Love Is Only You

Love Is Only You
Keputusan



Ilusi


oleh Chaca


Semerbak kisah yang pernah tergambar


Digoreskan puluhan warna yang memancar


Meski harapan ingin membawanya tanpa tercemar


Bagaimana duri dapat terhindar


Bila sangka menghapus alasan sebagai pengantar


Membentang indah disetiap pandang mata


Menyapa setiap kali hembusan angin menerpa


Menarik serangga menghampiri manisnya


Terbang memutar bersorak dan bersuka-cita


Sebagai tanda puncak jelajah darinya


Namun apa daya serangga yang menepi


Hanya mampu memandang dari lain sisi


Cemooh dan seruan jijik diterima bak duri


Seolah benalu, begitulah dia dijuluki


Tanpa tahu bagaimana sayapnya patah


Kebanyakan pemikiran orang hanya bertumpu pada bagaimana mereka di bagian akhirnya tanpa peduli tentang lika-liku yang harus dilewati. Semua jalan berlumpur, berkerikil maupun berjurang hanya akan nampak jelas bila bila si pemeran yang diremehkan menghilang darinya. Sama halnya bagaimana seorang seniman yang tak bernama, tak pernah sekalipun mendapatkan apresiasi atas setiap karyanya baik secara materi maupun batin. Naluri para seniman pasti ada saat dimana otak dan hati mereka meminta untuk berhenti dalam arti menghentikan apa yang mereka kerjakan namun lain cerita apabila akan ada dukungan, bahkan dukungan terkecil sekalipun akan membangun api yang sedikit demi sedikit berkobar membakar semangat untuk terus berjalan tanpa ragu dan rasa untuk menghentikan apa yang sudah mereka perbuat. Bagaimana dunia akan berubah mengenai toleransi, mengenai apresiasi yang sebenarnya merupakan hal yang sangat sepele namun berdampak.


Langit yang mulai jingga dan menunjukkan gradiasi menuju gelap, bosan sempat mengampiri diri seorang gadis yang terdiam di dalam rumahnya. Secarik coretan dibuku kesayangannya kini menjadi satu kesatuan tulisan yang baru ditulisnya. Setelah sekian lama, dia memutuskan menguploadnya ke dalam webnya. Terhitung beberapa menit dari waktunya mengirimkan, satu persatu komentar mulai bermunculan tanpa henti. Kebanyakan diantaranya merasa senang dengan kiriman baru itu, namun tak sedikit yang menyayangkan keterlambatan yang cukup memakan waktu. Setiap kalimat dari komentar itu dibacanya tanpa terlewat sampai akhirnya sebaris pesan muncul dari akun bernama BLUE, “Mari bertemu di BLUE malam ini”. Membacanya Chaca berpikir bahwa akun yang dirasa sebagai Rey itu menandakan Rey masih ingin membicarakan masalah saat itu. Chaca berharap bila Rey ingin penjelasan. Tanpa pikir panjang Chaca menghampiri Rey di kafe BLUE tanpa memberitahu Sean maupun Vin yang sebelumnya sudah memintanya untuk tetap di rumah.


***


Sementara Chaca dalam perjalanannya, Vin menelusuri penginapan bersama teman yang sudah menunggunya di sana. Keduanya menanyai setiap pegawainya untuk mencari siapa yang melayani pria brengsek yang mencoba menjebak Chaca.


“Anda tahu siapa yang memesan kamar ini kemarin siang?” menunjukkan foto yang dibawa teman Vin.


“Maaf tuan, foto yang anda tunjukkan memang ini memang benar dari penginapan kami. Tapi kebanyakan dari interior kamar dibuat dengan desain yang sama. Jadi saya sulit memasktikan kamar yang si maksud apalagi siapa pemesannya,” kata seorang pelayan di sana. “Apa anda tidak tahu nomor berapa kamar yang di maksud?” pelayan itu menambahkan.


“Kami hanya tahu foto ini saja,” ucap teman Vin yang kemudian berbalik dan menggaruk kepalanya.


“Bagaimana dengan CCTV, bisakah kami melihatnya?” ucap Vin setelahnya.


“Maafkan kami tuan. Kami tidak bisa menunjukkan CCTV karena peraturan.”


“Tolong biarkan kami melihat CCTVnya.”


“Tidak bisa tuan.”


Setelah berbincang dan berdebat cukup lama dengan si pelayan, akhirnya si pelayan memberi beberapa informasi mengenai kamar yang dipesan pada waktu kemarin siang. Jumlahnya ada 4 kamar yang dipesan dalam jangka waktu itu. Dengan sedikit memberi tekanan kepada pelayan, mereka berhasil membuat pelayang mengijinkan keduanya untuk memasukki keempat kamar. Untungnya keempat kamar dalam keadaan kosong karena belum ada yang menempatinya. Satu persatu di cek untuk mencari tahu siapa si pemesan. Menurut pernyataan si pelayan, salah satu pemesan di waktu yang sesuai dengan yang dimaksud, melakukan transaksi melalui telepon atau bisa dibilang tidak datang langsung ke tempat.


