Love Is Tears

Love Is Tears
Episode 23



Angkasa dan angkara merajut setiap mimpi di atas ribuan luka yang tak kunjung mengering. Mimpi dan harapan tak lebih dari sebilah pedang bermata dua. Sedang beberapa datang beberapa lagi pergi menambahkan luka baru.


Hari berlalu, senja selalu lambat terjatuh di ujung kelelahan dan malam tak lagi cukup untuk membuat ku terlelap lupa. Sebelum semua pertanyaan ditinggal mati, semoga akan ada jawaban terhampar untuk setiap jiwa yang terlalu lelah untuk kembali merakit mimpi.


"Manda.. kata temen uci sih mending ketemu saja dulu biar jelas jadi langsung ngobrol saja sama dia. Tadi uci sudah cerita kalau manda mau buka usaha gitu. Tapi besok uci kuliah sampai sore, sepertinya uci nggak bisa ikut. Kalian saja berdua ya?"


"Oke luss terima kasih ya.. uwwu uwwuu.." ucapku seraya mencubit pipih lussi.


"Ihh sebell!! jangan cubit pipih gitu ah.. wuuuu!" sahut lussi yang mengembungkan pipih nya.


"Tapi nda, jangan bilang kalau ini rencana balas dendam kamu ya. Pure saja bisnis kalau memang sukses kan lumayan hihi. Tapi itu usaha kamu yang mau buka kuliner bagaimana?" tanya Lussi lagi.


"Ya kali luss gue bilang ke temen lu untuk balas dendsm mah. Kalau urusan kuliner kaya nya minggu depan sudah mulai bisa buka deh. Lagian kan ada saudara gue yang stay di sana. Nah beres kuliner, baru gue fokus ke toko. Itu juga kalau temen lu ngemodalin."


"Kalau kata uci mah dia pasti mau deh. Uang nya sudah nggak bisa lagi di masukin dompet soalnya hehe." jawab lussi santai.


"Luss kalau nanti teman lu suka sama gue bagaimana hehe." ucapku percaya diri.


"Ya bebas. Terserah manda saja itu mah."


 


\


 


Malam ini aku kembali duduk di rooftops kos yang seharusnya menjadi tempat jemuran tetapi di sulap menjadi tempat yang sangat cocok untuk menatapi bintang.


Dulu di bangku ini aku dan gilang sering menghabiskan waktu menikmati senja dan malam. Ya, gilang yang dulu yang masih ceria dan tak se-angkuh sekarang. Ternyata jatuh cinta itu cepat, tetapi cinta yang berubah menjadi sebuah benci pun ternyata lebih cepat.


Entah apa yang membuat gilang berubah secepat itu. Pertanyaan besar yang belum terjawab. Mungkin takkan terjawab hari ini atau esok, tetapi pasti suatu hari nanti akan terjawab.


Satu lagi, keraguan ku adalah untuk menggunakan bayu untuk misi balas dendam ini. Ada sebuah ketakutan tersendiri untukku. Takut bayu akan menjadi boomerang untuk misi ini. Tetapi melihat kondisi bayu, dia pasti akan langsung mau kalau di suruh untuk itu.


Ah! sepertinya aku penasaran nih sama si cewe sosialita itu. Apa sih yang dia punya dan siapa sih si cewe itu sebenarnya sampai bisa ngerubah gilang se-edan ini.


Well, sepertinya  hidupku kedepannya akan sedikit ramai dan akan tercipta adrenalin dan ah! Apapun konsekuensi nya nanti, genderang perang sudah di bunyikan, hina untuk mundur.


Hari ini atau tidak sama sekali lang! batinku menguatkan diriku sendiri. Terima kasih dewa marmut, semoga kau merestui misi ini.


 


~•°•~


 


Mataku mengerjap karena sorot sinar mentari yang menerobos bilik kamarku. Ku pulihkan kesadaran ku sesaat.


Drrrrtttt.. drrrttt... getaran dan nada panggilan masuk memaksa untuk membangunkan ku dari tempat tidur. Ku tatap handphone ku dan terlihat panggilan itu dari bayu.


"Gue baru bangun tidur bay. Ganggu saja ah! padahal sedang mimpi enak hu!"


"hehe.. kamu jadi ke kos aku nda? kalau jadi cepat ke sini." sahut bayu di seberang telepon.


