Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 17 Luka Baru



Getaran di hatiku yang lemah haus akan belai mu. Seperti saat itu, saat-saat pertama kau dekap dan peluk tubuh ini dan kau bisikkan kata-kata aku cinta kepadamu. Peluhku berjatuhan menikmati sentuhan. Perasaan yang teramat dalam telah kau bawa segala yang ku punya.


Hari itu 24 november, hari dimana seharusnya menjadi satu dari hari lain yang berakhir bahagia. Satu dari sekian banyaknya hari yang spesial. Hari itu adalah hari dimana aku dan gilang genap satu tahun menjalani hubungan kami berdua.


Ada harapan lebih dari hari ini, semoga dengan hari ini aku dan gilang bisa seperti dulu atau sedikitnya bisa saling kembali setelah hampir saling menghilang dan acuh. Aku sengaja mempersiapkan kado kecil untuk gilang bersama sebuah kue yang lengkap dengan lilin yang siap menyala terang.


Hari itu gilang lagi-lagi tak berkunjung ke toko namun aku tak terlalu peduli karena aku berpikir nanti malam gilang pasti pulang dan aku akan kasih little surprise untuk gilang dengan kado kecil ini.


Jam 8 malam setelah beres dari toko aku langsung mengambil kue yang tadi aku beli namun masih aku titipkan di toko kue itu. Sesudahnya mengambil kue aku langsung pulang menuju kos. Well, sedikit beres-beres kamar agar terlihat lebih rapih dan bersih juga menyemprotkan pewangi ruangan. Setelah itu aku langsung bergegas untuk mandi. Than, jam 10 kurang semuanya sudah siap tinggal menunggu kepulangan gilang.


Jam 11, Masih belum ada tanda-tanda gilang akan pulang, aku langsung mengambil handphone dan mencoba menghubunginya.


Telepon yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area cobalah beberapa saat lagi, the number you are calling....


Tutt.. tuutt.. hanya nada renyah operator yang menjawab beberapa panggilan aku ke HP Gilang.


Jam 12 malam...


Jam 1, Masih operator yang menjawab setiap panggilanku.


Jam 2


Jam 3


Jam 4, Sudah habis 5 permen lollipop dan gilang masih belum pulang.


Jam 5


Jam 6, terdengar suara mobil gilang dari area parkir kos. Beberapa saat kemudian gilang langsung masuk dengan sempoyongan. Lagi, bau alkohol begitu menyengat


"Ehh manda sayang. Belum bobok lu? gue langsung tidur ya.. jangan ganggu." hanya itu ucapan gilang setelah melihatku mematung di tepi kasur dan ia langsung melempar tasnya kelantai sehingga beberapa barang yang di bawa gilang dalam tasnya sedikit tercecer-cecer di lantai. Gilang langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang kemudian dengan cepat terdengar suara mendengkur yang halus.


7 hours sit and waiting.... than all so fucking uselles?


7 jam duduk menunggu.. br**engsek!!


Drrrtttt ddrrrtttt!! Handphone gilang bergetar dan pesan masuk. Entah biasanya aku sangat jarang memeriksa hp gilang karena aku rasa aku cukup percaya ke gilang. Dan bukankah hal yang paling mendasar dari sebuah hubungan adalah sebuah KEPERCAYAAN? sebuah pesan WhatsApp di handphone gilang.


Winie Said


sleep tight.. kamu


oke lang cukup!!! aku kemudian berdiri mengambil kue yang tadi aku beli dan menyimpannya di tengah kamar dengan lilin yang sudah siap untuk dibakar. Tetapi sengaja sekarang aku tidak membakar lilin-lilin yang ada di atas kue itu, kemudian aku meletakkan kado kecil tadi sebuah kotak kecil yang berisi 2 buah cincin.


Lalu aku menuliskan sebuah note pada selembar kertas yang kemudian aku selipkan diantara kue dan kado tadi.


HAPPY ANNIV


Well done lang!


Akhirnya kami merayakan ulang tahun pertama kami. Tapi kamu terlalu mabuk untuk mengingat semuanya. But done mind at all lang!!


Amanda rein


Kemudian aku beranjak keluar kamar meninggalkan gilang dalam tidurnya yang nyenyak. Dalam liarnya alkohol yang mengalir bersama setiap darah yang di pompa jantungnya. Jantungnya yang dulu pernah berdegup untukku, untuk seorang amanada rein.


