
Sebuah garis takdir mampu menarikmu jauh dan merubah mu seketika, yang kemudian menghilangkan segala yang kau punya tanpa tersisa. Hingga kelak kau mempertanyakan bahwasanya siapa dirimu yang sebenarnya.
Serupa sebuah kepastian tentang sebuah kematian, maka yang dibutuhkan ketika raga masih manapak tak lebih dari sebuah harapan yang baru.
Seketika kesadaran ku kembali ingatan tentang bagaimana kelakuannya dulu seolah menarik semua kesadaran ini. Terpuji lah dewa marmut Aku langsung bangkit dan berdiri.
"Shit!!! ini nggak bener bay!!" ucap ku dengan tegang walau bayu mencoba untuk menarik ku kembali tapi untung semua kesadaran telah sepenuhnya kembali dan menepis semua tarikan dan rayuan bayu.
"Bay!! gue itu kekasihnya gilang!! dan lu nggak lebih dari sekedar masa lalu gue bay!!" teriakku ke arah bayu namun ia hanya tersenyum kecil diujung bibirnya. Senyum itu seolah memberikan makna bahwa bayu memang memilki rencana tersendiri.
Brengsek!! hatiku bergemuruh sendiri melihat senyum itu dan seakan tersadar bahwa sesuatu yang besar akan terjadi didepan nanti. Sejenak aku terduduk di tepian kasur bayu dan ia langsung duduk di sampingku.
Aku hanya tertunduk memegangi kepalaku dan mengacak-acak rambut panjang ku sendiri. Terbesit ribuan pemikiran di dalam kepala yang membuat semuanya semakin membingungkan. Bayu lalu mengambil handphonenya.
"Manda tadi kamu ditembak gilang menggunakan lagu kan? nih aku juga punya lagu buat kamu. Dengerin ya nda?" bayu berbicara seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Nada bicara yang seolah tanpa dosa dan beban. Mulailah lagu itu terdengar dan sesaat aku mendengarkan dengan seksama.
Shit!!! teriakku kembali dalam hati. Entah tetapi sekarang hanya bisa mengumpat sendiri. It's more complicated at all... shit!!
"Brengsek lu bay!! brengsek!!" umpat ku dengan emosi dengan mata yang berkaca-kaca ke arah bayu. Tetapi lagi bayu hanya senyum simpul diujung bibirnya. Senyuman yang membuat mental seketika drop.
"Brengsek!! gue nggak tau apa yang lu rencanakan. Brengsek semuanya. Bay! setega apa kalau lu sekarang bakalan ngerusak hidup gue lagi bay! hiks.. hiks.. gue nggak habis pikir apa belum cukup dulu menghancurikan segala yang gue punya? dan sekarang saat gue merintis lagi hidup gue tiba-tiba lu dateng dan seolah mau ngerusak semuanya! I promise you bay! If you broke me twice. I’ll make your life worst than hell ever." dan bayu hanya ngejawab dengan entengnya.
"Well nda. Aku juga pastiin ke kamu kalau ini baru sebuah awalnya."
WHAT??? BRENGSEK!!!
"Lu dulu yang maksa dia kerja disini sekarang lu yang mau ngeluarin dia. Lu dulu yang bilang untuk memposisikan gue ada di posisinya tapi sekarang lu seakan membuat gue harus bersikap tega? w**ell, something happen rite?" jawab gilang ketika aku mencoba untuk mengutarakan keinginanku untuk memberhentikan bayu.
Dengan tegas gilang menolak permintaanku untuk memecat bayu. Jujur ada yang berubah dari wujud gilang. Gilang yang dulu periang kini lebih banyak diam. Gilang yang dulu nggak pernah ngeluh sekarang menjadi manusia yang mudah mengumpat pada kelelahan. Gilang yang dulu selalu ada di toko sekarang mulai jarang, padahal ini baru bulan ke empat usahaku dan gilang buka.
Dan bayu? ia hanya bersikap biasa seolah tidak pernah terjadi apapun. Anehnya bayu dan gilang sekarang terlihat semakin akrab satu sama lain. Well, something happe to amanda, too. But what is going on?
Tentang bayu, ada satu kalimat yang ia bisikkan ketika suatu malam di toko sebelum tutup.
"Manda, aku nggak perlu berbuat apapun untuk membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Waktu yang akan menjawab dan kita lihat pada akhirnya siapa yang ada untuk kamu ketika semua berpaling."
What the hell is?? If all just going be like all this shit what will i became? Semesta memang penulis skenario paling tega, at all!
Usahaku dengan gilang berjalan statis tanpa penaikan atau penurunan curva penjualan yang fantatis. Hampir setahun distro ini berjalan, sekarang barang produksi kami lebih banyak diminati diluar daerah Bandung itu juga yang membuat aku dan gilang lebih banyak melakukan whole sale untuk bisa mempertahankan bisnis kami.
Hampir setahun juga aku menjalani suatu hubungan yang hambar dengan gilang. Perlahan tapi semakin terasa semakin banyak perubahan pada diri gilang. Walau sering kali aku dan gilang mengobrol dan berbincang termasuk menanyakan setiap perubahan pada diri gilang tetapi selalu tanpa ada sesuatu keluar yang kongkrit. Well, exactly, people will change.. at all!
Ada fase dimana kita merasa bahwa kita hanya melakukan semuanya sendirian, bahwa kita berjalan sendiri atau bahwa hanya kita sendiri yang memikul setiap beban ini.
Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Menari lah denganku
*Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Namun ku tetap bahagia
Selalu ku syukuri
Begitulah adanya
Bila nanti saatnya telah tiba
Ku ingin kau menjadi istriku*
Teringat kembali petikan lagu itu, lagu dimana dia mengutarakan sebuah rasa hancur dan rasa kesepian yang mendalam yang lalu kemudian lagu itu pula yang mengantarkan dia untuk mengutarakan sebuah rasa sayang dia kepadaku. Dengan harapan bahwa gilang akan menjadi tempat untuk pulang, ketika hujan datang. Dengan harapan gilang akan menjadi sebuah muara dari semua pencarian dan keterpurukan ini.
Semakin lama semua harapan itu semakin jauh, dan abu. Dalam konteks melanjutkan hidup yang sudah lama sepi. Sekilas terkenang juga bagaimana bahasa slengean ala gilang terkenang, tatapan tajam mata bulat gilang yang terkadang sangat menakutkan tapi di satu sisi sangat meneduhkan. Tidak pernah lagi terlihat senyuman khas gilang yang dulu selalu menjadi momok tersendiri.
Waktu berjalan lambat membuat semua semakin terasa berat. Gilang semakin jarang ada di toko entah kemana. Ia selalu berujar memiliki bisnis baru dengan temanya. Terkadang pulang dengan bau alkohol yang tercium tajam.
Pernahkah kalian berada didalam satu ruangan dan kalian tidak mengenali setiap orang yang ada didalam ruangan itu? Itulah perasaanku saat ini ketika setiap bertemu dan berdua dengan Gilang.
Where'd you go?
I miss you so,
Seems like it's been forever,
That you've been gone,
Please come back home...
I want you to know it's a little fucked up,
That I'm stuck here waitin', no longer debatin',
Tired of sittin' and hatin' and makin' these excuses,
For why you're not around, and feeling so useless,
It seems one thing has been true all along,
You don't really know what you've got 'til it's gone