
Tap..
Tap..
Tap..
Keluar dari rumah sakit udara segar menghampiriku, aku menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, ya aku siap untuk menjalani hidupku lagi.
Setelah semalam aku berdiskusi dengan Mama dan ia mengerti keadaanku, kami memutuskan untuk pergi ke Tokyo menjalani hidup baru meninggalkan segala kenangan disini dan fokus pada studiku.
Pulang kerumah dan sekarang rumah ini sudah kosong sebenarnya kami pergi tanpa memberitahu siapapun, dan sekarang hanya ada satu barang ditanganku yaitu buku dairy yang memang tidak berguna lagi maka dari itu aku memutuskan untuk membuangnya.
Aku pergi ke halaman depan lalu membuang buku itu, namun tiba tiba ada seseorang menepuk pundakku membuat aku terkejut.
"Akanechan.." Panggil Ruby.
Karena bingung sekaligus kaget aku hanya memberikan seulas senyuman.
Ia terlihat agak gugup menatapku."Bolehkah aku berbicara denganmu?" Tanyanya ragu, sekarang aku merasa ada jarak diantara Kita.
Aku mengangkat sebelah alis karena merasa keberatan." Maaf Ruby, aku sedang sibuk." Tolakku padanya.
Dengan wajah memelas Ruby memohon." Akanechan, aku mohon sebentar saja ya, ya, ya." Lirihnya sambil memegang kedua tanganku.
Karena merasa tak enak akhirnya aku mengiyakan. Ia meloncat loncat kegirangan.
"Terima kasih Akanechan."
Untuk menetralkan suasana akhirnya kami pergi ke taman tak jauh dari rumah ku, duduk di kursi dibawah pohon rindang, disini juga ada tempat bermain anak-anak seperti ayunan, perosotan ataupun yang lainnya, namun hari ini sepi, jadi pas untuk kita mengobrol dengan tenang.
"Mau bicarakan apa?" Tanyaku pada Ruby agar tidak bertele-tele.
Menengok kearahnya gadis itu terlihat sangat gugup dan ragu seraya menggigit bibir bawahnya. Ia menundukkan pandangannya.
"Aku tahu aku tak berhak mengatakan ini namun Akanechan tak akan membenci Aqua kan? Kau akan memaafkannya kan?"
Mataku membulat mendengar itu, namun sebelum sempat aku menjawab Ruby melanjutkan ucapannya.
"Prilakunya yang berubah seperti itu ada alasannya, Akanechan akan memakluminya kan?" Lanjut Ruby.
Aku mendengus kesal." Maaf Ruby aku tak ingin membicarakan ini."
"Aku ingin Akanechan mendengar penjelasanku supaya bisa memaklumi kelakuan Aqua." Lirinya ia kembali memegang kedua tanganku.
Aku memalingkan wajah." Tentu saja tidak." Terdiam sejenak." Hmm iya, aku memakluminya, maka dari itu aku akan pergi darinya untuk membebaskannya, perempuan berambut merah itu, aku tahu." Jelasku pada Ruby.
Gadis itu mengerutkan kening kebingungan."Perempuan berambut merah? Siapa? Apa maksudmu Akanechan?" Tanya ruby.
"Aqua ingin bersama pacarnya kan?"Tegasku padanya.
Aku tertawa hambar sejenak." Ruby ternyata tidak tahu apa apa tentang Aqua ya, ia sendiri yang bilang padaku bahkan berciuman di depanku."
Ruby makin syok mendengar perkataanku."Apa?? Sepertinya Akanechan salah paham deh."
Aku hanya menyunggingkan sebelah bibir tak mau berkata apapun lagi.
"Akanechan, prilaku Aqua berubah itu karena meninggalnya Taiki, bagi Aqua Taiki adalah segalanya ia adalah orang terdekat Aqua lebih dari mama dan papa. Jadi setelah Taiki meninggal Aqua menjadi terpuruk dan prilakunya berubah 180 derajat."
Mencerna omongan Ruby, aku tahu nama itu sebelumnya aku mendengar Aisan mengatakannnya dan orang yang dikagumi Aqua adalah Taiki.
"Taiki?? Yang akan dijodohkan padaku pertama kali?" Tanyaku meyakinkan.
Ruby mengangguk mantap." Iya, Nissan meninggal saat pulang dari Tokyo untuk bertemu denganmu waktu itu, dan Aqua merasa ingin balas dendam padamu, merasa bahwa kamu ada yang menyebabkan Niisan meninggal. Dan perjodohan ini adalah kutukan baginya."
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Ruby, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup, saat itu aku juga kehilangan papa, selama beberapa bulan hidupku seperti zombie, mungkin Aqua juga merasakan hal yang sama bedanya ia mengganggap aku yang menyebabkan kakaknya meninggal.
"Akanechan..." Panggil Ruby membuyarkan lamunanku.
"Aku juga akan cari tahu tentang perempuan itu, tapi sepertinya itu adalah temannya di klub drama, karena beberapa kali aku bertemu dengannya jadi aku mohon Akanechan tidak usah khawatir."
Aku menghembuskan nafas pelan dan berbalik menggenggam tangan Ruby." Rubychan maaf sikapku agak dingin tadi dan terimakasih sudah berusaha memperbaiki hubungan kami, namun aku sekarang akan memulai hidupku lagi di Tokyo dan melupakan kejadian pahit dalam hidupku."
Aku menatapnya lekat lekat." Jadi sepertinya aku akan mengakhirinya semuanya disini, tanpa ikatan apapun."
Ruby langsung memelukku terisak isak."Kau akan pergi? Kenapa baru memberitahuku? Akanecha maafkan Aqua yang menghancurkan hidupmu ya.. Gara gara dia kamu hampir tiada."
Aku berusaha menenangkannya." Aku tahu rasanya kehilangan seseorang, jadi aku akan memakluminya dan melapangkan hatiku agar hidupku tenang."
Ia mentapku dengan nanar." Kau tidak akan melupakanku kan?" Tanyanya terbata bata.
Aku tersenyum lebar." Tentu saja tidak." Aku mengusap pipinya dengan lembut.
"Terimakasih Akanechan aku berdoa supaya hidupmu bahagia Disana."
Setelah mengobral dengan Ruby akhirnya aku kembali kerumah, aku tau keputusan ku benar dan tak akan menyesalinya. Pikiranku melayang pada Aqua sebelum masuk, tanganku menyentuh bibirku mengingat kejadian waktu dirumah sakit.
"Hukuman?"Gumamku.
...----------------...
Aku tidak menyangka Akanechan akan pergi dari kota ini, tapi itu keputusannya dan aku tidak berhak melarangnya, lagipula apa yang dilakukan oleh Aqua benar benar keterlaluan apalagi sampai ciuman dengan cewek lain di depan Akane, dia benar benar ingin membuat Akane menderita.
Setelah mengantar Akane sampai di depan Rumahnya tak sengaja aku melihat tong sampah yang diatasnya ada benda berwarna pink saat aku ambil ternya sebuah buku. Aku yakin ini milik Akanechan jadi aku memungutnya.
Dan benar saja buku ini masih bersih rapi dan tampilannya manis ada gembok disisinya dan kuncinya tidak ada, jadi dirumah mungkin aku harus membongkarnya,walaupun aku merasa tak enak akan mengintip isi hati Akanechan. Namun jujur aku tak mau dia pergi.