Love Me More!

Love Me More!
Saling berhadapan



Aku menelan ludah dengan susah payah, dan selera makanku juga menghilang saat itu juga, Keiko menyadari ekspresi dan sikapku agak berubah.


"Ada apa Akanechan? Kau terlihat agak pucat.." Tanyanya dengan khawatir ia menelisik setiap inci wajahku dari dekat.


Aku tertawa pendek untuk menghindari kecurigaannya."Bukannya aku terlihat pucat gara gara foundationmu.."


Keiko mengusap usap dagunya sebentar mempertimbangkan ucapanku."Hmm benar juga sih.."


Selama wajahku dirias, hatiku terus berdegup kencang tak tenang, apa aku akan bertemu lagi dengannya hari ini? Aku sama sekali tak membayangkan ini akan terjadi, Kami sama tolong aku. Rasanya aku ingin pingsan saat ini juga, pikiranku benar-benar tak karuan.


Tak lama dari situ aku mendengar salah satu staff berteriak." Sutradara sudah datang, syuting akan segera dimulai.."


Tidak tidak tidak, apa yang harus aku lakukan? Aku secara tak sadar menggigiti kuku jariku, rasa panik menjalar ke seluruh tubuhku, tanganku serasa membeku.


"Akanesan sudah siap?" Tanya salah satu staff yang menjemputku yang langsung membuyarkan lamunanku.


Dan aku hanya mengangguk kecil.


Aku mempersiapkan diriku sebisa mungkin saat menuju lokasi syuting, berkali kali aku menarik nafas, dan benar saja aku melihat sosoknya dari belakang yang sedang mengobrol dengan seseorang.


Rambut khasnya yang berwarna pirang, punggungnya yang tegap, aku sangat mengenal sosok itu, ia jauh lebih tinggi sekarang. Aku mencengkram bajuku erat erat. Takut takut ia tiba-tiba menoleh padaku.


Namun benar saja sedetik kemudian ia berbalik dan pada saat itu mata kami bertemu.


Setelah 5 tahun berlalu, untuk pertama kalinya aku bertemu denganmu lagi, aku menahan nafas lalu mengalihkan pandanganku.


Dari raut wajahnya, sorot matanya, dirinya sudah berubah banyak, senyumannya sudah mengembang lagi, sepertinya ia jauh lebih bahagia sekarang. Sama seperti diriku kan? Namun aku merasa ada sesuatu yang menusuk jantungku, mengetahui dirinya lebih bahagia setelah kepergianku rasanya aku sedikit tidak menyukainya. Kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini?????? Jeritku dalam hati.


Tapi sosok itu melangkah mendekatiku, membuatku salah tingkah, ia menyapa para staf dengan ramah sepanjang jalan dan akhrinya berhenti di depanku. Aqua mengembangkan senyum cerah padaku, aku sama sekali ingin membalasnya namun tidak bisa, bibirku sangat terasa kaku.


"Salam kenal Kurokawasan.." Sapanya seraya mengulurkan tangannya.


Aku hanya mendogak menatap Aqua tak percaya, Jadi ia ingin kami terlihat seperti orang asing ya, dimana kami belum mengenal sama sekali.


Sebelum aku sempat membuka mulut, Aqua cepat berkata." Saya senang akhirnya bisa bekerja sama dengamu."


Aku mengerjap seolah baru tersadar kembali dari lamunan." Ya.." hanya kata singkat itu yang keluar dari mulutku.


Aku semakin terkejut lagi saat ia tiba-tiba meraih tanganku untuk bersalaman." Saya Aqua, senang berkenalan denganmu Akane.."


"Semuanya sudah siap pak.." Serunya terengah engah.


Sebelum pergi Aqua melambai padaku, lalu berbalik lagi ketempatnya.


Sementara aku hanya berdiri disini sambil memandangi tangan yang barusan disentuhnya, apa apaan orang itu? Kau selalu bersikap seenaknya sendiri. Aku menggeleng gelengkan kepala berusaha mengenyahkan segela pikiran tentangnya dan harus bersikap profesional kembali, ini adalah syuting video musik bukan film jadi aku hanya akan bertemu dengannya beberapa hari, aku harus menahannya.


...----------------...


Satu jam berlalu, kami akhirnya beristirahat, aku bangga diriku yang bisa profesional padahal hatiku sedang gundah.


"Ariigatou.." aku membungkuk pada para staf sebelum akhirnya pergi dari lokasi syuting.


Walaupun tenagaku terkuras, tapi aku sama sekali tidak lapar, aku hanya ingin menenangkan diriku, sendirian, aku memutuskan pergi ke ruang make up dimana tak ada siapapun disana karena orang orang sibuk diluar entah untuk makan ataupun sibuk dengan pekerjaannya.


Aku duduk dikursi tadi lantas memandang wajahku dicermin yang tampak kusut.


"Akanee kamu pasti bisa.." aku menyemangati diri sendiri lantas menghembuskan nafas berat.


Energiku hari ini habis oleh rasa tak karuan ini. Namun tak lama ada seseorang membuka pintu, aku pikir itu Keiko tapi bayangan dicermin memperlihatkan orang lain yang membuat jantungku berhenti.


Kami saling bertatapan lewat cermin, dan sosok itu melangkah kearahku. Ekspresinya berbeda dari yang tadi, sekarang ia terlihat seperti Aqua yang aku temui dirumah sakit untuk terakhir kali.


Sekarang ia tepat berada di belakangku, tak mengucapkan sepatah kata apapun begitu pula aku. Ia mengggulirkan kursiku sehingga aku berhadapan dengannya sekarang.


Kami hanya saling menatap seolah mencari jawaban dari mata kami masing-masing.


Wajahnya semakin mendekat, sampai akhirnya bibirnya menempel pada bibirku. Namun anehnya tubuhku tak menolaknya bahkan aku tak menghindar, membiarkan Aqua menciumku. Merasakan sentuhannya ketika jemarinya menyusup menyibakan rambutku. Merengkuh wajahku, mempersempit jarak diantara kami.


Ciuman ringan ini juga berubah menjadi ciuman lebih dalam, membiarkan lidah kami saling bertemu, diiringi dengan degupan jantung yang menggebu getaran kami bersatu. Kami seperti dua orang yang telah kehilangan waktu,kesempatan, perasaan dan ingin menebusnya saat ini juga.


Selama ini membohongi diri sendiri entah karena ego ataupun harga diri. Selalu saling bertentangan, saling berbalik namun akhirnya hanya bisa pasrah menyerahkannya pada waktu.


Aqua mengecap bibirku, mengulumnya disaat akhirnya kami berdua kehabisan pasokan udara, ia mengakhiri ciuman itu dan yang tersisa hanya deru nafas kami berdua.


.


.