Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 05 Kehidupan Baru



Aku ingin menjadi lilin yang menerangi gelap hatimu. Aku tak takut padam tertiup sikap dinginmu dan aku akan menunggu dengan yakin bahwa kita akan bercahaya selamanya.


Setelah malam itu dimana dia menceritakan semua kehidupan yang sebenernya. Kita tidak terjadi hal yang berlanjut untuk menjadi sesuatu yang lebih.


Aku dan gilang sendiri jarang chat di WhatsApp. Terakhir chat lima hari yang lalu itu pun hanya sekedar di read doang. Hampir setiap hari gilang selalu update status galau, dessprate, hope less gitu lah dan buat aku pribadi Jujur ironis? bukan! kasian? juga bukan! simpatik? ah pokoknya bikin aku ingin ngelakuin sesuatu buat dia walau sekali lagi. Bukan untuk sekedar alasan heroik atau ingin menjadi pahlawan yang kemudian hari aku ambil hati dia, bukan! semua orang punya hak yang sama untuk bisa hidup lebih baik.


Hingga beberapa hari kemudian ada telepon masuk tanpa nama di kontak hp ini.


"Teh, punten. Teteh rencangan na gilang kan?"


(Mba, permisi. Mba temannya gilang kan?)


"Ehh muhun, kang."


(Ehh iya mas)


"Ieu adbi rencangan kos na gilang. Teteh tiasa kadieu teh? Abdi nuju di rumah sakit, gilang masuk UGD teh punten teh tulungan abi hawatos."


(ini aku temen kos nya gilang. Mbak bisa kesini? Aku lagi di rumah sakit, gilang masuk UGD mba aku khawatir mba tolong bantuin.)


“Haaa!! di UGD? di UGD mana eta?"


"Di UGD rumah sakit tengah kota teh."


"Oh muhun, aku kadinya ayeuna antosan."


(Oh oke aku kesitu sekarang, tungguin.)


"Enggal teh."


Tuttt tuttt tuuutttt... 20 menit kemudian aku sudah berada di rumah sakit.


"Dimana gilang, bagaimana keadaanya?" tanyaku rusuh ke temannya gilang yang tadi nelpon.


"Masih di periksa teh di dalam." jawab dia dengan mimik wajah yang khawatir.


"Kok bisa sih masuk UGD?" kembali aku bertanya.


"Eh maaf sebelumnya aku pinjam uang dulu buat bayar taksi yang masih nunggu di depan tadi. Buru-buru sih jadi nggak sempet bawa dompet, teh." celetuk teman gilang.


"Ehh ohhh nihhh." ucapku seraya menyerahkan uang. Agak weird bin aneh gimana gitu, lagi panik di minta di pinjamkan uang! setelah ia menerima uang pemberianku dengan cepat menuju pintu keluar. Tak berselang lama dia pun kembali.


"Tuh teh dokter nya sudah keluar."


Segera aku dan teman gilang menghampiri dokter tersebut.


"Gilang harus di rawat inap mba. Saya akan melakukan pemeriksaan lanjut untuk saudara gilang. Tinggal menunggu persetujuan pihak keluarga mbak. Belum lagi banyak luka lebam di hampir seluruh tubuh saudara gilang. Mungkin lebih baik di laporkan pihak yang berwajib saja mbak. Karena saya yakin ini adalah hasil penganiayaan mbak." jawab dokter tersebut.


"O kalo masalah rawat inap tidak apa-apa pak. Langsung saja di rawat. Saya kakak nya gilang. Kalau masalah lapor mah nanti dulu deh pak, ini yang penting gilang nya dulu." jawab ku cepat ke dokter itu.


"Oke baik mbak. mungkin mbak bisa langsung ke bagian administrasi untuk mengurus perihal rawat inapnya." jawab dokter sambil berlalu pergi.


"Oke gue ngurus adminnya dulu  lu tunggu di sini yah." perintahku ke temannya gilang.


"Oh iya teh siap."


Setelah mengurus segala keperluan administrasi dan lain-lain  gilang langsung di pindahkan ke ruang rawat inap. Hingga menjelang maghrib aku dan temen gilang ini masih belum boleh untuk melihat kondisi gilang. Kemudian aku mengajak teman gilang untuk makan di depan rumah sakit.


