
Berapa prosentase atas kepercayaan pada sebuah KEBETULAN? Katanya KEBETULAN lebih banyak dijadikan sebagai alasan menanggapi suatu kejadian yang bersamaan dan tepat pada waktu yang sama. Namun tak sedikit yang berkata bahwa KEBETULAN adalah hasil dari perencanaan yang dibuat matang sebelumnya. Sehingga ketika terjadi maka akan nampak alami dan dibuat secara kebetulan. Jika dipikirkan, KEBETULAN itu kejadiannya hanya sekali atau dalam arti lainnya adalah jarang terjadi dikisaran waktu yang lama. Sedangkan bila terjadi terlalu sering bukan lagi sebuah KEBETULAN melainkan kebiasaan.
Kebetulan, suasana canggung dan mengejutkan dibarengi cuaca mendung dan bergemuruh. Kebetulan pula setelah beberapa menit, hujan turun cukup lebat. Dua orang di teras rumah nampak masih terdiam dan tak menghiraukan cipratan lembut dari hujan yang turun. Sampai sebuah panggilan membatu keduanya mengedipkan mata yang membuat mereka mengatur emosi kembali.
“Cha, sepertinya diluar hujan. Bukankah tamunya lebih baik disuruh masuk saja,” kata Wina yang menghampiri Chaca karena mendengar suara hujan dan gemuruh yang terus menerus. Kehadiran Wina yang masih membawa makanan ringan ditangannya itu spontan terdiam mendapati siapa tamu yang ada di sana adalah Rey. Dia langsung menhentikan kunyahan makanan dimulutnya dan memandang Chaca kemudian.
“Cha,” nada khawatir Wina melihat Chaca yang mengusap-usap lengannya.
“Udaranya semakin dingin, masuklah dulu sambil menunggu hujan reda. Akan kubuatkan minuman hangat,” saut Chaca yang langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah. Wina dan Rey hanya melihat sayu ke arah Chaca yang masuk ke dalam.
“Kamu dengar kan? Masuklah!” ungkap Wina pada Rey dengan sinis. Wina melangkah lebih dulu dan menutup pintu setelah Rey melangkah masuk. Kedua orang itu menuju ruang tamu dan duduk di sana dengan sedikit canggung.
“Terimakasih,” ucap Rey setelah dipersilahkan duduk oleh Wina.
Suasananya sudah sangat dingin ditambah ekspresi Wina yang juga dingin membuat Rey ingin mendapatkan topik pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu Win?”
“Seperti yang kau lihat?”
“Kau juga marah padaku?” tanya Rey lagi.
“Seperti yang kau lihat,” jawab Wina sama.
“Kau marah pada,” ucap Rey dengan mengangguk, menandakan tebakannya benar.
“Aku tahu aku salah, aku tak akan lagi membuat kesalahan seperti ini. Aku akan memperbaikinya.”
“Aku tak tahu harus percaya atau tidak. Yang ku tahu kata-katamu sama seperti ucapanmu dulu,” ujar Wina nampak kecewa. “Rey, dulu aku sangat mendukungmu berbaikan dengan Chaca sampai memberimu informasi tentang Chaca saat di Amerika. Tapi sekarang,” jelasnya dengan mengambil napas panjang. “Urus dirimu sendiri. Jangan mengganggunya lagi.”
Panjang lebar Wina mengeluarkan kekecewaannya terhadap Rey. Sedangkang Rey hanya bisa mendengarkan setiap kata dari ucapan itu tanpa penolakan. Dirinya merasa semua yang dikatakan adalah kebenaran. Sampai kedatangan Chaca yang membawa nampan menggantikan kesunyian yang terjadi di sana.
“Minumlah! Hati-hati masih panas,” ucap Chaca sambil meletakkan nampannya dan duduk di samping Wina.
“Terimakasih Cha. Maaf merepotkan,” balas Rey. “Kapan kamu tiba di sini?” tanyanya kemudian.
“Bukankah kamu sudah tahu, itulah alasanmu kemari saat ini,” saut Chaca. “Karena tahu kepulanganku, makanya kamu datang kemari,” tambah Chaca dengan nada dingin. Jawabannya pun tanpa melihat ke arah Rey.
“Kau benar, sepertinya ucapanku kubuat terlalu terlihat seperti alasan,” bela Rey dengan perkataannya. “Namun alasan itu memang ku cari untuk bisa datang kemari.”
Suasananya lagi-lagi kembali sepi, hanya terdengar gemuruh dan derai hujan di luar sana. Uap dari tiga gelas di atas meja semakin lama semakin menghilang. Ketiga orang di ruangan yang sunyi itupun masih memutar otak mencari bahan pembicaraan untuk mencairkan suasana.
“Cha,” sela Rey mengawali lagi.
