Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 18 ECCEDENTESIAST



Ia telah membuatku melayang tinggi dan dengan mudahnya juga ia menghempaskan aku begitu saja. Sudah cukup, terima kasih atas semua yang telah kau beri.


BRAAKKK!!! aku menggebrak kursi besi panjang yang menjadi tempat dudukku. Rasa sakit memukul bangku ini tak cukup menyakitkan dari apa yang sedang aku rasakan dalam hati.


"HAHAHA!!! brengsek!! gue salah apa!! taik memang semua cowok tuh! gue nggak pernah minta apapun. Gue cuma ingin ngerasain di sayangin! brengsek memang semua. Hikss.. hikss..." umpat ku dalam tangis dan teriakkan pagi itu membuat orang-orang di sekelilingku memperhatikan aku.


Aku tidak bisa lagi berkata apa-apa jika sudah seperti ini, aku harus membela seperti apa? perpisahan memang adalah jalan satu-satunya jika memang kamu dan aku tak bisa bersatu. Perpisahan memang selalu terasa menyakitkan tetapi itu adalah suatu kenyataan. Sebuah kenyataan yang telah menghancurkan segala harapan dan keinginan yang selama ini kami impikan untuk bersama-sama selamanya. Mungkin memang dari awal kami tidak ditakdirkan untuk bersatu.


Nafas aku semakin memburu, semakin berat, badan aku bergetar hingga kemudian ada sebuah pelukan erat di tubuhku. Bayu begitu erat memelukku, tapi tangisanku semakin menjadi-jadi.


Well, persetan orang bilang kaya bagaimana. Karena sejatinya wanita itu makhluk yang begitu lemah, begitu rapuh. Terlebih mempunyai hati yang lembut dan sensitif dan bisa terluka.


"Manda, ke kos aku aja ya. Jangan disini nda. Malu loh nanti lu bisa cerita semuanya." ajak bayu seraya kedua tangannya memegang wajahku sembari menatap teduh mata ini.


Sesampainya kita di kos bayu aku hanya bisa berbaring di kasur bayu dan menatap kosong langit-langit kamar ini. Di dalam kepala ini ada banyak pemikiran tentang apa, bagaimana, dan kenapa? semua pertanyaan itu berputar-putar tanpa keluar satu pun jawaban.


"Nda nih teh manis hangat dulu. Siapa tahu bisa bikin kamu sedikit tenang." tawar bayu yang duduk ditepi kasur.


"Makasih bay. Maaf merepotkan kamu ya." jawab ku lemah seraya masih menatap kosong.


"Cie tumben manggilnya aku kamu hehe. Kamu belum tidur ya nda. Mata kamu kaya panda tuh." sahut bayu dengan mengusap kepalaku perlahan.


Brengsek!! batinku menjerit mengingat kembali semua kejadian subuh tadi. Gilang tanpa merasa berdosa dengan dinginnya memperlakukanku seperti itu.


"Yap! apakah benar yang paling aku cintai adalah yang paling menyakitkan ku." ucapku pelan, entah tapi air mata ini sepertinya tidak habis dan kembali membasahi wajahku. Bayu hanya mengusap lembut, menghapus ari mataku yang keluar dari sudut mata ini. Kemudian ia memeluk tubuhku.


"Ada aku, Amanda." ucap bayu lembut. Kenapa harus bayu? kenapa bukan gilang? kenapa bayu?? pertanyaan baru itu muncul dan semakin memenuhi isi kepala ini.


Di mana tuhan? di mana dewa asmara? saya hanya ingin mengadu dengan kehidupanku, dimana kehidupan yang saya miliki sebelumnya? di mana pelukan itu sebelumnya? sungguh hidup yang luar biasa..


Bayu menatapku sayu. Ia masih saja membelai rambutku dengan lembut, sejenak aku memejamkan mata untuk sedikit memberi ruang kosong pada dada yang sedari tadi memekik oleh rasa sakit.


Fuhhh!! aku menarik nafas panjang untuk sedikit mengeluarkan beberapa emosi yang tertahan. Ketika membuka mata wajah bayu kian mendekat dengan tatapan yang kian sayu.


CUPP!! bayu mencium keningku dengan lembut. Seketika ada ciuman hangat keningku, ciuman hangat antara masa lalu yang hilang dan masa depan yang abu juga entah mengapa aku tak bisa menolak untuk itu. Sesaat bayu menarik wajahnya dan kembali menatap mataku.


