
Meski nampaknya banyak hal yang dibicarakan seakan tak ada habisnya mencari sela kosong untuk saling berbincang, namun rasa gelisah masih terjadi diantaranya. Terdiam beberapa kali hanya untuk mencari bahan apa lagi yang akan dibicarakan. Ketika telah mendapat tema menarik maka sesekali tawa pun saling bersautan. Sedikit demi sedikit seiring malam yang semakin larut, para pelanggan di kafe semakin bertambah. Anehnya jam berkumpul bersama teman-teman adalah di malam hari. Tanpa terasa malam itu terlalu larut. Meski masih banyak orang yang berada di sana namun bagi Chaca yang tak terbiasa, maka itulah saatnya untuk pamit.
“Sudah terlalu larut. Sepertinya aku harus pamit,” berdiri membenarkan pakaian dan mengambil tasnya dari atas meja. “Terimakasih jamuannya Rey,” tambah Chaca sambl tersenyum dengan tulus.
“Benar juga, ini sudah terlalu malam untukmu. Biar kuantarkan kamu pulang,” ikut berdiri melihat Chaca yang akan pamit. “Sebentar, aku akan ambil kunci mobiku,” baru saja berbalik untuk mengambil kunci. Vin yang sedari tadi belum berkata apapun menahan Rey dengan menarik tangannya.
“Aku yang akan mengantarnya. Dia datang bersamaku maka pulang pun juga bersamaku,” tatapan awalnya nampak serius. “Tentu saja aku yang harus mengantarnya,” tambah Vin dengan ekspresi yang diubah menjadi lebih seperti bercanda.
“Aku akan pulang bersama Vin saja. Kamu masih bekerja kan? Tidak usah merepotkanmu,” ucap Chaca menambahi. “Kami pergi dulu Rey,” Chaca melihat ke arah Vin sebagai tanda untuk segera pergi namun Vin justru meminta Chaca untuk pergi duluan dan menunggunya di mobil.
“Ini kuncinya. Tunggu aku di sana. Ada yang ingin ku pesan dulu untuk kubawa pulang.”
“Baiklah, aku tunggu di mobil ya,” Chaca meninggalkan Vin yang masih tetap tinggal.
Setelah melihat Chaca seutuhnya menghilang dari pandangan. Ekspresi yang ditampilkan Vin berbanding terbalik dengan sebelumnya. Senyum lembut yang selalu ditampilkannya saat ada di dekat Chaca mendadak menjadi seperti pria dingin dan tanda ekspresi.
“Jadi kamu mau pesan apa? Untuk hari biar kutraktir saja. Kamu tidak perlu membayarnya,” tanya santai Rey yang sudah siap menerima pesanan Vin.
“Seperti yang tadi kuminum saja.”
Tangan Rey mulai dengan mahir menyiapkan pesanan dari laki-laki yang baru dikenalnya hari itu. Sementara menyiapkan pesanan, Vin memulai pembicaraan lagi.
“Apa kamu sungguh teman Chaca?”
“Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu? Tadi kan sudah kuceritakan.”
“Jika yang kamu bilang sudah sejak kecil tapi ku lihat Chaca tidak seakrab itu denganmu.”
“Mungkin karena aku pernah berbuat salah yang cukup fatal dengannya. Tapi karena aku sudah menyadari kesalahanku, maka aku akan jadi teman yang lebih baik lagi kedepannya,” jelas Rey. “Lalu kenapa kau tiba-tiba ingin berteman denganku seperti yang dikatakan Chaca tadi?” tambahnya.
“Mungkin karena aku ingin dekat denganya, jadi aku ingin kenal dan dekat pula dengan orang-orang di sekitarnya.”
“Bukankah kau memang temannya sejak lama? Bukankah itu berarti kalian sudah cukup dekat?”
“Buleh kutanya sesuatu?” bukannya menjawab, Vin mengajukan pertanyaan lain. “Apa kau suka dengan Chaca? Suka yang ku maksud adalah suka antara pria dan wanita?” tambahnya.
“Kenapa pertanyaanmu tiba-tiba seperti itu?” Rey tertawa karena terkejut dengan pertanyaan yang di tujukan padanya.
“Apa ucapanku lucu?”
“Maaf bukan seperti itu, tapi aku menganggapnya hanya teman bahkan seperti adikku sendiri karena sejak dulu dia menjadi bagian keluargaku sendiri. Jadi aku hanya menganggapnya seperti itu, tidak lebih.”
“Melihatmu yang bersikap logis, maka aku akan coba memegang kata-katamu. Kuharap kamu tidak akan merubah pikiranmu yang menganggapnya hanya seorang teman untuk kedepannya,” ucapannya mulai menyembur dengan liar.
“Hei! ucapanmu ini, seolah kamu mau bilang,” kata-kata Rey dipotong sebelum selesai bersamaan dengan saat dia memebrikan pesanan Vin yang sudah jadi.
