
Beberapa hari setelah kejadian itu akhirnya aku dan gilang kembali fokus untuk menggarap bisnis ini. Setelah mengkonsep semuanya dengan gilang dan beberapa bantuan teman lamaku akhirnya distro kami tak lama lagi segera buka. Mungkin bulan depan sudah mulai bisa beroperasi.
Persiapan semakin gencar. Tidak lupa juga menyiapkan segala bentuk teknik promosi untuk brand baru ini. Dengan bantuan gilang yang sarjana ekonomi dan pengalaman kerjanya di Ausi kemarin ditambah semangatku yang menggebu rasanya semua berjalan dengan lancar.
Hingga suatu malam dimana aku dan gilang kembali menyiapkan segala kebutuhan distro baru nantinya di sebuah coffee.
Penampilan gilang malam itu begitu elegan. Terbukti banyak mata wanita lain yang mencuri-curi pandang ke arah gilang. Dan tentu saja aku hanya tersenyum kecil melihat kelakuan para wanita itu. Terlihat jelas rasa iri mereka ketika melihatku duduk berdua bersama gilang dengan penampilanku yang biasa-biasa saja.
Malam itu gilang terbalut baju hitam tangan panjang dengan memperlihatkan bahunya terlihat begitu kontras dengan kulitnya. Putih bersih!
"Woyyyy!!! fokus! lama bener lihatin gue nya." gertakan gilang membuatku terkaget dan membuyarkan semua lamunan tadi.
"Eehhh eeeee.. ehh! apa-apa? hahaha." jawab ku dengan panik sekaligus malu.
"Ya lu itu lihatin gue lama bener. Emang sih gue nambah ganteng kan? lu harus akuin itu nda." ucap gilang dengan nada yang ketus dan sangat percaya diri.
"Ye.. kumat sok cool lu lang! lagian maklum, stress gue butuh sedikit pencairan kaya nya mah." jawab ku kepada gilang sekenanya.
"Ya sudah nanti pulang dari sini gue bikin enak deh." jawab gilang dengan spontan.
"Nggghhh! aduh nda. Jangan dicubit perut gue.. sakit aduuh!" rengek gilang ketika aku mencubit samping perutnya.
"Biarin! lu ngomong nya nakal gitu sih!"
"Aduhhh! maksud gue bikin enak itu... hue mau mijitin lu nda."
Sebelum semua pertanyaan ditinggal mati, sebelum matahari tak lagi menyinari, ada moments dimana kita harus menekan habis sebuah kompromi.
Lagi-lagi bukan untuk alasan heroik atau alasan menyedihkan tentang bagaimana kita mempertahankan sebuah kehidupan yang harus di hidupkan. Melainkan untuk membiarkan diri kita sedikit berpasrah melepaskan setiap beban yang di panggul berhari-hari.
Bukan.. bukan berpasrah untuk menyerah. Tidak lebih untuk melepaskan setiap kelelahan dalam sebuah koridor kehidupan yang memaksa kita untuk terus berjalan.
Kesempatan tidak datang sekali waktu, kesempatan selalu datang berkali-kali tergantung bagaimana kita bisa melihat dan merasakannya ketika semua itu datang.
Well, hidup terlalu singkat untuk sebuah kebencian betapa tidak mengutuk setiap kehilangan hanya akan menyisakan semua rasa kesakitan tanpa sebuah akhiran.
Malam itu setelah sepulang dari coffee aku dan gilang langsung pulang ke kos sekitar jam 10 malam. Gilang memang selalu terlihat ceria. Dan kata seseorang bahwa orang yang selalu terlihat ceria adalah orang yang kesepian atau mempunyai masa lalu yang kelam. Katanya sih..
"Nda.."
"Hmmm apaan lang."
"Nanti jadi ya bikin lu enak.." ucap nya seraya memalingkan wajahnya lengkap dengan senyum sok cool yang bikin aku panas dingin.
"Apaan sih lang! nggak usah macam-macam deh!" jawab ku ketus.
"Tapi gue lagi ingin macam-macam nda." jawab nya dengan mengedipkan mata sebelah kanan. Karena kesal aku pelototi dia dan menjewer telinganya dengan keras.
