Love Is Only You

Love Is Only You
Naskah Baru



Ada yang mengatakan bahwa manusia jika dilambangkan dengan warna adalah warna abu-abu. Iblis dilambangkan dengan hitam dan malaikat adalah putih. Mungkin masih ada banyak pendapat yang berbeda dengan anggapan itu. Namun, setiap pendapat memiliki dasar dan logikanya sendiri-sendiri. Hitam yang gelap dan kelam identik dengan suasana yang dibawanya nampak sangat menakutkan. Putih yang jernih dan bersih memancarkan kesucian yang sangan lembut. Manusia yang disebut sebagai perpaduan keduanya memberikan abu-abu sebagai warna baginya. Abu-abu antara hitam dan putih, tidak seutuhnya hitam dan tak sepenuhnya putih. Jika menampilkan bagaimana jahat dan baiknya seseorang disaat tertentu, menandakan bahwa manusia memiliki batas-batas yang tak bisa dilewati begitu saja. Ada batas dimana seseorang bertahan dalam mode kesabaran menghadapi peristiwa, ada saat dimana emosi yang meluap-luap bisa berangsur mereda, dan ada hal lain yang bisa jadi semakin memuncak ataupun terlerai.


“Apa yang terjadi Vin?” kata Sean yang baru tiba di rumah setelah Vin menghubunginya.


“Panjang ceritanya, tapi ada yang aneh dengan Chaca kak,” mulai Vin setelah Sean duduk dihadapannya.


“Apa maksudmu? Ada apa dengan Chaca?” tanya Sean mulai gelisah.


Vin melaporkan bagaimana hasil penyelidikannya sebelumnya dengan temannya di penginapan dan orang-orang yang terlibat. Lalu, dia pun juga menceritakan bagaimana kejadian di kafe BLUE sebelumnya, sampai pada cerita perubahan sikap yang terlalu mencolok pada diri Chaca.


“Maksudmu, dia jadi bersikap kasar?” tanya Sean meminta kebenaran.


“Iya. Awalnya kupikir karena Chaca tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka tapi semakin lama di lihat dan didengarkan semua perkataannya dan sikapnya, jelas sekali aku seperti melihat Chaca yang lain. Itu bukan seperti dirinya,” Vin mencoba menjelaskan. “Apa mungkin Chaca memang punya sikap seperti itu sekarang. Mungkin aku memang baru melihatnya karena sudah lama tidak bertemu denganya,” tambahnya.


“Tidak,” balas Sean cepat sebagai tanda penolakan. “Dia tak pernah kasar seperti kamu jelaskan tadi. Dia memang pernah kesal di saat tertentu tapi tidak sampai separah itu,” katanya lagi. Sean nampak memikirkan banyak hal sampai akhirnya dia mengingat sesuatu.


“Apa mungkin ini dampaknya,” ucap Sean pelan namun Vin masih bisa mendengarnya.


“Dampak apa kak?”


“Kamu tahu kan trauma Chaca?” mencoba mengingatkan Vin akan kejadian lampau. “Aku pernah mendapatkan saran dari dokter yang menanganinya dulu. Katanya, ada batas baginya dalam menerima trauma tersebut. Jika otaknya sudah sangat kesulitan menangani ketakutannya sendiri dalam arti lain mencapai batasnya. Jika sudah sampai seperti itu maka akan ada dampak yang bisa mengubah pola pikirannya sebagai ganti tameng pertahannya.”


“Jadi maksud kakak, Chaca bersikap kasar karena itu bentuk pertahanan dirinya yang bahkan tak bisa dikendalikan oleh pikirannya sendiri?”


“Benar, bisa dibilang seperti itu.”


Kedua laki-laki yang saling mencoba memahami perubahan sikap Chaca itu berhenti setelah masing-masing mengeluarkan apa yang ingin mereka katakan satu sama lain. Chaca yang masuk ke kamarnya sejak tiba di rumah tak sekalipun menunjukkan batang hidungnya. Seolah dia langsung menghilang setelah membuka pintunya. Sean yang melihat ke kamar setelah mengantar Vin yang pamit.