“Benar. Aku tak berencana hanya berteman dengan Chaca. Mungkin sekarang iya, tapi kedepannya aku akan mendapatkannya,” tatapannya sama seperti sebelumnya. Sikap dinginya kembali muncul seperti sebuah peringatan. “Jadi jangan mengganggu!” tambah Vin menatap orang di ddepannya itu.
“Terimakasih minumannya. Lain kali aku akan mampir lagi,” Vin mengambil pesanannya dan tersenyum sewajarnya. Dia berjalan keluar beberapa langkah dan berhenti. Tanpa berbalik dia hanya menoleh dan berkata, “Seperti kataku, kamu mungkin saja orang yang sangat logis. Tapi selogis apapun orang, ada kalanya dia keliru. Jadi jaga baik-baik ucapanmu.”
Vin berlalu tanpa menoleh kembali. Dia menghampiri Chaca yang sudah lama menunggu di dalam mobil.
***
Sementara Vin dan Chaca dalam perjalanan pulang, Rey yangberada di kafe, masih dibuat bingung dengan tingkah Vin.
“Apa maksudnya orang tadi? Dia pikir aku ini apa? Kenapa jadi aku yang seperti orang bingung. Tapi entah kenapa aku tidak suka dengannya. Sikapnya menghalangi aku dengan Chaca dari awal datang. Seolah dia tidak mengijinkanku dekat dengannya. Apa dia sungguh suka dengan Chaca. Tapi kenapa harus sampai memperingatkanku. Aku kan sudah bilang hanya menganggapya teman. Aku bersikap baik padanya karena dia sudah seperti keluargaku sendiri. Lagipula aku juga pernah bersalah besar padanya,” bergumam sendiri.
***
Chaca mengambil segelas air dari sudut meja dapur yang sudah disiapkannya sebelumnya. Membawa nampan dikedua tangannya, Sean yang berada di samping menambahkan sepiring sarapan. Chaca menuju kamar kakaknya. Mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada yang bereaksi. Setelah ketukan kelimanya yang masih sama tak ada jawaban, dia pun membuka pintu perlahan dan melihat seseorang masih terbaring di tempat tidur. Pelan dia meletakkan nampannya dimeja dekat ranjang. Mencoba membangunkan seorang yang masih nampak lemah.
“Vin, bangunlah. Kau harus sarapan dulu.”
“Pria yang tertidur itu terbangun dan langsung terkejut mendapati ruangan yang asing baginya. “Cha, ini...”
“Ini rumahku, kamu tidak ingat kemarin alergimu kambuh lalu tiba-tiba tubuhmu lemah dan pinsan. Untung saja kamu bawa obat alergi di dalam tasmu.”
“Aku ingat sekarang,” mengusap wajahnya yang masih pucat. “Maaf aku jadi merepotkan seperti ini.” ucapnya lagi.
“Sarapanlah dulu! Minum obanya juga, aku sudah bawakan. Aku akan siapkan pakaian ganti. Sebentar ya.”
Chaca meninggalkan Vin dan mengambil pakaian untuknya. Tak lama setelah Vin menghabiskan makanannya, Chaca mengetuk pintu.
“Masuklah!” Vin menanggapi.
“Ini pakaian kak Sean. Pakailah setelah mandi.” Vin masih meminum obatnya dan baru menanggapi yang di katakan Chaca. “Baiklah, terimakasih Cha.”
“Kalau begitu setelah selesai, keluarlah! Kakak ingin bertemu denganmu.”
“Apa dia akan memarahiku?” tanyanya pelan karena takut.
“Hei.... itu berlebihan,” bentaknya pelan. Chaca hanya tertawa melihat candaannya berhasil. Diapun keluar dan membawa nampannya. Setelah membereskan sarapan Vin tadi, Chaca menemui Sean sembari menunggu Vin selesai membersihkan diri.
“Dia sudah baikan?” tanya Sean yang santai di sofa sambil menonton televisi, menikmati hari liburnya yang tenang.
“Yah, dia sudah lebih baik dari pada kemarin.”
Baru saja dibicarakan, orang yang dimasud sudah keluar dengan memakai kaos santai milik Sean. Dia terlihat perjalan pelan dan malu karena warna pakaiannya yang dominan nuansa anak perempuan.
“Kamu cocok sekali memakainya. ambil saja pakaian itu untukmu. Kau terlihat manis memakainya,” goda Sean melihat pria yang berubah jadi malu seketika.
“Kak, ternyata seleramu seperti ini,” memasang wajah tak percaya.
“Itu bukan seleraku tapi aku suka karena bisa dibilang pakaian itu adik perempuanku yang memilihkannya,” Sean mengisyaratkan matanya ke arah Chcaca.
“Seleraku tidak seburuk itu,” membalas dengan lirikan ke arah kakaknya.
“Sudah sudah, kemarilah,” Sean meminta Vin duduk di sampingnya. Kini ada tiga orang yang berada di sana saling mengobrol.
“Bagaimana kabarmu Vin? Sudah lama sekali, bukankah sudah beberapa tahun? Benarkan?”
“Ah, ya benar. Kabarku cukup baik sampai saat ini kak. Maafkan aku, kedatanganku setelah sekian lama justru merepotkan kalian. Kalian pasti sangat terkejut.”
