Love Is Only You

Love Is Only You
Rasa Takut



Sekelilingku gelap dan ada begitu banyak suara bising yang membuatku takut sekaligus gelisah secara bersamaan. Sesaat kemudian mulai nampak meski tidak begitu jelas, aku yakin itu seperti segerombolan laki-laki yang menghampiriku. Suaranya terdengar mencemooh. Aku bertanya pada diriku sendiri apakah mereka sedang berbicara padaku, tapi bukannya menjawab justru suaranya semakin jelas...


“Dasar wanita tidak tahu diri, dia menjijikkan, dia anak itu, dia anak pem....”


“Tidaaaak!!!!” Aku terbangun dengan keringat yang memenuhi wajahku. Napasku tidak beraturan pandanganku seketika kosong. Perlahan aku bersandar dan mengusap wajah untuk membuatku tersadar bahwa ini hanya mimpi. Beberapa saat akhirnya aku merasa lebih tenang, Aku melangkah dan mengambil segelas air di dapur.


“Kenapa aku bermimpi lagi?” tanyaku dalam hati. Sejak kemarin rasa hatiku gelisah bahkan ingatan yang ingin kubuang harus hadir kembali. Seolah semua ini memintaku untuk berhenti dari apa yang ingin kulakukan. Rey, apa dia sungguh tidak mengenaliku lagi. Kita pernah bertemu saat kecil bahkan kita sudah seperti keluarga karena kedua orang tuanya menampungku. Sejujurnya aku sangat berharap bahwa kau tak mengingat masa itu Rey.


Hampir satu bulan sudah aku dan Rey berteman. Kami bertiga termasuk Wina sering bertemu dan menghabiskan waktu seperti biasa. Terasa seperti kehidupan pertemanan pada umumnya. Berkali-kali aku menyakinkan diriku sendiri untuk melupakannya dan memulai semuanya seperti tidak pernah terjadi apapun dimasa lalu, tapi selalu saja teringat hingga sesak rasanya.


“Cha, kamu kenapa?” seseorang melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku. Rupanya Wina sedang memperhatikanku yang melamun.


“Ah, tidak ada apa-apa, Aku hanya sedang memikirkan tulisanku.” Belaku.


“Kamu yakin? Sepertinya kamu banyak pikiran hari ini.” tambah Rey. Kami bertiga sedang berkumpul di kafe biasanya. Hari ini Rey tida mendapat jam bekerja. Kami sering berkumpul di sini karena tempat ini jadi titik tengah bagi kami. Cukup nyaman dan tidak terlalu jauh dari rumah masing-masing.


“Iya aku yakin. Kalian tenang saja.”


“Kamu itu selalu seperti ini, jangan terlalu memikirkan tulisan-tulisanmu itu. Nikmati saja waktu istirahat seperti ini.” oceh Wina sembari meletakkan camilan dihadapanku.


“Baiklah Yang Mulia, saya mengerti.” candaku dengan tersenyum.


“Nah, Yang Mulia dan Tuan Putri mari nikmati hari ini, esok dan seterusnya.” sambung Rey dengan canda.


Tak terasa langit meredup dengan diiringi cahaya lampu yang menyala satu persatu. Kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Aku dan Rey berjalan bersama karena searah berbeda dengan Wina yang berlawanan arah dengan kami.


“Cha,” panggil Rey menghentikanku dari langkahku.


“Ya, kenapa berhenti?” tanyaku padanya karena melihatnya berhenti.


“Bolehkah aku mengulang lagi keinginanku dulu?” katanya.


“Keinginan? Apa maksudnya?” Aku penasaran dengan pandangannya yang samar terlihat seolah ragu.


“Bisakah kita mulai berpacaran? Kita sudah saling mengenal sekarang. Dulu kamu bilang tidak karena kita baru saja bertemu dan sekarang bisakah kita...”


“Aku mau.” selaku cepat.


“Aku rasa aku juga memiliki perasaan itu padamu.” tambahku, “bahkan sejak kau tak mengetahuiku yang sudah lama memperhatikanmu.” batiku dalam hati. “Meski aku juga takut, tapi aku juga ingin mencoba melangkah maju.” pikirku sendiri.


“Benarkah?” tanyanya dengan raut wajah yang betitu bahagia. Seperti sedang melihat dirinya yang lain, bukan tapi lebih tepatnya seperti dirinya yang dulu sebelum tragedi itu dimulai. Dia tiba-tiba memelukku berberapa kali, melontarkan senyum lebar dan menggandeng tanganku sepanjang jalan. Aku sendiri hanya seperti patung dan tidak percaya dengan yang kualami. Akankah ini baik-baik saja atau bahkan akan semakin buruk.


Dia akhirnya mengantarku sampai depan rumahku.


“Kita sudah sampai. Terimakasih sudah mengantarku, sekarang pulanglah.” pintaku.


“Rey, kamu mendengarku?” tambahku karena dia hanya diam dan masih tak melepas tanganku.


