Love Is Only You

Love Is Only You
Bodoh



Berderetan lampu jalan yang redup sesekali berkedip karena usia itu memberi sedikit cahaya bagi para pejalan kaki. bangku bangku kayu tersedia di sekitarnya menjadi tempat bagi Rey dan Wina menenangkan diri. Keduanya terpaku dan terlihat sangat serius secara bersamaan. Saat Wina bercerita segalanya, Rey mendengarkan dengan seksama. Ketika Rey bertanya banyak hal, Wina menjawab singkat dan pasti. Sesekali Wina menggelengkan kepalanya sebagai tanda tak tahu, tak mengerti, dan tak ingin bercerita. Rey mencoba memahami dan mengatur emosinya yang berantakan.


“Kenapa dia tak pernah menceritakan semuanya padaku? Kenapa tak pernah mengatakan yang sejujurnya?” tanya Rey.


“Apa aku tak salah dengar?” tanya balik Wina.


“Apa maksudnya?” Rey bertanya tak mengerti dengan jawaban atas pertanyaannya.


“Rey, jujur saja aku tak mengerti kenapa kau bertanya seperti itu dan apa alasan Chaca tak bercerita seperti pertanyaanmu. Tapi jika sesuai dengan yang dikatakan oleh Chaca, maka aku yang harus bertanya padamu. Kenapa kamu tak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan? Dan kenapa kamu tak pernah mau percaya dengan apa yang dikatakannya?” penjelasan Wina panjang lebar.


“Dia ingin mengatakannya dan mencoba berbicara padamu sejak dulu, sejak dia masih tinggal bersama kalian. Juga ketika di sekolah hingga dia bahkan merasa sakit hati dengan kata-katamu dan teman-temanmu. Tapi dia tak bisa membencimu karena dia menaruh hati padamu.” tambah Wina sambil menatap Rey dengan serius.


“Kenapa aku begitu bodoh? Apa yang sudah aku perbuat?” sesal Rey membayangkan bagaimana sikapnya selama ini dan kesalahan yang diperbuatnya sejak lama.


“Apa dia sungguh sudah pergi?” tanya Rey terlihat berharap atas jawaban tidak.


“Ya, karena aku sendiri juga mengantar kepergiannya.” balas Wina.


“Apa sebelum dia pergi, dia berpamitan dengan kedua orangtuaku?” tanyanya lagi


“Iya, dia bilang itu untuk terakhirkalinya. Makanya dia ingin berpamitan dengan mereka. Seharusnya kamu juga sudah tahu dari kedua orangtuamu sendiri bukan?” jawab Wina lagi.


Rey mengusap wajahnya berualng-ulang mencoba membuatnya tetap kuat dan tak menangis. Penyesalan tengah memenuhi dirinya. Suasana malam yang semakin dingin itu diselimuti keheningan, keduanya saling dia dalam beberapa waktu. Seketika perbincangan dimulai kembali.


“Apakah kepergiannya ada hubungannya dengan kedatangannya terakhir kali di kafe waktu itu?” Rey membuka mulut lagi.


“Jika yang kau maksud ketika Chaca sampai berlutut dihadapanmu, akan ku jawab IYA. Itu adalah kesempatan terakhirnya yang diberikan Kak Sean padanya untuk meyakinkan dirimu bahkan meminta maaf padamu seperti itu.” Wina menjelaskan kembali.


“Kesempatan?” ucap Rey.


“Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang kesedihan dan penyesalanmu tak akan bisa membuatnya ada di sini secepat itu. Lakukan saja secara perlahan. Pulanglah ini sudah terlalu malam.” ucap Wina mengakhiri. Dia berlari pelan untuk pulang dan meninggalkan Rey sendiri.


***


Dua bulan berlalu dengan cepat. Musik yang lembut dan familiar terdengar memenuhi ruangan yang akrab dilihat oleh Rey. Pengunjung pagi itu cukup banyak hingga Rey dan kawan kerjanya hampir tak nampak karena tertutup oleh keramaian yang ada. Satu persatu antrian teratasi dalam waktu singkat. Rey berjalan kesana kemari mengantarkan pesanan dan sesekali bergantian menjaga kasir dengan temannya.


