Love Is Tears

Love Is Tears
Bab 06 Bukan Heroik



Lima hari gilang di rawat, lima hari juga aku mondar-mandir rumah sakit, toko dan kos. Akan tetapi hari ini gilang sudah bisa pulang dan langsung aku bawa ke kos ku.


"Eh, ini kos nya siapa?" Tanya gilang kepadaku.


"Ini kosan gue baru pindah sih! belum sampai sebulan juga disini dan mulai sekarang lu tinggal disini oke!! pakaian lu semuanya sudah di bawa kesini sama si tito. Masukkan saja itu baju lu ke lemari hitam itu. Sengaja gue beli buat simpan baju lu. Masalah peralatan sama parabot lu yang di tinggal di kos lama gampang lah nanti kita beli lagi kalau lu sudah benar-benar sehat."


"Sekarang lu istirahat saja dulu. O iya, anggap kamar lu sendiri ya! karena memang sekarang ini jadi kamar lu dan gue sebagai tamu hahahaha." Jelas ku ke gilang. Jelas raut wajahnya kebingungan. Sengaja memang aku tidak pernah kasih tau rencana untuk mindahin gilang ke kos ku. Intinya tidak mau menambah beban pikiran dia juga sih. Aku? aku nanti pulang ke rumah lah!


"Kok jadi begini sih? lu kan baru kenal sama gue tapi kenapa?" tanya gilang keheranan.


"Oke lang gue akan menjelaskan semuanya ke lu! well, tito sudah cerita semua perlakuan cewe lu ke lu itu bagaimana dan itu sudah sangat di luar batas kewajaran lang!"


"Buat gue jangan sampai ada individu yang mendominasi dan terdominasi. Lagian mau sampai kapan lu bertahan di sana? sampai lu akan terus menjadi alat cewe psikopat itu! sampai kapan lu mau di siksa fisik dan batin kaya gitu lang? sampai kapan juga lu mau hidup seperti itu!!!"


"Semua ini gue lakuin bukan karena ingin menjadi pahlawan di hidup lu!! bukan juga ingin menjadi pacar atau modus atau apalah gitu. Bukan untuk alasan-alasan heroik lainya. Ini semua gue lakuin karena buat gue itu setiap orang berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari kehidupan lu yang sekarang! thats all!" ucap ku memberikan pengertian ke gilang.


"Lu itu tampan, pinter, sarjana lagi. So you desserve better dan maaf! gue ngga mengizinkan lu untuk menjadi cowo liar di jalanan lagi. Gue sudah memikirkan rencana kedepannya untuk lu, begini rencananya."


"Lu stay disini sambil cari-cari kerja gitu lah. Gue juga bakalan banyak menanyakan lowongan kerja untuk lu ke teman atau saudara gue. Tapi maaf, gue nggak bisa memberi lu pekerjaan di toko gue."


"Karena menurut gue rasanya nggak adil untuk memecat seorang karyawan gue dan masukin lu untuk gantiin. Terus sampe lu dapat pekerjaan lu tiap harinya nanti gue kasih uang jajan deh untuk beli rokok atau untuk sekedar beli cemilan gitu. Atau buat jalan bebas lah pakai apaan kalau masalah makan mah kita bareng-bareng aja disini."


"Nanti gue beli kompor buat lu masak gitu biar bisa hemat hihi. Karena nggak besar sih uang jajannya cuma sehari cepe. Asal lu tau kenapa lu gue kasih uang gitu. Bahwa gue tidak pernah punya niat untuk menghina atau mengucilkan lu. Apalagi niat buat nge-hak hidup lu segala. Cuma gue rasa pasti bosan kalau untuk selalu stay di kamar. So mungkin uangnya nanti bisa di pakai buat apaan lah gitu bebas!!! setidaknya lu stay di sini sampai mendapatkan pekerjaan. kalau lu sudah kerja dan sudah bisa mandiri lu bebas mau kemana juga asal jangan kembali lagi ke tempat itu."


"Sekarang semuanya terserah lu mau ambil kesempatan ini untuk lepas dari kehidupan lama lu atau balik lagi ke kehidupan lu yang dulu, is your choice!" tambah ku panjang lebar menjelaskan semua rencana ku ke gilang.


"Gue malu Nda. Gue ini cowo. Guee..."


"Trus menurut lu manusia diciptakan tidak hidup berpasang-pasangan? tidak untuk saling menolong? ayolah lang. Cowo juga ada saatnya memerlukan bantuan." ucap ku memotong perkataannya.


"Terus masalah biaya ruma.."


"Gilang!! lu nggak perlu mikirin biaya rumah sakit lah!! Kebetulan gue lagi ada rezeki lebih mendingan sekarang lu nggak usah banyak mikir. Cepat sembuh dulu nanti baru mikir lagi kalau sudah sembuh total. Konslet nanti otak lu kalau di paksa mikir begitu jadi stess, jadi gila. Gue lagi kan yang ribet haha!!" potong ku lagi menjelaskan panjang lebar. Gilang hanya diam mendengarkan semua penjelasan ku.


