
Kita memang akan kalah besok. Disingkirkan lusa. Dilenyapkan minggu depan. Terpuruk berulang setiap tahun. Dimakan habis kompromi di penghujung hari. Namun bukan hari ini. Mungkin belum, mungkin tak akan pernah. Yang pasti bukan hari ini. Kami masih punya hari ini untuk dihabiskan, sampai waktunya kami benar-benar lenyap. Bukan hari ini, bukan atas alasan-alasan heroik. Hanya sedikit kewajaran kala kami masih ingin hidup wajar memiliki harapan. Wajar yang bukan dalam tanda kutip.
Kembali lagi ke pertemuanku dengan Gilang di coffee itu. Kini di hadapan ku sesosok mahluk yang kalau dia melangkah pasti banyak mata wanita yang meliriknya.
"Lu kenapa nggak cerita nda?" gilang membuka percakapan ini dengan nada yang halus tidak seperti di telpon tadi.
"Haha lagian bagaimana mau cerita? lah kan kita lost kontak. Sukses lu ya balik dari Ausi." jawab ku.
"Ya sudah sekarang cerita!" pinta gilang kepadaku seraya tangannya perlahan menggenggam tanganku dengan lembut.
"Kan lu sudah tau? kenapa cerita lagi? sama kok ceritanya seperti itu. Lagian kalau gue ceritain kembali itu akan membuat gue down lagi." jawab ku tertunduk.
"Ya sudah lu mau nggak untuk..."
"Maaf lang. Bukannya gue nggak menghargai bantuan lu. Bukan juga karena gue terlalu sombong untuk menerima setiap bantuan siapapun. Bukan juga untuk alasan heroik lainya. Tetapi lu tau kan? gue nggak mau merasa dikasihin. Untuk sekarang gue belum bisa menerima bantuan lu atau bantuan temen yang lain. Gue masih bisa berdiri di atas gue sendiri lang. But i promise you. If i need any help i’ll ask for it." Aku memotong ucapan gilang dengan tegas.
"ANGKUUHHHH!" jawab gilang dengan emosinya.
"Hah gimana? apaan? angkuh?" jawabbku sontak.
"Iya lu angkuh! setelah apa yang lu lakukan ke gue lu cuman nyuruh gue untuk diam tanpa bantuin apapun? Is not fair!" ucap gilang semakin emosi.
"Hahaha cuma orang yang hope less yang masih berharap sebuah keadilan. Iya kan? a**nd, i never do something for ya! At all!" jawab ku seraya mengedipkan mata ke Gilang.
"NEVER DO SOMETHING FOR ME? SEMUA YANG LU LAKUKAN KE GUE SEBELUM GUE PERGI ITU BERHARGA BANGET DAN MERUBAH SEMUANYA! TERMASUK MERUBAH HIDUP GUE. JUGA MERUBAH PERASAAN GUE!"
Deg!!!
"LU YANG MEMBUAT GUE PERCAYA LAGI BAHWA HARAPAN AKAN SELALU ADA. LU JUGA YANG MEMBUAT GUE SEPERTI SEKARANG INI! TANPA LU GUE MUNGKIN NGGA BISA SEPERTI SEKARANG!! TERLEBIH LU YANG MEMBUAT GUE SELALU SUKA DENGAN SENJA!!"
"DUA TAHUNN! GUE SELALU BERHARAP SUPAYA BISA CEPAT PULANG KE BANDUNG UNTUK APA? UNTUK BISA CEPAT KETEMU LU SAAT SENJA TURUN! DAN AKHIRNYA SEKARANG GUE UDAH KETEMU LU LAGI DENGAN KEADAAN LU YANG SEPERTI INI DAN LU CUMA NYURUH GUE DIAM TANPA NGELAKUIN APAPUN BUAT LU?" sentak gilang yang emosinya sudah tidak terkontrol.
Jadilah meja kita ini menjadi sorotan pengunjung coffee yang lain. Huft! Fhhhhhh!!! Padahal seingatku nggak banyak yang aku lakuin atau aku kasih ke dia. Eh! Gilang walaupun emosi gitu muka nya kok nambah ganteng ya.. batinku.
Ya sebelumnya gilang bercerita bahwa sudah mengakhiri kontrak kerjanya di Australia dan telah pulang ke Bandung sebulan kebelakang ini. Dari awal kepulangannya ke Bandung, gilang akhirnya mencari tahu tentang keberadaan ku. Dan akhirnya ia dapat menemukanku dan semua kabar tentang diriku selama dua tahun ia pergi.
