
***
12 tahun lalu, malam sunyi di usiaku yang ke 13 tahun. Malam yang diisi dengan hembusan angin membuat para perasa hendak menghangatkan diri. Namun, malam itu orang tua Rey mengajakku dan Rey untuk menikmati malam di tempat hiburan bernama Andromeda Park. Tempat yang sangat terkenal penuh dengan tawa pengunjungnya. Katanya tempat itu bisa membuat siapapun melupakan kesedihannya. Bahkan bisa sampai tak sadar waktu jika bermain di sana. Aku hanya pernah mendengarnya tapi tak pernah ku kunjungi. Akhirnya aku pun bisa merasakan bagaimana tempat itu meski tidak bisa bersama kedua orang tuaku.
Aku dan Rey duduk di bangku belakang dan paman menyetir serta bibi duduk di sampingnya. Saat itu Rey terus mengoceh menanyakan kapan akan tiba kepada ibunya dan aku terus melihat keluar jendela menikmati perjalanan kami. Dari jalanan yang sepi menuju jalan raya yang ramai kendaraan kemuadian lampu-lampu semakin nampak banyaknya hingga akhirnya laju mobil melambat dan menuju tempat parkir. Baru selesai terparkir Rey menjadi orang pertama yang membuka pintu mobil. Dia berlari mengarah ke pintu mobil tempatku duduk dan membukanya untukku.
“Ayo Cha keluar!” katanya dengan girang. Lalu dia beranjak dan berganti membukakan pintu untuk ibunya. Dia menakirlnya langsung dengan tangan kanannya dan menggandengku dengan tangan kirinya.
“Bagaimana dengan ayah? Kenapa tidak menggandeng ayah?” tanya paman menggoda Rey dengan rautnya yang dibuat-buat.
“Mari paman!” Akupun berinisiatif menggandeng tangan paman.
“Terimakasih Chaca.” dia pun membalasku dengan tersenyum.
Aku merasa mereka pun seperti keluargaku sendiri. Aku senang bersama mereka tapi sesekali aku juga sedih karena mereka mengingatkanku pada kedua orang tuaku.
Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana, hingga akhirnya kami berempat beristirahat di salah satu bangku. Paman membelikan makanan dan minuman untuk kami bersama ibu. Sedangkan aku dan Rey menunggu di tempat. Rey terlihat bosan karena keduanya tak kunjung datang.
“Ah... mereka lama sekali.” kesah Rey sambil menendang angin.
“Sepertinya antiannya panjang. Kita tunggu saja.” ucapku.
“Di mana sih mereka menganti?” tanyanya sembari mengamati kerumunan. Aku juga ikut mengamati dari kejauhan untuk mengetahui di mana paman dan juga bibi.
“Itu di sana.” tunjukku setelah menemukan keberadaannya.
“Kau tunggu di sini. Aku ke sana sebentar.” Rey langsung pergi begitu saja menghampiri kedua orang tuanya. Aku hanya melihat dari kejauhan mereka nampak sedang berbicara pada Rey dan sesekali melihat ke arahku. Cukup lama sampai aku tak sadar ada seseorang datang padaku.
“Kamu Chaca kan? Kamu sendirian ke sini?” tanya salah seorang dari mereka kepadaku.
“Tentu saja dia sendiri orang tuanya kan sudah tidak ada. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya bunuh diri setelah ditangkap jadi pemb...” ucap anak yang lain.
“Diam” potongku dengan kesal.
“Aku tidak sendirian. Aku bersama Rey juga paman dan bibi.” tambahku.
“Aku lupa kalau kamu sekarang diasuh oleh mereka ya. Jangan-jangan kamu hanya mendekati mereka untuk memanfaatkan mereka saja.” sindirnya. Mereka terus menerus mengatakan hal-hal buruk tentangku. Ingin rasanya aku mengamuk dan mengacau tapi aku tak ingin membuat masalah bagi paman dan bibi apalagi Rey, karena kedua orang di depanku ini adalah teman sekelasnya. Aku hanya bisa diam menahan amarahku juga menahan air mataku.
“Mau taruhan, Aku bertaruh lama kelamaan orang tua Rey akan lebih memihakmu dibandingkan anaknya sendiri. Jadi kamu bisa hidup dengan baik nantinya”
“Aku tidak berminat dengan taruhanmu.” ungkapku mencoba melawan.
“Kenapa tidak mau? Apa kamu mengakui bahwa tebakanku benar?” mereka terus mengusikku, hingga aku pun ikut permainan mereka.
“Oke aku akan bertaruh, aku bertaruh bahwa paman dan bibi akan tetap menyayangi Rey anaknya sendiri dibandingkan denganku karena mereka adalah keluarga. Puas!” entah apa yang telah kuperbuat aku justru mengikuti permainan itu.
“Cha, maaf lama. Kita bisa main dulu aku sudah izin dengan ayah. Kalian di sini? Rey menyadari teman-temannya yang sedang bersamaku.
“Hai Rey” sapa mereka.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rey padaku.
“Kami hanya menyapa saja karena bertemu tadi.” sanggahku.
Spontan salah satu dari teman Rey mendorongku hingga terjatuh, aku terkejut dengan apa yang dilakukannya tiba-tiba. Terlihat mereka tersenyum tipis ke arahku. Tak lama kemudian Paman dan Bibi datang.
“Cha kamu kenapa duduk di bawah nak?” Bibi mencoba membantuku berdiri.
