Love Is Only You

Love Is Only You
Seperti inikah?



Nuansa hening dengan pandanganku dengan Rey yang saling beradu dihentikan dengan lemparan kantung plastik ditangannya.


“Hah.... sejak kapan kamu tahu?” ucapnya dengan senyum jahatnya melemparkan barang yang dibawa ke atas meja.


“Bagaimana? menyakitkan bukan?” tambahnya setelah duduk disamping ranjangku.


“Jangan keterlaluan Rey!” teriakku sambil terus menahan emosi yang semakin meluap. Kulihat dia justru tertawa dan bertepuk tangan, senyumannya pun nampak sangat mengejek.


“Apa masih sebegitu benci dan tidak percayanya kamu terhadapku Rey?” tambahku meminta pengertian.


“Tentu saja. Mana mungkin aku bisa melupakan setiap perbuatanmu terhadapku maupun keluargaku.” sontak teriakannya terasa menggema di telingaku, tangannya menunjuk kuat ke arah wajahku. Tanpa sadar aku menepis tangannya.


“Kau menangis? Ini belum seberapa Cha, tak sebanding dengan penderitaanku melihat ayah dan ibuku sekarat. Orang sepertimu tidak akan kubiarkan hidup dengan tenang. Seharusnya ini masih rahasia sampai aku benar-benar membuatmu menderita.”


“Apa maksudmu? Paman dan bibi, kenapa dengan mereka?” terkejut aku dibuatnya saat Rey membahas kedua orangtuanya.


“Jangan pura-pura tak tahu Cha. Semua karena kamu, Mereka sibuk mencari anak bodoh yang kabur dan meninggalkan anaknya sendiri. Waktunya hanya untuk mencarimu. Mereka kelelahan dan jatuh sakit. Kau tahu betapa bencinya aku saat melihat mereka sekarat tapi yang selalu diucapkan adalah namamu.” ucap Rey menjelaskan.


“Rey, tolong jangan bercanda sampai keterlaluan seperti itu.” ucapku mencoba meminta penjelasan kembali.


“Kau pikir hal semacam ini perlu dibuat candaan. Jangan menghindar atas keburukanmu Cha.”


Kami terus saja bertengkar, adu mulut, Aku menangis, dia marah-marah. Satu persatu pernyataan yang dilotarkannya saat itu memberitahuku hal yang selama ini tak ku ketahui. Oramg yang menampungku di masa lalu itu ternyata sekarat dan yang membuat mereka sekarat, tak lain dan tak bukan karena aku. Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku memang pembawa sial bagi oang-orang terdekatku. Tubuhku begitu lemas, mulutku sudah tak sanggup berucap, pandanganku kabur, hingga akalku pun sudah tak bisa ku kendalikan. Sampai seseorang datang ke ruanganku.


“Cha.... Lihat siapa yang datang. Kau pasti mengenalnya?” Wajah yang tak asing itu memasuki ruangan dengan aura yang penuh kebahagiaan. Namun yang paling mengejutkan orang yang digandengnya dan berdiri dibelakangnya adalah orang yang sangat ku kenal jauh sebelum ku mengenal Wina. Pria bertubuh tinggi tak gemuk tapi juga tak kurus mengenakan hoody abu-abu dan bertopi thitam melempar senyum ke arahku. Aku mencoba menyambutnya dengan senyum yang ku buat tapi, aku juga tak sanggup menutupi air mata yang terlanjur deras mengalir. Aku sangat jelas melihat rautnya pun berubah cepat setelah tahu aku menagis.


Dia menghampiriku cepat, menyentuh wajahku, mengusap air mataku, lalu sesaat menatapku begitu lekat dan kemudian mendekapku dengan erat. Rasanya sungguh menenangkan dan terasa hangat. Tangannya yang besar menepuk pundakku beberapa kali seolah-olah memberitahuku “Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja”. Dalam dekapan itu aku melihat Rey pergi tanpa berkata apapun. Nampak Wina juga menahannya tapi Rey tetap pergi


***


“Cha sudah aku bilang untuk tidak mendekatinya lagi, apalagi menemuinya dan sampai berhubungan dengannya. Ini yang aku takutkan. Kau akan terluka lagi.” Ucap Kak Sean.


Kak Sean adalah orang yang kutemui setelah aku memutuskan pergi dari keluarga Rey. Dialah yang menolongku dan memberiku tempat tinggal. Kami sama-sama yatim piyatu namun dia anak yang mandiri saat itu. Dia mengijinkanku untuk tinggal bersamanya. Aku membantunya melakukan banyak hal meski apa yang kulakukan masih sangat jauh dengan apa yang di lakukannya untukku. Aku seperti melihat sosok kakak darinya. Kami hidup sebagai kakak dan adik namun berpisah setelah Kak Sean memutuskan untuk berkerja di luar negeri karena prestasinya yang mengagumkan.


