Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 03 Awal Dari Kegelapan



Terkadang kita harus melintasi masa lalu. Bukan untuk mengenang, tetapi untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan agar kita dapat melangkah lagi tanpa terbebani bayang-bayang.


"Duh pagi-pagi ini mataku sudah sakit banget." ucapku. Mungkin sisa-sisa air mata yang sudah lama tidak dikeluarkan ini. Ya, semenjak kejadian itu air mataku sudah tidak lagi keluar sepertinya sudah habis. Dan semalam sepertinya mulai tumbuh dan berkembang lagi. Oke lupakan!


Setelah semua kejadian itu semua piutang hasil usahaku tak ada yang aku sesali sepenuhnya hanya sangat menyayangkan walau memang sangat mengganggu dan menjadi beban pikiran tersendiri. Tapi tetap aku jalani dan aku percaya bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi padaku, suatu hari nanti!


Dan untuk meneruskan hidup aku saat ini mulai mencoba membuka Online Shop dan jualan baju dress juga sepatu wanita. Semua itu atas saran seorang sahabat setelah tahu kondisi aku saat ini.


Aku pun langsung setuju dengan ide dia karena tidak jauh-jauh dari bisnisku dulu di bidang fashion. Ya, bedanya sekarang aku jualan merk atau brand kW. Tapi setidaknya cukup untuk menghidupiku juga cukup untuk memenuhi kebiasaan baruku walau hanya sekedar nongkrong di coffee.


Tring Tring Tring!!! Handphone-ku berdering dan cepat aku angkat walau tak ada nama yang tertera dari nomor kontak itu. Ah paling juga debt collector, batin ku.


"Hallo Assalamualaikum." sapa ku menjawab telepon yang masuk.


"Heh! manda!!! parah lu! punya masalah gitu nggak cerita ke gue. Gue ini sahabat lu! nggak di anggap atau bagaimana sih? parah banget deh! o iya gue udah balik ke indo nih dimana lu? gue mau ketemu dan lu harus ceritain semuanya ke gue!!" hardik seorang pria di telepon itu tanpa jedah sama sekali.


"Maaf mas sebelumnya ini siapa ya? maaf kalau aku lupa, tapi nomor mas tidak ada di kontak ku." jawabku halus kepada pria itu.


"Wah benar parah ini anak. Sudah lupa lagi sama gue!" sahut pria itu dengan cepat.


"Iya mas, sebelumnya kan aku sudah minta maaf kalau aku lupa sama mas." jawab ku dengan rasa bingung tingkat lanjut.


"O gitu? lupa lu sama gue, nggak kenal sama suara gentleman gue? nggak ingat apa lu sering banget usil narik-narik hidung gue!" bentak pria itu. Aku sangat terkejut mendengar jawaban pria itu. Yang jelas aku semakin bingung sambil berusaha mengingat suara pria yang ada di telepon.


"Eeuuu, eehh.. Duh maaf mas gimana?" ucap ku bingung harus menjawab seperti apa.


"Ehh hidung gue makin mancung loh, kulit gue makin putih lagi. Lu pasti klepek-klepek kalau ketemu gue hahahaha!" jawab pria itu dengan bangganya.


"Mas, aku makin bingung ini. Masnya siapa ya?" jawab ku yang benar-benar makin bingung. Kalau mengingat dengan siapa saja aku pernah mencubit hidung wah nggak inget semua euy. kebanyakan! gumam ku.


"Grrrhh!! Emang lu ye! pokonya kalo lu mau tau siapa gue, nanti siang lu mesti dateng ke coffee xxx ya jam dua datang nya! kalau lu nggak dateng, gue yang bakalan datengin lu! inget jam dua nggak pake ngaretttt!!"


"Sekalian gue mau ngasih pekerjaan buat lu. Kasihan gue dengar cerita lu lagian dari pada nganggur gitu makanya mesti datang!" ujar pria ditelepon dengan panjang lebarnya yang semakin membuat bingung.


"Maaf mas,  tapi sebelumnya jangan pernah merasa kasihan padaku mas. Terima kasih tawarannya mas, tapi mungkin masnya ini salah sambung kali ya." ucap ku sehalus mungkin pada pria itu.


"Belagu lu belum hilang juga yee!! tau ah intinya harus temuin gue jam dua atau gue yang nemuin lu!!!"