Tokk...Tokk...Tokk...


“Cha... kamu tidur?” masih memanggilnya tanpa ada jawaban. Sean memberanikan diri membuka pintu dan melihat ke dalam. Ternyata benar, Chaca sudah tertidur.


***


Beberapa hari berlalu, tak ada kisah yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Beberapa hari yang terlewat, sangat tenang seperti ruang kosong yang hampa. Meski tak singkat namun waktu yang menenangkan itu sangat membantu Chaca beristirahat dan memberinya waktu untuk mengembalikan semangatnya. Semangat yang tak terduga kembali muncul bersamaan dengan kedatangan Sean saat makan siang.


“Apa ini?” tanya Chaca kepada kakaknya.


“Lihat saja sendiri,” tersenyum. Jika mau kita bisa berangkat minggu depan.


“Sungguh?” jawabnya dengan tak percaya.


“Kenapa? Kamu tidak mau,” merasa khawatir melihat ekspresi adiknya berbeda dengan yang dibayangkannya. “Kita batalkan saja jika tidak mau. Aku tidak memaksamu,” mencoba mengambil kembali tiket yang diberikan.


“Bukan seperti itu,” tahan Chaca menghalangi kakaknya mengambil tiket dari tangannya. “Bagaimana dengan kakak? Kenapa hanya satu tiket yang kakak berikan?” tanya Chaca yang hanya menerima satu tiket penerbangan.


“Aku akan menyusul, meski butuh waktu agak lama, aku juga akan kembali ke sana.”


“Lalu bagaimana dengan pekerjaan kakak?”


“Tak apa. Itulah kenapa tadi kubilang butuh waktu. Aku akan menyeleaikan beberapa hal. Aku sudah dapat patner untuk membangun perusahaan sendiri dan lokasinya adalah tempat kita sebelumnya.”


“Apa ada alasan lain yang membuat kakak memutuskan untuk pulang setelah kakak meminta pindah ke Amerika sebelumnya?”


“Alasanku adalah kamu, di sana ada sahabatmu yang pasti juga merindukanmu. Alasan lainya adalah karena tempat itu merupakan rumahku sejak lahir. Bukankah wajar jika aku ingin kembali ke rumah lama?” jawab Sean dengan tawa pelan. “Jadi, pulanglah dulu. Kakak akan kembali setelah menyelesaikannya.”


“Kakak sungguh membuatku kagum. Senangnya memiliki kakak yang sukses seperti ini. Aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Akan kupatuhi perintah kakak agar kakak bisa mengabulkan keinginanku,” jawabnya dengan canda.


“Ngomong-ngomong siapa patner kakak itu?” sambil mengaduk minuman di hadapannya.


“Kamu akan tahu segera.”


“Apa ini? Jangan membuatku penasaran,” menatap kakaknya dengan tajam karena menyembunyikan jawaban.


Keduanya menyelesaikan makan siang bersama dengan riang dan meninggalkan tempatnya.


***


“Apa yang sudah ku perbuat? Aku bilang akan memperbaiki kesalahanku tapi justru melakukan kesalahan yang sama lagi,” Rey yang mengoceh dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Dia yang berada di kantornya dilantai dua kafenya. Lamunan yang menjengkelkan itu dibuyarkan oleh kedatangan salah satu karyawannya.


“Pak Rey, di bawah ada yang mencari bapak.”


“Siapa? Sepertinya aku tak memiliki janji,” ucap Rey yang menanggapi dengan enggan.


“Katanya dia teman bapak. Dia yang beberapa hari lalu datang dan membuat keributan bersama teman bapak yang bernama Chaca itu,” jelas si karyawan.


“Vin,” katanya dalam hati. “Biarkan dia kemari,” pintanya.


“Baik,” kata karyawannya.


Setelah menunggu sebentar, Vin masuk ke dalam ruangan dan berdiri sejenak di sana menunggu dipersilahkan mendekat. Melihat Vin yang telah datang, Rey berdiri dari duduknya dan langsung memintanya duduk.