“Astaga tanganmu berdarah.” ucap paman terkejut saat melihat lenganku.
“Ah tidak apa-apa mungkin karena terkena kerikil.” jawabku.
“Apa yang kau lakukan?” Rey mendorong temannya itu hingga terdorong kebelakang.
“Aku tidak melakukan apa-apa, yang mendorong Chaca hingga terjatuh kan kamu sendiri Rey. Kenapa justru menyalahkanku.
“Apa?” jawabku dan Rey bersamaan.
“Tidak paman, bukan Rey yang mendorongku tapi temannya itu.” selaku membela Rey.
“Cha kamu tidak usah takut dengan Rey, kami bisa jadi saksinya untukmu?” ucap teman Rey justru semakin membuat semuanya salah paham.
“Bicara apa kalian?” tanyaku lirih kepada mereka.
“Rey apa alasanmu mendorong Chaca? Ayah tidak pernah mengajarimu seperti itu?” kata Paman mulai salah paham.
“Tidak seperti itu paman.” jawabku mencoba meluruskan. Namun, bibi menahanku dan menghentikanku dan menarikku menjauh untuk mengobatiku. Sehingga meninggalkan Rey dengan Paman.
Aku dan bibi hanya menunggu di mobil. Paman dan Rey mulai terlihat dan masuk ke dalam mobil. Aku memandang Rey mencoba mencari tahu apa yang terjadi, namun Rey tak sekalipun memandangku. Justru da terlihat sangat kesal dan sikapnya terlihat sangat dingin. Selama perjalanan pulang pun tak ada percakapan sama sekali. Begitu pun setibanya kami di rumah. Rey langsung pergi begitu saja dan menutup pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras.
“Cha, tidurlah sudah malam.” kata Paman sambil mengusap rambutku.
***
“Rey, sarapan dulu yuk!” Aku mengetuk pintu Rey beberapa kali namun tak ada jawaban.
“Rey,” ketukananku berikutnya pun juga tak di gubris sampai akhirnya dia keluar dari kamar. Sudah rapi dengan seragamnya.
“Sudah siap. Kita sarapan dulu.” ajakkanku masih tak di tanggapi olehnya. Dia melewatiku begitu saja tanpa menatap.
Kami sampai di sekolah. Semenjak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama aku di sekolahkan di tempat yang sama dengan Rey namun selalu berbeda kelas. Rey masih saja mendiamkanku. Sampai aku memutuskan menghapirinya di kelasnya. Aku mencari cari keberadaannya saat tepat dipintu kelasnya. Dia tengah berbincang dengan teman-temannya yang kemarin malam.
“Rey,” sapaku.
“Wah lihat ini, Chaca si muka dua masih berani menampakkan diri.” ucap temannya. Aku memalingkan diriku dari mereka dan masih mencoba mengajak bicara Rey.
“Untuk apa kamu kemari?” ucap Rey akhirnya.
“Kamu mau pamer bahwa taruhanmu menang begitu?” tambah Rey
“Bagaimana kau...” ucapku terhenti.
“Bagaimana? Bagaimana aku tahu begitu maksudmu?” jelasnya kemudian.
“Rey tapi aku tidak....”
“Tidak apa? Kamu sudah berhasil membuat ayah dan ibuku memihakmu dibandingkan denganku. Mereka sudah menjelaskannya padaku dan mereka bilang kau bertaruh bahwa ayah dan ibu akan memihakmu begitu kan?”
“Kau salah paham Rey” akupun mencoba menjelaskan.
“Sekarang katakan dengan jujur! Kau ikut bertaruh kan?” tanyanya padaku tapi aku tak mampu menjawabnya.
“Kau tidak menjawab berarti itu benar kan?” tambahnya lagi.
“Oke itu benar.Aku memang bertaruh, tapi yang bertarus seperti itu adalah mereka bukan aku Rey.” Aku menunjuk ke arah pelaku sebenarnya namun saat melihat keduanya seolah penjelasanku tak akan berpengaruh pada Rey.
“Kau sungguh menjijikkan Cha, pantas saja ibumu meninggal setelah melahirkanmu dan ayahmu menjadi pembunuh semuanya jadi gila karena memiliki anak sepertimu. Kau itu pembawa sial.”
Seketika setelah mendengarnya mengatakan hal semacam itu padaku, telingaku sunyi hening lalu berdenging hingga membuatku kehilangan keseimbangan tubuhku. Aku terdorong ke belakang dan mencoba menopang diriku dengan meja dibelakangku.
“Lebih baik kamu menghilang dari keluargaku Cha.” tambahku.
“Tarik kembali kata-katamu Rey?” ucapku lirih dengan tubuh yang mulai bergetar tidak karuan.
“Tidak akan.” jawabnya cepat.
Aku hampir tak bisa mengendalikan diriku sendiri hingga aku memutuskan pergi meninggalkan mereka.
“Akhirya pergi juga. Kau menerima dirimu sendiri bahwa kau pembawa sial rupanya.” kata mereka saat aku sudah sampai dekat pintu. Aku terhenti dan berbalik.
“Asal kamu tahu Rey aku tak pernah berpikir untuk mengambil perhatian orang tuanmu. Kalian semua boleh mengejekku sesuka hati kalian, tapi jangan pernah mengaitkannya dengan kedua orang tuaku. Dan maaf Rey jika selama ini aku justru menjadi penyebab masalah di keluargamu.”