Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 08 Kepingan Rasa



Siang itu Gilang baru pulang dari kerjanya setelah 3 hari harus bekerja keluar kota untuk menjadi SPB di event tersebut. Dan kebetulan aku sudah ada di kosan karena tidak ada kesibukan di toko.


Dari awal masuk ke kamar wajahnya tertunduk lesu. Tapi aku pikir gilang hanya kelelahan menjadi SPB di luar kota. Gilang kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi gilang masih tertunduk dengan wajahnya kali ini terlihat begitu emosi.


"Kenapa sih lu pulang-pulang mukanya jelek amat! nggak laku dagang produknya atau gimana?"


Gilang hanya diam tetapi raut wajahnya semakin terlihat begitu marah. Memang aneh orang satu ini. Beberapa menit kemudian dia menarik nafas panjang, mungkin untuk sedikit melepaskan beban hidupnya.


"Hp gue hilang nda."


"Ehh! Kok bisa? kan kemarin masih chatan sama gue?"


"Hilangnya juga baru tadi pas jalan pulang kerja. Gue telponin HPnya sudah nggak aktif."


"Mana HP satu-satunya lagi! gajiian saja belum sudah hilang saja nih Hp! kenapa sih hidup gue sial terus!' dumel giang yang pasti kesal.


Aku tahu persis bagaimana kehilangan barang yang memang penting dan menjadi kebutuhan. Terlebih di era modern seperti sekarang.


"Lu istirahatin saja dulu lang daripada emosian begitu. Belum rezeki lu aja kali tuh Hp. gue balik ke toko dulu bentar yah!" ucap ku yang langsung meninggalkan gilang di kamarnya.


Selepas maghrib aku kembali ke kos sambil senyum-senyum dan bersiul-siul. Ketika masuk kamar kos gilang sedang merokok santai tetapi mukanya masih kelihatan kesal banget.


"Lang, lu ganteng tahu kalau cemberut begitu."


"Apaan sih nda. Gue lagi nggak mood buat becandaan!"


"Haha slow atuh sayang! lang, bikinin gue minuman dong haus nih."


Gilang langsung bikinin aku minuman. Di saat gilang memunggungiku aku mengeluarkan sebuah dus book handphone baru. Aku sedari tadi memang tidak pulang untuk ke toko tetapi pergi ke konter HP temanku yang berada di salah satu mall khusus eletronik di Bandung.


"Nih minumnya mau apa lagi!" sewot gilang sambil memberikan segelas cappucino hangat.


"Nih buat lu! nggak boleh nolak!! harus di pakai biar muka lu juga nggak cemberut terus menerus." ucap ku kepadanya seraya memberikan dus book iphone 7.


Ya waktu itu iphone 7 baru rilis dan emang harganya membuatku mengeluarkan uang dari tabungan. Tetapi tidak tahu kenapa dengan refleks aku beliin dia hp itu.


"Ehhh!! apaan ini! nggak ah nda!"


Gilang dengan raut wajah kaget tetapi diambil juga itu dus book handphone-nya.


"Haha ogah-ogahan tapi di buka begitu dusnya." jawab ku sambil tertawa melihat kelakuan antik si gilang ini.


"Hehe beneran ini buat gue?"


"Yakali lang buat emak gue mah!"


"Makasiiihh manda..."


CUP!!! gilang langsung menyium keningku seraya mengusap rambutku dengan halus


"Lu sekali lagi ngomongin masalah duit gue cubit hidung lu sampai maju kedepan."


"Mau atuh di cubit hidungnya. Lagian juga kan hidung gue sudah maju dari orok nda." jawab gilang yang memasang senyum menyebalkan dengan kedipan mata yang.. Beuh!!! Aku senang melihat dia seperti itu.


Sore itu aku mengemudikan mobilku dengan ceria sehabis bertemu dengan seorang temanku di sebuah coffee di jalan Riau-Bandung.


Pertemuanku dengan teman lamaku bukan tanpa maksud. Sebelumnya dia bercerita bahwa ayahnya baru saja membuka anak usaha di australia dan membutuhkan beberapa karyawan untuk ditempatkan berkerja di perusahaan barunya.


Mendengar itu aku langsung teringat Gilang. Acara lobi-lobian dengan temanku ini berjalan sukses. Akhirnya dia menyetujui memperkerjakan gilang di sana. Senang akhirnya tujuanku untuk setidaknya membuat hidup Gilang jauh lebih baik akan segera terwujud. Thanks dewa marmut! batin ku.