“Benar. Kamu bahkan membuatku terkejut dua kali. Pertama, melihatmu setelah sekian lama tak ada kabar, tiba-tiba ada di Amerika bahkan di rumahku. Kedua, Kedatanganmu bukan hanya sekedar bertamu. Tapi malah dalam kondisi lemas seperti itu. Wah, kamu benar-benar tidak bisa ditebak.”
Chaca hanya tertawa melihat keduanya lebih akrab seperti sudah terbiasa. Padahal baru kemarin mereka bertemu setelah sekian lama. Vin memang sudah kenal dengan Sean sejak lama karena Chaca mengenalkannya pada kakaknya itu. Bahkan bukan hanya Vin tapi seluruh anggota Klub. Terkadang Sean juga ikut membantu klub kecil itu. Menggunakan uang saku yang selalu disisihkan setiap hari, Sean sering mendatangi klub dan berkumpul bersama. Sama seperti Chaca, Sean pun juga lama tidak menghubungi Vin setelah kepergiannya mengikuti kegiatan relawan.
“Kamu ini sudah tahu alergi kacang kenapa masih makan kacang?” Sean memarahinya karena lalai.
“Bagaimana kak Sean tau?”
“Chaca yang cerita kalau kemarin malam kamu meminum minuman yang ada campuran kacangnya.”
“Aku tahu kamu alergi kacang tapi karena lupa dan membiarkanmu minum itu. Maaf ya?” Chaca ikut angkat bicara karena merasa bersalah.
“Tidak apa. Aku juga salah karena sudah lama aku tak makan kacang jadi berpikir tidak apa jika sekali saja memakannya. Tapi ternyata masih ada efeknya.”
“Bagaimana mungkin alergi hilang karena sudah lama tidak makan. Kamu ini aneh-aneh saja,” ocehan Sean kembali terdengar. “Sudahlah, yang terpenting sekarang sudah baik-baik saja. Jadi lain kali jangan diulangi lagi,” tambah Sean.
Setelah merenungkan kesalahannya, Sean mencoba mencairkan suasananya dengan memulai candaan.
“Dilihat bagaimanapun kamu semakin tampan saja Vin,” ucap Sean.
“Tentu saja aku tampan,” Vin menanggapi.
“Sungguh mirip denganku,” Sean menambahkan.
“Sebenarnya lebih tampan aku tapi akan aku biarkan untuk sekarang,” jawabnya sambil menahan tawa. “Bukankah aku lebih cocok jadi adiknya dibanding kamu Cha,” tambah Vin.
“Dia semakin bertingkah. Kamu belum minum obatmu ya?” balas Chaca mengherankan tingkah Vin.
“Adikku hanya Chaca. Kamu tidak berhak,” Tegas Sean.
“Bagaimana kalau adik ipar saja.”
Mendengar kata ‘adik ipar’ yang dilontarkan Vin membuat Chaca yang baru saja meminum air tersedak hingga terbatuk-batuk setelah mendengarnya. Bahkan Sean mengankat alis dan membeku sambil menatap si pembicaranya. Melihat tingkah kedua orang yang bereaksi cukup mengejutkan itu, Vin mencoba mengatakan sesuatu.
“Apa bercandaku keterlaluan?”
“Kau masih sama, tidak berubah. Atau memang aku yang masih belum bisa membedakan mana kamu yang serius dengan bercanda,” sela Sean memperhatikan.
“Tapi aku serius dengan yang terahir. Itu adalah keinginanku,” Kini Vin benar-benar seperti orang yang berbeda. Berbeda yang dimaksud mulai dari cara bicara tatapan bahkan ekspresinya menandakan apa yang dikatakannya sungguh-sungguh. Vin orang yang bisa jadi tegas maupun kekanak-kanakan pada kondisi tertentu. Dalam hal ini dia akan serius jika memang itu membutuhkan keseriusan. Dia akan jadi sepeti anak kecil jika sedang ingin bersenag-senang.
“Bagaimana menurutmu Cha?” tatapan yang serius itu kini beralih memandang mata Chaca. Chaca yang menerima tatapan itu sebenarnya ingin berpaling agar tak melihatnya namun merasa seperti sudah terpaku karena terkejut, dia hanya bisa menerima tatapannya.
“Bukankah kamu sebaiknya pulang. Bukankah waktunya kamu bekerja,” mencoba mengalihkan pembicaraan setelah yakin Vin bersungguh-sungguh.
“Sudah siang rupanya. Kalau begitu aku pamit kak. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya.”
“Biar kuantar sampai depan,” Chaca menawarkan diri. Vin hanya tersenyum mengiyakan. Sampai di depan pintu, keduanya berhenti.
“Aku pulang dulu. Terimakasih ya.”
“Hati-hati dijalan.”
Vin menyalakan mesin mobilnya lalu membuka jendela mobil dan melempar senyum pada wanita yang mengantarnya itu.
“Sampai jumpa lagi Cha.”
Chaca hanya melambaikan tangan dan menganguk beberapa kali sebagai jawaban.