"I love you amanda rein." ucap bayu lembut yang kemudian langsung memelukku dengan erat.


Seharusnya sudah tidak lagi aku mengharapkan ia ketika hujan. Seharusnya aku sudah tidak lagi melihat gambaran-gambaran potret ku dengan gilang di HP ini ketika kenangan di kepala saja sudah cukup merepotkan. Bukan lagi soal perasaan, perasaan itu sudah cukup lama ada pada titik jenuh melainkan setiap kenangan dan setiap janji atas nama religi.


Apakah mencintaimu hanyalah sebuah keegoisanku sendiri? atau angkuh mu yang ingin melepaskan ku? gilang, bisakah sebentar saja aku meminjam nurani mu?


Hujan sudah hampir satu jam turun namun masih belum ada tanda akan segera reda. Terlalu bosan untuk menunggu akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan.. entah, tapi selalu ada perasaan pahit dalam dada ini. Semoga bukan pertanda buruk.. gumamku. Dua puluh menit perjalanan sembari ter-hujan hujan akhirnya sampai juga. Mobil gilang masih ada terparkir seperti tadi subuh tetapi ada mobil lain yang baru aku lihat disebelah mobil gilang.


Brengsek! situasi ini, suasana ini de javu banget. Sesampainya didepan kamar gilang. Bukan, itu awalnya kamarku! terlihat ada sepasang sneaker wanita dan yang terdengar hanya suara lagu dari pengeras suara.


Waktu seperti berputar kembali pada waktu dimana aku memergoki bayu dengan mira kala itu. Bajuku yang basah kuyup tidak mampu membuat diriku merasa kedinginan. Hati ini sudah lebih panas sebelumnya ketika melihat sepasang sepatu sneaker wanita tepat di depan kamarku.


Ini masih hujan, jika benar didalam ada seorang wanita dan ada gilang di dalamnya kita sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang terjadi didalam.


Brengsek!!! kenapa harus kembali terjadi lagi seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan mematung. Brengsek!! tragis banget ya nasib gue, nasib seorang amanda. Terimakasih semesta, hidup ini terlalu brengsek untuk gue syukuri! umpat ku alam hati.


Masih teringat jelas wangi gilang, masih sangat ingat bagaimana pertemuanku dengan gilang. Masih jelas teringat bagaimana hangat ciumannya untuk keningku. Masih teringat jelas bagaimana ia dulu memelukku sangat erat. Dan masih teringat jelas bagaimana kita saling berjanji untuk tetap bersama.


CKLEK!! pintu kamar akhirnya terbuka, wanita sosialita itu hanya tersenyum melihatku kemudian ia memakai sepatunya kemudian pergi. Wanita itu hanya tertunduk melihatku didepannya.


Aku langsung masuk kedalam kemar, kue yang pagi tadi aku letakkan di tengah kamar masih tersimpan persis ditempat itu tanpa sedikitpun bergeser, hanya kado kecil dan note-ku yang sudah tidak ada lagi di samping kue.


Lalu kue itu segera aku buang ketempat sampah di depan kamar kos. Sementara di atas lemari ada sebotol minuman keras yang baru diminum karena masih tersisa cukup banyak.


"Lang, ini minuman lu?" ucap ku asal tanpa melirik ke gilang. Aku langsung mengambil botol itu dan meminumnya cukup banyak.


"Brengsek! pahit! wueekkk!!  tetapi nggak lebih pahit dari pada hidup gue." cerocos ku dengan sengaja. Kemudian aku berjalan ke arah kamar mandi untuk membawa peralatan mandi kemudian membawa sebuah ransel besar dari dalam laci lemari.


"Manda, mau kemana." tanya gilang dengan nada berat tapi tidak aku jawab. Aku membuka lemari kemudian mengambil semua baju yang bisa aku bawa.


"Manda dengerin aku dulu please!" sahut gilang dengan sedikit keras, aku kemudian berdiri.


"Apa? apa yang mau lu jelasin? nggak butuh gue. Sudah cukup lang! hiks.. hiks.." jawab ku seraya memegang dadaku. Sakit! hanya air mata lah yang mampu berbicara. Gilang kemudian berdiri dan berjalan kearah ku. Gilang langsung memeluk tubuhku tetapi kemudian aku lepaskan pelukan gilang dan berjalan mundur. Lalu gilang hanya tertunduk.