
“Kamu mau kemana nak? Rapi sekali, apa ada acara?” tanya wanita paru baya dihadapanku.
“Ada yang ingin ku bicarakan dengan bibi.” jawabku.
“Baiklah duduklah dulu.” balasnya sambil meletakkan kursi yang baru digunakannya tadi ke arahku. Namun sebelum dipegangnya, aku sudah mendahului mengambilnya karena takut merepotkan wanita yang sedang sakit itu.
“Bagaimana keadaan paman?” tanyaku.
“Dia baru saja tertidur, maaf ya tapi aku tak mau membangunkannya.” jawabnya karena dipikirnya aku memintanya untuk membangunkan paman.
“Tidak perlu, aku juga akan melakukan hal yang sama jika jadi bibi. Biar saja paman tidur, dia butuh istirahat agar segera pulih.” jawabku sambil memandang pria tua yang terbaring itu.
“Bibi” ucapku sembari meraih dan menggenggam tangannya.
“Aku akan pergi dengan kakak.” singkat kata yang kuberikan dengan wajah tertunduk dan sesekali memandangnya.
“Ke mana?” tanyanya. Bukanya menjawab justru aku hanya diam seolah ingin mengatakan bahwa aku tak bisa memberitahunya.
“Apa ke tempat yang sangat jauh?” tambahnya seakan mengerti. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
“Apa pergimu cukup lama?” tanyanya lagi.
“Aku rasa cukup lama.” ucapku akhirnya.
“Apa kamu tidak akan kembali?” dirinya kembali bertanya.
“Aku tak yakin, tapi sepertinya iya.” balasku.
“Maaf bibi seharusnya aku bisa membalas budi kepada kalian tapi aku justru ingin melarikan diri seperti ini.” tambahku.
“Bahkan kamu menjadi gadis baik seperti sekarang dengan hidup tanpa kami. Bagaimana bisa kamu berhutang dengan kami. Jangan berpikir seperti itu.” perkataanya membuatku ingin menahan tangis. Aku tak inign terlihat sedih dihadapannya.
“Bibi, aku tak bisa lama. Aku mohon sampaikan ke paman. Katakan pula bahwa aku sangat berterima kasih atas segalanya.” kataku, lalu berdiri hendak pergi.
“Kamu sudah berpamitan dengan Rey?” kata bibi membuatku berhenti melangkah.
“Oh ya bibi. Bisakah bibi merahasiakan tentang ini juga?” pintaku.
“Jadi kamu masih belum memberitahunya bahwa kamu sudah bertemu bibi dan paman? Apa kepergianmu karena Rey?”
“Tidak. Ini keputusanku sendiri Bi.” sangkalku.
“Aku pergi dulu, selamat tinggal bibi dan paman.” ucapan terkahirku kepada mereka sebelum keluar dari kamar itu.
Aku kembali ke tempat Kak Sean dan Wina berada. Sebelum sampai di parkiran aku membenahi diri dan mengusap air mataku. Kami bertiga melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di bandara. Beberapa urusan Kak Sean juga telah selesai sebelumnya, kini tinggal menunggu jam keberangkatannya saja. Wina duduk tepat di sebelahku, dia sesekali bercerita dan memasang raut sedihnya karena akan berpisah denganku. Kak Sean yang berada di sisi lainya nampak tenang dengan sesekali memandang jam tangannya. Aku juga, sesekali melihat sekitar dan berharap entah apa itu sampai mengabaikan ocehan Wina kepadaku. Hari ini dan tinggal beberapa jam, aku akan benar-benar pergi. Bisa di bilang bahwa aku memang menyerah dari Rey atau aku memang pengecut yang tak berani untuk memperbaikinya.
Tiba akhirnya, Kak Sean menggandengku untuk segera pergi. Aku berpamian untuk terakhir kalinya dengan Wina di sana. Dia melambaikan sebelah tangannya lalu setelah berbalik aku mendengarnya berteriak.
“Chaca..... Sampai jumpa lagi.” saat itulah aku kembali melihatnya dan rupanya, kini kedua tangannya yang digunakan untuk melambai. Aku membalas lambaiannya namun dengan membelakanginya saja.
***
“Bu aku bawakan makanan kesukaan ibu. Apa ayah masih tidur?” tanyaku saat menjenguk kedua orang tuaku setelah pulang kerja.
“Rey kamu sudah pulang rupanya, kenapa hari ini cepat sekali?” tanya ayahku yang ternyata sudah bangun sejak tadi.
“Karena kafe sedang sepi, pemiliknya mengijinkanku untuk pulang awal. Jadi aku kemari lebih cepat.” jawabku setelah meletakkan makanan di atas meja.
Setelah cukup lama di ruangan itu, aku baru sadar dengan aroma yang tercium, seperti bau parfum tapi ayah dan ibu tidak pernah menggunakan parfum selama di rumah sakit. Tidak lama atas rasa penasaran itu, Seorang perawat masuk untuk memberi vitamin untuk ayahku.
“Loh... tuan, anak laki-lakinya sudah datang ya? lalu kemana putrinya, bukannya tadi baru saja ada di sini?” ucap si perawat.
“Saya pikir akhirnya saya bisa melihat kalian berempat bersamaan.” tambahnya lagi sambil tersenyum.