“Ini,” teman Vin menemukan sebuah gelang kertas di dekat lemari saat memeriksa kamar pertama yang mereka masukki dan menunjukkannya pada Vin.


“Gelang ini adalah....” Vin yang menyambar cepat gelang itu dari tangan temannya, menandakan sudah mengetahui titik terang selanjutnya.


***


Malam itu terasa sangat dingin ditambah angin berhembus pelan dari belakang tubuh Chaca saat hendak memasuki kafe BLUE. Matanya secara otomatis melihat ke arah balik meja para pegawainya mencoba menemukan sosok Rey. Belum sampai menemukan orang yang dimaksud, panggilan namanya terdengar jelas.


“Cha... Chaca...” suara seorang gadis dan cukup familiar. Chaca menoleh mencari siapa yang memanggilnya. Wajah yang mencari itu akhirnya menemukan sumber panggilan dan terdiam sejenak meyakinkan dirinya mengenai apa yang dilihat.


“Kemari,” tambah si pemanggil. Chaca mendekat dan memastikan. Semakin dekat jaraknya semakin jelas bahwa wajah itu adalah Sarah.


“Kenapa kamu di sini?” tanya sinis Chaca.


“Apa maksudmu?” Chaca melihat ponsel di depan Sarah itu sangat familiar. “Itu..,” tanpa melanjutkan kalimatnya, justru Chaca masih melihat ke arah ponsel.


“Ini ponsel Rey, dan akun BLUE memang milik Rey tapi aku menggunakannya untuk membuatmu bertemu denganku,” jelas Sarah seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Chaca.


“Apa maumu. Aku jelas tahu kamu yang menjebakku kemarin. Aku akan katakan yang sebenarnya pada Rey,” Chaca yang enggan menanggapi Sarah, mencoba mencari Rey dan mengatakan kebenarannya.


“Tunggu, kamu tidak akan mengatakannya tanpa bukti bukan? Jangan terlalu percaya diri Cha.”


Chaca membeku dan mengakui bahwa dirinya tidak memiliki bukti seperti yang dikatakan.


“Sadarlah Cha, Rey tak akan lagi peduli padamu. Mau kutunjukkan buktinya?” senyum sinisnya muncul. Chaca mulai merasa akan ada hal yang buruk terjadi lagi.


Sarah menarik tangan Chaca dengan cepat hingga membuat Chaca tertarik mendekat ke arah Sarah. Bingung dengan apa yang dilakukan Sarah, Chaca mencoba menarik tangannya dan ingin melepaskan genggaman tangan Sarah darinya. Namun usahanya tak membuahkan hasil karena Sarah mencengkram cukup kuat. Setelah saring tarik menarik, Sarah tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya di hadapan Chaca sambil mengeluh kesakitan. Disaat yang bersamaan, tamparan keras mendarat dipipi Chaca hingga membuatnya sedikit terdorong ke samping.


“Apa maksudmu menamparku?” Chaca dibuat terkejut melihat orang yang menaparnya adalah Rey.


“Berani sekali kamu bertanya. Aku yang harusnya tanya padamu, Apa yang kamu perbuat dengan mendorong Sarah hingga terjatuh?” tuduh Rey sambil membantu Sarah bangun dan memintanya duduk dibangku lebih dulu.


“Aku sama sekali tidak medorongnya,” Chaca mencoba menjelaskan. Namun, berapakali pun dijelaskan, Rey masih tak mau percaya. Hingga saat emosi dari keduanya mulai beradu, Rey yang mulai geram mencoba memukul Chaca lagi. Chaca yang mengetahui arah dari tangan Rey itu menutup mata dan mencoba mengangkat kedua tangannya sebagai tameng. Pukulan yang cukup kuat itu rupanya ditahan oleh Vin yang datang tepat pada waktunya,


“Singkirkan tanganmu!” menangkis tangan Rey.


“Ini bukan urusanmu,” Rey pun ingin menghalau Vin menjauh dengan mendorongnya. Namun, Vin bertahan dan berdiri tepat dihadarap Rey dan membelakangi Chaca untuk melindunginya. Keduanya sempat adu tinju dan membuat keributan di dalam kafe sampai banyak orang mulai berkerumun.


“Hentikan,” Chaca mencoba melerai keduanya tapi tak di gubris. “Ku bilang berhenti,” ucap Chaca lebih lantang dan akhirnya membuat keduanya berhenti.


