Love Is Tears

Love Is Tears
Episode 22 Menuju Lembaran Baru



Aku terlalu pintar untuk mengingat dan terlalu bodoh untuk melupakan tentang kamu. Sampai detik ini aku tak tahu bagaimana caranya untuk melupakanmu, tapi sepertinya tidak untukmu. Kamu sudah melangkah jauh di depanku dan meninggalkan semua kenangan kita. Aku tidak pernah menyesali apapun itu, karena aku yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana lain untukku, untuk seorang Amanda Rein.


Lihat! Aku hanya peduli tentang dirimu tanpa terkecuali. Lantas selalu merasa benar karena terlalu angkuh untuk sebuah pengakuan. Act like a God but smaill like and animal.


Sebelumnya Gilang meneleponku, Gilang mengajakku untuk bertemu di sebuah kedai makan di daerah Dago, Bandung. Katanya ia memerlukan sedikit bantuanku. Wahai dewa marmut semoga dijauhkan dari semua bentuk rasa baper yang ada. Fufufu!!


Manusia memang lucu, kadang menganggap remeh, tetapi kalau ada butuh tanpa malu-malu meminta tolong. Lebih banyak lagi yang di tolongin malah lupa diri. Hmm! oke det is human roots.


Sedikit persiapan, terutama persiapan mental dan latihan menjadi wanita yang so-beauty biar nggak terlalu kelihatan kalau aku masih sayang sama Gilang. Well, here we go! Ngeeenggg....


 


\


 


Sesampainya di kedai yang di tuju, suasana terlihat sepi karena mungkin sudah lewat jam makan siang. Gilang sudah lebih dulu sampai di kedai itu. Ah! he's look so handsome, dan kenapa ya? Kalau mantan itu suka menjadi lebih ganteng. Fufuu! Oke, Nda. Keep calm and trought dis moment.


"Oii, Lang. Maaf lumayan telat nih hehe." Ucapku ketika menghampiri Gilang di mejanya.


"Oh.. Santai, Nda. Gue juga belum lama kok." Jawab Gilang dengan sebuah senyuman.


Setelah memesan makanan dan minuman, dan melalui basa-basi yang garing hingga makananku telah datang, Gilang terlihat masih sungkan untuk mengutarakan maksudnya.


"Oke, Lang. So.. Ada apa nih, tumben-tumbenan ngajak ketemu, dan apa yang bisa gue bantu?" Tanyaku memancing Gilang untui segera mengutarakan tujuannya.


"Fiuuuhh! Begini, Nda. Malu sih gue minta tolong sama lu, tapi mau gimana lagi. Begini, Nda. Jujur, kondisi toko gue menjadi nggak karuan begini. Ya memang sepi lah penjualan toko tuh. Intinya sih gue mau ngajakin lu untuk balik lagi ke toko gue, Nda. Lu mau minta gaji atau presentase berapa pun gue sanggupin deh." Ucap Gilang dengan wajah memelasnya.


"Hahaha.. Kirain mau minta tolong apaan, Lang. Itu doang nih?"


"Iya Nda itu saja sih, jadi gimana? Mau nggak lu?"


"Begini, Lang. anyway, thank you banget nih untuk tawarannya. Kalau lu mau ini sih gue kasihin kontak yang dulu suka whole sale ke toko, tinggal lu lobi-lobi sedikit atau jual nama gue juga nggak kenapa-napa. Pasti pada mau kok. Than, kalau untuk kembali ke toko, sorry banget nih. Gue nggak bisa, Lang. Gue juga sedang fokus untuk membuat usaha lagi."


Gilang POV


Belagu banget sih ni cewek satu, sudah syukur gue ajak ketemu dan gue mengajak kembali ke toko, eh malah di tolak. Kampret memang! Nyesel gue mengajak dia bertemu, lagian punya apa sih dia sekarang sampai seblagu itu pakai menolak tawaran gue lagi!


 


\*


 


"Belagu lu, Nda!" Sentak Gilang.


"Hah? Belagu gimana?" Tanyaku keheranan.


"Iya lu belagu jadi orang. Sudah syukur gue mengajak kembali ke toko, sosoan bilang sedang membangun usaha lah. Nggak tahu terima kasih jadi orang!" Ucapnya kesal semakin menjadi.


"Eh, Lang.. Santai saja sih. Bahasa lu pedes banget deh!" Sahutku yang mulai terpancing emosi.


"Eh gue sih santai, lu saja yang nyolot tuh. Nyesel gue mengajak bertemu. Gue juga bisa tanpa lu, Nda! Gue hanya kasihan saja sama lu, daripada lu nganggur, eh responnya pakai sosoan nolak tawaran gue. Situ nggak inget sudah gue tolongin apa?"


