
Meski berulangkali aku memejamkan mata, meski berulangkali aku menyangkal, tetap saja kenyataan tidak akan pernah berubah jadi drama impian. Drama penuh konflik namun selesai dengan indah dan bahagia. Cinta, indah katanya untuk dicoba setiap orang. Melihat cinta dari banyak opini orang sungguh membuatku iri untuk bisa menjajal bagaimana rasanya bila aku juga mengalaminya. Ada banyak cerita yang pernah aku terima, banyak ekspresi yang aku terima disetiap cerita yang mereka sajikan. Anehnya aku yang tak pernah mengalami justru dimintai saran mengenainya. Jadi, aku mengubah konsep pemikiranku menjadi mereka. Aku mengikuti emosi seperti mereka, mencoba mnjadi diri mereka sendiri dalam tubuhku. Bisa dibilang aku seperti sedang berganti peran.
“Jika aku adalah dia, Aku tidak mungkin melakukan hal tersebut.”
“Jikaa aku jadi dirimu, Aku akan menanyakan kenapa dia marah padaku.”
Ungkapan semacam itu yang akhirnya sering ku katakan. Namun ada satu kalimat yang selalu aku berikan pada diriku sendiri. “Jika aku jari mereka, aku pasti juga bahagia. Setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta akan memberi alur cerita pada hidupku.”
***
Hari ini, bahkan seperti hari hari sebelumnya. Aku mulai merenung dihadapan laptopku sembari sesekali memandang dan menghirup aroma kopi genggamanku. Sesekali memandang keluar jendela yang tepat didepanku, Memandang kesana kemari mencari inspirasi untuk puisiku. Aku sering sekali membuat puisi untuk ku masukan ke dalam blogku.
“Cha, tumben pagi-pagi sudah datang?” suara yang akrab itu memanggiku. Aku menoleh dan tersenyum setelah memastikan orangnya.
“Yah, lebih baik di sini sambil melamun.” candaku dan tertawa.
“Jangan terus melamun, sesekali kamu itu ke rumahku saja Chaca. Camilan akan tersedia penuh dihadapanmu nanti.”
“Sungguh? Baik sekali temanku ini, tapi kenapa sekarang tidak membawa sedikitpun camilan?” sambil tanganku menggeledah badannya.
“Mana munkin aku lupa.” mengeluarkan kotak warna coklat dari tasnya.
Wina adalah temanku sejak kecil, kami selalu bermain bersama dan berbagi cerita bersama. Dia salah satu penyumbang cerita ditelingaku, juga seorang yang banyak memberiku ide cerita untuk puisiku. Sejak tahun lalu aku sering berkunjung di kafe ini bersamanya. Alasannya adalah kafe ini tak terlalu ramai, jadi aku lebih suka menghabiskan waktu di sini.
Tapi....
Penyumbang paling besar atas inspirasi yang aku dapatkan adalah orang itu, BLUE. Begitulah sandi yang kuberikan padanya.
“Kalian mau menambah camilan atau minumanya?” tanya seorang pria yang berkerja dikafe ini.
“Ah... tolong tambah satu kopi seperti milik temanku. Camilannya tidak usah kami sudah memilikinya.” Ucap Wina.
“Baiklah, tunggu sebentar.” sambil tersenyum dan pergi setelahnya. Akupun tak sadar siriku ikut tersenyum.
“Cha, ayolah.... dia itu perfect, kalau kau tak segera menyatakan perasaanmu nanti wanita lain akan menyerobotnya lebih dulu.” bisik Wina.
“Huss... jangan dibicarakan di sini. Aku saja tak tahu apa dia mengenaliku. Dia pasti hanya melihatku sebagai pelanggan saja. Mengerti?” jelasku.
Entah kenapa dengan hari ini, untuk pertama kalinya ada dialog lain antara aku dengan BLUE.
“Serpihan Biru.” ucap BLUE yang tiba-tiba membuatku terkejut.
“Apa?” tanyaku spontan sambil menoleh ke arahnya.
“Maaf... maaf. aku tidak bermaksud melanggar privasimu dengan membaca tulisanmu.”
“Ah..... tidak apa-apa, santai saja. Ini bukan sebuah rahasia yang perlu disembunyikan.” sikapku terasa kaku dan spontan aku menutup laptopku.
“(tertawa), tapi kenapa jadi terlihat kalau itu memang rahasia.”
“Kenapa begitu?” jawabku.
“Kenapa? Emm... mungkin karena kau langsung menutup laptopmu.” sambil menunjuk ke arah laptoku.