"sebentar ya gue mandi dulu, bye!"


Setelah ku tutup telepon dari bayu aku kembali melamun dan mengingat beberapa hal sebelum aku tertidur. O iya aku sudah berjanji akan ke tempat bayu pagi ini.


"Serius nda? gilang bicara begitu?" sahut bayu setelah mendengar penjelasan ku tentang apa yang terjadi antara aku dengan gilang. Ya, sekarang aku berada di kos bayu setelah tadi melamun cukup lama dan akhirnya mandi lalu beranjak kemari.


"Ya Kali gue bohong."


"Terus rencana manda selanjutnya bagaimana? aku mau tahu."


"Oke begini bay, besok gue ingin bertemu dengan orang. Siapa tahu dia mau memodalkan gue untuk membuka distro. Rencana nya gue ingin membuka distro pas banget di depan distro gilang. Intinya gue ingin merusak distro dia dengan distro gue. Nah gue mau lu bantuin gue. Tugas lu cukup simple kok bay. Lu cukup kasih info ke gue tentang segala pergerakan distro gilang dan lu juga harus bermalas-malasan kerjanya. Lu berhenti mengurus produksi atau promo nya dan kalau ada yang beli ke distro gilang lu saranin pelanggan untuk belanja ke distro gue. Simple kan?" ucap ku menjelaskan tentang rencana itu.


"Wah.. wah.. amanda sekarang jahat hihi.. berarti sekarang manda sudah maafin aku dan percaya sama aku yah?" jawab bayu.


"Hmm nggak juga sih, gue masih belum percaya sama lu. Tapi untuk kali ini gue kasih kesempatan lu untuk bisa membuat gue maafin lu."


"Asik.. suka banget deh melakukan hal-hal seperti ini." jawab bayu dengan wajah yang girang. Eh bentar deh! tadi bayu bicara apa? SUKA BANGET MELAKUKAN HAL-HAL SEPERTI INI? kok gue merasa ada suatu hal yang ganjil yah? jangan-jangan...


"Eh manda mah malah melamun." ucap bayu yang langsung membuyarkan lamunan ku.


"Hehe mikir gue bay."


Bayu kemudian bangkit dari tempat duduknya hanya untuk pindah posisi di belakang ku. Kemudian tangan bayu hinggap di kepala ku dan ia langsung mengelus lembut rambut ku. Dengan cepat aku berdiri dan mengambil tas kecil ku. Terlihat ada sedikit raut kekecewaan di wajahnya.


"Gue pulang dulu ya. Nanti gue kabarin kembali untuk kelanjutannya." ucapku seraya beranjak meninggalkan kamar bayu.


di pagi ini sekitar jam 7 aku terbangun dari lelapnya tidurku. Kulihat di sekelilingku sudah tak nampak wajah lussi. Mungkin sudah berangkat ke kampus.


Ku lihat handphone ku ada beberapa notifikasi yang masuk. Beberapa notifikasi aku hiraukan karena kurasa tak penting. Ada pesan WhatsApp dari lussi mengirimkan kontak temannya. Segera aku bangkit dan berlalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi segera aku bersiap diri dan menelepon teman lussi untuk menentukan pertemuan kami berdua. Setelah sepakat akhirnya kami akan bertemu di sebuah resto.


Masih ada waktu beberapa saat untuk aku memikirkan tentang apa saja yang akan aku sampaikan kepada teman lussi itu supaya ia merasa yakin dan memberikan modalnya. Seandainya hari ini berhasil, rencana ku untuk gilang akan berjalan pula.


Tak terasa hampir satu jam berpikir dan menghabiskan beberapa batang permen Lollipop akhirnya aku memutuskan untuk berangkat.


Hari ini jalanan kota Bandung sedikit banyak membuat ku harus mengontrol emosi. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke resto itu. Sesampainya di parkiran aku kembali menelepon teman lussi untuk menanyakan keberadaannya.


Ternyata ia sudah lebih dulu sampai dan menjelaskan ciri-cirinya. Setelah yakin aku bergegas menuju tempat tersebut. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya aku mendapati seorang pria yang sesuai dengan ciri yang diberitahukan tadi.


Kemudian aku berjalan menghampirinya. Pria putih dengan rambut belahan shagy yang rapih. Ah! bikin deg-degan sendiri.


"Permisi mas.. ini mas azka bukan?"