“Minumlah! Minumannya hampir dingin,” ucap Wina menyela karena khawatir pada perubahan sikap dari Chaca. Rey mengikuti pinta Wina dan menghentikan ucapan yang ingin dikatakan dalam dua teguk minumannya.
Hujan masih nyaman dalam adegannya. Hari yang cerah seketika diselimuti kegelapan. Menyadari waktu berlalu sangat cepat, pria yang canggung itu sering menengok arloginya untuk memastikan waktu. Melihat kegelisahan itu, Wina membantu berbicara.
“Kamu sepertinya sibuk. Apa perlu kupanggilkan taksi untuk mengantarmu pulang?” kata Wina.
“Ah, itu...” ucap Rey.
“Hujannya sangat deras kurasa perjalanan akan macet. Padangan akan terganggu saat hujan lebat seperti ini. Sekarang pun sudah terlalu malam,” ucap Chaca berusaha tenang. “Lebih baik menginaplah malam ini. Pulang besok pagi saja,” saran Chaca akhirnya.
Mendengar kawannya mengatakan itu, membuat Wina sedikit tak habis pikir. Antara khawatir atau terlalu takut.
“Tidak usah Cha aku akan pulang saja,” ucap Rey.
Menunggu dan masih terus menunggu, taksi yang dipesan tak kunjung datang seolah membenarkan apa yang dikatakan Chaca sebelumnya. Rey dan Wina hanya saling melempar tatapan setelah Chaca memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu.
Setelah beberapa saat, Chaca kembali muncul dan membawa selimut tebal yang cukup merepotkan untuk dibawanya dan mendekat ke ruang tamu lagi.
“Kuantar ke kamarmu, istirahatlah di sana. Kurasa taksimu tak akan datang. Batalkan saja,” ucap cuek Chaca sambil berusaha menoleh dari balik selimut yang hampir menutupi badannya.
“Biar kubawakan,” Rey menawarkan bantuan.
“Terimakasih,”
“Kalau begitu aku akan ke kamar duluan Cha,” ucap Wina mencoba memberi ruang untuk kedua orang itu.
“Baiklah, istirahatlah dulu.”
Rey mengikuti langkah Chaca menuju kamar yang disiapkan untuknya. Pintu yang terbuka menampilkan ruang sederhana dan cukup bersih karena Chaca selalu mebersihkannya untuk jaga-jaga bila kakaknya pulang lebih cepat.
“Istirahatlah di sini,” ungkap Chaca mempersilahkan Rey masuk. Langkahnya memasukki kamar dan meletakkan selimut yang dibawanya di atas tempat tidur. Diapun melihat sepintas bagaimana ruangan itu. Jika butuh sesuatu, bilang saja. Ada baju kakak di lemari, siapa tahu kamu ingin ganti pakaian,” kata Chaca menunjuk lemari yang dimaksud.
“Baiklah, terimakasih Cha.”
Chaca berbalik dan hendak menutup pintunya lalu terhenti karena Rey memanggilnya.
“Tidak, tidak jadi maaf,” Rey mengurungkan niatnya namun karena ragu diapun memanggil Chaca lagi.
“Cha,” tahan Rey. Chaca tak menjawab dan hanya menoleh dengan dingin.
“Aku mau bilang,” ucapnya tertahan. “Maaf merepotkanmu dan selamat malam.”
“Tak apa,” balas cuek Chaca lalu meninggalkan kamar itu.
Langkah kaki Chaca yang semakin hilang dari pendengaran meninggalkan gema yang memudar. Rey berbaring dan menutup matanya namun pikirannya masih terjaga. Merasa jadi pengecut yang tak bisa mengutarakan permintaan maaf dari mulutnya sendiri membuat Rey kalang kabut tak jelas. Takut menimbulkan suara gaduh Rey hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal itu berulang-ulang.
“Chaca sangat terlihat begitu dingin padaku sekarang. Jelas bahwa dia sangat kecewa padaku. Bagaimana aku harus meminta maaf padanya,” batin Rey.
Berjam-jam tak bisa tertidur Rey memutuskan keluar dari kamar dan menuju dapur mencari minum sambil menenangkan diri. Berulang kali membuka beberapa lemari di sana, dia masih tak menemukan dimana gelas disimpan. Sampai seseorang menyodorkan gelas dari arah belakangnya membuatnya hampir melompat karena kaget.
“Kamu mencari ini,” kata Chaca yang menyadari Rey kebingungan.
“Ah, kamu rupanya,” mengambil gelas yang disodorkan padanya. “Kamu belum tidur?” ucap Rey basa-basi. “Apa aku membangunkanmu?” tanyanya lagi.
“Aku baru dari kamar mandi dan melihatmu mencari sesuatu di dapur saat hendak kembali ke kamar.
“Ah, begitu.”
“Ada yang kau butuhkan lagi?” ujar Chaca mencoba memastikan.
“Tidak, tidak ada.”
