Love Me More!

Love Me More!
Sikap Aneh



Suara suara terus berputar ditelingaku,aku tidak mendapatkan kedamaian sama sekali apakah kematianku tak diterima langit dan bumi apakah aku akan gentayangan? saat membuka mata samar-samar kulihat cahaya lampu dan bau rumah sakit menusuk hidungku, aku putar pandanganku melihat sekeliling, di sampingku terdapat perawat yang sedang berjaga.


dari situ aku sadar bahwa aku masih hidup, aku langsung terduduk dan amarah bergejolak dalam diriku aku tidak bisa mengendalikan diriku.


"Henapa aku ada disini?"


"Henapa kalian menyelamatkanku?"


"AKU INGIN MATI."teriakku saat terbangun.


Para perawat langsung menahan ketika aku mencoba melarikan diri dan menenangkanku.


Namun aku terus berontak dan berteriak tidak terima dengan keadaan ini,sampai akhirnya dia ada dihadapanku dengan wajah kusut, mata yang sembab,rambut yang acak acakan.


Dia menatapku nanar dan mengatakan." "Aku tidak membencimu, aku senang kamu hidup."


Apa aku tidak salah dengar?orang yang menginginkan aku mati sekarang ingin aku hidup, apa dia bercanda? sampai aku tak bia mengatakan apa apa dan mencoba mencerna kata katanya, sampai akhirnya ia menghilang dari pandanganku.


Tak lama dari situ keluargaku datang dan juga keluarganya namun aku hanya bisa membisu, aku masih tak tahu harus menjelaskan dari mana sebab semuanya terlalu rumit. walaupun Ai-san terus menanyakan banyak pertanyaan yang mencercaku sampai akhirnya mereka menyerah dan pergi.


.


.


Malam berlalu aku banyak berpikir untuk menyelesaikan semua ini, mengakhirinya, dengan cara mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ,aku tahu dia masih tutup mulut karena takut pada Keluarganya, walaupun tadi ia mengatakan itu, aku tahu ia tidak sunggh sungguh dan perkataanya hanya omong kosong semata.


Tapi ada banyak pertanyaan dalam diriku terkadang aku tidak mengerti kenapa ia tahu keberadaanku? kalau itu sih mungkin karena aku sering mengajaknya untuk pergi ke danau Aishi walaupun ia tak pernah menanggapiku dan selalu bersikap dingin, lalu kenapa ia menyelamatkanku? ya mungkin karena ia tidak ingin merasa bersalah. aku berusaha menyingkirkan semua pikiranku dan menyesali diriku yang nekat melakukan hai gila itu, tak memikirkan mama dan orang orang terdekatku.


Dari awal datang kesini ia terus menangisiku seharusnya aku memperdulikan mama lebih dari apapun,orang yang aku cintai,sekarang aku membencinya, Ayo kita akhiri ini Aqua. kita batalkan perjodohan ini.


Selama ini aku sudah memberikan segalanya termasuk hidupku sekarang diriku yang dulu sudah mati.


.


.


Keesokan harinya setelah mama keluar dari ruangan tak lama Aqua berada dihadapanku tepat saat itu aku langsung memalingan wajahku tak ingin melihatnya, kenapa ia bisa masuk? aku sudah bilang pada mama supaya aku tidak bertemu lagi dengan Aqua.


Bisa bisanya dia berbicara seperti itu setelah apa yang ia lakuan padaku, apa la gila? selama ini aku sakit, hatiku sakit mendapatkan perlakuan buruk mu. aku hanya membisu.


"Maaf."katanya lagi.


Hah? maaf?semua orang juga bisa meminta maaf namun itu tak bisa menghapus semuanya, aku benci benci benci benci melihatmu.


Namun tak disangka ia malah makin mendekat, aku yang hilang kendali mulai berontak dan berteriak lagi, Aqua berusaha menenangkannku, memelukku. Ia minta untuk tidak membatalkan pertunangan kita, ini adalah candaan yang bagus, sampai aku tertawa dan menjelaskan bahwa Akanemu sudah mati.


Perlakuannya tak bisa ditebak ia malah menempelkan bibirnya di bibirku.


Kecupan ringan yang mungkin terjadi sekitar 5 detik, aku seketika speechless dan hanya mematung sampai akhirnya sadar lalu menamparnya.


"Berani beraninya kau melakukan ini!" Teriakku.


Aku mengusap bibirku berkali kali, berusaha mengahpus bekas ciumannya bukannya senang aku malah jijik.


"Aku membencimu benci benci benci."


Aqua menyunggingkan sebelah bibirnya."Tapi aku menyukaimu sekarang suka suka suka."


Ia membalas setiap kata benciku dengan kata suka.


"Aku yakin kau akan menyukaiku lagi, aku akan berusaha mengembalikan rasa itu." ia mengusap air mataku yang keluar dengan jarinya.


Tentu saja aku langsung menepisanya tak sudi disentuhnya.


"Keluar! Keluar! Keluar!" Suruhku padanya.


Ia mengacak acak rambutku gemas."Cepat sembuh ya, aku akan pergi dulu."


Ia mengecup keningku sebentar sebelum akhirnya pergi dari hadapanku.


Apa apaan perlakuannya ini? tidak! Aku harus meneguhkan hatiku, itu mungkin karena Aqua disalahkan keluarganya makanya ia berbuat baik padaku.


Aku yakin, aku hanya ingin pergi dari kehidupannnya dan memulai semuanya dari awal lagi.