
Setiap orang mempunyai cara untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri. Andai mata bisa berbicara mungkin semua yang tak dapat ku ucapkan dapat tersampaikan. Andai mata dapat berbicara dia akan menyampaikan suara hati ini. Karena sejak pertama kali bertemu denganmu mata ini mengisyaratkan sesuatu dan menjatuhkannya ke hati.
Tentang gilang. Pada saat itu...
Awal pertemuanku dengan gilang adalah di sebuah jalanan yang berada di pinggiran kota Bandung.
Ya, dulu ia adalah seorang pengamen yang 'mungkin' merangkap sebagai preman jalanan. Kenapa aku meyakini bahwa dia preman jalanan? karena dia menggila, telah merobohkan beberapa orang yang terkapar di depannya, satupun tak ada yang berani memisahkan. Aku tak tau alasannya kenapa dan mengapa.
Dan bertepatan hari itu aku dan beberapa teman hendak pergi ke tempat karaoke untuk merayakan keberhasilan temanku memenangkan suatu projects besar. Walau secara pribadi tidak suka untuk karaoke tapi terlalu sungkan untuk menolak setiap ajakan kawanku ini. Dan dia pula lah yang menghentikan mobilnya tepat di samping gilang.
Kesan pertama melihat gilang adalah dia cukup tampan! hanya saja tertutupi kelakuan dan penampilannya yang berantakan! tetapi dengan alasan yang belum jelas aku meyakini bahwa dia sebenarnya orang yang baik.
"What are you all looking at! this is not a show." ucap gilang memandang kami dengan tatapan yang tajam.
Woah!! Ini orang pintar juga yah bahasa inggrisnya.. gumam ku yang sejurus kemudian dengan keberanian ku, aku langsung turun dari mobil dan menghampiri dia. Sempat teman-teman menahan langkahku. Aku tersenyum berusaha meyakinkan dengan mimik menandakan aku akan baik-baik saja.
"Just remember, dead isn't the answer." jawab ku lantang dan dia hanya menatap mataku di dalam kebekuan.
Satu menit, dua menit, lima menit dan akhirnya dia membuka suaranya lagi.
"Give me one reason to still alive."
"i'll give you more than just one reason. Follow me." ucap ku lalu aku menghentikan taksi yang kebetulan lewat di sekitarku. Lantas aku berjalan dan masuk kedalam taksi. Sebelumnya aku menyuruh teman-teman untuk mendahuluiku. gilang hanya mematung kembali.
Satu menit, dua menit, lima menit.
"Oke." jawabnya dan mulai berjalan mendekatiku di dalam taksi.
"just be there for a while." ucapnya kembali seraya masuk kedalam taksi.
Well, dengan laju cukup cepat kami meluncur ke tempat coffee 'mungkin' seperti surga. Kenapa seperti surga? karena di dalam sana terpampang coffee, bar dan karaoke room menjadi satu dan tak hanya itu bagi mereka yang ingin menikmati kesenangan dan kenyamanan ada di tempat itu.
Sengaja aku mengajaknya bukan untuk alasan heroik untuk jadi pahlawan yang menyelamatkan hidup seseorang atau alasan-alasan lain atau alasan siapa tahu bisa kencan dengannya. Karena memang aku selalu interested untuk dengerin cerita seseorang.
Dan menurutku pelajaran yang paling sederhana adalah belajar dari pengalaman orang lain. Kita tidak perlu susah payah untuk merasakan apa yang terjadi cukup dengerin cerita mereka dan ambil manfaatnya.
"Gue mau bawa lu ke suatu tempat so i can tell ya all the reason."
25 menit kemudian sampailah kita ketempat tujuan. Sekarang aku duduk di coffee. Sepanjang perjalanan tadi terlihat memang raut wajah depresi, strees dan tertekan dari muka gilang dan dia hanya diam.
Death is not the greatest lost in life, the greatest lost in life is something dead while you life.
"Terus lihat tuh pengemis di depan. Mereka itu hidup dari rasa kasihan orang yang lewat tapi malah keenakan! jadilah selalu mencari belas kasihan."
"Terus itu lihat anak kecil yang ngemis itu. Itu beda! mereka hanya dipaksa untuk menjadi seperti itu. Bocah itu tidak mau mencari belas kasihan tetapi mereka dituntut untuk itu."