"So what you wil choose?" tanya ku ke gilang. Mata gilang mulai berkaca-kaca tetapi ada senyum kecil di bibirnya, senyum yang menggambarkan kelegaan. Dan gilang langsung memelukku.


"Thanks for all this chance, i’ll take it. Selamanya gue hutang budi ke lu. Manda."


"Pengen deh macarin..... kamu amanda rein." Ehhh???


Seminggu sudah gilang mendiami kos ku. Terlihat gilang tidak pernah lagi memasang status-status galau dan sejenisnya. Gilang juga sekarang terlihat sangat ceria. Begitu pun dengan diriku yang mempunyai aktifitas baru semenjak gilang mendiami kos ku.


Setiap malam sengaja aku selalu pulang ke rumah dan membiarkan gilang tertidur pulas walau kalau dipikir-pikir ini kan kos ku? tapi memang aku sengaja untuk selalu pulang dan menghindari acara menginap di kos ku sendiri.


"Lu kenapa sih balik terus setiap malam tidur saja disini sih! kalau nggak setidaknya lu tidur di tetangga kosan lu, kan sama-sama cewek. Lagian pasti capek tuh seharian cari uang buat lu dan buat gue!" tanya gilang sambil tersenyum kecil.


"Hahaha. Nggak ah takut gue! kan situ cowo gue cewe. Takut ada setan khilaf hihi bercanda. Lagian memang sengaja gue balik. Gue nggak mau dengan sekarang hidup lu dibawah kontrol gue, dengan seenaknya nyuruh-nyuruh lu atau mendominasi hidup lu! gue nggak mau ada yang mikir karena gue membiayai lu terus gue minta timbal balik gitu. Well, gue mah ikhlas bantuin lu tanpa alasan heroik!" jawab aku dengan santai.


"Gue juga ikhlas nda kalau lu mau bobo sama gue hihihi bercanda ya." senyumannya sungguh manis sekali. Arrgghh! Wahai dewa marmut!! Tolong kuatkan iman ku ini. Yah begitulah kegiatan gue di sore hari ini duduk di balkon kos sambil menikmati senja sore ini.


Cup!!! Gilang mencium keningku. Eh! Ini...?


"Terima kasih nda. Terima kasih untuk semua nya. Terima kasih sudah hadir buat gue, amanda rein." jawab gilang dengan tulus.


"Hahaha apaan sih! lebay deh! Santai saja sih. If you believe faith, this is the one of!" jawab ku.


Malam ini.. sudah sebulan lebih Gilang tinggal di kos ku. Gilang kembali jatuh sakit, badanya demam tinggi. Tetapi dengan keras kepala, dia tidak mau di bawa ke dokter. Jadinya aku yang merawat Gilang.


Malam itu setelah mondar-mandir ke apotek dan beli bubur aku menyuapi gilang yang terus lemah. Jujur aku sangat khawatir melihat kondisinya.


Setelah makan bubur yang hanya beberapa sendok kemudian gilang  minum obat dan berbaring di kasur. Tidak lama gilang langsung tertidur, mungkin karena efek obat. Terlihat Gilang begitu gelisah dalam tidurnya tetapi ada sedikit kelegaan melihat ia bisa tidur.


Merasa ada yang membelai kepalaku perlahan aku membuka mata dan melihat gilang duduk disebelah ku. Sial! Aku ketiduran setelah tadi menjaga gilang.


"Ehh gue ketiduran ya duh maaf!!!" ucap ku sedikit kaget.


"Nda, sini tidurnya di kasur saja. Kamu juga butuh istirahat nda." ucap gilang lembut.


"Eehh santai aja lang, mending lu aja lanjut bobok nya gih."


Gilang beranjak dari tempatku ketiduran di pinggir kasur. Kemudian dia memposisikan diri di kasur.


"Sini, Nda. Please." pinta gilang seraya menepuk kasur. Aku yang sedikit malu hanya bisa menuruti permintaannya dan membaringkan diri di sebelahnya. Gilang lalu menyelimuti badan ku yang juga memposisikan tangannya untuk menjadi bantal atau penahan kepalaku. Aku langsung merebahkan badanku. Suhu badan gilang sekarang sudah tidak sepanas tadi. Syukurlah.. batinku.


"Nda, maafin aku. Aku selalu merepotkan kamu. Maaf ya." ucap gilang sambil memandangku semakin lirih.


"Apaan deh, kaya ke siapa saja lu. Lagian tumben begitu bahasanya dari tadi aku kamu gitu kaya ke pacarnya saja hahaha." jawab ku pelan.


"Kan kamu memang pacar aku amanda rein."


Cup!!! gilang mencium keningku lembut setelah jawabannya tadi.


Kok jadi baper ya.... iya baper!!! ARRGGGHHHH!