Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 10 Luka Lama



If you dont live for something you’ll die for nothing.


Every drop of blood


Every bitter tears


Every bid of sweat


I LIVE FOR THIS!


Penggalan lirik lagu di atas yang terdengar di kamar kos ku sekarang ini seakan mengingatkanku kembali tentang tujuan-tujuan hidupku yang sudah lama hilang. Mengingatkan kembali tentang apa itu mimpi, harapan dan tujuan. Tanpa semua itu hidup hanya akan berakhir pada rasa keterpurukan yang terus menerus berulang.


Semua orang pasti pernah merasakan dan sangat pernah berada pada titik yang paling bawah dalam fase kehidupan. Tentang setiap hal yang menjatuhkan dan tentang semua hal yang hilang. Atas semua itu, sekarang hanya bagaimana bisa bangkit dan berdiri.


Sebelumnya aku pernah gagal, bukan kah ini kali kesekiannya aku terpuruk? Lalu mengapa aku tak seperti dulu yang selalu bangkit setelah terjatuh banyak orang yang akan tertawa puas dengan kehancuranku saat ini. Semakin banyak orang yang bahagia ketika aku semakin lama terpuruk dan meratapi nasib lalu hanya bisa menyalahkan takdir.


Bukankah mengutuk setiap kehilangan takkan pernah kembali semua itu? tidak! aku tidak bisa diam dan menunggu. Dan untuk setiap kehancuran ini, untuk setiap penghiantan itu. Hari ini atau tidak sama sekali. Bangkit!


Setelah kedatangan gilang aku seperti di pecut dan di sadarkan untuk bisa kembali berdiri. Toh sekarang ada gilang yang sudah pasti akan memberiku semangat lebih. Lalu lebih dari itu. Karena bagaimana pun dendam harus terbalaskan untuk mereka. Ya! untuk mereka yang berkhianat.


Hari ini atau sehari semenjak pertemuanku dengan gilang kemarin ia telah resmi pindah ke kos ku. Sangat-sangat De Javu sih! tetapi melihat damainya wajah gilang ketika tidur seperti menjadi sengatan listrik untuk memulainya kembali semua. Dari nol!


Cup!! Tiba-tiba ada kecupan di keningku dan sepasang tangan yang langsung memelukku dari belakang. Terasa hangat di bagian punggungku.


"Morning, Lang.."


"Morning embahmu stending! Udah siang kali, Nda."


"Hihi suka-suka gue sih. Lucu deh kalau lu sudah kesal begini."


Cup!! Gilang mencium keningku kembali.


"Aturan mah kalo mau nyium-nyium tuh ya mandi dulu kek. Jigong lu tuh!!"


Seminggu sudah gilang tinggal di kos ini bersamaku. Sekarang kami sedang menuju sebuah tempat makan karena gilang ingin membicarakan sesuatu denganku. Entah, tapi sepertinya terlihat sangat penting.


Sesampainya kami di sebuah tempat makan kami pun dengan cepat memesan makanan khas sunda yang sudah pasti bikin enak! tidak butuh waktu lama bagi kami berdua untuk menghabiskan makanan yang kami pesan.


Setelah selesai makan, ******* lollipop adalah kewajiban dan kenikmatan yang hakiki bagiku.


"Nda, gue mau nawarin sesuatu nih."


"Apaan! jangan yang aneh-aneh deh!" jawab ku cuek.


"Serius manda. Lu dengar saja dulu penawaran gue sih!"


"Oke lang. Your call"


"Oke nda jadi begini. Gue kan punya tabungan nih hasil kerja gue kemarin. Nah kalo itu tabungan hanya menjadi sekedar tabungan gue di pakai hidup juga bisa kan ya? nah, daripada uang gue habis begitu saja gue punya ide. Karena lu selalu nolak ajakan gue buat kerja kenapa nggak sih tuh uang gue jadiin modal aja buat usaha. Lu kan punya pengalaman banget tuh di bidang usaha? nah kenapa engga sih lu mulai lagi usaha lu. Hitung-hitung memutarkan uang gue nda."


Well, aku sejenak berpikir tentang tawaran gilang. Mengingat tadi pagi aku punya semangat baru untuk bangkit lagi sepertinya tawaran gilang adalah tawaran yang ngga boleh aku lewatkan begitu saja.


Kiranya sedikit menurunkan ego demi masa depan bukan sebuah dosa. Lagi pula kalau dipikir secara sehat mau sampai kapan juga aku seperti ini berpasrah diri kepada keadaan.


"Oke lang. Lanjutin gimana lagi?"


"Ya begitu sih nda intinya mah. Gue ada tabungan sekitar 100jt lebihan gitu. Nah gue niatnya mau memodalkan uang gue pas 100jt gitu. Masalah saham dan pembagian hasil gue maunya 50:50 dan lu ga boleh nawar! tapi nda.."


"Berhubung gue nggak mengerti bagaimana usaha itu jadi semuanya gue serahin ke lu. Dari konsep bisnis, produksi dan yang lainnya gitu. Is fair enough huh?"


