
Rindu..
Kata yang tak mungkin aku ingkari dalam hatiku untukmu, meski sudah berhari-hari kita tak saling bicara, saling melupakan tepatnya.
Sungguh, dunia kita memang telah berbeda. Seolah jarak ratusan mil dan jutaan jam membuat jurang pemisah yang dalam, meski dalam mimpiku kamu masih seperti dulu. Tetapi, tak dapat ku pungkiri, jiwamu sudah berbaur dengan jiwa yang lain. Tidak dapat ku kenali lagi. Dunia membuat kita semakin paham, mana arti bersama sesungguhnya, dengan siapa dan kapan?
Apakah kamu masih ingat senja terakhir kita? Kamu masih tertawa riang dan dengan lugas berkata, senja adalah milik Tuhan yang diberikan kepada aku dan kamu. Aku hanya tersenyum mendengarkan ucapannya. Ah! Senja adalah rindu yang akan selalu terbungkus olehmu, oleh kita, oleh jarak yang akhirnya tak dapat disatukan. Senja buatku adalah sapuan kuas yang kamu goreskan, namun berduri.
Dan tak ada yang lebih romantis dari hujan dipenghujung tahun. Hujan memang selalu membawa ingatan-ingatan memoar tentang hari yang sudah berlalu. Memang, beberapa belum tuntas untuk di kenang dan beberapa lagi sudah terhapus oleh waktu.
Entah deskripsi bahagia seperti apa yang kita cari selama ini, tapi hari ini aku memiliki lagi senyuman-senyuman yang sudah lama hilang. Ah, sudahlah! Aku tak ingin mengingatnya.
Tentang Lussi, ia adalah sesosok mahluk portable dan dia menurutku tomboy sih hehe. Banyak rumor juga mengatakan bahwa dia menyukai sesama jenis. Well, yang gue lihat sih tidak begitu deh, batinku. Lussi juga dulu adalah teman kostku waktu Gilang masih mencari suaka selama 4 bulan dan tinggal bersamaku. Kamar Lussi tepat ada di samping kamarku.
For you know, Lussi itu antik, siang berkerudung, tetapi ketika malam begitu liar. Walau lebih banyaknya dia nggak pakai kerudung sih. Pake kerudung sesuai mood, antik kan?
Dulu Gilang sering kali curhat dengan Lussi, makanya Lussi sedikit banyak mengenal karakter Gilang. Sore itu setelah aku mengakhiri kisah cintaku bersama Gilang tepat pada hari anniv kita, aku memutuskan untuk datang ke tempat Lussi, ke sebuah kost-kostan. Kostan yang dulu, dan bercerita tentang apa yang baru terjadi.
Kemudian Lussi menuangkan air mineral kedalam gelasnya, tak lama ia membakar sebatang rokok. Fuh! Asap putih mengepul bebas ke angkasa setelah sebelumnya ia hisap dalam. Hah aku baru tahu kalau dia merokok. Tidak aneh sih, mungkin karena memang pergaulan juga.
"Begini, Nda. Dulu pacarku itu juga single, kita tuh pacaran udah empat tahunan, Nda. Tahun kemarin doi di jodohin sama orang tuanya.. sebulan kemudian nikah deh. Tepi kita nggak putus dan tetep lanjut saja. Istrinya juga tahu kok kalau uci tuh sampai sekarang masih pacaran sama suaminya. Kan kalau pacaran juga di rumah pacar aku, soalnya dia nggak boleh kesini sama istrinya."
Aku hanya bisa tercengang mendengar cerita Lussi, what the world will be? Kiamat udah deket ini mah, batinku.
"Satu kata Lus. Lu SARAP!!!" Jawabku.
Malam datang menjelang dan memberikan dinginya untuk Bandung. Hujan sudah berhenti tapi bulan sepertinya masih terlalu asik sendiri sehingga tidak memunculkan dirinya.
Sudah lama aku tak merasakan momen seperti ini, momen dimana menatap angkasa adalah sebuah keteduhan dengan rasa manis lollipop yang masih mengalir pada sel-sel darahku. Waktu yang cocok untuk sebuah renungan.
Masih jelas teringat semua kejadian tadi, mungkin memang. Wanita tanpa uang tak memiliki harga diri untuk beberapa sudut pandang. What? Bentar bentar!! That is da answer at all!! Ya uang!! Dulu mungkin Gilang melihatku sebagai seorang wanita yang memapu menaungi segala kebutuhanya, tetapi saat ini enggak. Brengsek, gue dapat jawabanyanya. Terimakasih dewa marmut! Gumamku membatin.
