Love Is Only You

Love Is Only You
Kesempatan



Alunan musik yang lembut itu terdengar sesaat setelah pintu kafe kubuka perlahan, melangkahkan kakiku memasukinya dengan masih tertunduk kuberanikan diriku menoleh ke depan dan mencari Rey di tempatnya biasa berdiri dari balik meja pemesanan. Tak perlu waktu lamapun mata dari seorang yang kucari juga tengah melihatku. Tatapannya tidak terlihat kaget namun gerakannya saat membersihkan gelas ditangannya terhenti seketika. Lalu dia meletakkannya dan menghampiriku.


“Untuk apa ke sini lagi?” katanya yang terdengar seperti berbisik.


“Ada yang harus ku katakan.” jawabku tanpa basa-basi. Bukannya menyuruhku duduk atau menunggu dulu, justru dia menarikku keluar dari kafe.


“Katakan cepat!” ucapnya dengan cuek.


“Bisakah kamu memaafkanku Rey? Aku minta maaf jika perbuatanku justru menyakitimu juga paman dan bibi.” ku beranikan driku meminta maaf padanya lebih dulu.


“Gampang sekali.” tiba-tiba tatapannya berubah sangat kesal dengan tatapannya yang tertuju ke arahku.


“Jangan harap.” tambahnya dan berlalu meninggalkanku dan kembali ke dalam kafe.


Aku tak bisa membiarkan hanya seperti ini saja. Aku mengejarnya sampai di dalam dan meraih tangannya.


“Rey tunggu!” Aku berdiri tepat dihadapannya.


“Kau sungguh ingin aku memaafkanmu kan?” katanya akhirnya.


“Iya, apa yang harus ku lakukan?” tanyaku penuh harap.


“Enyah dan menghilanglah dari kehidupanku selamanya.” Tegasnya.


Aku bisa merasakan banyak mata mulai memperhatikan kami karena berbincang cukup keras dan mengundang banyak perhatian. Apalagi mendengar kalimat Rey membuatku tersentak dan mulai putus asa dengan kesempatanku.


“Rey,”


“PERGI!!! APA ANAK PEMBUNUH SEPERTIMU TIDAK BISA MENDENGAR?” ucap Rey membentakku. Aku mulai gemetar dengan bentakannya tapi aku masih mau mencoba.


“Rey kumohon..” ucapku lagi. Namun dia mendorong dan menumpahkan minuman yang diambilnya dari meja kearahku hingga aku terjatuh. Air mataku tak lagi terbendung, derasnya pun sampai tak nampak karena wajahku telah basah kuyup karena siramannya. Sekarang kafe benar benar ramai orang dan sudah mulai banyak yang membicarakanku. Aku mencoba bangkit dan mencoba menahan trauma yang kumiliki meski tangan dan tubuhku gemetar dan mulai terasa dingin.


“Rey, aku sungguh meminta maaf atas apapun. Aku sudah mencoba sebaik mungkin agar kamu mempercayaiku baik itu dulu maupun sekarang. Tapi kamu memilih tetap membenci dan tak mempercayaiku.” ucapku penuh dengan keputusasaan.


“Seperti katamu, aku akan menghilang dari kehidupanmu selamanya.” tambahku.


Aku berbalik dan pergi dengan hati yang berat. Di pikiranku hanya terlintas bahwa ini sungguh kesempatan terakhir yang kumiliki. Tiba saatnya aku menepati janjiku pada Kak Sean.


TIIINN...TIIINN ...!!!!


“Masuk!”


“Kak Sean? Kakak mengkutiku?” ucapku kepada seorang yang kukenal di dalam mobil.


“Sudahlah masuk saja. Kita pulang!”


Aku masuk ke dalam mobil memasang sabuk pengaman dan memandang keluar jendela ke arah Rey berada. Berharap dia berbalik dan melihatku namun sampai mobil berjalan jauh pun tak pernah sedetikpun dia menoleh bahkan jusru menjauh menghilang dari pandanganku. Aku kembali menatap lurus dan menarik napas panjang.


Setibanya di rumah, Kak Sean menyuruhku duduk dan menunggunya yang mengambil sesuatu dari kamarnya.


