Love Is Only You

Love Is Only You
Siklus yang Kembali



Setelah seminggu sudah berlalu dengan cepat.....


“Sudah siap pergi?” ucap Sean sambil memasang sabuk dan menyalakan mesin.


“Aku sudah siap dan aku pun harus siap,” jawab Chaca yang duduk di sebelahnya.


Perjalanan keduanya dimulai menuju lokasi festival. Meski masih jauh, nampak banyak orang membawa spanduk dan pernak penik lainnya yang jika dilihat mereka pun akan pergi ke lokasi yang sama dengan Chaca. Chaca mulai memaikan jemarinya dan saling mengaitkan satu sama lain membuatnya terlihat sangat gugup. Sesekali Sean menawarkan minum dan mencoba membuatnya lebih santai.


“Tenang saja. Jangan gugup seperti itu,” ucap Sean memberi pengertian.


“Kenapa badanku gemetar semua. Aku sudah mnyuruh mereka untuk tenang. Tapi sepertinya tubuhku tak mau mendengarkan,” balas Chaca.


“Sepertinya harus ku berikan sekarang saja hadiahnya agar kamu tidak gugup lagi,” Ucap sean dengan tersenyum tipis mencoba menggoda adiknya itu.


“Hadiah? Kakak menyiapkan hadiah? Untukku? Apa ini penghinaan?” balas Chaca nampak tak senang.


“Penghinaan apa maksudmu? Aku sungguh akan memberimu hadiah.” tambah Sean lagi.


“Aku kan belum tentu menang, kenapa sudah ada hadiah duluan?” ucap Chaca yang tak mau kalah.


“Hadiah ya hadiah. Tidak peduli menang atau kalah, tetap akan ku berikan. Kamu tak suka, apa aku harus membatalkannya. Tapi jika ku batalkan, sepertinya dia akan kecewa.” goda Sean yang juga tak mau kalah.


“Dia? Dia siapa lagi. Apa sih sebenarnya hadiahnya?” ucap Chaca mulai penasaran.


“Tunggu saja setibanya di sana,” jawab Sean akhirnya.


Perjalanan malam itu diselimuti rasa penasaran Chaca dan kebahagiaan bagi Sean karena berhasil menggoda adiknya itu. Tanpa disadari gemetar ditangannya sudah tak ada lagi. Mungkin karena rasa penasaran yang besar menggantikan rasa kawatir dihatinya.


Setibanya di lokasi yang sudah nampak seperti lautan manusia dengan ribuan cahaya lampu. Beberapa nampak panggung sederhana yang ditata melingkar sesuai dengan acara masing-masing. Di sebrang jalan dipenuhi dengan deretan kedai serta tempat makan yang sengaja dibuka lebih lama untuk mendapat pelanggan yang sedang berkerumun di lokasi itu. Chaca dan Sean melihat ke selembaran yang dibawanya untuk mencari lokasi festival yang diikutinya itu. Belum begitu jauh berjalan dari tempat parkirnya, seseorang berlari dan menabrak Chaca hingga saling terpental ke belakang. si penabrak yang bertubuh kecil dengan jaket coklat berbulu di sisi kerahnya dengan sepatu berwarna putih yang nampak familiar itu menundukkan kepalanya meminta maaf karena telah menabrak. Aku pun menunduk kembali untuk menerima permintaan maafnya.


“Sorry!” katanya.


Setelah meminta maaf dia mengambil kembali sesuatu yang terjatuh sebelumnya lalu memberikannya kepada Chaca. Rupanya sebuah buket bunga berwarna biru kesukaannya.


“For me?” tanya Chaca karena bingung. Tanpa menjawab dia hanya mengangguk. Chaca pun menerimanya dan melihatnya. Sekilas nampak sebuah kartu yang di selipkan diantara bunganya.


“RINDU PADAKU CHACA” isi tulisan di dalam kartu itu.


Chaca spontan melihat ke kembali ke arah si pemberi dengan lebih memperhatikan wajahnya yang tertutup topi. Belum selesai memperhatikan wajahnya, si pemberi mengambil topinya dan justru dipasangkan ke kepala Chaca sampai menutup wajahnya. Dengan cepat Chaca mengambil topi dari kepalanya. Sedikit merasa kesal dan hendak memarahi si pemberi. Namun setelah melihat dengan jelas wajah orang yang sudah tersenyum di depannya itu, Chaca mulai tersenyum lebar dan memeluk erat orang di depanya itu.


“Kamu rindu sekali denganku ya Cha?” ucap orang itu.


“Sudah ku bilang aku memberimu hadiah. Mana mungkin akan ku beri tahu duluan.” saut Sean yang berada di belakang Chaca.


Chaca melepaskan pelukkanya dan melihat ke arah kakaknya itu. Dia merasa ingin marah karena tidak di beri tahu tapi dia juga sangat bahagia karena menurutnya itu adalah hadiah paling istimewa yang tak terduga dan sangat dirindukannya selama tiga tahun ini.


Waktu yang hampir tak terhitung lamanya itu terus belalu diantara mereka. Meninggalkan segala kenangan indah dan buruk didalam kehidupannya. Merubah maupun menciptakan hal-hal lainnya.


