Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 01 Prolog



Ceklek!! kudengar suara pintu yang dibuka dari luar. Aku melihat arka sedikit tergesa-gesa mendekat ke arahku. Kulihat bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Aku tak tahu separah apa sakit ku hingga membuat arka sampai sesedih itu. Aku hanya mampu menyunggingkan senyum tipis untuknya. Dielusnya kepalaku dengan lembut penuh kasih sayang dan tak lupa mengucap syukur.


"Ka, kamu tahu? aku sangat bahagia bisa melihatmu setelah satu purnama berlalu. Rasanya seperti mimpi." ucap ku lirih nyaris tak terdengar.


"Maafkan aku karena aku telah memberimu cinta yang membuatmu menderita karenanya. Maafkan aku manda." kulihat air mata menetes di sudut mata arka.


"Maaf karena aku sudah membuatmu bersedih, bukan maksudku melakukan semua itu. Aku hanya...." arka menggantung ucapannya.


"Tak ingin membuatmu semakin terluka karena semua ini." apamaksudnya arka? setelah sekian lama tak jumpa kenapa ia berbicara seperti itu. Mukanya juga datar tak kulihat lagi senyuman di raut wajahnya. Hanya kulitnya yang pucat dan sorotan retina mata yang kosong.


"Manda, semuanya sudah nggak sama seperti dulu. Aku dan kamu sudah berbeda alam." aku benar-benar tak bisa membalas ucapannya. Bibirku kelu dan aku merasakan sesak yang teramat sesak di hatiku. Tanpa kusadari air mataku menetes.


"Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Aku menyayangimu lebih dari yang kamu mengerti. Aku mengasihi mu lebih dari yang pernah kamu bayangkan. Tapi harus kamu sadari, cinta kita tak bisa bersatu untuk waktu yang lama. Bukan aku tak menganggap semua kasih sayangmu. Namun diriku hanya tak bisa. Diriku hanya tak mampu dan tak kuasa." mendengar perkataannya hatiku terasa seperti tersayat sembilu, sangat perih.


"Tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikan dirimu di hatiku, tidak akan


ada!" tangis ku. Seketika itu juga arka mengusap wajahku dan menghapus air mataku dengan kedua tangannya.


"Lekas sembuh Sayang. Aku pamit untuk kembali ke alam ku." ucapnya sambil tersenyum. Lebih tepatnya senyuman yang dipaksakan. Butir air mata yang menetes dari balik kelopak matanya tak dapat berbohong kalau ia sedang menyimpan kesedihan. Aku hanya bisa terdiam menatapnya pergi, tak bergeming bagaikan batu.


"Tidak Arka jangan.. jangan pergi! jangan tinggalkan aku!!"


"Tidaaaakkkkkkk! Huffh.. hufhhhh" aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Rasanya kepalaku begitu berat. Pening yang hebat melanda kepalaku. Putih itu yang pertama kali kulihat.


“Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang.” terdengar suara yang begitu familiar di telingaku, seketika membuatku mengalihkan pandanganku ke arah asal suara itu. Ya, itu adalah suara nenekku. Tampak nenek begitu bahagia melihatku membuka mata. Dan kulihat ia menekan tombol merah di samping ranjang ku. Entah apa yang terjadi padaku sampai aku harus tergolek lemah di rumah sakit.


Kudengar langkah kaki mendekat ke arahku. Seorang Dokter yang di dampingi oleh Suster memeriksa keadaanku. Kulihat sang Suster mencatat hasil pemeriksaan ku. Setelah selesai memeriksa dan memberi obat dokter dan suster pergi meninggalkan kami.


terlalu banyak bergerak!" nasehat nenek padaku saat aku ingin bangun. Lemas itu yang kurasakan. Tak ada pilihan lain selain menuruti nasehat nenek. Kucoba memejamkan mataku kembali untuk mengusir pening yang melandaku.


Setelah arka pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya penyesalan datang menghampiriku karena aku hanya bisa berdiam diri, bergeming bagaikan batu. rasa kehilangan dan penyesalan itu akibat dari kebodohan dan kelemahan ku sendiri. Rasanya seperti saat aku sedang bahagia memegang sebuah balon, tapi akibat kelemahan ku yang tidak begitu kuat menggenggam benangnya balon itu terbang melayang ke langit. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa melihat balon itu terbang menjauhiku seolah sedang melihat kebahagiaan pergi meninggalkanku.


