Love Is Only You

Love Is Only You
Jalan Berkerikil



Berteriak mungkin tak seremeh berbicara jika pelakunya tak saling memiliki jalan cerita yang terlalu banyak di bubuhi masalah. Berjalan bisa jadi tak semulus dengan berlari jika tujuan yang di lihat lebih jelas daripada hanya dibayangkan. Meski angin yang bertiup pun mengoyak banyak hal yang dilaluinya, belum tentu hanya luka yang membekas namun rasa syukur bisa terjadi tanpa disengaja. Sesuatu yang bahkan tak terlalu penting dan diabaikan oleh mata manusia bisa jadi sebab utama sebuah peristiwa. Ada sebuah kata dasar yang sangat berpengaruh pada setiap pernyataan yang di buat, “JIKA” itulah kata yang bisa menjadi dasar alasan dan penyesalan.


Berbicara tentang penyesalan, ada banyak pengertian yang bisa di dengar bagi setiap orang. Namun maknanya sama yaitu kesempatan yang hilang. Secara alami seseorang akan membuat pernyataan yang terbuat dengan kata “JIKA”. Semuanya membuat alasan yang akan meringankan beban sesal yang mereka buat sendiri. “Jika saja sebelumnya aku bangun lebih awal.”


“Jika saja wanita itu tak menumpahkan minumannya di hadapanku.”


“Jika aku tak pernah ada sebagai diriku yang sekarang.”


“Jika yang apa yang sudah terjadi tak pernah terjadi.”


Meski semua itu terucap baik setelah dipikir ataupun terucap secara spontan pun, tak akan ada yang berubah bila hanya membuat alasan. Maka yang akan terucap paling akhir dari semua kalimat alasan adalah


“Akankah ceritanya menjadi lebih relevan apabila “jika” yang dimaksud terjadi?”


Tak ada yang pasti dalam sebuah kronologi hidup yang sebenarnya. Manusia hanya pemain yang berakhlak. Jalan cerita sejak awal sudah di gariskan. Entah bagaimana dan dengan cara apa si pemain melangkah, pada akhirnya jalan yang akan dihadiri akan selalu sama meski jalurnya berbeda. Faktornya ada banyak, bisa melalui pemain yang lain ataupun banyak hal yang saling berkolaborasi. Kendalanya pun beragam, begitu pula kadar dampak yang dibuat. Kehidupan yang misterius dan fantasi ikut tercampur di dalamnya sebagai sebuah bentuk harapan yang bisa jadi tak masuk akal. Itulah mantra akan selalu hadir dalam kegelapan yang terjadi.


Cahaya lampu berwarna merah semu berganti menjadi biru safir, dan begitu segara bergantian. Angin bertiup tanpa lelah meski ringan terasa menyibak ramput seseorang dan dedaunan sekitar. Kaki bersepatu coklat muda itu menapak tangga kayu yang sesekali berdenyit. Selangkah dua langkahnya menuju meja bundar yang ditempati sepasang orang. Senyum dan tepuk tangan dari sepasang orang itu menular.


“Hebat Cha! Itu tadi luar biasa. Aku sampai tak berkedip meihatmu dengan mahir berucap.”


“Benar. Kerja bagus Cha,” tambah Sean yang ikut berdiri menyambutnya.


“Benarkah? Tapi aku tak yakin akan menang jika melihat peserta yang lainnya,” jawab Chaca yang tak percaya diri.


“Jadi tujuanmu mengikuti festival karena ingin menang? Bukannya kamu ikut ini karena kamu memang suka?”


“Benar. Alasan aku ikut memang karena aku menyukainya tapi jika ada kemenangan yang aku dapatkan bukankah itu bonus yang luar biasa? Aku akan realistis sekarang,” ucap Chaca sedikit menggoda.


Kedua orang di dekatnya hanya terpaku dengan ucapan Chaca tanpa berkedip dan berkata apapun. Tawa ringan datang setelahnya merasa gurauan itu tak cukup meyakinkan.


“Teruslah bersikap realistis Cha,” Wina menyodorkan minuman yang dibeli sebelumnya. “Maaf terlalu lama membeli minumannya. Ketika sampai kamu sudah berada diatas panggung. Itupun juga setelah di telepon oleh kak Sean.


“Tak apa,”


“Kamu tadi sungguh mencariku saat membeli minuman? Kak Sean bilang kamu langsung kembali karena tidak menemukanku.”


“Ah... tadi? Iya aku mencarimu berputar-putar tapi tidak bertemu denganmu. Seolah kamu ditelan kerumunan kau tau.” sanggah Chaca.


“Sungguhkah kamu tidak menemukanku?”


Chaca hanya mengangguk dan berdehem sebagai jawaban. Dia menikmati minumannya, sesekali mengamati nama yang tertera di wadahnya.


