
Masa lalu adalah apa yang mutlak tak bisa kita rubah sedangkan masa depan adalah apa yang kita perjuangkan dari hari ini. Tentang bagaimana nanti hasilnya cukuplah berlapang dada jika itu gagal dan patutlah berbangga sewajarnya ketika itu berhasil.
Kita bisa berkhayal atau memperjuangkan dengan siapa kita ingin melewati hari esok tapi semesta memiliki hak yang lebih untuk mengatur itu semua. Dan untuk mereka yang datang kemudian pergi, untuk mereka yang bertahan disini bagaimana pun kalian adalah bagian dari setiap sejarah hidup yang akan tertulis, yang akan terkenang.
"Dan lu bay!! kalau lu baper dan deketin amanda lagi liat saja..! gue nggak akan segan-segan untuk membuat hidup lu semrawut!!" bentak gilang kepada bayu.
"Iyaa mas, saya usahakan." jawab bayu.
"Ehh kok diusahakan? harus lah!! nggak malu lu udah nyakitin amanda terus sekarang deketin dia lagi hah!!" timpal gilang yang semakin emosi.
"Jodoh kan gimana yang di atas mas. Lagian saya memang masih sayang sama amanda." jawab bayu pelan. DEG!!!! b**encana ini mahhhh!!! perang dunia ke-tiga!!!
Sesaat suasana menjadi begitu sunyi. Tetapi wajah gilang langsung memerah dan emosi. Aku segera memegang tangan gilang. Takut dia mengacak-acak ini tempat.
"Yaelah!!! apaan sih lu pada! kecantikan gue mah di rebuti kalian tuh!!" ucap ku untuk meredam suasana yang panas dingin ini. Wahay dewa marmut. Damaikanlah mereka berdua!!
Akhirnya bayu pulang dari tokoku dengan alasan aku harus berunding dengan gilang. Gilang sendiri masih dengan muka cueknya itu.
Akhirnya aku dan gilang mencoba berunding tentang bagaimana nasib bayu, mencoba untuk seprofesional mungkin membahas hal ini. Gilang sebenarnya keu keh nggak mau menerima bayu dengan alasan yang sedikit di buat-buat.
Tetapi aku pun mencoba sedikit memaksakan gilang untuk menerima bayu bekerja disini. Dengan melalui debat panjang dan berbagai macam argumentasi dan dengan alasan bagaimana masa lalu gilang yang sekali lagi aku katakan bahwa setiap manusia berhak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Ditambah dengan kondisi bayu yang sangat terpuruk. Kasihan kalau dia belum mendapatkan pekerjaan dengan memposisikan posisi gilang jika ada di posisi bayu. Akhirnya gilang mengalah dan dengan berat hati menerima bayu bekerja disini.
Akhirnya, walau ngaret dan membutuhkan waktu sebulan lebih. Distro baruku bersama gilang pun buka mulai hari ini. Ada perasaan bangga, sedih dan haru akhirnya aku bisa membuka sebuah lembaran baru lagi bersama gilang dan ya.. bayu.
Untuk Bayu, ini hari pertamanya ia bekerja di toko kami. Gilang masih bersikap ketus terhadap bayu dan hanya bicara seperlunya. Sedangkan bayu masih malu-malu. Dan jika gilang bertatapan dengan bayu ataupun sebaliknya, hhmmm! Seperti ada pertempuran diantara mereka berdua!
Walau begitu aku masih belum percaya sepenuhnya terhadap semua cerita bayu, mungkinkah semua benar adanya seperti apa yang bayu ceritakan? tetapi saat ini penampilan bayu semakin terlihat tampan dan putih.
Tubuh tinggi bayu walau tidak setinggi gilang tetapi sama-sama memiliki senyuman yang mematikan. Baik bayu maupun gilang sebenarnya mereka sedikit banyak memiliki kesamaan.
Hanya satu perbedaan yang kentara dari mereka berdua, yakni gilang orang yang over aktif dan slengean ditambah bahasa gilang yang celetak-celutuk berbanding terbalik dengan bayu yang sedikit lebih pendiam.
Sehari-hari pun bayu memakai bahasa saya-kamu ke siapa pun juga pembawaan bayu yang selalu terlihat kalem dan nggak neka-neko, berbeda dengan gilang yang bawelnya sudah ada di level internasional.