Seandainya aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin kembali ke hari itu dan mencegah peristiwa itu terjadi. Setelah hari itu aku sering memohon kepada Tuhan agar bisa mengijinkan ku kembali ke hari itu. Aku ingin memperbaiki semuanya. Jika Tuhan mengijinkan ku melakukan perubahan itu pasti dia masih bersama sama denganku sampai sekarang.. dan aku tidak perlu menceritakan kisah ini.


Namun apa daya, waktu tidak pernah berjalan mundur. Waktu akan terus maju ke depan dan aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. yang tersisa hanya rasa penyesalan yang mendalam pada diriku. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Aku menyesal karena hari itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyesal kenapa saat itu aku begitu lemah dan bodoh.


Saat dia benar benar pergi, aku baru menyadari bahwa semuanya sudah terlambat. Hari itu dia telah pergi dan tidak akan pernah kembali, dia pergi karena kebodohan dan kelemahan ku.


Masa yang lalu telah pergi meninggalkan seberkas kisah yang panjang dan melelahkan. Kisah yang tak 'kan pernah usai dengan cerita-cerita unik dan menggairahkan.


Namun aku di sini akan tetap bermain dengan egonya logika kehidupanku dengan diiringi nada-nada perang pemikiran dalam batin ini. Aku tak tertidur dalam peraduanku, aku juga tak bersenandung dalam mimpi mimpiku. Namun, aku di sini mendendangkan nada-nada sendu dalam diam ku. Dan aku akan berdiri tegak terbalut canda dan tawa dalam kelumpuhan ku. Aku tahu aku tak lagi seperti yang dulu, di mana bermain dalam istana hati maya dan kenyataan. Hingga aku tak mampu lagi melihat indahnya nyata kehidupanku.


Perlahan masa menepuk pundak ku, membangunkan ku pada peraduanku. Detik pun membisikkan ketidakmampuanku dalam sadar ku. Gelombang kerapuhan ku membelit keutuhan kepercayaan ku, hingga aku pun lumpuh dalam diam. Tapak-tapak kaki telanjang di atas serpihan hati yang telah remuk, menyadarkan bahwa kini aku telah memulai masa kehidupan yang baru.


hftt! maaf! aku pernah mempunyai sebuah keinginan dan pengharapan agar aku dan dia berada di dalam cerita yang sama untuk waktu yang lama atau mungkin untuk selamanya. Tetapi semua kembali seperti yang pernah dia katakan, kalau setiap individu di dunia ini mempunyai jalan cerita yang berbeda. Begitu pun juga aku dan dia.


Seandainya cerita kehidupan setiap orang dituangkan dalam tulisan, tentu akan menghasilkan lembaran lembaran kertas yang membingkai segala memori dan kenangan untuk cerita di masa depan. Dia juga mengatakan bahwa Kita tidak akan bosan meski harus membaca seluruh jalan cerita kehidupan orang lain. Karena cerita kehidupan tiap orang mempunyai keunikannya masing-masing, konflik yang beraneka ragam dan sebuah klimaks yang berbeda. Tidak jauh berbeda dengan berbagai cerita fiksi buatan manusia seperti novel, manga, anime, film dan banyak lainnya. Semua karya fiksi maupun yang terinspirasi dari kisah nyata itu dibuat karena ada sesuatu hal ingin diceritakan atau ada kisah yang ingin disampaikan. Walaupun terkadang tidak semua cerita masa lalu yang telah usai harus diceritakan.


Sebagian cerita masa laluku sengaja ku simpan hanya untuk diriku sendiri. Karena cerita itu terlalu menyeramkan untuk diceritakan. Bukan! bukan seperti cerita horor yang biasa diceritakan para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya yang masih kecil agar segera tidur di malam hari. Hanya saja, meskipun aku sudah mencoba untuk melupakan cerita itu atau sekuat hati menghilangkan memori itu, kejadian itu tetap ada didalam ingatanku dan tidak mau pergi sampai sekarang.


Baik, akan aku ceritakan kisah kelam ku dari awal.