Degghh!!!


 


~•°•~


 


"Halah! sosoan banget bilang bangun usaha deh." ucap gilang yang memotong ucapanku.


"hehe bagaimana lu saja deh, malas gue debat sama lu Lang. O iya makasih nih sudah pernah nolongin gue. So sekarang siapa yang lupa kalau pernah di tolong? apa kabar hidup lu yang dulu masih jadi mainan cewek liar. Hidup situ sempurna?"


"Eh manda kok lu jadi bahas kemana-mana sih! berapa sih biaya lu yang keluarin dulu buat ngehidupin gue? gue bayar sekarang kalau perlu gue lebihin deh. Untung kemarin lu mutusin gue. Cewe gue yang sekarang lebih segala nya dari lu!" ucap gilang dengan nada yang semakin melecehkan. Sontak mataku memanas dan memicu genangan air kesakitanku.


"Heh gilang! gue nggak peduli mau cewe lu yang sekarang kaya gimana juga. Lu yang sekarang emang tajir, tampan, tapi sayang nggak punya otak! sorry have to say that! lu nggak lebih dari orang yang hanya bisa nempel sama orang lain agar hidup lu enak. ***** boy mentality at all!"


Brakkk!!!! Gilang memukul meja.


"Anjiiirr!! siapa lu nda berani bicara seperti itu!"


"Gue memang bukan siapa-siapa Lang, mungkin belum atau nggak hari ini. Tapi lihat nanti siapa yang akan menyesal dan mengemis meminta maaf untuk hari... thank you lang!" ucapku menegaskan seraya menunjuk muka gilang, setelah itu aku langsung beranjak dari meja makan ini dan membayar semua bill.


Gilang Pov


*****, so banget sih si amanda itu. Ngelunjak sekali, nggak tahu diri. Lihat aja nanti nda!"


 


\\


 


Kenapa gilang menjadi orang yang sombong, kenapa dia menjadi orang yang se-angkuh itu? brengsek!! nggak ingat apa dia dulu siapa, nggak ingat dulu bagaimana susah payah hidupnya. Ini sudah keterlaluan! harga diri gue sudah di lecehkan! let see Lang! who will regret the day, gerutuku kesal dalam hati saat perjalanan pulang.


Sesampainya di kos lussi, aku rebahkan tubuhku di atas kasur mengingat kejadian tadi hanya semakin membuatku emosi. Kemudian aku mengambil handphone dan menelepon Lussi.


Tuuuttt.. tuuuuttttt...


"Halo lus, dimana lu?"


"Masih di kampus nih. Aku baru selesai kuliah. Kenapa manda?"


"Luss fix! gue ambil tawaran lu untuk balas dendam ke gilang. Brengsek memang itu cowo!"


"Eh manda.. kenapa?"


"Ah pokoknya lu cepat pulang deh emosi gue ke si gilang kampret itu."


"Hihi cie cie kesel sama mantan kesayangannya.. uwuu uwwuu hihi.."


"Luss!! gue serius, gue nggak mood bercandaan."


"Ih ceyyeemm! Iya bentar lagi uci pulang kok. Wait me ya sweaty. Muaach!"


Tuutt.. tutt..


Sejam berselang akhirnya lussi pulang. Aku langsung menceritakan semua yang baru terjadi antara aku dengan gilang. lussi pun terlihat sedikit kesal mendengar apa yang aku ceritakan dan sepakat akan mengenalkan temannya yang lussi tawarkan tempo itu.


Aku juga mengutarakan rencama awal balas dendam aku ke gilang lewat teman lussi itu. Aku jelaskan bahwa, kalau memang teman lussi itu tajir banget aku berencana meminjam modal untuk membuka sebuah toko tepat di samping  atau di depan distro gilang, karena aku tahu ada tempat yang di sewakan dan masih kosong tepat di samping dan di depan distro gilang.


Rencanaku adalah untuk menghancurkan bisnisnya, bisnis yang dulu aku bangun tetapi dia tidak tahu terima kasih. Ya sudah tanggung basah hancurin saja sekalian, toh aku lebih tahu seluk beluk mengenai kelebihwn dan kekurangan distro gilang.


Aku juga lebih tahu bagaimana untuk berbisnis distro terlebih dengan relasi ku yang hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Well, look like so easy to destroy his life! gilang! kau baru saja membangkitkan macan betina yang lama tertidur!


Dalam situasi seperti ini sepertinya bayu bisa menjadi senjata rahasia yang menghancurkan dari dalam. Terlebih dengan pengalaman dia menghancurkan usahaku dulu. Ah!


Tak lama lussi langsung menelepon temannya itu. Cukup lama lussi menelepon sementara aku masih mematangkan konsep pembalasan ini agar semuanya sempurna.