Love Me More!

Love Me More!
Hari demi hari



Setelah pertemuan itu, tanpa aku sadari aku sudah menghabiskan satu botol sake, aku tidak habis pikir akan langsung menciumnya, awalnya aku tidak akan melakukan itu dan akan melakukan pendekatan secara alami, namun saat melihatnya langsung dihadapkanku, aku sangat sangat sangat merindukannya dan semuanya terjadi begitu saja lagian Akane juga tak menolakku ataupun menghindar, saat itu aku berpikir dia masih punya perasaan yang sama sepertiku.


Aku tak ingin terus terjebak dengan masa lalu, tapi keluar dari lingkaran itu tidak mudah, Ketika Taishisan menyuruhku menggantikannya awalnya aku tidak bersedia namun saat melihat list artisnya yaitu Akane aku langsung mengambilnya saat itu juga, kesempatan yang aku tunggu akhirnya tiba.


Setelah membaca diary milik Akane dan ia ingin fokus mengejar kariernya, disitulah aku paham bahwa diriku bukan tujuannya lagi, maka dari itu aku juga mulai mengasah karierku di balik layar agar suatu saat bisa ada kesempatan untuk bertemu dengannya lagi dengan posisi yang layak untuknya, aku tidak mengejar menjadi aktor karena sebenarnya itu yang Nisaan inginkan,


Akhir akhir itu kepalaku terasa kosong, sejujurnya aku memilih tidak ingin memikirkan apapun, aku kehilangan niisan, kehilangan Akane, dan aku masih berusaha mengatasi rasa bersalahku.


Ketika Sutradara kebingungan dengan tingkahku yang menolaknya tadi, ia bisa langsung menebak apa yang ada dipikiranku.


"Bukannya kamu bilang tidak mau?" Serunya sambil mengambil kembali dokumen yang ada ditangaku.


Aku hanya tersenyum sumringah tak kuasa menahan rasa senangku." Aku berubah pikiran.."


"Karena gadis ini?" tanya Taishisan seraya menunjuk pada nama Akane, ia langsung tepat sasaran.


Aku hanya mengalihkan pandangan."Tidak..." Sanggahku.


Taishisan tersenyum meremehkan." Dapat dimengerti karena Akanesan sekarang direbutkan oleh banyak pihak, Selain masih muda ia aktris cantik dan berbakat,"


"Dia masih sama.." Gumamku pelan.


"Kau kenal dia?" Taishisan kembali bertanya padaku.


Aku tak tahu harus menjawab apa, aku bisa saja menceritakan semuanya tapi kali ini aku sedang tidak ingin bercerita.


"Mau pesan wiski?" Tawar Taishisan.


Saat sedang terpuruk waktu itu, aku tidak sengaja bertemu Taishisan, ia senseiku yang membantu sampai akhirnya aku seperti sekarang, aku tahu aku punya bakat dibidang ini namun aku tidak bisa apa apa, jadi aku merasa sangat berhutang budi padanya.


Satu teguk, dua teguk, minuman ini terasa ringan di mulut namun berat di tenggorokan, aku dulu bercerita mengenai masalahku padanya namun tak sampai menyebutnya nama gadis itu. Apa mungkin sutradara menyadari ekspresi ku yang berubah.


"Kamu sudah menunggu kesempatan ini kan?" Taishi sengaja mengungkit apa yang pernah Aku katakan, sepertinya ia berusaha mencari tahu perasaanku, tapi daripada menjawab pertanyaan pertanyaannya aku lebih memilih minum wiski.


"Dia pasti terkejut dengan perubahanmu.."Sahut taishi lagi.


"Aku tidak berubah." Jawabku dengan santai.


Apa aku berubah? Aku tak merasa berubah sama sekali, Dan sampai kini aku masih sama, di dalam diriku luka masih menganga, aku tertatih menjalani hari demi hari.


Setiap hari aku meminum obat penenang hanya agar aku bisa tidur nyenyak, mungkin sudah menjadi bagian dari hidupku, sejak kehilangan Akane aku jadi tidak bisa merelakan Niisan lagi, Mengingat semual hal tentang kematian niisan. Dulu saat aku merasa lelah aku bisa bersandar pada Niisan, namun sekarang aku hanya bisa berharap pada obat obatan ini,


Aku juga pindah ke Tokyo sebulan setelah Akane pergi, tentu saja keluargaku tidak mengizinkannya namun aku bersikeras ingin menenangkan diri. Karena disini aku hanya bisa mengingat kenangan pahit, tapi ternyata di Tokyo juga sama. Dan ini sudah Tahun kelima aku bertahan, aku tidak menduga aku bisa bertahan selama ini, aku mulai jarang mengkonsumsi obat ini setelah melihat Akane dilayar kaca, rasanya aku punya secercah harapan lagi dua tahun terakhir ini,


Aku hanya terus memikirkan dirinya, ingin segera bertemu dengannya, aku merasa diriku bisa kembali tersenyum.


Dan kemarin dilokasi syuting aku tidak bisa menahan perasaan bahagiaku, lima tahun itu seketika hilang digantikan dengan rasa meluap yang menjalar kesetiap inci tubuhku, Aku sangat bahagia.


Aku sangat ingin tertawa melihat ekspresi terkejutnya, tingkahnya tak berubah, wajah cemberutnya, kesalnya, kecantikannya,marahnya, semuanya masih sama bagiku. Wajahnya yang memerah setelah kami ciuman, aku sangat menyukainya. Menggemaskan sekali.


Namun ketika ia mengungkit kembali tentang penyesalanku, hatiku seperti tertikam belati, aku merasa dibawa kembali ke masa lalu, dan rasa frustasi muncul kembali.


Perutku terasa sakit, mungkin karena aku banyak sekali menghabiskan minuman keras, saat rasa frustasiku muncul aku lebih memilih melanjutkan tidur hingga saat bangun aku merasa kembali ke dunia nyata yang rumit ini, Saat ini aku hanya ingin bertemu dengannya lagi walaupun ia belum menjawab syarat apa yang harus aku lakukan agar ia memaafkanku.