Love Is Only You

Love Is Only You
Apa kamu Ingat?



Setelah terlewat dua hari semenjak pernyataan Rey secara mendadak itu, tak pernah ada kabar apapun lagi. Karena semenjak itu pula aku tidak pernah lagi mendatangi kafe. Canggung, khawatir dan sedikit takut jika harus berhadapan lagi dengan Rey. Sunggguh rasanya seperti diluar bayanganku. Sikapnya sangat berbeda dari apa yang kuketahui, terasa blak-blakan dan aneh.


Hari ini aku memilih untuk menulis disebuah taman dekat rumahku. Seperti biasa aku ditemani Wina. Wina juga baru saja tiba setelah aku menyelesaikan satu puisi di buku catatanku.


Sentuhan Kata Oleh Chaca


Mentari kali tak mampu menyadarkanku


Atas semua imajinasi yang membelenggu


Berulangkali kuciptakan kata-kata penyadar bagiku


Namun semua melebur seperti tak menyatu


Masih saja fantasi itu menggangguku


Entah kenapa rasanya jadi kebohongan bagiku


Semoga kalimatnya bukan imajinasi yang berbumbu


Kuharap kenyataan ini bukan skenario dari penipu


***


“Inikah yang akan kau kirimkan hari ini?” tanya Wina sambil mencondongkan badannya ke arah buku catatanku.


“Tidak.” dengan cepat aku menutup buku dan mengambil minuman yang dibawakan Wina tadi.


“Kenapa? Itu cukup bagus. Ah lupakan, Itu keputusanmu sih. Daripada itu aku ingin dengar ceritamu lagi tentang BLUE.” Wina mengambil minuman dari tanganku, dan memintaku fokus padanya lalu bercerita.


“Untuk sekarang lebih baik tidak kuceritakan, aku masih sedikit ragu, oke?” ucapku.


Wina pun mengiyakan tanpa perlawanan. Aku rasa dia mengerti maksudku. Dia akhirnya sibuk dengan ponselnya lalu....


“Lihat ini!” Wina mendadak mengarahkan ponselnya padaku dan memintaku melihat postingan.


“Gila, apa ini yang kau tidak mau ceritakan padaku?” tambahnya dengan ekspresi penasaran.


Aku pun tak habis pikir, Rey bahkan mengumumkannya di media sosial bahwa kami berpacaran. Aku semakin merasa aneh. Memang benar aku menyukainya bahkan aku tak berani berfikir sampai sejauh ini, aku menganggapnya sebagai inpirasiku tapi... ini terlalu jauh sebenarnya apa yang terjadi.


“Ku rasa aku harus bertemu dengannya dan memastikan sesuatu.” Ku kemasi barang-barangku dan berpamitan dengan Wina.


“Cha, kamu tidak perlu malu, aku mendukungmu.” ucapnya lantang sehingga membuat banyak diperhatikan orang. Spontan aku menutup mulutnya.


“Hentikan, aku hanya ingin memastikan saja. Kamu kan tau sendiri alasanku sebenarnya mengenai BLUE. Jadi jangan seperti itu.” Jawabku sedikit marah.


“Baiklah aku mengerti. Jika dipikir lagi memang aneh. Kenapa dia seperti itu? Sepert orang lain dan bukan seperti yang kudengar dari ceritamu.” Wina akhirnya sepaham denganku.


“Ingat Cha, jika butuh bantuan hubungi aku. Paham?” tambahnya.


Aku pun mengangguk dan beranjak pergi. Kafe tempatku biasa pergi adalah tujuanku kali ini.


***


Lonceng pintu kafe berbunyi sembari aku memasukinya. Aku berhenti sejenak dan mengamati sekelilingku. Akhirnya tatapanku bertemu dengan seorang yang sedang ku cari. Rey yang saat itu juga melihatkupun tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku tanpa sadar mengirup napas dalam dan melepaskanya dengan kuat seolah adegan yang sesungguhnya akan segera terjadi. Aku melangkahkan kembali kakiku dan menuju meja tempatku biasanya. Akupun bisa melihat Rey menghampiriku juga.


“Kau datang Cha, dua hari ini aku tidak melihatmu datang kemari. Kopi seperti biasanya?” Tersenyum dan menawarkan kopi seperti biasa. Sikapnya terlihat biasa saja seolah tak ada yang terjadi bedanya hanya pada ekspresi wajahnya. Dulu ekspresi macam itu jarang kulihat. Rasanya seperti terlalu ramah.


“Ini kopimu, silakan dinikmati. Kamu tidak menulis? biasanya bukumu sudah penuh dengan coretan dan pena sudah ada digenggaman, tapi kali ini kamu tidak mengeluarkan apapun selain ponselmu.” tanyanya.


