Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 02 Teman Lama



Senja terlalu berani membuatku untuk selalu merindu mu.


Rindu menyelusup diantara rongga hati yang kupikir telah terkunci rapat.


Diantara rinai hujan langkahku terhenti, ada bayangmu ku tangkap di kejauhan.


Tapi.. aku beku.


Segala pikirku sirna melihat sosok mu.


Jiwa yang ratusan hari kucoba matikan di dalam pusara hati, bahkan enggan ku ziarahi.


Kata-kata musnah ketika kau dan aku berhadapan.


Tak adakah lara tertoreh di hatimu ketika kita sama-sama terbungkam seperti saat ini..


"Iih!!! geli yang jangan menggelitik begitu. Peluk ya peluk aja!! ih!!"


"Hmm.. coba kamu hanya milik aku seorang!"


"Nikmatin aja seperti ini say. Kita mempunyai rasa yang sama kan? hanya saja.... kamu sudah lebih dulu dimiliki dia."


Mereka pasti sedang menikmati kemesraannya batinku. Aku masih berdiri didepan pintu kamar kos nya Mira yang tertutup rapat sambil menikmati permen lollipop ku.


Memang aku jarang main ke kos nya mira. Tapi entah kenapa dari tadi siang aku berkeinginan untuk main kesini hanya untuk sekedar santai santai atau membicarakan bisnis aku.


Niat awal sebelum tahu ada adegan menyakitkan ini mungkin juga adalah nasib yang mendorongku untuk mengetahui perselingkuhan mereka.Terima kasih dewa marmut! Ini sakit!!!


Berselang beberapa menit setelah itu aku mendengar suara Bayu.


"Say, aku beli rokok dulu ya ke domart depan. Mau nitip?" tanya bayu ke mira tapi aku tidak mendengarkan jawaban apapun dari mira.


Cklek! pintu kamar kos Mira terbuka.


"Heh! Brengsek! Mau ngerokok? Nih!!" ujar ku seraya melemparkan batang permen lollipop ku yang sudah habis. Bayu sontak kaget dan terdiam didepan pintu kamarnya. Wajahku memanas dan aku menyadari sesuatu yang siap membuncah dari kelopak mataku.


"Lain kali kalau sedang bermesraan suaranya pelan sedikit biar nggak ketahuan. Oke!" tambah ku kepada Bayu. Mungkin mira mendengar suaraku yang langsung keluar dari kamarnya.


"EH! ma.. manda.. engghh gue bisa jelasin nda." ucap mira dengan mimik muka yang nampak panik.


"Halah basi! semuanya, gue cabut ya sorry nih ganggu acaranya kalian. Lanjut sajalah ya. Eh Bayu, gue pamit ya!" sahutku kepada mereka yang mematung, emosi? Sudah pasti! tapi aku masih mencoba untuk tetap terlihat santai, ternyata aku tidak bisa menahan air mata ini yang mulai menetes membanjiri kedua pipih ku.


"Yaaaaannnngggg!! Aku mau jelasin!!" ucap bayu seraya meraih tanganku dan menahan ku untuk pergi.


"Hiks.. hiks.. sayang? Sudahlah! Mending lu lanjut tuh sama si anak murahan itu." jawabku mulai menangis sendu dan melempar tangan bayu.


"Tapi saaaayyy...."


"Say say basi lah!" potongku seraya menyeka air mataku dan kembali berjalan menuruni tangga untuk keluar dari tempat hina ini. Mereka kulihat masih diam mematung.


Kamar mira berada di lantai dua dengan pemandangan parkiran kos. Saat berjalan menuju mobilku, aku melihat tumpukan batu bata karena memang kos ini baru saja di renovasi. Mungkin ini sisa-sisa bahan bangunan pasca renovasi.


I will show you a little anarchy mate! Batinku.


"Eehh bay! lihat nih gue punya kado buat lu!" lalu aku mengambil satu batu dari tumpukan itu, dan...


CRAAKKKK! Aku melemparkan batu bata itu ke kaca mobilnya Bayu. Kaca mobil Bayu langsung hancur dan retak seperti hatiku! aku langsung menoleh ke arah mereka dan tersenyum manis. Terlihat raut wajah mira yang nampak menahan emosi. bayu? bayu hanya mematung kebingungan.


For months on end I've had my doubts


Denying every tear


I wish this would be over now


But I know that I still need you here


Teriakku menyanyikan sebuah lagu asal eropa ini. Biarin lah orang lain dengar juga, batinku. Aku mengendarai mobil dengan cukup cepat tapi entah mau kemana karena masih kaget dengan adegan perselingkuhan tadi.


Ya, Bayu adalah pacarku. Sudah hampir setahun ini ia menjadi pria yang menemani hari-hariku. dan Mira adalah sahabatku sekaligus orang kepercayaan ku untuk mengurusi masalah keuangan di toko ku.