“Kita berangkat besok, lebih cepat lebih baik.” sambil menyodorkan dua lembar tiket pesawat ke arahku.


“Secepat ini?” jawabku tak bersemangat.


“Jika terlalu lama lagi, kamu akan mudah berubah pikiran lagi. Aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi, mengerti! Kita mulai dari awal di sana. Aku sudah membereskan barang-barang. Tinggal beberapa saja yang belum. Jika ada yang ingin kamu tambahkan, segera persiapkan.” Kak Sean beranjak dan pergi. Aku bersandar pada sofa, memejamkan mata dan menenangkan pikiranku.


“Wina!” spontan aku memikirkan Wina, aku merasa harus memberitahukan ini. Aku mencari ponselku dalam tas dan mencoba meneponnya. Suara deringnya terus terdengar, cukup lama Wina tak segera mengankat telpon dariku sampai akhirnya dia menerima panggilanku yang kedua.


“Halo Cha, maaf tadi aku tidak mendengar ada telpon darimu. Ada apa kamu menelpon?” tanyanya.


“Win, kamu ada waktu nanti malam?”


“Nanti malam? Sepertinya bisa. Mau bertemu di tempat biasa?” jawab Wina menyanggupi.


“Iya.”


“Di kafe?” tanyanya.


“Jangan. Kita bertemu di taman saja.” balasku.


“Baiklah. sampai bertemu nanti malam.”


“Oke.” Aku mengakhiri perbincangan itu.


***


Malam yang ditunggu tiba, Kak Sean belum kembali dari bekerja. Namun aku sudah bilang akan pergi malam ini dan bertemu dengan Wina di taman. Sambil bersiap aku mengirim pesan kepada Wina untuk memberitahu bahwa aku akan segera berangkat. Aku memakai sepatu dan mengikat talinya, ponselku ternyata berbunyi dan kulihat sejenak nampaknya balasan dari Wina. Diapun segera meninggalkan rumah. Baru sampai di depan pintu rumah nampaknya langit sedang sedikit tak bersahabat. Gerimis membasahi sekeliling, aku masuk kembali untuk mengambil payung.


Seseorang memanggil namaku aku menoleh dan mencoba melihat dari balik pagungku yang menutupi. Rupanya Wina, Dia menghampiriku sambil berlari kecil agar air di jalanan tak sampai terciprat kemana-mana.


“Ku pirir kamu tidak jadi pergi karena hujan. Aku hampir saja mengirim pesan bahwa aku akan ke rumahmu saja. Ah... kita jarang bertemu akhir-akhir ini. Aku rindu padamu.” dengan mimik sok imutnya. Tiba-tiba saja di menutup payungnya dan menempel padaku.


“Hei... kenapa malah ke sini. Payungnya tidak cukup untuk berdua. Pakai payungmu sendiri.


“Tidak mau. Aku ingin bergandengan denganmu.” ucapnya manja.


“Dasar kamu ini, mendekatlah lagi, bajumu masih terkena hujan.” Aku mencoba menariknya lagi agar tak kena hujan.


Untungnya setelah tiba di taman kota, hujan sudah reda. Orang-orang sudah kembali memenuhi taman lagi. Kami berdua mencari tempat duduk yang tak basah.


“Cha, minum ini dulu. Aku tadi membuatnya sebelum berangkat.” menyodorkan susu hangat dari botol yang dibawanya.


“Wah kamu sungguh sudah mempersiapkan segalanya ya?” ejekku. Kami menikmati minuman hangat itu sedikit demi sedikit.


Karena malam semakin mengantarkan suasana dingin, aku pun memulai maksud dan tujuanku, menceritakan segalanya dan berpamitan dengannya. Wina mendengarkan dan memperhatikan setiap apa yang ku katakan. Sesekali memintaku mengulang karena tak percaya.


“Kamu sungguh ingin menyerah Cha?” tanyanya dengan nada serius.


“Aku sudah berusaha dan aku juga sudah berjanji kepada Kak Sean.” jawabku.


“Aku mengerti. Aku akan selalu mendukungmu apapun keinginanmu.” ucapnya memberikanku pengerian.


