
ECCEDENTESIAST adalah sebutan untuk orang yang selalu tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya. Aku tak percaya hari ini akan tiba lebih cepat dari prediksi ku, merasa kecewa? jelas! karena sewajarnya manusia memiliki rasa.
Aku mengira kalau aku akan siap menghadapi ini semua. Ternyata aku salah, aku belum sepenuhnya siap menghadapi perpisahan ini. Sepanjang perjalananan, air mataku tak henti-hentinya menetes membasahi wajahku bercampur dengan air hujan yang mengguyur tubuhku. Sengaja aku putuskan untuk melaju kendaraan di tengah rintik hujan agar orang-orang tidak ada yang tahu kalau aku sedang menangis.
Senja lambat terjatuh di ujung jalan, konon perempatan jalanan adalah tempat bersembunyi nya semua harapan. Sunyi lambat menyalak diujung resah, konon kerinduan hanya akan terobati oleh sebuah pelukan. Kita tak pernah tahu esok akan seperti apa, yang pasti aku selalu menyiapkan kertas dan pena untuk selalu menuliskan cerita baru ketika setiap yang tertinggal akan selalu tersimpan rapih. Retorika samsara tak akan hadir di era obama ketika habluminanas adalah hanya perihal kepentingan pribadi.
BRAK!!! Aku menggebrak lemari di sampingku.
"Brengsek!!" ucap ku.
"Manda cukup!!! lu kalau mau emosi ke gue saja. Lu mau mukul? pukul saja nih muka gue sampai lu puas. Kalau perlu bunuh gue aja nda." sahut gilang setelah aku menggebrak lemari itu.
"Ngebunuh? haha naif gue kalau ngebunuh lu. Mana tega gue ngebunuh orang yang paling gue sayang ini." jawab ku dengan nada yang melecehkan.
"Usaha distro kita gimana nda? lu mau pesangon berapa?" tanya gilang dengan nada pelan.
"Pesangon? haha jadi selama ini lu menganggap gue sebagai karyawan lu hah? hahaha terima kasih deh lang! nggak butuh gue. Terima kasih telah kasih gue kesempatan untuk bangun usaha, eh bangun usaha lu gue kan cuma pegawai. Haha.. o iya lang, nanti gue transfer semua tabungan gue ke rekening lu deh ya. Hasil nabung gue selama ini kan hasil dari toko. Nggak pantes gue sebagai pegawai punya tabungan sebanyak itu."
PLAK!!! gilang menamparku. Tak ku sangka gilang berani menamparku, semakin sesak dada ini. Menangis pilu itulah yang telah terjadi kepadaku. Dan sesaat suasana menjadi hening, hanya suara hujan deras diluar sana yang tersisa.
Hiks... hiks... Aku menangis semakin menjadi.
"Maafin aku, Nda. Maafin a.."
"Hiks... jangan pernah meminta maaf yang bahkan lu sendiri nggak tau apa salah lu, terlalu klise! tadinya gue kesini mau ngobrol sama lu gue ingin ngobrolin semuanya. Gue ingin kita seperti dulu lagi. Tetapi sepertinya sudah ada yang bisa gantiin gue." potong ku di tengah sesenggukan ku karena menangis.
"Manda, dia bukanlah siapa-siapa. Kita hanya berteman.."
"Haha teman apa? hujan-hujan begini ada minuman keras di kamar, ada sepasang cewek dan cowok. Kita sudah cukup dewasa lah. Brengsek!!"
"Ini semua salah lu juga nda! lu nggak ngerasa kalau lu sudah banyak berubah?"
"Haha emang paling gampang nyalahin orang mah. Dan ya benar!! semua salah gue. Dan kalau lu bilang gue banyak berubah... helloooooww there!! mirror please!!"
"Tapi kan nda lu juga ada bayu. Lu juga selingkuh kan? sekarang adil kan?"
"Haha.. lang.. lang! gue kira lu sudah cukup dewasa untuk melihat dan percaya sama gue... dan sekarang siapa yang selingkuh? gue masih punya prinsip untuk nggak pernah mengkhianati orang yang gue sayang. Gue memang kuliahnya nggak beres nggak menjadi sarjana seperti lu tetapi gue juga masih punya etika masih tau tempat dimana gue harus bermesraan bareng sama orang lain. Tch!"
Aku kembali membereskan baju-bajuku dan mengambil beberapa barang penting yang bisa aku bawa kedalam tasku. Sejenak aku berdiri dan memandangi fotoku dengan gilang yang terpajang di atas meja TV.
