Love Is Tears

Love Is Tears
Episode 21 Semangat baru



Hai..


Sapaku yang tak perlu kau jawab juga. Aku tak berani, meski membumbung tinggi. Mengisi senja sore, tepat setahun lalu kita saling tersenyum.


Dengan rindu aku menyapamu.


Aku dan Senja milikmu.


Mendekatlah, akan aku ceritakan tentang musim hujan di mataku yang tak pernah berhenti sejak kepergian seseorang.


Gilang..


Aku masih ingat betul panggilanku untukmu. Seumpama namamu, ternyata begitulah kamu di hatiku. Kau tetap hidup di hatiku, seberusaha apapun aku mematikanmu.


Mataku tak bisa lepas darimu. Kenapa kau sama terdiamnya denganku? Apa kau merasa hatimu bergetar sehebat yang aku rasa, hingga untuk melangkah pun kakiku tak berdaya? Atau, apa kau tak ingin memastikan adanya lara di mataku lagi, tersebab karenamu?


Gilang, selamat datang kembali. Tolong panggil namaku sekali lagi, aku rindu suaramu. Panggil aku sebagai wanitamu.


Gilang POV


Apaan sih ini Lussi komen di IG gue nggak banget deh. Pakai bilang cantikan Amanda. Kenapa ya hari ini orang-orang pada nyebelin sih! Bangkek!! Dumelku kesal dalam hati.


Ini kenapa juga malah buka galery sih, kan banyak foto gue sama Amanda. Aaarrrggghhh!


Sejenak aku lihat-lihat galery di handphoneku, memang masih banyak foto Amanda. Hmmm hapus jangan ya? Aahh bingung!! Aku menyesal telah membuka galery handphoneku. Jika tahu begini, aku tak akan melihatnya. Bangkek!!


Pokonya hari ini super nyebelin banget deh!!! Hari ini tuh gue... Rindu Amanda.


 


***


 


After the rain,


the sun will reappear.


There is life. After the pain,


the joy will still be here.


"Parah lu Lus komen begituan, nanti nyangkanya disuruh gue lagi.." Ucap ketika melihat komen Lussi di postingan IG Gilant yang nge-upload fotonya dengan si makhluk sosualita itu.


"Hahahah biarin sih, Nda."


"Tetapi mereka cocok ya Luss. Kelihatan bahagia banget haha.." Ucapku.


"Iya, Nda. Kelihatan bahagia, tetapi nggak tahu kan aslinya hati mereka gimana?" Aku hanya bisa melirik tajam mendengar jawaban Lussi. Ini anak kalau ngomong suka terlalu jujur!


Drrrttt


Drrrtttt!!


Ada sebuah panggilan masuk di handphoneku. hmm dari Bayu?


"Hallo, Bay.."


"Hallo Amanda.. Hehe.."


"Kenapa Bay, tumben nelpon gue."


"Iya, Nda. Aku mau minta tolong sih, Nda. hehehe tapi malu."


"Yee tumben lu bisa malu. NggK pantes Bay lu jadi pemalu gitu mah."


"Apaan deh, Nda. gitu banget. Ya sudah nggak jadi ah!"


"Yeee ngambek. Mau minta tolong apaan..?"


"Tapi Aku takut ngerepotin kamu, Nda."


"Oi. Ribet ih lu mah!! Poinnya saja langsung, kalau gue bisa bantu ya gue bantu kalau nggak ya maaf-maaf saja gitu. Buruan."


"Manda cantik-cantik galak! Jaji begini, Nda. Toko sekarang sepi tau semenjak kamu ngk ada. Nah berhubung toko sepi nih, tadinya aku mau kasbon ke Gilang, tetapi Gilang dari tadi manyun terus. Preman terminalnya lagi kambuh tuh kayanya."


"Terus..?"


"Oh ya sudah, berapa?"


"Gope saja sih, Nda."


"Hmm.. Ya sudah nanti gue transfer deh."


"Makasih, Nda. Maaf ya repotin kamu terus. Btw, kangen kamu, Amanda."


"Ehh, sudah kan ? DADAH!!"


Ya begitulah Bayu, masih suka menelepon dan suka ngajak ketemu dan masih selalu ngegodain aku, sakit kali tuh si Bayu.


