Love Me More!

Love Me More!
Berbalik sikap



Hari ini kami sekeluarga mendatangi rumah sakit, tentu saja untuk menjenguk Akane yang katanya hari ini akan pulang, namun di lorong Kami berpapasan dengan Sohara san. Wajahnya tampak tak senang bertemu dengan kami. Dan aku dengan berani langsung bersujud dihadapannya untuk meminta maaf.


"Maafkan aku, karena diriku Akane hampir meninggal."


Keluarga ku juga membungkuk merasa bersalah dan menyesal pada sikapku.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Akane, gadisku yang malang." Ia sedikit terisak, dan langsung membuatku berdiri mencengkram kerah bajuku, matanya menatapku tajam."Kamu ternyata anak yang buruk,aku tidak akan menjodohkan putriku pada orang seperti mu." ia menekan setiap kata katany sehingga membuat semakin merasa buruk.


Aku memohon padanya."Saya sangat menyesali semuanya,tolong beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya."


Ia menampar wajahku."Bagaimana mungkin aku menyerahkan putriku pada orang yang ingin membunuhnya." teriaknya, emosinya semakin memuncak.


Keluargaku tak berusaha melerainya mungkin karena wajar jika seorang ibu akan marah ketika putri kesayangannya diperlakukan tidak baik oleh orang lain apalagi ini adalah tunangannya, kami membiarkan emosinya meluap.


"Saya tahu ini tidak bisa ditebus dengan kata maaf, tapi saya mohon izinkan saya untuk bertemu dengan lagi." Aku berusaha untuk mencium kakinya lagi."Maafkan aku, tolong maafkan aku."


Sohara san mengusap wajahnya dengan kesal."Akane tidak ingin bertemu denganmu lagi."


Keluarga ku akhirnya turun tangan untuk menetralkan situasi, menenangkan dirinya meminta maaf atasku, karena menjadi orang tua yang tidak bisa mengajari putranya tata krama dalam bersikap. Saat mereka mengobrol,aku mencuri kesempatan itu untuk pergi keruangan Akane berada.


Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu. Dan gadis itu terkejut melihatku yang tiba-tiba ada dihadapannya. Ia langsung memalingkan wajahnya tampa melihatku.


Aku merasa gugup berada dihadapnnya. Dan memaksakan diri untuk berbicara."Sudah sembuh?"Tanyaku basa basi.


Tentu saja gadis itu mengunci mulutnya.


Wajahnya masih terlihat pucat, bibirnya kering dan tatapan matanya terasa kosong namun menyimpan sesuatu, mungkin emosi.


Gadis itu tak bergeming.


Saat aku makin melangkah mendekatinya, ia akhirnya menengok kearah ku."Jangan mendekat!!." larangnya padaku.


Saat itu juga aku langsung menghentikan langkahku.


Ia menatapku dengan tajam."Pergi!! Aku tak mau bertemu dengamu lagi"


"Akane, aku menyesal telah bersikap buruk padamu, aku minta maaf."


"Kenapa kamu masih disini, aku bilang pergi." ia berteriak mengusirku.


Bukannya malah pergi aku langsung berhambur memeluknya."Akane tenanglah aku minta maaf, aku tidak ingin membatalkan perjodohan ini, aku akan mencintaimu Akane."


Ia berontak dalam pelukanku dan setelah berhasil melepaskannya ia menamparku lalu tertawa hambar."Apa kamu bilang? Tidak ingin membatalkan? Hah?" tawanya seketika menghilang dam memperlihatkan wajah tegas."Akanemu sudah mati Aqua." ia mengusap usap rambut ku." Dan yang ada di hadapanmu sekarang bukan Akanemu, orang yang kamu cintai sudah mati dan kamu yang membunuhnya." ucapnya dengan ringan.


Aku menatapnya tak percaya, bagaimana sikapnya bisa merubah 180 derajat, gadis yang terus mengejarku, yang mengatakan mencintaku, yang tidak ingin membatalkan perjodohan ini, sekarang bersikap seperti ini.


Aku menatap gadis itu dengan lembut."Aku sudah membunuh orang yang tidak bersalah, maka dari itu tolong hukum aku Akanesan"


Ia hanya menatap ku dengan nanar, terlihat kumpulan cairan bening dimatanya, nafasnya berburu cepat. Sudah lama bersamanya baru kali ini aku menatap gadis ini dari dekat, wajah yang cantik dan lembut membuat ku terpesona, tatapan yang bersedih menyayat hatiku, bibirnya yang tipis namun kering yang mungkin tak berselera untuk makan ataupun minum membuat ku tergoda.


Dan tanpa sadar aku menangkup wajahnya lalu menciumnya membuat gadis itu terbelalak.