"Well, mulai tertarik nih gue lang. But you have to remember lang! dalam usaha kita itu digembling ya? maju syukur bangkrut ya takdir."


"Sip! s**o, kapan nih mau mulainya?"


"Tetapi lu mau dulu ngga nda? lu nya sepenuh hati ngga nih bakalan usaha lagi. Jangan setengah setengah!"


"I’ll do my best gilang!"


Dan perbincangan tentang ide gilang terus berlanjut. Hampir kurang lebih hingga dua jam dengan keputusan akhir aku menyanggupi untuk merintis usaha dengan modal gilang.


Well, kenapa nggak. Siapa tahu sukses lagi dan untuk bisnis yang sekarang aku punya target khusus yang bikin semangatku meledak-ledak gitu.


Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan perihal bisnis ini di kost sembari menyiapkan konsep awal dan persiapan awal. Ya, HARI INI ATAU TIDAK SAMA SEKALI! batinku membakar semangat itu.


Setelah membayar bill makanan yang pasti pakai uang gilang kita langsung menuju mobil gilang. Menyedihkan! hidup sekali lagi memang sebuah perputaran. Kadang di atas kadang di bawah.


Sesaat berjalan keluar dari tempat makan itu dan bersiap untuk masuk mobil mataku memperhatikan seorang manusia berjarak 50 meter di sebarang sana.


Degh!! si brengsek!! b**ayu!!


Siang ini pun matahari tak cukup panas. Akan tetapi hati ini mampu membakar lebih panas! gilang yang melihatku dengan tatapan emosi penuh kebencian sepertinya mengerti. Ia pun melihat ke arah yang sama. Pada arah dimana mata ini menatap penuh kebencian.


Kemudian aku berjalan hendak menghampiri bayu di seberang sana. Namun dengan cepat Gilang menarik tanganku dan menahan ku.


"Amanda.. jangan, bukan sekarang nda."


"Nggak bisa lang! lu nggak mengerti apa-apa!!! itu si brengsek yang sudah membuat hidup gue hancur lang!!"


"Manda.. p**lease!"


Aku langsung menarik tanganku dari genggaman tangan gilang dan langsung kembali berjalan untuk menghampiri bayu yang sepertinya belum melihat keberadaan ku saat ini. Tapi sekali lagi, gilang berlari dan mengejar ku. Ia menghalangi langkahku.


"Jangan!! jangan sekarang. Bukan hari ini nda. Nanti ada waktu yang lebih tepat. Please percaya sama gue."


"Nanti ada waktunya dimana satu senyuman akan menjadi pembalasan yang begitu menyakitkan. Trust me."


"Maaf nda. But i have to say this. Dengan kondisi lu yang sekarang lu masih belum punya apa-apa untuk membuat dia ngerasain apa yang lu rasain dulu."


"Dengan keadaan lu yang sekarang lu hanya akan membuat diri lu KALAH NDA!"


"Please nda. Trust me! This time. Ipromise you, one day your smile will kill that."


Kedua tangan gilang perlahan menggenggam tanganku. Ia menatap ku tajam. Entah tetapi tatapan itu tatapan takut, khawatir tapi begitu optimis dan yang jelas tatapan itu sangat nyaman.


"Nda aku memang nggak tahu apa-apa tentang masalah itu. Tetapi mendengar cerita kamu tentang kejadian itu saja membuat aku sakit hati nda!"


"Aku juga jelas ngerasain apa yang kamu rasain nda! b**ut plis, not this time. Kita kan mau usaha bareng nda. Its your chance to prove. Amanda Rein."


"Waktunya lu untuk membuktikan bahwa lu dapat berdiri sendiri nda."


Ffhhhhhhhhh! aku menarik nafas panjang untuk sedikit melepaskan semua emosiku. Gilang benar. Sekarang aku belum mempunyai apa-apa. Dan jika aku menghampiri bayu saat ini itu nggak akan sebanding sama dengan apa yang dia lakuin dulu.


Dan rasanya memang keren. Balas dendam yang paling menyakitkan adalah sebuah senyuman yang tulus. Entah mengapa tetapi aku percaya, percaya bahwa suatu hari nanti bayu yang akan datang dan minta maaf. Aku percaya bahwa suatu hari nanti bayu sendirilah yang akan menyesali semuanya.


Kemudian aku tersenyum kepada gilang. Kini terlihat sebuah tatapan bahagia dari gilang. Akhirnya gilang mampu membujukku untuk pulang. Jujur walau begitu pikiranku masih terbayang wajah bayu. Wajah seorang pengkhianat!


Tapi sekali lagi gilang mampu meredam semua amarahku saat ini. Sepanjang perjalanan walau kita saling diam tetapi aku selalu menyandarkan kepalanya di bahu gilang dan sesekali menggenggam tanganku.


Well, kalau dulu aku yang bilang bahwa yang di perlukan gilang nggak lebih dari sebuah harapan baru sekarang aku mengatakan itu semua pada diriku sendiri. Manda, all you need is a new hope!