Rey masih bekerja di kafe seperti biasanya. Setiap jam makan siangnya digunakan untuk memeriksa blog yang biasanya digunakan Chaca untuk mengupload tulisan-tulisannya. namun semenjak Chaca masuk rumah sakit karena traumanya dulu hingga kepergiannya bahkan sampai sekarang, tak pernah ada satupun tulisan kirimannya lagi. Tiap terbuka yang dilihatnya selalu komentar yang kebanyakan isinya menanyakan kenapa penulisnya berhenti mengirimkan tulisan, kenapa si penulis hiatus terlalu lama. Akupun selalu meninggalkan pesan padanya dikolom komentar, “Bagaimana kabarmu? Maafkan aku.”. Pesan yang sama setiap harinya, namun tak pernah ada jawaban satupun sampai saat ini. Wina sesekali masih datang ke kafe namun tak sesering dahulu. Kedatangannya pun bersama rekan-rekan kerjanya, hingga membuat Rey tak berani menghampiri untuk bertanya mengenai Chaca.


“Rey kau sungguh pria bodoh. Kau sungguh bodoh. Kenapa kau berbuat hal bodoh dan menyakitinya. Dia tak bersalah, justru kaulah yang berulah. Kau sungguh tak bisa dimaafkan.” batin Rey berbicara pada dirinya sendiri.


Rey mengingat-ingat bagaimana dulu ketika dirinya bersama Chaca yang masih menjadi pasangan. Dia pun teringat bagaimana Chaca terlihat canggung jika didekatku. Dulu Rey pikir karena dia masih malu-malu karena mereka adalah pasangan. Namun, Rey sekarang berpikir bahwa apa terjadi karena cerita masa lalu mereka hingga membuatnya terlihat ragu-ragu jika bersama. Bahkan dalam memori Rey sepanjang kebersamaannya dengan Chaca justru terlihat jika Chaca lah yang lebih mengerti Rey dibanding dirinya sendiri.


Lamunan Rey hilang ketika ponselnya berbunyi tiba-tiba di hadapannya saat berada di meja kasir. Diapun melayani pelanggan lebih dulu lalu mengambil ponselnya dikantong celananya. Rupanya pesan dari Wina. Rey nampak antusias atas pesan tersebut. Terlihat dia meminta teman disampingnya menggantikannya menjaga kasir. Dia beranjak dari tempatnya dan pergi menyendiri. Dia menerima pesan berisi foto Chaca bersama kakaknya yang sedang pergi makan bersama. Meski nampaknya didalam foto itu Chaca tak tahu jika di foto oleh kakaknya.


“Ini foto Chaca hari ini. Aku meminta kak Sean memperlihatkan bagaimana Chaca saat ini dengan alasan merindukannya. Dia mengirimkan foto itu. Ku kirimkan padamu juga, kupikir kau juga ingin tahu kabarnya kan?” isi pesan Wina selanjutnya.


“Terimakasih Win, Aku senang melihatnya baik-baik saja.” pesan balasan Rey selanjutya.


Setelah membalas pesan Wina, Rey kembali membuka foto yang dikirimkan itu. Dia memperhatikan bagaimana wajah gadis yang tengah tertawa dan menikmati makanannya. Nampak sangat segar dan bahagia.


“Syukurlah kau baik-baik saja. Senang melihatmu bahagia Cha. Aku merindukanmu.” ucap pelan Rey seakan untuk didengar dirinya sendiri.


Rey menutup ponselnya dan menyimpannya lagi. Dia melanjutkan pekerjaannya dengan wajah lebih bertenaga, seolah telah menerima energi yang memberinya energi lebih. Rey juga ingat akan kata-kata Wina malam itu bahwa jika ingin menyesali tak ada gunanya. Lebih baik perbaiki secara perlahan dan bertahap. Maka aku akan mulai dengan mengenalmu dulu dengan lebih baik dan lebih banyak lagi. Semoga langkahku tak akan sia-sia dan juga bisa memperbaiki kesalahanku selama ini.


“Cha tunggu aku! Aku akan berusaha memperbaiki diriku dan memperbaiki kesalahan yang ku perbuat padamu. Ku harap kau akan menerimaku lagi. Tetaplah bahagia Cha! Kau sangat berhak akan itu. Semoga kita bisa bertemu, berhadapan dan tersenyum bersama lagi. Dan yang paling aku harapkan adalah semoga kau memaafkanku.”