“Kalau begitu aku kembali ke kamar. Tidurlah kalau sudah selesai,” Chaca meninggalkan Rey.
Tangan yang besar itu menahan lengan Chaca untuk tidak meninggalkannya. Chaca berhenti dan melihat lengannya yang ditahan lalu menoleh ke belakang.
“Tunggu, ada yang ingin ku bicarakan,” Rey mencoba memulai. “Mengenai kejadian dipenginapan,” lanjutnya. Setelah mendengar kata penginapan, diingatan Chaca terus berulang-ulang kata itu mengingatkan kejadian tak mengenakkan yang menimpanya.
“Aku ingin minta maaf karena tak mendengarkanmu saat itu. Maaf karena berkata buruk tentangmu dan maaf untuk segalanya.”
Chaca semakin jadi, wajahnya mulai pucat dan tubuhnya makin tak seimbang.
“Ah, aku mengantuk Rey, aku akan ke kamarku. Tidurlah,” balas Chaca berusaha mengendalikan dirinya dan berusaha segera menjauh.
“Cha,” Rey kembali menahan Chaca dan memeluknya dari belakang. “Aku sungguh ingin meminta maaf padamu. Tolong beri aku kesempatan, Kali ini bisakah aku jadi seseorang untukmu? Bukan hanya sekedar teman?” Rey mengucapkan tujuannya sebernarnya. “Aku bersungguh-sungguh meminta maaf padamu karena telah mengatakan...,” ucapan Rey terhenti ketika tubuh Chaca hanpir terjatuh dan Rey menangkapnya agar tak sampai terjatuh ke lantai.
“Cha kamu tak apa?” tanya Rey saat melihat Chaca mencengkram kepalanya yang terlihat sangat kesakitan. “Duduklah dulu!” Rey membantu Chaca duduk dan membawakan segelas air untuk menenangkannya. “Minumlah dulu!”
Prankkkkk........
Pecahan kaca berserakan tanpa arah di lantai mengejutkan Rey yang berada dekat. Suara di sunyinya malam itupun ikut membangunkan Wina yang belum terlelap sepenuhnya.
“Cha,” Rey mencoba memasktikan wanita didepannya itu tak apa setelah mendorong jatuh gelas yang diberikannya. Rey nampak terkejut ketika melihat perubahan wajah Chaca. Bukan karena terluka melainkan melihatnya tertawa.
“Maaf. Jangan munafik Rey,” jawab Chaca sambil tersenyum.
“Cha,” menyadari kini Chaca menjadi dirinya yang lain.
“Jangan buang-buang tenaga Rey. Tingkahmu memuakkan,” ucapnya dingin.
Rey Cuma bisa diam setelah ucapan tajam dari Chaca didengar olehnya.
“Chaca, kamu tak apa?” sela Wina yang sadar dengan perubahan sahabatnya.
“Aku antar kamu ke kamar,” saat berusaha membawa Chaca kembali, lagi-lagi sakit di kepalanya semakin jadi. Chaca merintih kesakitan dan mendapatkan sedikit kesadarannya lagi.
“Apa aku yang melakukannya,” katanya sambil melihat lantai yang berantakan.
“Itu jatuh karena tersenggol,” ucap Wina mengalihkan. “Sudahlah akan kubereskan. Biar aku antar kamu dulu,” Wina memapah Chaca lalu dibatu Rey disisi lainnya. Berjalan hati-hati sambil menghindari pecahan yang tercecer.
Chaca akhirnya bisa terlelap setelah obat pereda sakit diberikan padanya. Wina keluar bersama Rey menuju dapur lagi. Nampak jelas Rey ingin berbicara kepada Wina namum dia membatunya membereskan dapur lebih dulu. Setelah semua sudah dibereskan, Wina meminta waktu dan berbincang sebentar.
“Jangan ungkit kejadian itu, jangan pernah berusaha membuatnya mengingat masa-masa buruknya dulu. Lebih baik kamu diam. Jangan melakukan apapun kepadanya. Aku sudah peringatkan padamu,” ucapnya tegas.
“Aku hanya berusaha untuk meminta maaf Win, aku juga tak ingin membuatnya kesakitan.”
“Jangan berusaha, jangan pernah. Aku sudah seing melihatnya menderita bahkan sangat lama. Jadi kumohon jangan membuatnya menderita lagi,” ungkap Wina menegaskan lagi.
“Baiklah,” mulai menyerah. “Tapi, tolong jangan memintaku menghindarinya,” pintanya kemudian.
Wina tak menanggapinya dengan jawaban. Malam itu akhirnya terlewat. Tak ada yang tahu bagaimana esok akan membawa alur selanjutnya. Tak akan ada yang membatasi bagaimana cerita itu berkembang nantinya. Hanya bisa menebak dan tebakan itu pun bukanlah jawaban akhir. Apakah tujuan itu bisa tercapai atau hanya akan jadi harapan.