Tuutt.. tuuttt.. ttuuutt!!


Merasa kasihan padaku apapun pekerjaan yang nantinya ditawarkan aku pastikan akan menolaknya. Lagi pula memang aku tidak pernah betah dan tertarik untuk bekerja kepada orang lain mending bisnis sendiri walau hasil kecil tapi i'm The Boss!


Aku selalu akan memilih mandiri walau itu adalah jalan yang sulit tapi inilah aku. Sulit bukan berarti mustahil! aku bukan bagian dari mereka yang hanya sekedar hidup untuk mencari zona nyaman. Terlepas semua resiko untuk membangun sebuah bisnis seperti yang aku alami sekarang just believe there is always any price to pay for!


Jam 13.40 aku telah selesai mandi dan berpikir sejenak apa aku harus datang untuk menemui lelaki itu? Ah ya sudahlah lebih baik datang saja hitung-hitung silaturahmi lagian dia juga ngancam untuk datang ke tempatku. Dari pada bikin masalah baru. Penasaran juga sih hihi.. gumam ku sedari tadi dengan mimik wajah yang mulai penasaran.


Ngenngggg... motorku melaju ke daerah karapitan Bandung.


"Parah Bandung sudah makin panas saja nih." celetukku ditengah perjalanan. 15 menit perjalan sampailah aku di parkiran coffee yang tadi dijanjikan. Setelah memarkirkan motorku aku langsung mengambil handphone untuk mencoba menghubungi lelaki tadi.


Tttuuutt. Tttuuuuutt..


"Halooo mas.."


"Udah sampai lu? sini masuk. Gue di pojokan jangan banyak nanya lagi.. ribet!!!" potong pria itu di telepon. Ya dewa marmut! ini lelaki kenapa segini nya? Aku berdiri tengah pintu masuk coffee itu dan melihat-lihat kondisi sekitar.


"Manda!!!" sahut seorang pria tinggi putih sambil berdiri dan melambaikan tangannya dari ujung pojok coffee. Pria itu menggunakan kaos merah dengan kerah v-neck dibalut celana jeans warna navy dan sepatunya yang bermerek. Ya dewa marmuttt!!!! batinku kaget.


Dua tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dua tahun lamanya pun sekuat tenaga aku memendam rasa rindu kepadanya.


Ternyata dia sahabatku, bahkan lebih dari sekedar sahabat. Entahlah sebutan apa yang cocok aku tidak perduli yang jelas aku rindu! memang ada kalanya jarak selalu menjadi penghalang.


Dia adalah gilang, lengkapnya gilang pramadistya. Dua tahun lalu memang menjadi titik balik untukku juga untuk gilang. Dia pergi ke Australia untuk bekerja di sana.


Hidup memang maha asik pasang surut kesuksesan dan kegagalan bisa datang dalam hitungan detik. Aku masih ingat pesan terakhir dari gilang sebelum ia benar-benar pergi.


"Terima kasih nda, makasih untuk semua nya. Terima kasih sudah menyelamatkan hidup gue. Terima kasih sudah ngerawat gue selama ini manda.. Kita baru 4 bulan stay bareng tapi semua nya itu sangat berkesan buat gue nda. Semua yang lu lakuin ke gue udah berhasil untuk merubah pemikiran gue tentang bagaimana mengartikan sebuah kehidupan merubah pikiran gue tentang apa itu harapan. Benar kata kamu nda. All i need is a new hope. Gue bakalan selalu inget itu." ucapnya waktu itu dengan diselimuti butiran-butiran air mata yang terus menetes.


"Hiks... hiksss.. terlebih kamu sudah merubah pandangan gue tentang cewek nda. Selamanya gue hutang budi sama lu nda."


"hiks.. amanda rein.. janji ya someday kita akan kembali lagi dan seperti sekarang lagi. Janji ya kamu bakalan ngasih pelukan ini, pelukan yang paling nyaman buat aku nda."


"Gue mau banget hidup lebih baik nda. Dan semoga ini adalah awal dari semua itu. Well, gue harap lu juga begitu bisa lebih maju bukan maju yang cuma tentang uang tapi semuanya!! semoga nanti ada waktu lagi buat kita..."


"i love you amanda rein."


Itulah pesan terakhir gilang sebelum ia pergi, dulu.