Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 12 Intonasi Sendu



"Maa.. maaf mas. Saya ya.. yang nge.. ngelamar ke sini lewat te.. teman mas." ucap bayu dengan suara bergetar. Bayu terlihat sangat ketakutan sekali. Tapi jujur, aku hargai keberanian bayu untuk tetap menghampiri toko ku walaupun telah melihat aku sebelumnya.


"Udah lang. Biarin.. suruh dia masuk saja lang." ucap ku halus kepada gilang.


"Tapi nda! Dia kan yang sudah mengkhianati lu? dia yang selingkuh dengan teman lu sendiri kan?" jawab gilang dengan ketus. Mendengar jawaban gilang yang seperti itu membuat bayu semakin tertunduk malu dan ketakutan.


Well, ketika suasana panas seperti ini harus ada seseorang yang dewasa untuk meredam semua suasana panas ini and i think i have to do it!


"Lang t**emember? Everyone desserve to get a a same chance rite?" ucap ku pelan kepada gilang dan ia hanya membuang mukanya seolah tidak setuju dengan ucapan ku barusan.


"Well.. Bay masuk saja dulu. Kita ngobrol di dalam." perintahku kepada bayu."


"Eehhh.. tapi kalau saya ganggu atau bagaimana nggak apa-apa saya pu.. pulang saja." jawab bayu dengan wajah yang masih tertunduk.


"Hari ini atau tidak sama sekali bay. Your choice!" jawab ku kepada bayu seraya melangkah ke bagian dalam tokoku.


Walau awalnya bayu terlihat sangat ragu tapi ia berjalan perlahan mengikutiku. Dan gilang? ia hanya duduk dengan wajah penuh emosi.


Aku dan bayu sudah duduk dalam satu ruangan dibelakang toko ku ini. Kami masih sama-sama saling terdiam dengan ribuan pemikiran kami masing-masing. Gilang pun terlihat semakin tertunduk ketika duduk di hadapanku. Hingga akhirnya gilang menyusul masuk ke ruangan ini dan duduk di sampingku.


BRAAKKK!!! dengan sangat keras gilang memukul meja di ruangan itu.


"Heh gegolo nggak tahu diri!!! ngapain lu kesini hah!! nggak punya muka emang lu brengsek! nggak punya malu memang ketemu amanda? o iya gue lupa kmaluan lu kan sering buat main obok-obokan sama cewek lain sampai mati rasa!" cerca gilang dengan nada emosi nya.


"Gilang!!" bentak ku kepadanya dan memotong ucapannya tadi. Gilang langsung terdiam tetapi wajahnya sudah merah membara dengan sangat emosi.


Aki berdiri dan mengambil dua gelas air mineral lalu meletakkannya di hadapan gilang dan bayu.


"Sudah nih pada minum dulu biar agak dingin." ucap ku berusaha melerai. Bayu langsung meminum perlahan dengan wajah yang tertunduk itu.


"Ehhh brengsek!! tukang gegolo!! jawab pertanyaan gue!!" gilang kembali membentak bayu yang sedang meminum airnya. Aku langsung duduk di pinggir gilang.


"Lang sudah sih!! biarkan dia jelasin semuanya."


"Jelaskan apaan lagi nda! lu nya juga *****! ada cowo di depan lu yang jelas-jelas sudah merusak hidup lu dan lu masih diam dan mau mendengarkan penjelasan dia? ***** lu nda! kalau gue jadi lu udah gue habisin ini gegolo nggak tau diri di depan gue ini. Kalau perlu gue mampusin sekarang juga sih! kebagusan dia di kasih kesempatan hidup mah!!" cerocos gilang yang semakin emosi.


"Lang.." sahut ku pelan sambil memegang tangan gilang yang sedari tadi mengepal keras.


"Lang, look at my eye. Please!" ucap ku kepada gilang. Ia perlahan menatap ke arahku. Terlihat tatapan emosi penuh kebencian dari diri gilang.