Setelah menjemput gilang dari tempat kerjanya aku langsung membawanya ke kosan dan dengan cepat memberi tahu bahwa dia harus siap-siap untuk mengurus segala bentuk persyaratan agar dia bisa berangkat ke Australia.


Setelah aku menjelaskan panjang lebar gilang langsung menyetujuinya dan terlihat sangat senang dan antusias banget. Siapa juga yang tidak akan senang mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Belum lagi gajinya yang besar.


Dengan cepat gilang mengajukan surat pengunduran dirinya di kantor tempat ia bekerja. Seminggu ini adalah yang paling melelahkan karena ngebantuin gilang untuk mengurus segala keperluan juga persyaratan untuk bisa ke Australia akhirnya selesai juga.


Hari itu setelah semua syarat dan keperluan gilang untuk bekerja di Ausi sudah selesai. Aku hanya bersantai-santai di roof tops kos. Sedangkan gilang masih menyiapkan barang-barangnya di kamar.


Aku sedikit mengingat tentang bagaimana aku bisa bertemu gilang, kejadian di rumah sakit itu dan segelintir kejadian lainnya yang masih rapih tersimpan di kepala ini.


Hampir 4 bulan Gilang tinggal di kos ku. Banyak pula yang terjadi dan akhirnya menjadi sebuah cerita karena besok ia akan berangkat ke Ausi untuk bekerja di sana.


Satu sisi sangat senang akhirnya tujuanku untuk membuat hidup dia lebih baik terwujud. Tetapi disisi sebrang entah tapi ada kesedihan untuk melepasnya pergi ke sana. Mungkin aku mulai jatuh cinta dengan gilang. Dengan kehadirannya setiap hari dalam hidupku selama 4 bulan ke belakang dan perkataannya waktu itu.


LOVE IS IN THE AIR.


Malamnya setelah semua persiapan selesai akhirnya aku merebahkan diri di samping gilang yang sudah lebih dulu rebahan di kasur. Gilang langsung menyelimuti badan kami berdua. Entah tapi raut wajah gilang terlihat sendu.


"Manda. Besok kita pisah ya? jujur gue sedih nda!" gilang membuka pembicaraan setelah sebelumnya kita hanya berdiam memandang langit-langit kamar kos ini. Tubuhnya pun sekarang sudah memelukku.


"Iya lang. Lu harusnya senang. Akhirnya kehidupan lu akan dimulai dengan babak baru lang. Gue juga senang kok akhirnya misi gue untuk membuat hidup lu lebih baik terwujud juga. Gue juga mulai besok akan memulai hidup baru tanpa lu lang. Tanpa kesalnya lu dan tanpa sok cool nya lu. Mungkin gue bakalan kangen sama semua itu. Padahal baru 4 bulan ya." ucap ku dengan sedikit bergetar.


"Nanti di sana lu jaga diri lu baik-baik lang. Jaga kondisi badan lu. Jangan kebanyakan rokok! maafin gue lang untuk semua kekurangan gue selama lu tinggal disini."


"Nggak tahu kenapa lang. Tapi ini jujur, baru pertama gue segini nya ke seorang cowo sebelumnya gue tuh cuek banget. Tetapi mungkin ini jalannya, faith and destiny rite? Hiks.. Hiks.." ucap ku kepada gilang yang diiringi dengan tangisanku. Malam ini berubah menjadi malam yang melow banget deh!


Mendengar semua ucapan ku membuat gilang sakin erat memeluk tubuhku. Terdengar suara tangisan kecil dari telingaku.


"Hiks.. terima kasih nda. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah menyelematkan hidup gue. Terima kasih sudah ngerawat gue selama ini dan iya nda. Gue baru 4 bulan tinggal di kos ini dan bersama lu terus, tapi semua nya itu sangat berkesan buat gue. Semua yang lu lakuin ke gue sudah berhasil bikin gue merubah pemikiran gue tentang bagaimana mengartikan sebuah kehidupan, merubah pikiran gue tentang apa itu harapan. Benar kata lu nda. All i need is a new hope. Gue bakalan selalu inget itu."


"Hiks... hiksss.. terlebih kamu sudah merubah pandangan gue tentang cewe nda. Selama ini aku tuh selalu mikir kalau cewe cuma bisa manfaatin cowo. Tetapi ternyata nggak! selamanya aku berhutang budi sama kamu amanda rein."


"Hiks... manda.. janji ya. Someday.. kita bakalan balik lagi dan seperti ini kembali. Janji ya kamu bakalan ngasih pelukan ini, pelukan yang paling nyaman buat aku nda. Janji ya?"


"i promise you... gilang pramadistya."


"i love you amanda rein."