“Kapan kamu tiba ke sini? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di sana? Apa tidak apa-apa kamu tinggal seperti ini?” tanya Chaca setelah ketiganya menemukan lokasi festival yang diikuti Chaca. Sembari menunggu dimulainya acara. ketiganya duduk dibanggu dekat panggungnya.


“Aku tiba pagi tadi. Masalah pekerjaan kamu tenang saja. Aku masih bisa menanganinya. Aku sengaja ambil cuti beberapa hari,” jawab Wina.


“Kamu pasti lelah tiba dipagi hari dan malah harinya ke sini.”


“Tenang saja. Kenyamananku di sini sudah terjamin oleh kakak yang mengagumkan ini,” balas Wina dengan memandang Sean dan memasang wajah imut.


“Dia seorang pemalak,” saut Sean menanggapi ucapan Wina. Chaca hanya tertawa melihat keduanya saling berdebat.


“Rasanya sudah sangat lama aku bisa melihat, mendengar dan tertawa selepas ini. Hari ini sangat istimewa, hadiah dari kakak dengan mendatangkan Wina sahabaktku dan bisa berkumpul seperti ini saja sudah menjadi hadiah paling luar biasa. Ku harap kejadian ini bisa berlangsung lebih lama dan lebih lama lagi. Tanpa kusadari aku jadi teingat seseorang yang juga ku rindu namun tak boleh ku rindukan. Mungkin yang kutautkan adalah siklus menyakitkan itu akan kembali terulang. Alangkah baiknya selamanya seperti ini, jika memang ini yang terbaik, bati Chaca didalam tawanya malam itu. Chaca memangdang ke dua wajah didekatnya itu. Memandang bagaimana senyum yang terbentuk begitu melekat dan ingin rasanya membingkai hari itu dengan indah.


Waktunya telah tiba, festival yang ditunggu akhirnya dimulai. Panitia menghampiri Chaca dan memberinya nomor peserta. Urutan ke-9 adalah giliran untunya tampil. Karena dirasa masih cukup lama, sambil menunggu gilirannya Wina pergi untuk membeli minuman untuk mereka bertiga.


“Kak, aku mau mencari Wina dulu. Dia lama sekali,” pamit Chaca mencoba menghampiri keberadaan Wina.


“Oke. Kamu bawa ponsel kan? Untuk jaga-jaga siapa tahu nanti tiba giliranmu maju,” tanya Sean.


“Siap. Aku bawa kok. Nanti kakak kabari saja kalau sudah sampai giliranku.”


“Oke!” jawab Sean dari kejauhan karena Chaca sudah berjalan jauh dari tempat sebelumnya.


Chaca berkeliaran menoleh ke sana kemari mencari sosok sahabatnya itu. Sampai akhirnya dia melihat si pemilik jaket coklat itu memasuki sebuah kafe sederhana. Chaca mengikutinya dengan berlari kecil melewati sekumpulan orang yang berlalu lalang. Setelah berhasil keluar dari gerombolan orang itu dan tiba didepan kafenya, dia membuka pintu dan mencari Wina. Rupanya Wina sedang memesan minuman di sana. Chaca menghampiri perlahan sambil menata napasnya yang tersenggal-senggal setelah berlari tadi.


“Di sana rupanya. Kenapa memilih tempat yang jauh untuk membeli minuman saja. Padahal yang dekat tadi ada banyak.” ucap lirih Chaca seolah hanya untuk di dengarnya sendiri.


Selangkah demi selangkah dia menghampiri Wina. Dia melihat Wina sudah membawa minumannya namun masih tak beranjak dari tempatnya. Terlihat Wina sedang berbincang dengan seorang pria di sana. Karena penasaran, Chaca mempercepat langkahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika salah seorang pelayan menjatuhkan minuman di meja pelangganya. Spontan Chaca menoleh ke belakang dan mengamati apa yang terjadi. Terdengar si pelanggan memarahi pelayan yang ceroboh itu tak lama seseorang melewatiku dan menuju ke arah masalah tersebut.


Jika dilihat pasti itu adalah manager kafenya. Dia terlihat sedang menenangkan pelanggan dan meminta maaf atas karyawannya. Namun hal yang tak terduga terjadi ketika si manager menampakkan sedikit wajahnya. Chaca terdiam mengamati wajah yang nampak familiar itu. Karena masih sedikit tak percaya, Chaca mengamati kafe tersebut. Akhirnya dia tersadar nama kafenya adalah “Blue” jelas itu adalah kafenya. Setelah sadar akan hal itu, dia melihat si pria kembali melewati Chaca. Takut dia terlihat olehnya di sana, Chaca mencoba menutup wajahnya dengan tangannya dan menoleh sedikit ke samping. Rupanya pria yang terlihat berbincang dengan Wina adalah dia. Tak ingin menghabiskan waktu untuk terkejut di sana, Chaca memilih untuk segera pergi dari sana.


“Aku harus pergi. Aku sudah janji tak akan hadir lagi dihadapannya. Kenapa dia harus membuka cabang di sini? Sepertinya aku hampir masuk ke dalam siklus itu lagi. Aku terlalu kawatir jika terbawa arus dan melewati siklus yang sama. Apa yang harus ku lakukan lagi sekarang. Aku mencoba menghilang tapi justru kamu yang mendekat.”