Oke, Lang. I promise you. You’ll regret the day! Hahaha.
Sekarang tinggal bagaimana aku bisa seperti dulu lagi, mendapat banyak uang, tapi dengan wajar tanpa harus menggadaikan logika? Entah, tetapi seketika aku langsung merasa memiliki semangat untuk kembali hidup. Terima kasih malam, terima kasih lollipop, terima kasih dewa marmut. Semesta you’re awesome!
"Hoi ngelamun. Kangen Gilang ya kamuuu?" Ucap Lussi mengagetkanku dan menghamburkan semua lamunanku.
"Ehhh kunyuk! Bisa nggak kalau datang tuh jangan muncul tiba-tiba hih!!" Jawabku kesal.
"Biarin wek!!"
"Ehh Luss, serius gue boleh stay sama lu nih?" Tanyaku memastikan tawaran Lussi untuk tinggal bersama dia.
"Serius dong. Jdi ada temen yang aku jailin tiap hari hihihi.." Jawab Lussi enteng.
"Euh! Nggak takut Hahaha.." Tanyaku memancing Lussi.
"Tapi, Nda. Ada syaratnya kalo mau stay sama gue." Ucap Lussi
"Apaan Luss?"
"Hmm.. Tapi aku nggak pernah dugem Lus. Lagian dompet gue tipis seperti pakaian pasar malem.
"Dih lagian cuma minta anter doang kok dan nggak minta uang wuuu." Ucap yussi sambil berlalu pergi.
~•°•~
Gilang, ia baru saja menelponku walau sekedar menanyakan kabar dan keberadaanku. Bayu? Ia kini menggantikan posisiku di toko Gilang. Yussi? Dia terlalu kekanak-kanakan.
Sebulan sudah aku berpisah dengan Gilang, tak ada sedikit pun penyesalan, hanya rindu kadang datang tak tahu diri. Wajar, aku dan Gilang sudah menghabiskan banyak waktu bersama.
Sekarang pun aku sedang merintis usaha baru, setelah memutuskan pulang kerumah dan meminjam modal pada salah satu saudara. Akhirnya aku memulai lagi untuk menjalankan sebuah usaha kuliner. Hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan tapi patut ku coba.
Usaha kulinerku baru akan buka beberapa waktu kedepan di daerah Dipatiukur Bandung, kawasan perkuliahan diapit sekitar tiga universitas ternama di bandung.
Sekali lagi, aku berhutang banyak pada hujan diujung tahun ini. Betapa beberapa waktu sebelumnya hidup terasa begitu rumit untuk diteruskan, tapi hari ini ketika hujan semua terasa lebih mudah, yap! Life will be harder before easier. Setidaknya hujan hari ini seperti merefleksi kelahiran baru seorang Amanda Rein. Time change, people too.
Gilang POV
Gue kok tiba-tiba menelepon Amanda sih..! kecantikan deh, nanti disangkanya gue rindu ke dia, tapi entah.. Gue sepertinya memang rindu. Ahhh! Apasih sih nggak jelas nih gue. Gumamku dalam hati.
Baru sebulan pisah sama Manda, tetapi sudah mulai kerasa efeknya, usahaku sekarang lebih sepi dari sepeninggalan Manda. Ah bodo amat. Kan aku punya winie sekarang.
***
"Manda!! Ngelamun saja sih....!! Celoteh Lussi yang langsung merusak lamunanku yang sedang menikmati hujan.
"Apaan Luss. Sewot terus deh."
"Hihi, ya kamu diam saja. Ngapain kek. Hujan gini enaknya ngapain yah? Hmmmm.." Tanya Lussi dengan membuat mimik wajah yang seolah sedang berpikir.
“Hujan gini mah enaknya tidur, selimutan sambil mendengarkan musik yang nuansa ala-ala jazz kali ya hahaha.."
"Wuuuu maunya! Ya sudah ayo hihi.."
See, betapa manjanya Lussi. Oh iya, aku masih tinggal bareng lussi di kostnya walau sudah ada niat buat pindah kamar, akan tetapi nggak dibolehin sama Lussi dengan alasan yang macan-macam, memang bocah satu ini tuh rada freak!
"Hihihih.." Tiba-tiba Lussi tertawa kecil seraya mukanya fokus pada handphonenya.
"luss apaan deh, sarap lu ya tiba-tiba ketawa sendiri. Mulai gila ini anak."
"Lihat saha Instagram kamu, Nda. Hihi.."