Mau tidak mau gilang tetap memaksa untuk menceritakan kejadian dimana Bayu dan Mira menusukku dari belakang alias mengkhianati ku alias berselingkuh alias memanfaatkan ku alias.... gitu lah pokoknya mah!
Aku menceritakan secara detail bagaimana semua itu terjadi, bagaimana rasa sakit hatiku. Jujur, waktu itu aku memang tidak terlalu mencintai bayu sebagai seorang kekasih. Perasaanku sepenuhnya masih ada di seorang lelaki yang sekarang ada di depanku.
Walau begitu rasa sakit hati tetap saja memenuhi seluruh hatiku. Yang membuat rasa sakit hati ini adalah mengapa orang terdekatku begitu tega mengkhianati ku.
Mira sebelum bekerja mengurusi usaha distro ku ia adalah temanku. Kita satu tongkrongan dan waktu itu ia tidak memiliki pekerjaan yang kemudian aku mengajaknya untuk bergabung merintis usaha distro ku. Backgroundnya dari luar yang secara finansial memang sangat kurang bisa berubah, sejalan ketika usahaku maju ia memiliki mobil yang sama denganku. Hasil dari usaha itu.
Entah mengapa aku menjadikannya sebagai pacar. Mungkin waktu itu aku berpikir dari pada aku sendiri ya minimal ada yang mengurusi gue gitu lah.
Setelah berpacaran denganku bayu mulai berubah secara penampilan. Memang ia suka belanja dan merapikan dirinya. Aku tidak pernah keberatan untuk mengeluarkan uang untuk semua keperluannya bayu. Tapi entah apa yang ada di pikiran mereka sehingga tega mengkhianati ku.
Well, one day i will bring something worst than hell for them!
Sekarang gilang memaksaku untuk mengetahui keberadaan ku saat ini. Jujur, melihat gilang yang semakin membuatku terkagum dan terlihat bonafit dari sebelumnya ada kebahagiaan tersendiri untukku. Tetapi di sisi lain aku merasa sangat sedih dan malu.
Dulu aku yang dengan mudahnya selalu membantu gilang. Sekarang? tidak! ditambah dengan kondisiku yang saat ini tanpa pekerjaan dan penghasilan.
Sekali lagi, hidup memang maha asik! dengan begitu cepat dapat merubah dan membalikan setiap keadaan.
"Ohh ini kosan lu yang sekarang nda?"
"Ya! tahu gue! memang lebih kecil dari dulu. Tetapi segini juga not bad lah dari pada gue menginap di masjid kan?"
"Yee sewot amat lu nda. Oke fix ini mah.."
"Fix apaan?" jawab ku bingung mendengar ucapan gilang.
"Fix gue pindah kesini. Nanti sore gue bawa barang kemari. Baju doang kok!" ucap gilang dengan santai sambil membakar sebatang rokoknya.
"Eehhhh!!! serius?" jawab ku yang terkaget mendengar ucapannya.
"Seriusss banggett gue amanda." lagi-lagi gilang menjawab dengan santai. Ya dewa marmut.. Salah apa gue. Pagi-pagi di telpon sama cowo aneh, dimarah-marahin di coffee, sekarang ada cowo yang mau sekamar sama gue. Ini musibah apa anugerah wahai dewa marmut? batinku pasrah.
"Oh keberatan lu nda? nggak ingat sama janji lu?"
"Ingat lah lang. Bebas lah lu mau bagaimana juga pasrah gue mah lang." Eghh! kenapa gue jawab seperti itu!
"Yakin pasrah?" hawab gilang dengan lirikan yang.. Ah! Sial!!! Wajahnya yang dulu itu sekarang aku lihat lagi. Ampun dewa marmut!!!
Gilang langsung mendorong pelan badanku ke tembok, memposisikan badannya menempel di depan badanku. Gilang yang agak tinggi dariku perlahan membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ini terlalu dekat! sekilas tersungging senyuman yang sangat indah darinya. Aku akui memang wajahnya berubah menjadi sangat tampan.
Perlahan kulihat matanya, tatapan tajam gilang rasanya begitu menusuk. Sekarang ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan langsung membisikan..
"I miss you.. amanda rein. Whatever you like. You are mine!"
Deg!!!