Meninggalkan gilang pramadistya dalam indah mimpinya. Mimpinya yang dulu pernah sama dengan mimpiku untuk bersama-sama melewati hari tanpa harus merasa takut untuk saling berpisah. Bermimpi tentang bagaimana indahnya melewati waktu hingga nanti tua menjelang dan senja jatuh di ujung kota.


Pagi itu aku langsung meninggalkan gilang di dalam hidupnya yang baru. Hanya langkah berat menapaki setiap jejak serupa setiap kepergian tanpa alasan, sedangkan matahari saja masih terlalu malu untuk menampakkan diri. Dan sepagi ini perasaanku telah tercecer diantara banyaknya kepingan harapan yang sebelumnya lebih dulu hancur.


Akhirnya sampai pada tempat ini, tempat dimana aku memberikan banyak alasan untuk gilang tetap bertahan hidup dan mempunyai harapan. Tepat disini dimana gilang kala itu merasa hidup tak lebih dari sebuah kutukan besar.


Sekali lagi, semesta memang maha asik. Beberapa waktu lalu aku hampir memiliki segalanya, mimpi, harapan dan sedikit banyak cita-cita yang hampir terwujud tetapi tidak untuk hari ini. Saat ini semuanya terbalik dan kongkrit.


Seketika semua hilang, menjauh, semu dan semakin abu. Dulu disini aku meyakini gilang untuk tetap bertahan hidup dan hari ini aku sendiri tidak tahu untuk apa hidup itu sebenarnya waktu itu di tempat ini. Aku meyakinkan gilang untuk tetap beharap tetapi hari ini.. aku tidak tahu lagi harus berharap seperti apa. Untuk semua do'a. Lakukan semua ini!!


Tak terasa hampir tiga jam terduduk kosong disini hingga Bayu menelepon.


"Manda, kok toko masih tutup? Kamu di mana, Nda?" Tanya Bayu lewat telepon itu.


"Toko hari ini tutup. Nggak tahu bakalan tutup selamanya.."


"Eh nda! kok gitu? oh aku ngerti. Kamu dimana?"


"Di tempat biasa gue ngelihatin orang lalu lalang."


"Aku kesitu ya amanda sayang.."


Dua puluh menit bayu akhirnya datang dan duduk di sampingku. Pagi itu jalanan kota Bandung sudah ramai oleh lalu-lalang kendaraan dan matahari pun sudah tak malu lagi untuk memberi hangat tetapi tidak untuk hati ini.


Bayu perlahan memegang tanganku walau kami masih saling diam dan perlahan juga ia menarik kepalaku untuk disandarkan di bahunya. Hidup memang sebuah pengulangan yang terus berputar. Dulu ada lelaki yang menyakitiku kemudian kini ia datang lagi dan memberikan bahunya. Dulu ada pria yang begitu aku cinta hingga indah pada waktu itu, tapi kini ia perlahan memberikan sebuah luka.


Mataku begitu perih dan ada sesuatu yang begitu menyesakkan dadaku. Ada sebuah rasa sakit yang entah bagaimana membahasakannya. Memang terkadang air mata mampu berbicara lebih banyak dari semua bahasa.


"Menangis lah manda, lepasin saja semua air mata kamu. Jangan di tahan aku disini untukmu manda." ucap bayu pelan dan lembut. Dan perlahan tangannya kembali menggenggam tanganku yang mengepal penuh emosi.


Drrrttt Drrttttt! ada sebuah panggilan masuk dari gilang di handphone ku.


"Halo..."


"Manda, dimana lu?"


"Di suatu tempat aku biasa duduk dan menangis."


"Ohh... happy aniv ya. Makasih kadonya. Maaf gue lupa kalo hari ini kita anniv. Jangan lupa urusin toko nda. Dadah!!"


Tutt... tuttt... tuutttt! bahkan gilang menelepon hanya mengingatkan untuk mengurus toko? hehe tanpa ada rasa bersalah atau apapun itu! gumam ku membatin.


Wajah aku semakin panas, emosi pun semakin naik, air mataku tak lagi bisa aku tahan dan kepalan tangan ini semakin kuat.


BRAKK!!!!