***


“Senang bisa melihatmu lagi Cha. Itu tadi ungkapan yang mengagumkan. Maaf belum bisa menemui secara langsung.”


Dari sebelahnya muncul seseorang berseragam coklat memanggilnya untuk segera kembali. Rupanya itu Rey, dia ikut menyaksikan penampilan Chaca sebelumnya.


Sejak awal dia sudah berencana membuat cabang kafe di sana untuk menemukan Chaca di Amerika namun secara tak terduga hari itu lokasi cabang yang dipilihnya sangat tepat bahkan sebelum mencari dia sudah berada dekat dengannya. Secara kebetulan bertemu Wina yang langsung memberi info tentang festivalnya dan ikut menyaksikan penampilan itu. Dia beranjak menjauh untuk kembali ke kafe. Ada senyuman yang terlihat lepas di wajahnya.


***


Setelah acaranya selesai ketiganya kembali pulang. Wina juga ikut dan menginap beberapa hari dirumah Sean dan Chaca. Setelah masuk ke mobil Wina lah yang paling terlihat lelah. Dia langsung bersandar bebas dan menghela napas paling keras sampai terdengar jelas. Sean hanya tersenyum sedangkan Chaca hendak tertawa namun ditahannya. Seketika mobil melesat dan dalam perjalanan singkat Wina sudah melayang dalam mimpinya. Sesekali ketika mobil berbelok, tubuh Wina bergeser ke samping dan bersandar di bahu Chaca yang saat itu tengah menatap keluar jendela mobil. Melihat posisi kawannya yang nampak tak nyaman, dia membenarkan posisinya. Tak lama mobil terpakir di depan rumah. Chaca mencoba membangunkan tidur nyenyak kawannya saat itu. Dengan mata beratnya, Wina mencoba menyadarkan dirinya sebelum keluar dari mobil. Beberapa saat terdiam dalam duduknya, dia pun memeluk Chaca dan memintanya memapahnya yang masih ingin terlelap.


Chaca memapahnya sampai dikamarnya. Sean mengunci pintu dan menyalakan lampu rumah. Setelah membaringkan temannya, dia turun untuk meneguk segelas air.


“Sudah istirahatlah. Jangan tidur lebih malam lagi. Ini sudah terlalu larut,” Sean yang mencoba membuat adiknya segera tidur.


“Baiklah sebenatr lagi aku akan ke atas. Kakak duluan saja. Biar nanti aku yang matikan lampunya.”


Chaca menuju kamarnya setelah air yang diminumnya habis dan tak lupa mematikan lampu dapur. Pemandangan pertamanya saat memasuki kamar adalah tingkah Wina yang tidur tengkurap dengan melebarkan kakinya. Melihat gaya tidurnya itu Chaca hanya tersenyum dan mencoba mendapat tempat untuknya di ranjang. Mengambil plakat yang bertuliskan juara favoirtnya itu dan memandanginya dengan senyum lalu terkejut saat menoleh karena merasa ada sesuatu. Rupanya Chaca melihat Wina menatapnya sangat dekat.


“Kau, belum tidur?”


“Kamu mau pamer karena menang?”


“Emmm... ya. Aku mau pamer, memangnya kenapa?”


“Hais... Tidurlah! Matikan lampunya temanku. Aku tak bisa tidur kalau terang.”


“Ah, benar. kamu kan hanya bisa tidur dengan lampu mati.”


“Jika hendak menatap, tatap saja aku, teman tercantikmu ini,” oceh Wina dengan mata tertutup lalu memeluk Chaca seperti gulingnya.


“Wah, darimana kepercayaan yang luar biasa ini? Seharusnya aku yang berkata seperti itu dan bukankah seharusnya kamu yang menatapku karena sudah lama tidak bertemu. Tapi kamu malah langsung tidur seperti itu.”


“Masih ada besok. Akan ku tatap dirimu tanpa berkedip. Kamu puas?”


Tanpa berkata Chaca terdiam dan meletakkan kembali plakat kemenangannya di atas meja dan mematikan lampunya. Setelah menoleh ke arah Wina lagi, rupanya didapatinya Wina yang sudah kembali masuk ke alam mimpi. Chaca menyusul dengan tisur menghadap ke arahnya.


“Kenapa dia tidak menceritakan tentang Rey tadi ya? Apa dia sengaja menyembunyikannya atau memang belum memberitahuku atau ada alasan lain. Ah sudahlah, dia pasti akan cerita jika dia mau bercerita. Jika tidak pun pasti ada alasan yang pantas,” oceh Chaca dalam hati. Malam yang semakin sunyi itupun mengantar keduanya dalam lelap yang menenangkan.