"Kasihan gilang yah teh nggak tega gue mah kalau ngelihat gilang tuh. Dia itu sebenarnya ganteng, baik tapi kenapa nasib nya seperti ini ya? o iya teh nama gue tito." ucap temen gilang yang ternyata bernama tito ini di tengah-tengah acara makan kami.


"Sudah makan saja dulu nanti baru cerita semuanya ke gue. Oke to?" tito hanya mengangguk. Setah acara makan kami sudah selesai aku membuka suara.


"Sok jadi gimana ini kang.. kok bisa gilang masuk UGD?" tanya ku ke tito.


"Iya teh.. cewe gilang tuh lagi hamil muda satu bulan gitu teh." pungkasnya datar. What? hamil? kok bisa?


"Jadi begini teh, tadi kita sedang ingin makan di kamarku. Baru selesai masak mie gitu biasa lah! mau makan ramai-ramai sama temen kos yang lain teh. Eh tiba-tiba pacarnya gilang di susul dua orang pria datang sambil teriak-teriak gitu teh. kamar aku kan sebelahan sama kamar gilang, nah si pacarnya ini nongol begitu saja di depan pintu kamarku. Terus langsung sewot teh mana bau alkohol lagi! ceweknya tuh bilang begini teh..."


"Heh gilang! lu belum ngasih duit ke gue hari ini! buru gue minta duit dua juta buat mabuk nih! tanggung gue lagi enak hahahaha."


"Terus gilang jawab.. kan hari ini belum ada pemasukan dari jalan sana. aku belum pegang uang ini juga ikut makan di kamar tito. Jawab gilang sambil nunduk gitu teh."


"Eh si pacarnya gilang semakin kesal teh. Dia bilang begini.. kan ada tabungan lu sini cepat! sekalian mau gugurin nih orok. Sini saja dulu nanti gampang.. kan lu tinggal ambil uang di jalanan. Cepat duitnya laahhh pusing nih gue."


"Terus gilang langsung respon ngejawab gini teh.. nggak!! aku nggak bakalan biarin kamu gugurin kandungan kamu."


"Dan ceweknya pun seketika langsung nampar pipih nya terus gilang di tarik keluar teh sama kedua pria itu. Bukan di tarik sih, tapi di jambak!! di jambak sambil menyeret gilang buat keluar dari kamar aku. Terus pas depan pintu kamar aku banget gilang jatuh. Melihat gilang jatuh si cowok-cowok itu langsung nendang perutnya gilang dan memukulnya bertubi-tubi."


"Aku saja yang melihatnya ngeri teh.. hanya bisa diam melihat nya. Teman-teman yang lain juga hanya bisa diam. Karena kita tahu siapa itu ceweknya gilang."


"Sudah di tendang dan di pukul.. gilang di seret ke kamarnya teh terus pintunya ditutup gitu. tetapi sangat jelas terdengar si gilang mendapatkan siksaan di kamarnya. Terdengar suara pukulan gitu lah dan ceweknya tuh maki-maki gilang. Sekitar 20 menitan, ketiganya keluar dari kamar sambil tetap memaki-maki si Gilang begini, mdar sia. Lalaki teu dianggo ge loba gaya sosoan rek gaduh budak." (mati lu. Cowo nggak berguna juga banyak gaya sok sokan mau ngurus anak.)


"Nah abis pacarnya gilang dan dua lelaki keluar dari kosan kita langsung lari teh ke kamar si gilang. Terlihat dia terkapar lemah dan banyak keluar darah."


"Kok tidak ada yang ngelawan sih! masa ada orang di siksa nggak ada yang merespon. Di keroyok lagi!" jawabku dengan kesal.


"Aduh teh kita mana ada yang berani."


"Hem oke deh kang. Memang pada dasarnya setiap individu punya hak untuk bersosialisasi dengan siapapun, setiap individu punya hak untuk menjalin suatu hubungan dengan siapapun itu tapi kenapa harus dengan....? wanita psikopat itu?"