"Haha.. ingat dulu lang? waktu pertama kita duduk dan gue ngasih lu alasan untuk tetep bertahan hidup dan punya harapan baru? sepertinya sekarang gue yang mesti duduk disitu dan mempertanyakan diri gue sendiri untuk apa gue hidup sekarang. all i have is gone. Dan lu benar lang. Gue sudah banyak berubah semenjak malam itu. Hari ini gue terlalu rusak, terlalu lemah." ucap ku yang kemudian mengambil foto itu dan mengeluarkannya dari bingkai.
Ketika aku mengambil korek dari meja TV, Gilang sempat menahan ku. Ia tahu apa yang akan aku lakukan. Aku membakar fotoku bersamanya. Dia hanya menatap pasrah melihat fotoku bersamanya telah terbakar yang semakin lama semakin habis menjadi abu. Namun semua kenangan akan tetap tersimpan rapih dalam memori ini. Lalu ia memelukku dari belakang tetapi aku melepaskan pelukannya dan mengambil tasku.
"Manda maafin.. aku yang salah." ucap gilang sambil menatapku sayu. Wajahnya sudah penuh dibasahi air matanya sendiri. Kemudian aku memegang wajahnya dan mengusap air mata gilang.
"Lang, kita semua yang salah kok. Jangan nangis lagi ya kamu itu seorang lelaki nggak seharusnya kamu begini. Banyak orang yang sayang sama kamu. Kamu sudah punya kehidupan kamu sekarang biar aku yang cari kehidupan aku sendiri lang. Sekarang kita jalan di hidup kita masing-masing. Aku sayang banget sama kamu tapi jalannya nggak seperti ini."
"Mata kamu nggak bisa bohong. Rasa kamu buat aku sudah habis termakan waktu. So, sekarang nikmatin aja hidup baru kamu. Kamu tahu tempat dimana harus nyari aku ketika waktunya nanti telah tiba. I love you gilang pramadistya.
"Dan satu lagi lang. Tadinya lewat cincin yang ingin aku kasih.. tadinya aku mau ngelamar kamu lang.. aku nggak peduli apa kata orang jika seorang wanita yang melamar lelaki aku tidak peduli. Aku mau ngenalin kamu ke keluarga aku, aku mau kamu jadi suami aku.. tadinya...."
CUP!!!
"It's a fare well kiss....."
Ddrrrttttt... Ddrrrttttt!!!
Sesampainya aku di tepian jalan, terlihat getaran handphoneku, sebuah panggilan masuk dari...
Lussi..?
"Serius nda? gilang seperti itu? hihihi.." tanya lussi.
"Serius gue. Pakai banget!" jawab ku meyakinkan atas semua pernyataan sebelumnya.
"Hahaha dramatis deh kamu nda. Lebay.. week!"
"Yeee lebay apaan sih.. lu temen lagi kesusahan bukannya disupport atau apa kek! nyesel gue lus ketemu lu. Tch.."
"Hahah.. manda, let me tell ya something oke! Semua orang punya caranya masing-masing untuk bahagia. Biarkan gilang bahagia dengan caranya sendiri dan kamu!! harus bahagia dengan cara kamu sendiri. Bahagia itu diciptakan nda! bukannya di cari."
"Dan kalau gilang itu beneran sayang sama kamu. Dia nggak akan mungkin berpaling dan selingkuh. Cinta itu saling mempertahankan dan saling berjuang!! wuu oneng!!" tambah lussi seraya memukul pelan tanganku.
"Entahlah lus. Gue nggak mau memikirkan hal itu dulu. Mau tenang dulu gue lus.." jawab ku.
"Terus nda. Sekarang mau bagaimana? mau stay dimana? mau usaha apa?" tanya lussi
"Ehh kampret lu nanya sudah kaya polisi nanyain maling sih." jawab ku sedikit kesal.
"Biarin wekk! wh serius kamu mau stay dimana sih?"
"Entah lus. Belum mikirin. Terlalu sungkan untuk pulang. Malu gue kalau balik rumah tapi belum sukses."
"Hahaha idealis wuuu! st**ay bareng uci yuk??" ucap lussi.
"Hah stay bareng luu?? nggak salah? mabuk lu yus? atau kesambet setan?"
"Serius tahu ih!! jadi uci ada yang nemenin bobok wek!" jawab lussi dengan muka manjanya. W**ell, lussi memang rada childish gitu. Sengklek memang.
"Hahaha aneh!! bercandaan lu jelek lus!"
"Seriuss nda ih!!! ya sudah kalau nggak mau mah. jangan nyesel loh!"
"Hehe.. ya sudah kalau memang dipaksa mah aku mau."
"Wuu dasar plin-plan week."
Ya, sekarang aku sedang ngobrol bersama lussi setelah tadi aku memutuskan untuk putus dengan gilang. Tapi ada sedikit rasa lega seperti terbebas dari satu hal. Setidaknya malam ini ada lussi yang menemaniku menghabiskan beberapa permen lollipop kesukaanku.