
Jika diharuskan untuk memilih dua pilihan antara musim dingin atau musim panas, manakah yang akan banyak dipilih? Pilihan bisa saja musim dingin ketika musim yang sedang mereka alami adalah musim panas. Begitu pula mereka akan memilih musim panas ketika sedang melewati musim dingin. Alasannya sederhana, karena mereka sudah merasa bosan dengan apa yang baru saja mereka lalui dalam jangka waktu cukup lama. Ketika banyak yang mengeluh tentang bagaimana panasnya cuaca yang membuat mereka seringkali berkeringat bahkan ketika tak banyak bergerak bahkan membuat hari-hari terasa melelahkan. Itulah kenapa banyak pilihan tertuju pada musim dingin. Mereka merindukan bagaimana rasa beku dengan angin yang dingin akan sangat menyegarkan dimusim panas. Alasan sebaliknya juga berlaku bila mereka mulai merindukan bagaimana hangatnya cahaya matahari pada musim yang dinginnya sampai merasuk ke dalam tulang.
“Apa yang kamu tulis?” mengejutkan Chaca yang terfokus pada tulisannya.
“Bukan apa-apa hanya ingin mencatat ide saja,” memutar kursinya sehingga mengarah pada tempat dimana Wina menikmati segelas teh panasnya.
“Bahkan kamu hanya membuat untukmu sendiri?” menyindir kawannya yang dengan santai menikmati minumannya.
“Kau mau? Ambilah!” katanya. “Sudah kubuatkan tapi ku taruh di meja makan,” Wina berdiri dan keluar dari kamar.
“Cepat keluar! Jangan bilang lagi kalau aku tega tidak membuatkan sarapan juga,” celotehnya menyindir, takut jika Chaca mengira dirinya tak peduli.”
Setelah seharian berkeliling akhirnya Wina benar-benar menginap. Jika kemarin dia tak segera menyelesaikan pekerjaannya mungkin saja hari ini dia akan bekerja lagi. Berhubung semuanya sudah diselesaikan olehnya, itulah kenapa dia berani menginap di tempat Chaca.
“Aku harus meminta bonus kepada kak Sean.”
“Kenapa?” tanya Chaca yang menyantap sarapannya.
“Coba lihat ini,” merentangkan tangannya mengarah ke seluruh meja makan. “Jika aku tidak di sini dan membuat sarapan, aku yakin kamu pasti akan melewatkan sarapanmu bukan?”
“Mana mungkin,” jawab Chaca cepat namun terdiam setelah memikirkan bagaimana hari-hari sebelumnya. “Kamu benar,” jawabnya kemudian. “Akan ku bantu meminta bonus pada kakak,” candanya dan kembali menyantap makanannya.
“Haruskah aku menjadi kakak perempuanmu saja?” ucap Wina tiba-tiba. Mendengar pertanyaan itu, Chaca tersedak dan segera mengambil air minum. Setelah reda, Chaca membalas, “Maksudmu kau dengan kak Sean,” mengkedip-kedipkan mata berulang-ulang.
“Seperti yang kamu pikirkan,” jawab Wina seolah tahu apa yang dimaksud oleh Chaca.
“Aku harus memperingatkannya,” ucap pelan Chaca.
“Apa maksudmu memperingatkan?” lirikan seakan langsung menusuk di lemparkan Wina.
“Aku harus peringatkan kak Sean untuk berhati-hati dengan calon kakak perempuan ini,” ucapnya masih dengan pelan.
“Awas saja kalau kamu menjelek-jelekanku dihaapan kak Sean.”
“Sudah,” mencoba melerai. “Makan saja sarapanmu,” lanjut Chaca dengan tawa yang tertahan.
***
Meletakkan setumpuk berkas tebal dengan pasrah di meja yang hampir tak ada ruang itu membuat seseorang yang menunggu Vin di ruangan yang sama sadar akan kedatangan Vin di sana.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Ah, kak Sean. Kakak di sini rupanya.”
Menyadari dirinya juga lelah, Vin mendekat ke arah Sean dan ikut menyandarkan diri ke atas sofa di samping Sean.
“Kurasa bukan hanya kakak,” ucapnya kemudian. “Aku baru saja bertemu sebentar dengan Chaca, tapi sudah tak bisa bertemu lagi sekarang.”
Sean langsung menoleh dengan alis terangkat seakan terkejut mendengar Vin mengucapkan itu dengan santai dihadapannya.