"Dua orang ini? Terkutuk!!! Tanpa aku mana bisa si Bayu itu punya mobil seperti sekarang, tanpa aku juga mana bisa mira menjadi ala-ala wanita sosialita yang bau pipis!" gerutu ku diiringi dengan aku fokus menyetir mobil. Wahai dewa marmut tolong aku!


Aku adalah manda, amanda rein. Lahir di Atas kasur salah satu rumah sakit di Bandung. Tumbuh dan berkembang dari keluarga biasa dan sederhana. Aku dibesarkan oleh seorang nenek dan seorang kakek, mereka berdua hanya pensiunan AKABRI.


Orang tuaku sudah lama berpisah dikarenakan ayahku selingkuh dengan wanita lain, itu pula yang menyebabkan aku sangat membenci ayahku sendiri.


Ini adalah minggu pagi atau bulan ke-dua dimana aku menganggur tanpa pekerjaan. Tepatnya tahun ke dua pula dimana semua usahaku hancur atau bangkrut total dan yang tersisa hanyalah hutang sebesar kurang lebih 400jt.


Well, aku yang berumur 23 tahun ini tapi sudah mempunyai hutang sebesar itu? Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati, wow!! Gue memang keren!!!


Mengenai usahaku, aku sebelumya memiliki usaha di bidang outfit fashion. Ya, aku memiliki sebuah distro yang aku rintis sendiri dari semasa awal kuliah hingga aku memilih untuk tidak meneruskan kuliah karena lebih ingin fokus pada usaha ini.


Pada tahun ke tiga usaha distro ku mengalami puncak nya dan menjadi salah satu distro yang cukup terkenal di Bandung.


Memang terhitung cepat untuk sebuah usaha mampu maju dalam hitungan tiga tahun saja. Mungkin juga dengan waktu yang secepat itu maka hilang nya pun begitu cepat. Sesuatu yang Mudah datang akan semakin mudah, semakin sulit akan semakin sulit. Entahlah hanya mitos atau memang benar. shit!


Rutinitas sesaat setelah bangun sudah pasti adalah cek handphone dan seperti biasa notifikasi penuh dengan ancaman dan caci maki dari para Debt Collector yang hendak menagih hutang padaku.


Sebelum hampir pasti mereka mencari-cari aku ke rumah yang telah aku jual, aku mengungsikan keluarga aku ke rumah lain. Nenek! Maafkan cucu mu ini, batinku. Setelah menjual rumah untuk menutupi sedikit dari sebagian hutang, aku lebih memilih untuk kos dan mengasingkan diri hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaan ku ini.


Tring!! Ada sebuah notifikasi baru di hpku.


-Debt Collector-


WOY BIAWAK JAWA! DIMANA PUN KAU BAKALAN SAYA CARI! LUNAS KAN UTANG-UTANG KAU LAH!


Ah! Wahai dewa marmut! Ini debt collector ngancem aku atau gimana sih? tapi aku anggap hanya sebuah lelucon yang kemudian aku hanya tertawa kecil dan mengabaikan semua notifikasi itu.


Sebelumnya aku sempat bekerja untuk sebuah perusahaan IT bermodalkan ijazah SMA. Pengalamanku hanya mampu bertahan sekitar tiga bulan saja. Karena aku merasa jengah selalu di perintah dan dibebani segala tugas kantor. Memang Roots anak gadis nakal susah buat diatur-atur.


Sudah dua tahun pula semenjak kejadian perselingkuhan bayu dan mira mereka jugalah yang menghancurkan semua usaha distro ku.


Beberapa hari setelah kejadian tanpa sepengetahuanku mira menarik semua saldo di rekening toko juga menarik semua cash dari toko. Tak cuma itu! mira juga mengambil sebagian stock barang dari gudang dan mengambil barang dari konveksi tanpa membayar pihak konveksi.


Lebih parahnya lagi mira memecat semua penjaga toko dan gudang dengan alasan distro ku bangkrut tanpa membayar pesangon para pegawai itu terlebih dahulu.


"Kalau mau gaji tagih saja ke si manda itu urusan dia sebagai bos disini kan? bukan urusan gue!" jawab Mira kepada seorang pegawai yang menanyakan perihal upahnya.


Semua yang di ambil mira nominalnya sangat besar bagiku. Terlebih aku baru saja mendapatkan sebuah pinjaman dari sebuah bank yang rencananya untuk mengembangkan usaha distro ku.


Bayu? tak mau kalah dengan mira, ia membawa lari sebuah mobil yang dulu aku pinjamkan pada dia. Setelah kejadian itu aku memang tidak pernah ke toko untuk sekedar melihat situasi toko karena memang aku juga jarang ke toko dan merasa aku memiliki orang kepercayaan yang bisa mengatur semuanya yang juga telah mengkhianati ku.