“Terimakasih Win, Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu.” jawabku dengan menatapnya.


“Begitu pula denganku, aku senang bisa menjadi sahabatmu.” balasnya.


\”Semua akan baik-baik saja.” tambahnya sambil memelukku dan memberikanku kekuatan.


“Aku akan mengantarmu besok.” ujarnya.


“Tidak usah. Kamu harus bekerja. Aku kan bersama Kak Sean jadi kamu tidak perlu mengantar.” balasku menolak.


“Jangan menolak! Kamu itu pergi jauh bukan hanya keluar kota tapi keluar negeri. Jadi biarkan aku melihatmu pergi juga. Mengerti!” Jawabnya mencoba mendominasi keinginannya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui.


***


Hari keberangkatan telah di depan mata. Aku memasukkan barang barang ke mobil. Wina yang telah tiba sejak pagi ikut membantu mengemasi barang. Meski pesawat kami siang namun karena masih ada keperluan yang diurus di pagi hari, kamu memutuskan pergi pagi ini sekalian untuk menyelesaikan beberapa urusan tersebut. Setelah mengemasi barang kami bertiga berangkat ke bandara. Sebelum ke tujuan utama, kami berhenti di tempat makan untuk sarapan.


“Bagaimana jika aku rindu bertemu denganmu nanti?” ujar Wina dengan kedua tangan yang menopang kepalanya dan menghadap kearahku.


“Selesaikan makanmu!” jawabku sambil menghalau wajahnya ke samping.


“Tenang saja. Jika kamu sedang libur atau mengambil cuti cukup lama hubungi aku. Pergilah ke Amerika dan mampirlah ke tempat kami.” jawab Kak Sean santai dengan menyantap sarapannya.


“Baiayanya tidak akan seditik untuk pergi ke sana.” ucap Wina mengeluh.


“Aku yang bayar tiketnya kamu tinggal berangkat saja.” Ucap Kak Sean masih dengan nada santai.


“Kakak memang yang terbaik!” jawab Wina dengan menyodorkan kedua jempol tangannya ke arah Kak Sean.


“Bagaimana denganku? Apa Kakak juga akan membelikanku tiket kembali ke sini untuk bertemu Wina saat aku rindu?” tanyaku mencoba mencari tahu.


“Tidak boleh!” jawabnya singkat.


“Kenapa? Kakak piih kasih.” Balasku dengan raut kesal.


Kami melanjutkan perjalanan dan aku teringat satu hal.


“Kak bisa kita pergi sebentar ke rumah sakit?” pintaku setelah melihat rumah sakit di depan.


“Cha...” jawab kak Sean dan Wina bersamaan yang mengeti maksudku.


“Kali ini hanya untuk berpamitan. Aku janji hanya untuk itu.” pintaku. Mereka berdua menyetujui dan mengarahkan mobil ke tempat itu.


“Bagaimana jika dia ada di sana?” Wina mencoba menahanku sebelum keluar dari mobil.


“Tidak akan. Ini jam kerjanya, dia tidak akan ada di sini.”


Aku pergi sendirian sementara Wina dan Kak Sean menunggu di parkiran. Aku tiba di sebuah kamar yang tak asing. Aku mempersiapkan diriku sebelum memasukinya. Setelah keberanianku terkumpul, aku pun membuka pintu. Seorang pria masih terbaring dan seorang lagi duduk disamping ranjang pasiennya, menggengam tangan dengan begitu hangatnya. Seseorang yang duduk itupun menoleh kearahku karena mendengar pintu terbuka. Diapun berdiri mendapati diriku yang datang. Menatapku dengan penuh senyum yang lembut. Wajah lesunya sangat jelas terlihat dibalik kerutan terbentuk disetiap senyumnya. Aku melangkah mendekat dan menghapirinya. Memeluknya lama.


“Maaf beberapa hari ini aku tidak datang.” ucapku yang masih memeluknya.


“Tak apa. tak apa.” jawabnya singkat. Pelukannya sangat erat, sesekali mengusap rambutku. Sungguh aku merindukan belaian itu.