“Kau sadar dengan ucapanmu?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja,” jawab Vin yang masih dengan memejamkan mata sambil bersandar. “Sudah kubilang aku akan mendapatkannya dan kakak sudah menyetujuinya bukan?” langsung merubah posisi dan terduduk tegap mengarah ke Sean.
“Kenapa?” mempertanyakan ekspresi yang diarahkan padanya.
“Apa kakak tidak memberikanku dukungan?” ujar Vin tajam.
“Setahuku, jika ingin diberi dukungan harusnya kamu bersikap baik. Tapi entah kenapa aku merasa ada laser yang mengarah padaku dengan tatapanmu itu,” canda Sean setelah melihat sikap Vin yang hampir jadi manja.
“Hah,” hela panjang Vin kembali menyandarkan diri. “Tinggal sedikit lagi, mungkin tinggal 2 sampai 3 hari semuanya akan selesai.”
“Benar, sedikit lagi. Kita akan menyusulnya. Jadi selesaikan ini dengan baik,” menepuk pundak Vin sebagai penyemangatnya.
***
Menikmati hari liburnya, Wina dan Chaca memutuskan tetap di rumah dan tidak pergi keluar. Seperti rumahnya sendiri, Wina menyalakan tv dan dengan santai menonton di sana setelah mandi sebelumnya. Chaca yang baru selesai mandi pun menyusul temannya yang sudah terpaku dengan apa yang ditontonnya. Baru saja dia duduk disamping Wina, bunyi bel rumah terdengar.
“Cha, buka pintunya. Aku masih ingin menonton adegan ini,” ujar Wina tanpa memalingkan pandangan dari tv. Chaca masih terdiam dan bingung mengenai siapa yang datang padahal tak banyak yang tahu tentang keberadaannya di rumah.
“Cepat buka, dia membunyikan bel terus-menerus,” ucap Wina lagi. Tersadar seperti yang Chaca rasakan, kini Wina menoleh dan menatapnya. “Kau... punya tamu?” tanyanya kemudian.
Keduanya terdiam dan mencoba memikirkan siapa yang datang. Bunyi bel berikutnya membuat keduanya tersadar dari lamunan.
“Ah, mungkin tetanggamu. Mungkin mereka melihatmu pulang kemarin. Serang mereka ingin menyapamu. Coba lihatlah!” kembali fokus pada tontonannya.
“Aku sungguh tak bisaberkata-kata lagi dihadapanmu. Akan kubiarkan kali ini,” Chaca pun menyerah dan berdiri. “Baiklah, mari lihat siapa yang datang,” ucapnya masih berdiri dan menatap Wina yang sama sekali tak merespon. “Lihat terus tontonanmu. Jangan sampai terlewat satu adegan pun,” sindirnya lalu melangkah menuju pintu.
Heran dengan tingkah temannya, membuat Chaca pasrah dan mencoba melihat siapa tamu mereka. Suara kunci pintu yang diputar dua kali membuka pintu kayu yang tak terlalu besar itu pada akhirnya. Melihat seseorang berdiri membelakangi, Chaca mencoba mengamati sejenak tamunya itu. Tamunya menoleh ketika mendengar sapaan Chaca dari belakang. Senyum ramah yang sebelumnya Chaca persiapkan diwajahnya, perlahan menghilang ketika semakin jelas wajah dari tamu yang datang.
“Hai,” sapanya setelah tahu pintunya dibuka. Wajah yang terlihat tersenyum nampak dihadapan Chaca. Keduanya saling pandang dan hanya terdiam. Chaca yang masih sedikit terkejut dengan tamunya, dia memejamkan mata dan menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
“Kamu,” katanya. “Untuk apa datang kemari?”
Siapa sangka, waktu yang sudah cukup dianggap tenang justru mendatangkan kotak yang telihat berharga dihadapan seserang yang menantikan sebuah ketenangan. Menginginkan sebuah hal yang berharga dengan mendapatkan kotak itu digenggamannya. Namun siapa sangka, kotak yang terlihat sangat berharga dan nampak seperti sesuatu yang akan sangat dibutuhkan, justru merupakan sebuah kotak yang berisi kutukan dari sumber masalah yang besar dan tak diinginkan. Seperti kotak pandora yang bersinar dalam kegelapan namun membawa kegelapan yang lebih pekat didalam kotaknya.