“Kau,” Rey berjalan mendekati Chaca. “benar-benar wanita yang tidak tahu diri. Bahkan temanmu juga sama gilanya denganmu,” tambah Rey sambil menunjuk kepala Chaca hingga terdorong kebelakang. Dia melakukannya beberapa kali. Melihat apa yang dilakukan Rey, Vin hendak menghentikan tangan Rey namun belum sampai tergapai, Chaca sudah terjatuh karena dorongan terakhir cukup kuat. Vin langsung membantu Chaca berdiri.


“Rey terimakasih karena kali ini aku akan memutuskan sesuatu setelah kejadian ini. Jadi dengar baik-baik,” Chaca tiba-tiba berbicara dengan nada yang tenang namun terdengar sangat tajam dan kuat. “Mulai sekarang kau aku dan dia (menunjuk ke Sarah) bukan lagi teman. Kita hanya orang asing. Jadi jangan pernah menyapa meski berpapasan.”


“Vin, kau bawa mobil?” tanya Chaca kemudian.


“Hemm, aku bawa.” jawabnya.


“Antar aku pulang sekarang,” berjalan keluar lebih dulu. Lalu berhenti dan menoleh saat tahu Vin tak mengikuti jalannya.


“Kenapa tidak mau mengantarku?” tanya Chaca lagi dengan nada yang sangat berbeda, seolah Chaca menjadi orang lain yang sangat cuek dan kejam.


“Kamu duluan saja. Tunggu aku di mobil,” balas Vin. Chaca keluar lebih dulu dan Vin menyelesaikan urusannya dengan Rey.


“Dasar wanita gila,” ucap Sarah setelah Chaca pergi.


“Jaga ucapanmu!” bantah Vin.


“Lihatlah dia, sebelumnya seperti wanita lemah tapi tiba-tiba jadi seperti preman,” ucap Sarah menyindir dan sedikit tertawa pendek. “Bahkan berani mengancam seenaknya,” tambah Sarah.


“Seenaknya? Kurasa tidak,” Vin mengeluarkan bukti rekaman CCTV yang menunjukkan wajah pria yang membawa Chaca saat di penginapan kemari dan satu video lagi yang berisi pernyataan pria itu bahwa perbuatannya atas dasar suruhan seseorang.”Mau tahu siapa yang menyuruhnya?” ucap Vin mencoba mendominasi suasana. Karena nama yang disebutkan pria di dalam video adalah nama Sarah.


“Bahkan videomu itu bisa saja palsu,” Sarah mencoba membantah.


“Pria ini meninggalkan gelang tiket masuk ke acara pengumuman film barumu kemarin. Kita mungkin masih bisa cari rekaman saat di sana. Jika bisa menemukanmu bersama pria ini saja sudah bisa dijadikan bukti bahwa kamu mengenal pria ini.”


“Hanya seperti itu tidak akan membuatku jatuh,” Sarah masih percaya diri dengan dirinya.


“Bagaimana dengan ini?” Tiba-tiba Chaca masuk ke dalam kafe dengan senyum mengejek dan menyeret seorang wanita. “Kamu menyuruhnya merekam saat kamu mencoba menjebakku seolah aku mendorongmu tadi dan menyebarkannya serta ingin membuatku jadi di cap buruk dimata banyak orang bukan? Tak perlu dijawab bahkan dia sudah mengatakannya.”


“Ka...kau,” ucap Sarah tergagap-gagap melihat rencananya mulai terbongkar.


“Bagaimana jika kutambah dengan ini?” memutar rekaman suara antara Chaca dan Sarah tadi di kafe saat baru bertemu. “Bagus kan?” kata Chaca sambil memasang dekat wajahnya di depan Sarah dengan senyum sinis dan tatapan yang dingin. “Jangan macam-macam,” tambahnya berbisik di dekat telinga Sarah.


“Apa maksdunya ini? Jadi semuanya perbuatanmu Sarah?” tanya Rey yang terkejut. Sarah mulai berkata dengan terbata-bata menanggapi pertanyaan demi pertanyaan dari Rey dan meminta pengertiannya.


“Cha,” panggil Rey yang mulai mengabaikan Sarah.


“Siapa ya? Aku tidak kenal anda?” jawab Chaca jutek. “Vin cepat kita pulang. Di sini mulai berisik,” meminta Vin keluar dengan sikap dingin.


Rey dan Sarah yang melihat perubahan sikap Chaca yang mendadak cukup membuat keduanya menganga dan terheran-heran. Mereka seperti baru saja melihat sosok yang baru dan buka Chaca yang dulu. Bukan Hanya Rey dan Sarah, tapi Vin yang sudah cukup dekat sejak dulu juga tak habis pikir dengan sikap Chaca saat itu. Ucapan dari kata-kata Chaca sangat kasar dan tak berperasaan, tatapan dingin dan kejam, senyum sinis.