Akupun tersadar dan tertawa untuk menghilangkan rasa canggung ini. Sesaat kemudian, getar ponsel Wina menghilangkan kakunya suasana.
“Wah.... Cha, sepertinya aku harus segera pulang. Adikku membuat onar lagi. Karena kau sudah ada teman ngobrol, aku pergi sekarang saja ya.” langsung beranjak begitu saja.
“Tap....” belum selesai aku berucap, Wina kembali dan berbisik padaku.
“(berbisik) Berjuanglah, ini kesempatanmu. (Berteriak sambil pergi) Nanti malam kita lanjutkan oke, ditempat biasa.”
Suasana jadi canggung kembali setelah Wina pergi. Aku tidak tahu harus mulai bicara apa, sampai teringat dengan ucapan pertama BLUE.
“Tadi kau bilang Serpihan Biru, maksudnya?” ucapku dengan penuh keberanian.
“Ah... iya. Tadi aku membaca tulisanmu dan teringat judul itu.”
“Begini, aku jelaskan. Melihat dari gaya kata yang kau tuliskan tadi mirip dengan puisi yang pernah ku baca yaitu Serpihan Biru. Jadi tadi aku penasaran apakah kau yang menulisnya.”
“Kau.... membaca puisi itu?”
“Hmm, aku membacanya, aku pembaca setia blog itu, karena aku suka puisi-puisi yang dituliskan. Kalau tidak salah nama penanya ‘Whiteer’. Benar?” jelasnya.
“Benar” ucapku setuju, meski sedikit tak percaya bahwa dia penikmat puisiku selama ini.
“Aku harus bekerja lagi. Lain kali kita mengobrol lagi. Senang bertemu denganmu (tersenyum). Ooh iya, namaku Rey, aku permisi.”
“Ah...ya, silakan.”
Aku masih tak percaya dengan hari ini. Entah kenapa rasanya seperti bohongan saja. Sudah setahun ini baru kali ini dia mengajak mengobrol.
***
Malam tanpa bintang, lampu jalan menyala satu persatu. Gedung menampakkan cahaya yang saling beradu. Ditempat biasa aku menunggu dan tempatku berjanji dengan Wina. Kali ini dia yang sampai duluan dan menungguku.
“Kenapa kau lama sekali Cha?”
“Maaf, apa bismu belum datang?”
“Sudah dua kali dan aku melewatkannya.” ucapnya sambil cemberut.
“Baik sekali temanku sampai melewatkan bis untuk menungguku.” jawabku sambil menggodanya. Baru sebentar bisnya datang. belum banyak aku bercerita dengan Wina dia sudah pergi duluan.
“Yah... padahal aku masih ingin mendengar ceritamu hari ini.”
“Sudahlah lain kali masih bisa. Kau tidak boleh melewatkan bismu lagi kan?”
“Aku pergi dulu ya, Bismu pasti sebentar lagi juga tiba.”
Aku hanya mengangguk dan diapun telah pergi. Sekitar 10 menit bisku juga belum tiba, namun...
“Hai, Chaca...” seseorang menepuk bahuku dan duduk disampingku.
“Kau,” ucapku masih terkejut.
“Aku mengejutkanmu ya?”
“Iya” jawabku cepat. Ternyata Rey yang datang.
“Wah, jujur sekali. Kau menunggu bis ya? Apa sering menunggu bis?”
“Iya, lalu kau? aku tak pernah lihat kamu menunggu bis?”
“Ah... iya biasanya aku berjalan kaki karena tempat tinggalku tidak jauh. Tapi kali ini aku ingin naik bis, biar bisa istirahat sebentar.”
“Begitu ya, oke mari mengunggu bis.” akhirnya kami menunggu bersama meski aku merasa canggung lagi.
“Itu bisnya. Ayo!” tiba-tiba dia menarikku. Tangannya yang besar menggandengku, rasanya bercampur antara mimpi dan kenyataan. Seperti telalu banyak mimpi sampai membuatku tidak bisa merasakan mana yang nyata. Dia menarikku dan menyuruhku duduk didekat jendela dan dia duduk tepat disampingku.
“Cha...”
“Iya..”
“Mau jadi pacarku tidak”
“Apa? kenapa tiba-tiba....” Terkejut bukan main. ucapannya tidak masuk akal dekat saja baru hari ini tapi dia berkata yang bukan-bukan. Meski aku sebenarnya senang karena ternyata dia juga menyukaiku tapi tetap saja aku merasa aneh dengan sikapnya itu.
“Aku...”
“Aku anggap kau setuju. Aku akan turun di sini, sampai jumpa pacarku.” potongnya dan pergi begitu saja.