"Terus lihat itu pedagang keliling. Itu baru hidup! Lebih tepatnya.. Itu cara bertahan untuk hidup! dan diantara orang yang gue tunjukkan tadi pedagang keliling ini pendapatannya paling kecil tapi itu keren buat gue! nggak terpengaruh untuk mencari jalan instan buat dapetin uang." Aku membuka pembicaraan dengan gilang. Gilang juga sepertinya sangat antusias banget dan merhatiin.
"Lihat tuh cewek seksi yang keluar dari tempat karaoke, maaf sebelumnya.. tapi LC itu nggak lebih dari seorang wanita yang bingung harus ngapain. Sementara kebutuhan untuk hidup terus menekan dia dan dia nggak tahu harus ngapain."
"Terus lihat om-om sebelahnya! tipikal orang yang berpikir bahwa semua bisa dibeli!"
"Dan mereka semua hampir sama. Mungkin termasuk gue, termasuk lu juga. Hidup tapi mati atau hidup hanya sekedar hidup tanpa harapan. Lu tahu apa yang membuat manusia itu menjadi sempurna di banding makhluk lain? itu karena dua hal. Akal dan hati!! dan tahu apa yang bisa manusia seketika bisa bangkit dan seketika pula bisa jatuh...? harapan!"
"Dan gini.. lu tahu berlian kan? nah, seandainya lu punya berlian dan lu taruh di kotoran kira-kira berlian itu masih berharga tidak?" gilang nampak berpikir sejenak lalu hanya menggeleng.
"Ya masih lah! dia masih tetep berlian! mau lu taruh di kotoran, mau lu buang ke tong sampah, dia tetap masih berharga. Lu sebagai manusia seberapa lu pernah ngelakuin sesuatu yang hina lu tetap berharga!"
"Berlian juga tak bisa di bentuk tanpa tempaan dan gesekkan. Begitu juga dengan manusia, takkan dewasa dan sempurna bila tanpa masalah dan ujian! jadi lu harus banyak-banyak bersyukur dan nikmati setiap prosesnya."
Panjang lebar aku cerita ke gilang yang keliatan sangat antusias mendengarkan setiap ceritaku. Dapat kulihat matanya sayu dan tampak berkaca-kaca.
Dan setelah aku mengorek tentang gilang lebih dalam, gilang adalah seorang lulusan sarjana ekonomi disalah satu universitas negeri di Bandung. Pantas saja bahasa inggris nya di atas rata-rata.. pikirku.
Dia lahir dari keluarga kaya raya tapi kembali lagi hidup itu maha asyik bisa merubah sesuatu dengan cepat! ayahnya mengalami kebangkrutan total sama sepertiku sekarang. Kebangkrutan itu menimbulkan setiap aset keluarga mereka disita hingga di usir paksa dan yang mereka bawa hanyalah baju yang mereka pakai.
Kebangkrutan itu pula yang membuat ayah gilang begitu stress dan depresi hingga suatu masa ayah gilang memilih untuk meninggalkan keluarganya di Bandung. Menempatkan mereka di rumah neneknya gilang.
Tak berselang lama, gilang mendapati ibunya sedang berselingkuh dengan pria lain dengan alasan untuk bertahan hidup dengan meraup uang dari selingkuhannya. Itu semua pula yang membuat gilang jengah dan kabur dari rumah meninggalkan semuanya. Dengan sisa tabungan gilang memilih untuk hidup sendiri. Lingkungan adalah faktor utama untuk menciptakan seseorang dan itu juga yang membuat gilang terjerumus menjadi lelaki liar
Berawal dari ajakan seorang temannya maka jadilah gilang seperti ini. Belum berakhir penderitaan gilang, ia memiliki seorang kekasih yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya. Ya, gilang di peras habis setelah ia mendapatkan uang dari jalanan.
Gilang selalu memberikan hasilnya kepada kekasih busuknya itu. Seandainya tidak kasih uang atau setor uang sudah pasti gilang menjadi samsak.
Kekasihnya yang notabene sebagai anak dari keluarga yang sangat disegani karena kekuasaan dunia hitamnya itu tak segan memukuli dan menendang gilang setelah puas menyiksa fisik gilang. Gilang hanya bisa diam tak membalas sama sekali. Tch, Psikopat! pikir ku.
Terlepas itu semua karena kekasihnya mempunyai ayah yang terjun di dunia gelap. Tak tanggung-tanggung, sebagian Bandung di kuasai oleh ayahnya dan di jalanan pun ia tak luput atas pengaruh ayah dari kekasihnya.
Lengkap sudah memang penderitaan gilang. Fisik dan mentalnya di siksa habis. dari situ juga aku berhenti menganggap dia sebagai preman jalanan tetapi menjadikannya teman... lebih!