***


Tiga tahun lalu,


“Cha, kakak diterima bekerja di perusahaan ini.” kata Kak Sean sambil memberikan selembar surat penerimaan yang didapatkannya.


“Benarkah? Ini berita gembira. Kakak harus merayakannya dan menraktirku kali ini.” godaku.


“Tentu, aku akan traktir sampai kamu puas.” godanya balik.


Kami tba di tempat makan, kupikir dia akan membawaku ke sebuah restoran namun justru kedai makan dipinggiran jalan dekat dengan taman kota.


“Di sini?” ucaku heran.


“Sebenarnya memang iya.” jawabku dengan senyum yang terpaksa.


“Dasar (memukul pundakku tak terlalu kuar), kita makan di sini bisa sangat puas, ada banyak hal yang bisa dicicipi di sini. Setelah kenyang kita bisa jalan-jalan sebentar di taman kota. Pemandangan malam di sini cukup bagus.” jelasnya sembari menyeduh minumannya yang sebelumnya sudah dipesannya.


“Siap! Kakak memang yang terbaik.”


“Lagi pula saat kita pindah nanti kamu boleh makan apa saja terserah nanti aku belikan untukmu?” tambah Kak Sean.


“Pindah?” tanyaku.


“Hmm, pindah. kamu ikut aku ke Amerika.” jelasnya lagi.


“Kak, bisakah aku tetap di sini? Aku tak ingin pergi ke Amerika.” jawabku dengan sedikit rasa takut jika Kak Sean marah.


“Kenapa tidak mau? Kamu tidak suka pergi dengaku? Tidak mau tinggal bersamaku lagi?” tanya kak Sean.


“Bukan begitu. Aku pernah bercerita dengan kakak kan?” ucapku berusaha mengingatkan. Dia terus menerus memintaku pergi dengannya dan menolak permintaanku. Namun, aku tetap ingin tinggal dan memintanya pada Kak Sean.


“Kumohon Kak. Ijinkan aku tinggal!” pintaku terus menerus. Aku melhatnya menarik pasa panjang dan menatapku lalu berkata,


“Oke, aku ijinkan. Tapi ada satu syarat. Jangan sampai kamu terluka lagi, jangan sampai kamu menyesali pilihanmu ini. Mengerti?” ucap setuju Kak Sean akhirnya membuatku lega. Diapun membalas dengan tersenyum pula.


“Ingat untuk tetap bahagia Cha. Kumohon tetaplah bahagia. Mengerti?”tambah Kak Sean dengan menatapku begitu serius.


“Baik kakakku. Akan aku ingat.” balasku dengan mengganti tatapan tajamnya.


Kesepakatan malam itupun telah disepakati, Kak Sean pergi ke Amerika sendiri dan aku tetap tinggal.


***


“Sekarang aku tanya padamu, Apa kamu bahagia? Apa kamu tetap bahagia selama aku tak ada?” pertanyaan yang diberikan Kak Sean sama selai tak terjawab olehku. Bukannya tak ingin namun aku tak sanggup menjawabnya.


“Hah, sudahlah istirahat saja.” Kak Sean terlihat kesal dan menyudahi.


“Tidak, tidak bisa seperti ini. Aku harus ikut campur.” diapun berubah pikiran. Ucapannya itu membuatku menahannya yang hendak pergi entah kemana. Aku menahan tangannya dengan kedua tanganku. Tanganku masih gemetar namun kucoba untuk menahan keinginnan Kak Sean untuk berajnak.


“Tolong. Jangan lakukan itu Kak. Akan ku selesaikan sendiri. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Jika kali sekali lagi aku gagal, maka aku akan turuti kata Kak Sean . Aku akan menyerah pada keinginanku ini. Selamanya.”


“Kau janji? kamu tidak boleh mengingkarinya lagi!” tegas Kak Sean menyakinkanku.


“Aku janji.” tagasku pula.


Akupun tak mengerti apa yang akan terjadi atas keputusanku ini. Akankah sesuai dengan keinginanku atau justru masih tak akan ada yang berubah. Meski aku sendiri lelah dengan semua ini namun dihati dan pikiranku masih berharap semua ini bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik lagi. Apa salahnya mencoba terus menerus meski resikonya lebih mudah ditebak dibandingkan keberhasilannya.