Tapi kasian juga sih toko jadi sepi. Memang selama ini kan konsumenya hasil dari link aku, Gilang sama Bayu kan baru terjung ke bisnis distro gitu.


Eh, tetapi percuma juga aku khawatir sama dia, mungkin sekarang dia sedsng berdua-duaan dengan kekasih barunya, gumamku membatin.


Aku memincingkan mata dan mulai mengintip keluar jendela. Sepi! Silau, sepertinya matahari sudah tepat sejajar di arah barat. Matahari telah berancang-ancang mengembara ke belahan bumi lainnya. Sebentar lagi, senja akan datang. Aku tersenyum, senyum yang amat pedih tepatnya!


Begitu banyak orang yang memuja-muja senja. Akan tetapi, akulah satu-satunya orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagaian. Menggoreskan jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang.


 


~•°•~


 


"Manda.." Panggil Lusi yang untuk kesekian kalinya membuyarkan semua lamunanku.


"Apa Lussi." Jawabku kesal.


"Hihi, lu kalau marah gitu, sini-sini uci cium." Ucap Lussi seraya mencubitkan jarinya ke pipihku.


"Oiii.. Di pikir bocah kali ya. Auh ah.." Umpatku kesal. Dengan tiba-tiba Lussi raut mukanya berubah menjadi serius.


"Manda.. Mau balas dendam nggak ke Gilang? Aku bantuin nih.." Tanya Lussi.


"Hah? Kok tiba-tiba sih? Entahlah Lus, mau fokus usaha dulu, nggak mikirin yang begituan."


"Ah cupu Manda mah.. Wuuu!"


Hmm, jujur sih aku nggak punya pikiran macam-macam ke Gilang, apalagi sampai kepikiran untuk balas dendam. Memang sih sakit hati dan merasa di buang waktu aku nggak punya apa-apa, merasa di tinggalin begitu saja.


Tetapi memang benar perkataan Gilang, sekarang aku sudah terlalu berubah menjadi lebih mendayu-dayu dan nggak se'nakal' dulu. Di satu sisi, kasihan juga ke Gilang karena aku masih ada rasa ke Gilang. Tetapi disisi lain, sepertinya ini momentum banget deh untuk membalikkan jati diriku seperti dulu lagi.


"Hoii! Malah melamun ditanyain tuh!" Ucap Lussi yang entah beberapa kalinya merusak acara melamun aku. ffhh!!


"Gue sedang mikir, Luss!! Gangguin saja deh!"


"Haduh masih di pikirin! Gilang saja nggak pernah mikirin perasaanmu gimana, kan?"


Deghh!! Benar juga sih kalau di pikir-pikir.


"Hehe.. Memang lu pinya rencana apa, Luss? Let me know."


"Begini, Nda. Aku punya teman, ganteng loh.. Kata aku sih ganteng temen aku ini. Cuma, kalau hidungnya sih mancungan Gilang hihi.."


"Luss! Jangan mancing deh!"


"Hihi sewot si eneng satu ini. Iya, pokoknya temen aku ini tuh ganteng dan tajir banget loh. Kan bisa sekalian nyelam sambil minum air. Dia tuh sekarang lagi jomblo dan lagi galau. Kalau Manda mau nanti aku kenalin deh."


"Serius lebih cantik dari Gilang? Takut gue kalau ganteng-ganteng gitu mah. Takut gue suka sama temen lu."


"Itu mah resiko kamu, Nda. Tapi kan siapa tahu juga jodoh sih. Enak dapet yang tajir, nih fotonya.." seketika ia membuka galeri dan menunjukkan foto temannya kepadaku. Whatt!!


Sekali lagi, hujan mengantarkanku kepada sebuah kisah yang baru. Hujan membawaku dalam sebuah ranah yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk dipijaki. Satu pribahasa yang ku ingat sekarang. 'Lawan api dengan api agar semua rata menjadi tanah.'


 


\


 


Untuk beberapa waktu, takdir menjadi momok dan mewujud sebagai raja tega. Dan harta membuatmu buta juga lupa, tentang siapa, tentang dari mana. Batasan halal dan haram kian abu ketika logika sudah tergadai hasrat.