“Ada apa?” tanya Rey.


“Akan kukatakan langsung padamu. Jangan pernah menemui Chaca lagi. Jangan pernah mengganggunya dan jangan pernah membuatnya menangis lagi.


“Aku minta maaf. Aku mengakui itu semua salahku. Tapi bisakah aku bertemu dengannya dan meminta maaf.”


“Lebih baik urungkan niatmu. Kau tahu, dia punya trauma?”


“Trauma? Ya, aku tahu dia punya trauma. Apa traumanya kambuh?”


“Bukan. Tapi bisa dikatakan, sudah melewati batasnya.”


“Jelaskan maksud perkataanmu itu.”


“Sikapnya berubah tiba-tiba malam itu. Kau lihat sendiri kan?” membuat Rey mengingat kejadiannya. “Itu efek dari trauma jangka panjangnya. Jika sudah sampai seperti itu, tandanya dia sudah tak sanggup mengontrol ketakutannya sendiri hingga tanpa sadar kepribadian yang lain mendominasi dirinya hingga membentuk Chaca yang kasar.”


Rey yang mendengar penjelasan hanya bisa terdiam dan semakin merasa bahwa perbuatannya tak bisa dimaafkan.


“Aku yakin kamu sendiri pasti tahu bagaimana perasaan Chaca padamu. Tapi kamu menolaknya dengan memberi batasan bahwa kalian hanyalah teman. Meski tak secara langsung tapi sikap dan beberapa perkataanmu memberikan jawaban itu pada akhirnya.”


Suasana yang agak canggung membuat keduanya terdiam sesaat setiap tak ada yang berbicara.


“Itu saja. Aku minta berhentilah menggangu kehidupan Chaca kedepannya,” berjalan menuju pintu dan hendak pergi begitu saja.


“Keputusan seperti itu bukan hakmu yang menentukan. Aku akan tetap mendatanginya terus menerus untuk meminta maaf padanya. Mengenai perasaanku, kau tidak tahu sama sekali. Apa kau takut aku akan mendapatkannya lebih dulu daripada dirimu,” ucap Rey mengentikan Vin yang hendak membuka knop pintu.


“Jaga ucapanmu. Jangan membuat Chaca seperti taruhan. Sekalipun benar itu bukan keputusanku, aku tak akan tinggal diam jika melihatmu melukainya lagi,” Vin berlalu setelah berucap. Ucapan Vin pun membuat Rey tertantang untuk mendapatkan Chaca namun setelah upaya minta maafnya didapatkan.


Lembaran kisah akan sedikit berbeda, perubahan yang memberi karakter baru di dalam setiap pribadi seseorang membuatnya menjadi bumbu yang memberi rasa lebih menarik dari kisah sebelumnya. Sesuatu yang nampak sepele jarang dijadikan acuan dalam beberapa hal, dengan kata lain diabaikan. Contohnya, selama bertahun-tahun tinggal ditempat yang sama, dan tempat itu selalu melewati anak tangga yang cukup banyak. Tapi, tahukah kalian ada berapa banyak anak tangga itu? Kebanyakan orang pasti akan menjawab, “tidak tahu”. Itu karena mereka menganggapnya bukan hal penting dan terlalu gambang di sepelekan. Tapi sebagian yang lain mungkin akan mengingat setiap hal kecil semacam itu karena sangat membutuhkannya. Sama seperti halnya dengan otak. Mereka akan mengingat hal yang dianggap penting dan melewatkan hal-hal hal kecil karena tak diperlukan. Namun bisa juga otak mengingat hal kecil dan menghapus hal-hal besar karena hal kecil yang lebih dibutuhkan baginya. Kini tiba masanya, berkelana didalam perasaan dan akan melihat cinta lama atau cinta yang baru di sadari yang akan mendominasi alur selanjutnya dan yang mana hal yang jadi penting. Lembar baru bertuliskan naskah yang baru