik kemudian gadis itu tiba-tiba melompat ke danau.
Mataku membulat seakan tak percaya.
"Bodohhh..." ponselku langsung Terjatuh, kakiku spontan berlari karena sekarang jarakku agak jauh, terlihat tidak ada riakkan air dimana biasanya orang tenggelam akan minta tolong.
Akane apa kamu gila? Danau itu terlihat tenang kembali, menelan akane seakan tak terjadi apapun,
.
Saat berlari ke arah danau aku merasa Dejavu seolah ini pernah aku lakukan, adegan seperti ini pernah terjadi sebelumnya namun kapan?
Nafasku terhenti, gadis ini. Tidak mungkin.
Aku loncat kedanau yang dingin ini, dimana Gadis itu sudah mulai tenggelam perlahan tak sadarkan diri. Agak susah karena semuanya gelap. Namun syukurlah aku berhasil meraih tangannya. Saat menyentuh tangan dinginnya tiba-tiba sebuah memori merasuki otakku saat dulu ketika aku masih kecil aku menyelamatkan seorang gadis kecil.
Dengan susah payah aku berhasil membawa Akane kedarat, nafasku berburu cepat melihat gadis ini tak sadarkan diri.
Tubuhnya yang dingin, pucat, terkulai lemas, rasa takut seketika menghampiriku. Tak berpikir panjang aku langsung memompa dadanya berkali kali agar ia bisa bernafas kembali, namun tak ada tanda tanda.
"AKANE, AKANE BANGUN." teriakku padanya.
"Aku mohon bangun, Akane sadarlah." Aku terus memompanya.
"Tidak, kamu tidak bisa mati begitu saja". Aku mencari cara lain yaitu dengan memberikan nafas buatan,
Sekali
Dua kali.
Masih belum saat aku cek nadinya, Syukurlah masih berdetak walau lemah. Tak menyerah aku terus bergantian memompanya lalu memberikan nafas buatan. "Tolong Hiduplah aku mohon." desahku lemah."Maaf aku tak bermaksud membuat mu begini." Rasa sesal menyeruak aku sama sekali tak ingin menjadi pembunuh. Walau bagaimanapun jika Akane mati itu salahku.
Namun syukurlah ia mulai terbatuk batuk, aku tersenyum melihat dirinya yang mulai sadar. Ia memuntahkan air dari dalam perutnya.
"Kamu baik baik saja?" Tanyaku khawatir sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Ia menatapku sejenak menyipitkan matanya sebelum akhirnya pingsan kembali.