“Maaf, aku hanya terlalu senang sampai tak melepas tanganmu. Aku pulang dulu, sampai ketemu lagi ya.” diapun berbalik dan pergi. Baru saja melangkah dia berbalik dan berteriak, “Mimpi indah pacarku!”, malu rasanya mendengar ucapannya saat itu. Akupun merasa senang dan sulit percaya bahwa aku berpacaran dengannya.


Aku menyandarkan tubuhku di sofa sembari melihat ponselku. Segelas air putih yang aku ambil sebelumnya kuletakkan dimeja. Aku mencoba mengirim pesan kepada Rey, apakah dia sudah samapai di rumah atau belum. Tidak sampai menunggu lama, balasan darinya tiba.


“Aku baru saja sampai di depan rumah, kamu sudah langsung merindukanku ya?” balasanya.


“Baiklah pacarku. Segeralah tidur jangan begadang terlalu malam.” balasannya diakhir. Aku hanya tersenyum melihat balasannya. Akupun membuka catatan dan mengerjakan tulisanku lagi, baru saja hendak menulis, berkali-kali notifikasi di ponsel terus berbunyi. Karena penasaran, aku membukanya. Chat dari Wina rupanya.


“Cha, kurasa kamu harus melihat ini.” sisi pesannya. Dia mengirimiku sebuah foto beserta komentar-komentar yang sedang jadi topik pembicaraan.


“Cha, sepertinya ada yang memotretmu dengan Rey saat pulang tadi dan banyak yang berkomentar buruk tentangmu seperti itu.”


“Jangan terlalu dipikirkan ya Cha? Ingat, aku akan selalu dipihakmu.”


“Cha...”


“Cha...”


Aku hanya membacanya dan tak membalas. Aku bahkan hampir tak bisa bergerak dan terdiam cukup lama. Mendadak pikiranku jadi tak karuan sampai ponsel yang kugenggam terjatuh tanpa kusadari. Bukan masalah fotonya tapi komentar itu membuatku ketakuan setengah mati. Bayangan tentang komentar itu seperti dimimpiku. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.


“Apa itu Rey?


“Siapa wanita itu? sepertinya hanya wanita biasa”


“Dia kan wanita yang sering di kafe? Kalau tidak salah namanya Chaca.”


“Chaca? sepertinya nama itu familiar, siapa dia?”


“Chaca...apa mungkin Chaca anak pembunuh itu?”


“Apa? Pembunuh? Gila wanita seperti itu dekat dengan Rey. 😱😱😱”


“Dia bahkan selalu berada disekitar Rey, apa yang dia rencanakan. 🤨🤨”


“Rey pasti di paksa olehnya. Dia tidak cocok dengan Rey. 🥺”


“Dasar wanita menjijikkan!!!! enyahlah dari Rey.😤”


“Jangan ganggu Reyku.”


Aku langsung membanting ponselku hingga membentur tembok dan hancur begitu saja. Aku hanya bisa menangis dalam keheningan tanpa siapapun.


“Ibu, apa salahku? Aku membutuhkan ibu disisiku. Kenapa ibu justru meninggalkanku sendiri? Aku takut bu, aku takut sendirian.” ucapku dalam hati.


Meski aku sudah berusaha menahannya tapi aku sudah tak sanggup menampungnya lagi. Air mataku terus saja mengalir seenaknya. Emosiku meluap aku menghempaskan barang-barangdisekitarku. Akupun hampir melukai diriku sendiri dengan pecahan gelas. Aku menggenggamnya dengan erat hingga darah mengalir tanpa kusadari. Hilang akal sudah aku saat ini, sampai lupa bahwa aku takut dengan darah. Tiba-tiba dadaku rasanya sesak dan aku kesulitan bernafas.


Ketika aku berpikir akan kehilangan kesadaran, seseorang mengetuk pintu rumah berkali-kali dan cukup keras. Aku sudah tak bisa berbicara, suaraku tak mau keluar. Hingga aku mendengar pintu didobrak.


“Cha, apa yang terjadi?” Samar-samar terlihat rupanya Wina datang dan langsung memelukku. Dia mengambil pecahan kaca ditangaku dan membalut tanganku dengan saputangannya. Dia memapahku dan membawaku ke rumah sakit. Dalam perjalanan di dalam ambulan dia terlihat sangat mengkawatirkanku.


“Kumohon bertahanlah Cha! Aku mohon tetap sadar oke.” Dia terus menggengam tanganku. Genggamanya sangat erat dan hangat. Aku bisa merasakan perlahan aku merasa sedikit lebih tenang meski aku mulai merasa sangat lemas tak bertenaga.


“Win....naa, ma...af.” susah payah aku mengeluarkan kata-kata.


“Sudahlah jangan berbicara dulu. Kita hampir sampai, bertahanlah!”, ucapannya memberikanku kekuatan namun mataku rasanya sangat lelah hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.