“Bisakah kita bicara sebentar?” tanpa basa-basi, kuucapkan juga. Dia terlihat melihat sekeliling dan melihat kearah pelanggan lainnya. Akupun sadar tentang hal itu.


“Tenang saja, selesaikan saja tugasmu dulu, Aku akan tunggu sampai jam makan siang.” Tambahku.


Belum sampai aku berbicara pelanggan yang lain memanggilnya.


“Selesaikan dulu pekerjaanmu!” pintaku. Dia terlihat menjauh dan menghapiri pelanggan. Hari itu kafe cukup ramai terlihat jelas Rey pun kewalahan.


Kopi dicangkirku tak terasa telah habis, dan akhirnya waktu untuk makan siang. Rey datang dan membawa segelas minuman manis.


“Minumlah! Aku yang traktir.” Rey meletakkannya dihadapanku dan duduk disampingku.


“Untukku? Apa tidak apa-apa?” Daripada fokus tentang hal itu, aku sedikit canggung karena dia memilih duduk disampingku.


“Hmm... kenapa tidak? Kamu kan pacarku.”


“Rey, mengenai itu... bolehkah aku tanya sesuatu?”


“Tentu, kenapa?” jawabnya.


“Kenapa kau mengumumkan masalah ini ke semua orang? Apa pikirmu aku benar setuju dengan hubungan ini?”


“Cha....”


“Apa kau tidak terlalu lancang?” potongku dengan sedikit emosi.


“Jadi, kau mau membahas ini ya? Apa aku salah menganggap bahwa kamu sependapat dengank? Kurasa aku sudah keterlaluan. Maafkan aku. Aku akan segera menghapusnya.”


“Astaga kenapa jadi aku yang jahat ya (batinku), kamu jangan salah paham, bukan berarti aku membencimu tapi...” belum selesai aku berbicara dia memotong ucapanku.


“Artinya kamu menyukaiku kan? Sepertinya aku yang terlalu terburu-buru. Kalau begitu bagaimana kalau kita jalani saja dulu. Anggap saja seperti pertemanan anatara kau dan Wina kawanmu itu. Anggap aku seperti teman-temanmu yang lainnya.


“Apa-apaan ini? Kenapa seolah aku yang kalah dalam pembicaraan ini (dalam hati aku berfikir), sepertinya lebih baik seperti itu.” jawabku,


“Oke (sambil tersenyum), boleh pinjam ponselmu?” tangannya menunjuk ponselku yang berada diatas meja.


“Silakan.” sambil ku berikan padanya. Ternyata dia mencatat nomornya diponselku dan begitu sebaliknya.


“Apa masih ada yang perlu kita luruskan lagi Cha?”


“Kurasa tidak.” jawabku kaku, seperti percakapa yang berjalan terlalu lancar.


Setelah percakapan itu, dia menikmati makan siangnya dan aku menghabiskan minumanku. Di waktu-waktu itu hanya ada perbincangan ringan dan sesekali Rey tersenyum ke arahku. Tanpa terduga ingatan lamaku muncul, ingatan yang ingin kuhilangkan namun juga ingin kusimpan. Sempat terpikirkan untukku menanyakan sesuatu pada Rey. Tapi....


“Ku rasa jam makan siang sudah habis. Silakan habiskan minumannya, aku kembali bekerja dulu.”


“Lagipula minumanku juga habis. Aku juga akan segera pergi.”


“Begitukah? Baiklah. Sampai jumpa lagi. Hati-hati dijalan.” ketika dia berbalik dan baru selangkah menjauh,


“Rey..” panggilku.


“Ya... kenapa Cha?”


“Apa kamu pernah bertemu denganku sebelumnya?” Akhirnya yang lama ingin kutanyakan terucap juga. Namun kini aku takut tapi juga penasaran dengan jawabannya.


“Sebelumnya? Maksudmu dua hari yang lalu?”


“Bukan tapi dulu sekali saat masih kecil?” jelasku yang masih penasaran.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa mukaku pasaran jadi kamu pikir aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?” Dia tertawa, dipikirnya aku bercanda.


“Sepertinya begitu ya.” Aku menyudahi, aku rasa dia tidak mungkin ingat kejadian selama itu. Sepertinya aku yang terlalu berharap.


“Saat kita bertemu lagi mari bercerita tentang masa kecil masing-masing. Kurasa itu akan cukup menyenangkan.” Dia berlalu dan melambaikan tangannya saat aku mulai mengarah ke pintu keluar. Angin menyibak rambut dan benda ringan di sekelilingku setelah melewati pintu. Aku berjalan pelan menyusuri jalanan kecil, sesekali memandang langit yang penuh dengan awan putih. Panasnya tidak begitu terik. Seiring perjalanan akupun meyakinkan diriku sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah meskipun dia ingat atau tidak.