Aku sedikit menghindari bayu ketika didalam toko. Bukan takut baper atau apalah tetapi setiap aku di toko kemana pun langkahku pasti ada bayu mengikuti ku di belakang. Bicara mengenai gilang, sebenarnya hubungan kami berjalan ditempat tanpa status yang jelas.
Hingga suatu malam dimana seharusnya toko sudah tutup. Waktu itu sekitar jam sembilan malam tapi hujan deras membasahi kota Bandung sedari tadi dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.
Padahal kan aku sama gilang pulang ke kos naik mobil. Terus bayu pulang naik angkot tetapi entah kami memilih untuk sejenak diam di toko. Suasana dingin membuat sedikit mencairkan suasana kekakuan antara kita bertiga.
Bayu berinisiatif untuk membuat tiga cangkir teh hangat. Well, its a good combination. rain, hot tea, and sit around the people you loved.
"Nih mas teh hangat biar nggak terlalu dingin. Manda tehnya diminum yaaa." ujar bayu seraya meletakkan dua cangkir teh hangat masing-masing dihadapan kami.
"Thanks bay. Eh lu ngga balik? kemalaman nanti." ucap ku kepada bayu.
"Masih betah nda hehe. Lagian jarang kan kita bertiga kumpul seperti ini diluar jam kerja?" delik bayu saat itu.
"Udahh nanti gue sama manda anterin lu balik deh!" potong gilang dengan nada yang ketus, see? walau galaknya nggak ketulungan sebenarnya gilang itu baik kok.
"Ehh manda. Boleh nanya sesuatu nggak? tetapi maaf kalo saya nggak sopan nanyain ini."
"Anything bay." jawab ku singkat.
"Sebenarnya kamu sama mas gilang itu pacaran apa gimana sih??"
DEGG!!! DEGG!!! KRIK... KRIKKK!! ban**gke!! nggak ada pertanyain lain memang? ya kali gue sendiri aja bingung hubungan gue sama preman ini bagaimana. Kamvrets ah!! dan pertanyaan bayu itu mampu membuat gilang terkejut dan membuat mukanya memerah baru pertama aku melihat gilang segini malunya.
Pov Gilang
Degh!! Degh!!!! Kenapa ini anak nanyain seperti itu sih! Sial! Baru pertama kali gue di bikin malu seperri ini!
"Tahu tuh. Tanya aja sama Amanda!" ucap ku datar. Dan aku hanya bisa diam mematung. Oke! Give me a time to think! Pertama, aku ngga sengaja bertemu amanda terus dia bisa langsung menolongku sampai merawat ku empat bulan sebelum akhirnya aku berangkat keluar negeri.
Kedua, antara aku dan amanda dari dulu memang suka bilang saling sayang satu sama lain. Jujur sih, aku juga ada rasa kepada amanda. Tetapi entah kenapa aku belum pernah sekali pun mengutarakan semua perasaan yang sebenarnya dan mungkin ini waktu yang tepat.
Aku berdiri mengambil sebuah gitar di sudut toko yang memang sengaja aku bawa kesini. Setelah mengambil gitar aku kembali duduk di samping amanda.
"Well, amanda rein. Untuk ngejawab pertanyaan bayu yang diberikan untuk lu barusan gue ingin menyanyikan satu lagu khusus untuk lu." So, akhirnya gue nyanyiin lagu ini untuk amanda.
Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menari lah denganku
Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Namun ku tetap bahagia
Selalu ku syukuri
Begitulah adanya
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi istriku
-Akad Payung Teduh-
Setelah menyanyikan lagu itu aku langsung menyimpan gitar dan langsung memegang kedua tangan amanda dan menatap tajam matanya. Kali ini, tatapanku mengalahkan tatapan amanda. Ia menatap haru padaku. Dan....
"amanda rein.. dapatkah kamu merasakan hatiku? bisakah kamu memperbaiki yang patah? bisakah kamu dapat membantu yang putus asa? dan apakah kamu akan menjadi harapanku yang baru? tolong perbaiki aku sekarang."
"Amanda rein.. bisakah kamu menjadi masa depanku? dan.. maukah kamu menjadi milikku?" tanya ku sambil mencium tangan kanan amanda.
Amanda terlihat menahan tangsnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Semoga........