“Baiklah vitaminnya sudah saya berikan dan sudah diminum. Kalau begitu saya permisi. Lekas sembuh nyonya dan tuan.” si perawatpun pergi. Kini aku yang ingin memastikan sesuatu.
“Apa maksudnya putri kalian?” rasa penasaranku melihat keduanya saling tatap seolah membenarkan perkataan perawat tadi. Aku pun dengan beruntun mengajukan pertanyaan hingga ayah dan ibu menjelaskan segalanya menengai siapa putri yang dimaksud, siapa yang baru datang dan kejadian-kejadian sebelumnya. Aku sempat tak berkata setelah mendengarnya. Meski aku tak sepenuhnya percaya namun ceritanya cukup meyakinkan.
“Aku akan pulang dulu. ayah dan ibu istirahatlah lagi. Nanti malam aku akan kemari lagi.” ucapku sebelum pergi. Rasanya aku butuh memahami kembali apa yang terjadi.
Aku tiba di rumah, merebahkan diri di atas kasur yang tak besar namun tak kecil juga. Aku tiba-tiba terpikirkan apa alasan Chaca sebenarnya, dia bahkan sudah tahu bahwa ayah dan ibu sakit dan sudah sering sekali menjenguk mereka. Apa karena merasa bersalah dia melakukan semua itu. Lalu kenapa selalu di sekitarku namun tak pernah mengajak bicara aku lebih dulu. Jika dia memang merasa bersalah seharusnya dia tak marah ketika aku membalasnya kala itu. Lalu kenapa juga dia punya trauma semacam itu. Dia berpura-pura agar aku merasa simpati dan memaafkan dia, apa begitu? Aku terus saja berbicara pada diriku sendiri. Pikiranku penuh dan merasa bersalah padanya.
“Ah.... apa yang sebenarnya ku pikirkan? Aku tak peduli padanya. Baguslah kalau dia pergi jauh dari kehidupanku ini.” ucapku dalam hati. Aku memutuskan untuk keluar rumah dan mencari udara segar. Tak sengaja aku berpapasan dengan seorang yang sudah lama tak pernah ku lihat. Dia temanku saat sekolah dulu, seorang yang sama dengan yang kutemui Andromeda Park dulu.
“Wah apa ini Rey, lihatlah dia ini yang heboh dibicarakan di forum alumni kita kan?” kata-katanya mengejek bersama kawannya yang berada di sampingnya. Aku tak menggubrisya dan berlalu. Namun dia menahanku dan mulai berbicara lagi.
“Tunggu dulu, kenapa buru-buru. Seharusnya kamu kan menanyakan kabar temanmu ini yang sudah lama tak kau temui.” ucapnya sambil tersenyum dan tertawa.
“Bagaimana denganmu? Bukannya bertanya kabar tapi justru membahas gosip saat bertemu.” sindirku.
“Beraninya kamu..” rautnya berubah marah setelah mendengarku. Tangannya yang cukup besar itu menarik kerah bajuku dan memandangku penuh amarah. Aku menarik tangannya dan menghempaskannya.
“Pergilah!” kataku.
“Hei jangan sombong Rey. Melihat videomu yang membalas dendam pada Chaca itu cukup mengejutkan loh... Tak habis pikir aku, kalau kau masih membencinya sampai saat ini. Sekarang aku bersimpati pada Chaca, dia tak bersalah dan disalahkan kemudian selama ini pun justru mendapat dendam dari orang yang menyalahkan, dipermalukan dan ku dengar dia sudah pergi ke Amerika. Benarkah?” ocehnya membuatku semakin kesal.
“Yah, aku merasa bersalah padanya sudah mempermainkan kalian seperti itu. Kau tahu, sebenarnya kami memang bertaruh atas perhatian orang tuamu tapi taruhan yang sebenarnya adalah kebalikannya. Kau mengertikan maksduku?” ocehannya kali ini diiringi tawa kemenangan sekaligus membuatku terpaku.
“Apa maksdumu?” kini ganti aku yang menarik kerahnya, kepalan tanganku serasa siap meninju wajah menyembalkannya.
“Sudah aku jelaskan bukan? Aku yakin kau sudah mengerti.” ucapnya dan menyinkirkan tanganku lalu pergi begitu saja sambil tertawa lagi. Aku masih terdiam dibuatnya. Bertanya-tanya apa ini sungguhan. Kenapa dengan hari ini, seolah semua kebenaran akhirnya terbuka tapi terungkap terlalu terlambat. Ketika si tokoh utama telah pergi dengan cukup terluka.
Aku berjalan dan berjalan tanpa arah. Malam semakin malam keramaian berangsur-angsur menjadi keheningan. Tanpa kusadari langkahku menuju tengah jalan. Hingga suara klakson kendaraan berbunyi terus menerus itu menyadarkanku. Rupanya seseorang menarikku menyingkir dari tengah jalan. Dia meneriakiku, memarahiku dan memukul kepalaku.
“Win...” saat sadar orang itu rupanya Wina.
“Gila kamu, cari mati ya?” marahnya dan masih memukulku dengan tasnya.
“Bagaimana kamu di sini?” tanyaku masih syok.
“Aku mau jalan pulang, lalu melihat pria bodoh yang berjalan ke tengah jalanan.” ucapnya dengan tangannya yang menunjuk ke arahku.