"Ampun nda! ampun.. gue bercanda.. ampunn."
Seminggu lagi usaha baruku bersama gilang akan segera buka. Semakin repot menyiapkan segala sesuatunya. Aku juga sudah memulai acara promo-promo lainnya.
Dan entah sudah berapa kali kami saling berucap sayang satu sama lain tetapi aku dan gilang masih tidak atau belum memiliki hubungan lebih. Masih sekedar teman entah teman yang seperti apa ini namanya.
Pada akhirnya aku dan gilang memutuskan untuk mempekerjakan seorang karyawan untuk mengisi bagian shop keeper. Sedangkan aku mengurusi bagian produksi. Dan gilang mendapatkan tugas mengurusi keuangan. Tentunya semua itu kesepakatan aku dengan gilang.
Aku dan gilang sekarang lebih sering menempati toko distro kami ini. Ketika aku hendak mencari pegawai untuk tokoku seorang teman menghubungiku. Katanya ia memiliki seorang teman lelaki yang sedang butuh pekerjaan dan kondisi ekonominya sedang sangat terpuruk.
Mendengar itu aku kemudian bertanya kepada temanku itu tentang bagaimana calon pegawai ku itu.
Temanku hanya menjelaskan ciri fisiknya dan beralasan ia tidak mempunyai foto si cowo itu ketika setiap kali aku meminta fotonya. Setelah berunding dengan gilang akhirnya kami memutuskan untuk memberikan kesempatan interview di toko kami.
Masalah cocok atau tidaknya itu urusan nanti ujar gilang. Akhirnya aku mengabari temanku yang merekomendasikan cowo itu tentang waktu dan alamat toko kami.
"Nda, hari ini yang mau interview jadi datang?"
"Jadi lang. Sepertinya sebentar lagi juga datang."
"Nanti interviewnya berdua sama gue ya nda!”
"Hah kok berdua sih!" tanya ku kepadanya dengan rasa keanehan.
"Ya kan yang mau kerjanya cowok. Kalau lu sendirian mah nanti kecentilan ke cowok itu!!" pungkasnya.
"Ya hak gue kali mau centil juga. Sewot lu mah lang!"
"MANDA! POKOKNYA NANTI INTERVIEW NYA BERDUA! DAN KALAU LU KECENTILAN SAMA COWOK ITU NANTI LIAT AJA!! jawab gilang dengan mata melotot nya. Aku takut. Serem memang nih anak kalau sudah marah begitu.
Setelah beberapa lama terlihat seorang cowo turun dari angkot tepat depan toko ku. Sesosok makhluk yang begitu ku kenal. Dan ketika ia melihatku, ia pun sama kagetnya.
BAYU!!! Rasa kaget dan rasa emosi yang perlahan naik membuat sebuah perasaan yang aneh. Bayu perlahan berjalan dengan ragu kedalam tokoku.
"Iih!!! geli yang jangan gelitik kan gitu. Peluk ya peluk aja!! ih!!"
"Hmm.. Coba kamu cuma milik aku seorang!"
"Nikmatin aja seperti ini say, kita mempunyai rasa yang sama kan? hanya saja.... kamu sudah lebih dulu dimiliki dia."
Masih jelas terekam adegan perselingkuhan itu di kepalaku tanpa sedikit pun yang terlewat.
"Hmmm, maaf tapi ini distro abcd bukan? Sa... saya yang ngelamar kesini." tanya bayu dengan ragu dan wajah yang tertekuk.
Jadi selama ini temanku sendiri yang merekomendasikan bayu untuk bekerja di tempatku? apa maksudnya?? Bbengsek!! bingung gue tapi gue emosi juga melihat mukanya!! gumam ku dalam hati.
Posisi kami saling mematung diam tapi jelas pikiran kami sama-sama bergejolak. Gilang yang melihatku seperti orang yang sedang kebingungan dicampur raut wajah emosi langsung melihat ke arah bayu.
"Lu bayu yang pernah menyakiti amanda kan! ngapain lu kesini hah!!" bentak gilang kepada bayu dan seolah menyadarkan ku dari semua pikiran-pikiran didalam otakku.
Ya dewa marmut. Apa yang akan terjadi dewa marmut!!