"Lang, kasih kesempatan ke dia untuk jelasin semua ini lang. Just one time give a chance like i give you a chance to get a better life. Plese.. Dan dengan mendengarkan semua alasan dia itu akan ngejawab semua pertanya gue selama ini lang. Would you?" pintaku kepada gilang dengan pelan dengan tangan ku menggenggam tangannya.


"Kebagusan dia di lembuti mah nda!"


"Woy! jangan nunduk terus lu! sekarang jelaskan semuanya sebelum gue semakin emosi ke lu dan gue hajar habis-habisan disini! dasar gegolo nggak tahu diri!" sentak gilang sekali lagi. Dan.....


Hiks .. hi**kss..


Terdengar suara tangisan kecil dari arah bayu, terlihat kedua tangannya menutupi wajah dengan badannya yang sesekali bergetar.


"Yaelaaahhh!! sok-sokan nangis segala sih!! cowo kok gampang banget nangis. Lu cowok apa cewek sih!! air mata lu juga kelihatan palsunya tuh! lu pikir gue akan kasihian begitu melihat lu? sekali gegolo mah tetap gegolo saja selama nya!!! dasar gegolo lembek lu! banci lu!"


Nih gilang memang kalau sedang emosi begini bahasanya sudah kembali seperti preman jalanan kembali.


Tangisan bayu semakin terdengar keras diantara suasana penuh emosi yang memenuhi setiap sudut ruangan ini. Suasana yang sangat tidak nyaman. Sedangkan aku sendiri masih bingung harus berbuat apa.


Disatu sisi emosi gilang semakin meledak-ledak padahal dulu gilang lah yang menyuruh aku untuk tidak menghampiri dan nggak akan marah-marah kepada bayu. Lah kenapa sekarang dia yang emosi nggak ketulungan? dan di sisi lain bayu dengan tangisannya yang semakin keras.


"Eee si brengsek malah makin nangis. Eh gegolo lembek! lu bisu atau bagaimana sih!" gilang semakin tidak terkontrol.


"Woyyy!! gegolo!! nggom....."


Brak!! Bayu yang sekarang memukul meja di depan kami untuk memotong perkataan gilang.


"LU NGGA TAHU APA-APA!! LU NGGAK MENGERTI!! DAN LU NGGAK TAHU BAGAIMANA ITU TERJADI! LU NGGAK TAHU RASANYA JADI GUE!!" jerit bayu dengan muka yang memerah dan airmatanya membasahi hampir seluruh mukanya.


"Alah gegolo mah gegolo saja sih!! Banyak alasan!" jawab gilang tak mau kalah.


"Lu nggak ngerti mas!! gue hanya menjadi alat dan di jebak!! gue diperas habis!! tolong jangan nambahin beban gue mas!" ucap bayu dengan tangisan yang semakin menjadi.


Wait wait... ba**yu di peras?? DAN DI TINGGALIN??


Kala langit menghitam maka sendu dan kekhawatirn akan tercipta bersamaan seraya setiap momory yang hadir ketika hujan datang. Kala bahasa menjadi suatu ke-esa-an maka sikap tak pernah cukup untuk sebuah pembuktian.


Surga emperan, neraka plesetan. Bukan atas alasan heroik dan saya tak butuh sayap malaikat untuk setiap hal yang dilakukan dengan harap mendapat balasan surga atau neraka pada akhir nafas.


Maka setiap manusia selalu memiliki alasanya sendiri atas setiap apa yang mereka lakukan walau kemudian menjadi sebuah budaya untuk mencari sebuah pembelaan ketika semua itu menjadi salah atau abu dalam ranah kebenaran dan kesalahan dalam norma kehidupan.


Ketika kekuasan dan uang menjadi tuhan maka semua menjadi halal. Termasuk melakukan hal-hal sampah dan penghianatan. Semua, tak lebih untuk sekedar kepuasan.


JIKA SI KAYA HARUS SELALU BERTEMAN DAN MENIKAH DENGAN MEREKA YANG SAMA KAYA. MAKA BUDAYA YANG KAYA AKAN SEMAKIN KAYA DAN YANG MISKIN AKAN SEMAKIN MISKIN AKAN TERUS BERGENERASI.